YOSUA 1:1
Teks
Seorang pemimpin besar mati, dan kalimatnya belum selesai. Itulah yang terjadi di ayat pertama kitab Yosua: "Setelah kematian Musa, hamba TUHAN itu, TUHAN berfirman kepada Yosua anak Nun, pelayan Musa," dan koma itu menggantung, menunggu. Musa, yang berbicara dengan Allah muka dengan muka, sudah tidak ada. Yang tersisa adalah seorang pembantu, seorang yang selama puluhan tahun dikenal bukan karena dirinya sendiri melainkan karena kepada siapa ia melayani. Dan justru di ruang kosong itu, di detik ketika Israel belum tahu harus menoleh ke mana, terdengar sebuah suara. Bukan suara Musa. Suara TUHAN. Ayat ini tidak menjelaskan apa-apa tentang perasaan Yosua, tidak melukiskan perkabungan, tidak memberi jeda. Kematian disebut, lalu firman datang. Dua peristiwa, satu napas.
Inti
Yang mengejutkan bukan bahwa Musa mati, melainkan bahwa suara itu tidak ikut mati bersamanya. Kita cenderung mengikat firman Allah pada orang yang menyampaikannya: pendeta yang membentuk iman kita, orang tua yang mengajar kita berdoa, guru yang membuat Alkitab terasa hidup. Ketika mereka pergi, diam-diam kita takut Allah ikut pergi. Ayat ini menolak ketakutan itu tanpa berdebat. Allah tidak kehilangan mulut ketika Musa kehilangan napas. Perjanjian tidak bergantung pada kelangsungan hidup seorang manusia, sebab yang mengikat perjanjian itu adalah Allah sendiri. Perhatikan juga urutannya: TUHAN yang memulai. Yosua tidak melamar jabatan, tidak berdoa memohon petunjuk, setidaknya tidak menurut teks ini. Ia sedang berkabung, dan disapa. Anugerah selalu datang sebagai sapaan lebih dulu, sebelum menjadi tugas.
Benang Merah
Nama "Yosua" dalam bahasa Ibrani berarti "TUHAN menyelamatkan". Nama itulah yang berabad-abad kemudian diberikan kepada seorang bayi di Betlehem. Bukan kebetulan yang manis, melainkan pola: Musa memberi hukum tetapi mati di luar tanah perjanjian; yang membawa umat masuk adalah orang lain, orang yang namanya adalah janji keselamatan itu sendiri. Surat Ibrani menangkap hal ini dengan jujur: Yosua pun ternyata tidak sanggup memberikan perhentian yang sesungguhnya, sehingga masih tersisa satu hari perhentian bagi umat Allah. Jadi ayat ini membuka sebuah pintu dan sekaligus memperlihatkan bahwa pintu itu belum yang terakhir. Setiap pemimpin yang Allah berikan adalah bayangan, dan setiap bayangan menunjuk ke tubuh yang melemparkannya.
Cermin
Ada momen dalam hidup ketika seseorang yang selama ini berdiri di depanmu tiba-tiba tidak ada lagi: ayah yang meninggal, atasan yang pensiun, pendeta yang pindah, mentor yang mengecewakan. Dan yang muncul bukan hanya kesedihan, melainkan kepanikan halus: siapa sekarang yang tahu jalannya? Diam-diam kita lebih percaya pada perantara daripada pada Dia yang mengutus perantara. Ada juga kebanggaan terbalik di sini: nyaman menjadi "pelayan Musa", karena selama kita nomor dua, kegagalan bukan tanggung jawab kita. Ayat ini mencabut kenyamanan itu. Allah berbicara kepadamu, bukan kepada orang yang dulu berdiri di depanmu.
Hari ini juga: tulis di selembar kertas nama satu orang yang melaluinya Allah pernah berbicara kepadamu, lalu ucapkan dengan suara keras, "Dia sudah tidak ada, tetapi Engkau masih berbicara."
Tokoh Utama
Yosua sudah tua ketika ayat ini terjadi. Ia berdiri di kaki gunung sementara Musa naik. Ia termasuk dua pengintai yang percaya ketika sepuluh lainnya gentar, lalu ikut menunggu empat puluh tahun sampai seluruh generasi yang tidak percaya itu habis. Sepanjang hidupnya ia adalah kata sifat: pelayan Musa. Sekarang Musa tidak ada, dan teks tidak memberi kita satu kalimat pun tentang isi hatinya. Tidak ada tangis, tidak ada keberatan, tidak ada "siapakah aku" seperti Musa dulu. Hanya keheningan. Apakah itu keheningan iman atau keheningan seseorang yang terlalu lelah untuk membantah? Kitab ini tidak mengatakannya, dan mungkin memang tidak perlu. Yang penting bukan kesiapan Yosua, melainkan bahwa suara itu datang kepadanya.
Profil
Kitab ini dibaca oleh generasi yang jauh kemudian, orang-orang yang tahu bagaimana cerita ini berlanjut: tanah didapat, tanah disia-siakan, tanah hilang. Mereka mendengar kalimat pembuka ini dengan getaran yang berbeda dari kita. Bagi mereka, "setelah kematian Musa" bukan sekadar catatan sejarah melainkan pengalaman berulang: setelah kematian Yosua, setelah kematian Daud, setelah runtuhnya Yerusalem. Selalu ada "setelah". Dan pertanyaan mereka persis pertanyaan kita: apakah Allah masih berbicara sesudah segala sesuatu yang kami andalkan runtuh? Ayat ini menjawab dengan tata bahasa, bukan dengan khotbah. Anak kalimat tentang kematian diikuti anak kalimat tentang firman. Allah tidak berhenti pada titik; Ia melanjutkan dengan koma.
Detail
Perhatikan dua gelar dalam satu ayat pendek ini. Musa disebut "hamba TUHAN". Yosua disebut "pelayan Musa". Dalam bahasa Ibrani keduanya berbeda: yang satu 'ebed, budak yang terikat pada tuannya seumur hidup; yang lain mesharet, pembantu pribadi yang berdiri di dekat, membawakan, menyiapkan. Yosua belum punya gelar yang menghubungkannya langsung dengan TUHAN. Ia masih dikenal lewat orang lain. Tetapi bacalah sampai akhir kitab ini, dan di sana, saat Yosua dikuburkan, ia disebut dengan gelar yang sama seperti Musa: hamba TUHAN. Antara ayat pertama dan halaman terakhir ada sebuah perjalanan yang tidak diukur dengan kilometer melainkan dengan nama. Allah memanggil orang bukan pada puncak melainkan di titik ia masih disebut lewat orang lain.
Refleksi
Nama siapa yang selama ini menjadi "Musa" bagimu, dan apa yang kamu takutkan akan hilang jika ia tidak ada lagi?
Kalau Allah hari ini memanggilmu bukan dengan gelar yang kamu inginkan, melainkan dengan gelar yang sekarang benar-benar melekat padamu, apa bunyinya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Joshua 1:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOSUA 1:1?
Tentang apakah YOSUA 1:1?
Apa konteks historis dari YOSUA 1:1?
Apa yang YOSUA 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOSUA 1:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Joshua 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Kepada suku suku yang tanahnya sudah didapat, Yosua berkata: "Ingatlah akan perkataan yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu, kepadamu, katanya, 'TUHAN, Allahmu, memberikan tempat perhentian kepadamu dan memberikan negeri ini kepadamu.'" Mereka sudah beristirahat, tetapi tetap harus menyeberang, berperang bagi saudara saudaranya. Perhentianmu bukan hanya milikmu. Siapa yang masih menunggu kamu berjalan bersamanya?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memerintahkan Yosua, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu." Aku bersyukur Engkau juga berbicara seperti itu kepadaku hari ini, saat kakiku gemetar menghadapi tugas di depan. Engkau sendiri yang memberi kekuatan untuk melangkah, dan Engkau yang menepati janji atas warisan-Mu.
Bapa, ajar aku untuk tidak sekadar membaca firman-Mu sambil lalu, tetapi merenungkannya siang dan malam. Biar apa yang Kau katakan menetap di hati dan mengalir dalam tindakanku hari ini. Tuntun langkahku agar tidak menyimpang, dan kiranya hidupku berbuah karena berakar pada-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi