LUKAS 15:21
Teks
Anak itu sudah dipeluk dan dicium sebelum sempat berbicara. Baru sesudah itu keluarlah kalimat yang berhari-hari ia latih di kandang babi: "Ayah, aku sudah berdosa terhadap surga dan di hadapanmu. Aku tidak lagi pantas disebut anakmu." Dua kalimat, persis seperti yang ia rancang dalam ayat 18 dan 19. Tetapi ada yang hilang. Kalimat ketiga, "jadikanlah aku sebagai salah seorang pekerjamu," tidak pernah terucap. Entah karena pelukan itu memotongnya, entah karena di bahu ayahnya tawaran itu tiba-tiba terdengar konyol, teks tidak menjelaskan. Yang jelas: pengakuan dosanya utuh, tetapi usulan menawar status dirinya mati di tengah jalan. Dan sang ayah, dalam ayat berikutnya, sama sekali tidak menanggapi kata-katanya; ia berbicara kepada para pelayan.
Inti
Di sinilah letak seluruh bobot perumpamaan ini. Anak itu pulang dengan sebuah rencana: kalau tidak bisa jadi anak, setidaknya jadi buruh upahan. Itu logika yang paling manusiawi yang kita punya, yaitu memperbaiki hubungan yang rusak dengan cara menurunkan tuntutan dan menaikkan kinerja. Aku akan bekerja, aku akan membayar, aku akan pantas lagi suatu hari nanti. Pelukan sang ayah membongkar seluruh perhitungan itu sebelum sempat diajukan. Pengakuan "aku tidak lagi pantas" ternyata benar sepenuhnya, dan justru karena itu tidak relevan bagi keputusan sang ayah. Kepantasan bukanlah pintu masuknya. Kasih yang berlari lebih dulu itulah pintunya. Anugerah bukan hadiah atas pertobatan yang berhasil; anugerah adalah yang membuat pertobatan aman untuk dilakukan.
Benang Merah
Perhatikan siapa yang sedang bercerita dan kepada siapa. Yesus mengatakan perumpamaan ini justru sambil melakukannya: ayat 1 dan 2 menyebut para pengumpul pajak dan orang berdosa mendekat kepada-Nya, dan orang Farisi menggerutu bahwa "Orang ini menerima orang-orang berdosa dan bahkan makan bersama mereka." Jadi pelukan di ayat 20 bukan gambaran jauh tentang Allah di surga; pelukan itu sedang terjadi di meja makan Yesus. Dia adalah cara Allah berlari. Dan ketika sang ayah tidak menjawab kata-kata anaknya melainkan memerintahkan jubah terbaik, kita menyentuh pola yang sama yang nanti dijelaskan Paulus: kebenaran yang bukan milik kita sendiri, yang dikenakan pada kita dari luar. Anak itu tidak dijahitkan status baru dari kinerjanya. Ia dipakaikan.
Cermin
Kalimat ketiga yang tidak terucap itu adalah kalimat kita. Kita jarang kesulitan mengakui kesalahan; yang sulit adalah berhenti sesudah mengakuinya. Karena itu pengakuan kita hampir selalu disambung dengan proposal: aku salah, tapi lihat, aku sudah mulai berubah. Aku mengecewakan keluargaku, tapi aku akan bekerja lebih keras supaya mereka tidak kekurangan. Aku gagal sebagai orang tua, tapi aku akan lebih rajin ke gereja. Aku bangkrut secara moral, jadi jadikan aku pekerja, jangan anak. Tawaran itu terasa rendah hati, padahal di dalamnya masih ada keinginan memegang kendali atas penerimaan kita sendiri. Hari ini: ucapkan dengan suara terdengar satu pengakuan dosa yang paling kamu hindari, lalu sengaja diam. Jangan tambahkan satu pun janji perbaikan. Biarkan kalimatmu berhenti di tempat anak itu berhenti.
Konteks
Anak ini pulang ke kampung, bukan hanya ke rumah. Dalam desa Palestina abad pertama, ia telah menghina ayahnya dua kali: meminta warisan selagi ayahnya hidup, lalu menghabiskannya di negeri kafir, di antara babi, binatang najis. Seluruh kampung tahu. Seorang ayah terhormat akan menunggu di dalam rumah, duduk, dan membiarkan anak itu merangkak masuk sambil menanggung cemoohan tetangga. Ia tidak berlari; berlari berarti mengangkat jubah dan memperlihatkan kaki, memalukan bagi lelaki tua terhormat. Justru itu yang dilakukannya. Dengan berlari menembus kampung, ia menyerap rasa malu anaknya ke dalam tubuhnya sendiri sebelum orang lain sempat melemparkannya. Pengakuan anak itu diucapkan di bahu seorang ayah yang sudah lebih dahulu dipermalukan demi dia.
Gema Ayat Lain
Ada satu penglihatan dalam Zakharia 3 yang seperti versi nubuat dari ayat ini: imam besar Yosua berdiri dengan pakaian kotor sementara si pendakwa berdiri di sebelahnya, lalu tanpa satu pun syarat yang harus ia penuhi, pakaian kotornya ditanggalkan dan ia dikenakan pakaian pesta. Urutannya identik: keadaan yang tidak pantas diakui apa adanya, lalu diganti oleh keputusan Allah, bukan oleh perbaikan manusia. Dan Roma 5:8 mengunci polanya: Kristus mati untuk kita ketika kita masih berdosa, bukan setelah kita layak. Bandingkan dengan si anak sulung di ayat 29, yang menghitung tahun pelayanan dan ketaatannya. Ia tidak salah soal fakta. Ia hanya tinggal di rumah yang keliru ia pahami sebagai tempat kerja.
Pertanyaan
Kalau kepantasan tidak menjadi syarat, apakah pengakuan anak itu masih ada gunanya? Sang ayah tampak tidak menanggapinya sama sekali. Jujur saja, teks tidak memberi kita jawaban rapi. Tetapi perhatikan: anak itu tetap harus bangun, berjalan pulang, dan mengucapkannya. Anugerah tidak membatalkan perjalanan itu, tidak membuat kata "aku sudah berdosa" menjadi formalitas. Yang dibatalkan hanyalah tawar-menawarnya. Mungkin inilah yang harus kita tanggung tanpa penyelesaian: pengakuan bukan alat pembayaran, tetapi juga bukan hiasan. Ia adalah satu-satunya cara seseorang bisa berada di pelukan itu dengan mata terbuka, tahu persis apa yang sedang diberikan kepadanya dan bahwa ia tidak pernah bisa membelinya.
Refleksi
Kalimat "aku akan…" mana yang biasanya kamu tempelkan pada pengakuanmu di hadapan Allah, dan apa yang sebenarnya ingin kamu lindungi dengan kalimat itu?
Kamu lebih sering merasa seperti anak yang menawarkan diri jadi pekerja, atau seperti anak sulung yang sudah lama bekerja tetapi tidak pernah merasa di rumah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 15:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 15:21?
Tentang apakah LUKAS 15:21?
Apa konteks historis dari LUKAS 15:21?
Apa yang LUKAS 15:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 15:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 15
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Reading Luke 15 about the prodigal son, I only noticed it this time: the father runs. An old man running through the village, robe lifted, dignity abandoned. That is not a story about repentance. That is a story about how we are sought.
Bapa, ada bagian dalam diriku yang menghitung hitung: sudah sekian lama aku setia, tapi rasanya tidak dihargai. Ampuni aku kalau pelayananku berubah jadi tagihan. Ajar aku menikmati bahwa aku selalu dekat dengan-Mu, dan semua milik-Mu ada padaku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi