YOSUA 24:15
Teks
Setelah mengurutkan seluruh sejarah Israel sebagai rentetan perbuatan Allah ("Aku mengambil", "Aku mengutus", "Aku memberikan"), Yosua tiba pada satu tuntutan yang tajam. Jika bangsa itu menganggap bahwa melayani TUHAN bukanlah hal yang baik, silakan, tetapi mereka harus memilih hari ini juga: ilah-ilah nenek moyang mereka di seberang Sungai Efrat, atau ilah orang Amori yang tanahnya kini mereka diami. Tidak ada pilihan ketiga berupa netralitas. Lalu Yosua menutup dengan kalimat yang tidak menunggu hasil suara bangsa itu: "Akan tetapi, aku dan seisi rumahku akan melayani TUHAN." Seorang pemimpin tua berdiri di Sikhem dan menyatakan sikapnya lebih dahulu, tanpa syarat, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat siapa yang ikut.
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situlah seluruh teologi ayat ini terletak. Pilihan baru muncul di ayat 15, setelah tiga belas ayat berisi kisah anugerah. Israel tidak diminta memilih Allah supaya menjadi umat-Nya; mereka sudah menjadi umat-Nya karena Allah lebih dahulu memilih Abraham yang, menurut ayat 2, berasal dari keluarga penyembah berhala. Tuntutan berdiri di atas fondasi karunia, bukan sebaliknya. Inilah pola perjanjian sepanjang Alkitab: Allah bertindak, lalu manusia menjawab. "Aku memberikan kepadamu sebuah negeri yang kauhasilkan tanpa bersusah-susah," kata-Nya di ayat 13, dan justru kebun anggur yang tidak mereka tanami itulah yang membuat penolakan menjadi begitu keji. Ketaatan di sini bukan harga yang dibayar untuk mendapat keselamatan, melainkan bentuk syukur yang masuk akal dari orang yang sudah diselamatkan. Dan kata "melayani" (Ibrani 'abad, yang sama dipakai untuk kerja budak) mengingatkan: manusia tidak pernah bebas dari tuan, ia hanya memilih tuan mana.
Benang Merah
Sikhem bukan tempat sembarangan. Di situ Abraham pertama kali mendengar janji tentang tanah, dan di situ pula tulang-tulang Yusuf akhirnya dikubur (ayat 32). Seluruh perjalanan anugerah bermuara di satu titik geografis, lalu di titik itu Israel diminta menjawab. Dan jawaban mereka gagal; kitab Hakim-hakim adalah rekaman kegagalan itu. Justru karena itu ayat 19 begitu penting: "Kamu tidak sanggup melayani TUHAN, sebab Allah itu kudus." Perjanjian yang bertumpu pada tekad manusia selalu patah. Yang dibutuhkan bukan pilihan yang lebih bulat, melainkan hati yang diubah. Menarik bahwa nama Yosua adalah nama yang sama dengan Yesus: Ia yang pada akhirnya melayani Allah dengan tulus dan setia, menggantikan kita yang tidak sanggup.
Cermin
Perhatikan dua pilihan yang ditawarkan Yosua: ilah nenek moyang di seberang Sungai Efrat, dan ilah orang Amori "yang kamu diami negerinya". Yang pertama adalah warisan, pola keluarga yang kaubawa tanpa pernah kauperiksa: cara ayahmu menangani uang, cara ibumu mengukur harga diri anak-anaknya. Yang kedua adalah tekanan tempat kau tinggal sekarang, ukuran sukses di kantormu, standar rumahmu, apa yang membuat tetanggamu mengangguk hormat. Keduanya bekerja diam-diam, tanpa altar dan tanpa nyanyian. Dan Yosua tidak menawarkan zona netral bagi orang yang merasa dirinya cukup rohani untuk tidak perlu memutuskan apa pun. Malam ini, sebelum tidur, ucapkan dengan suara keras di hadapan orang serumahmu: "Aku dan seisi rumahku akan melayani TUHAN," lalu sebutkan satu hal konkret yang mulai kaulepaskan.
Tokoh Utama
Yosua berbicara sebagai orang yang tahu umurnya tinggal sedikit; beberapa ayat kemudian ia mati pada umur seratus sepuluh tahun. Ia termasuk dua orang dari generasinya yang selamat melewati padang belantara, dan ia telah menyaksikan betapa cepat bangsa ini berbalik. Karena itu kalimatnya bukan pidato penuh percaya diri, melainkan pagar yang ia tancapkan di sekeliling rumahnya sendiri. Ia tidak menunggu mayoritas, tidak menawar, tidak melunakkan tuntutan agar lebih banyak orang ikut. Bahkan ketika bangsa itu bersorak setuju, ia justru mempersulit mereka. Inilah kepemimpinan yang jarang: berani membuat komitmen terdengar lebih mahal daripada yang dibayangkan orang, karena ia lebih peduli pada kebenaran daripada pada antusiasme sesaat.
Pertanyaan
Kalau Allah yang mengambil Abraham, mengeluarkan mereka dari Mesir, dan memberikan tanah tanpa pedang mereka, apa arti "pilihlah pada hari ini"? Dan bagaimana mungkin Yosua menyuruh memilih, lalu berkata bahwa mereka tidak sanggup? Teks ini tidak menyelesaikan ketegangan itu untuk kita. Keduanya dibiarkan berdiri berdampingan: anugerah yang mendahului segalanya, dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh menentukan. Yang jelas, Alkitab tidak pernah memakai kedaulatan Allah sebagai alasan untuk berdiam diri. Israel tetap harus berkata ya, dan batu di bawah pohon ek itu menjadi saksi yang membungkam dalih mereka. Mungkin justru di sanalah letak beratnya iman: memilih, sambil tahu bahwa kekuatan untuk memilih pun bukan milikmu.
Intertekstual
Ulangan 30 menutup khotbah Musa dengan pola yang persis sama: hidup dan maut dibentangkan, lalu Israel diminta memilih hidup. Yosua mengulangi struktur itu di ambang tanah perjanjian, yang menunjukkan bahwa panggilan ini bukan improvisasi seorang pemimpin tua, melainkan bentuk baku perjanjian Allah dengan umat-Nya. Di sisi lain, Yesus membalik penekanannya ketika berkata kepada murid-murid-Nya bahwa bukan mereka yang memilih Dia, tetapi Dia yang memilih mereka (Yohanes 15:16). Kedua sisi ini tidak saling meniadakan. Sikhem mengajarkan bahwa pilihan kita sungguh nyata dan berkonsekuensi; Yohanes mengingatkan bahwa pilihan itu sendiri lahir dari tangan yang lebih dahulu memegang kita.
Refleksi
Ilah mana yang lebih menentukan keputusanku sehari-hari: warisan keluargaku, atau ukuran sukses di tempat aku tinggal sekarang?
Kalau aku berkata "seisi rumahku", apa yang sebenarnya sedang kujanjikan, dan apakah orang serumahku pernah mendengarnya dari mulutku?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Joshua 24:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOSUA 24:15?
Tentang apakah YOSUA 24:15?
Apa konteks historis dari YOSUA 24:15?
Apa yang YOSUA 24:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOSUA 24:15 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Joshua 24
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk kebebasan memilih hari ini kepada siapa kami beribadah, dan untuk keberanian Yosua yang berkata, "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN." Terima kasih untuk rumah kami, untuk setiap orang di dalamnya yang boleh ikut memilih Engkau.
Tidak! Kami akan beribadah kepada TUHAN." Jawaban yang cepat dan penuh semangat. Tapi Yosua baru saja memperingatkan bahwa mereka tidak akan sanggup. Aneh, ada pemimpin yang justru mempersulit orang untuk memilih Tuhan. Ia tahu, janji yang diucapkan tanpa menghitung harganya akan runtuh saat pertama kali diuji. Bagaimana dengan janji yang kauucapkan pagi ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi