LUKAS 24:42
The Text
Sepotong ikan panggang, diserahkan dari tangan ke tangan. Itu saja isinya. Para murid baru saja ditegur karena mengira mereka melihat hantu, baru saja diminta menyentuh tangan dan kaki yang berlubang, dan masih berdiri di persimpangan aneh antara sukacita dan ketidakpercayaan ketika Yesus mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak terdengar ilahi: "Apakah di sini kamu mempunyai sesuatu untuk dimakan?" Jawaban mereka bukan pengakuan iman, bukan sujud, bukan air mata. Mereka memberikan apa yang kebetulan ada di ruangan itu, sisa makanan malam yang sederhana. Dan Yang Bangkit menerimanya. Seluruh ayat ini adalah satu gerakan tangan manusia menuju tangan yang tiga hari lalu dipakukan. Tidak ada kata-kata di dalamnya. Hanya ikan, asap, dan keheningan orang-orang yang belum tahu harus berpikir apa.
Inti
Kebangkitan tidak melarutkan tubuh; kebangkitan menebusnya. Itulah yang dikatakan sepotong ikan ini, lebih keras daripada seluruh perdebatan tentang roh dan materi. Allah tidak menyelamatkan kita dari kefanaan dengan membuang daging dan tulang, melainkan dengan membangkitkannya. Yesus yang bangkit masih bisa lapar, masih bisa mengunyah, masih bisa menerima pemberian dari tangan orang yang mengecewakan-Nya. Ada sesuatu yang hampir mengganggu di sini: Dia tidak membuktikan diri-Nya dengan cahaya yang menyilaukan, melainkan dengan makan. Dan perhatikanlah arah pemberiannya. Selama ini Dia yang memecahkan roti bagi lima ribu orang, Dia yang memberi di Emaus. Sekarang Dia yang menadah. Allah yang bangkit membiarkan diri-Nya dilayani oleh orang-orang yang masih ragu, seolah hendak berkata bahwa persekutuan dengan-Nya tidak menunggu sampai iman kita rapi.
Benang Merah
Makan bersama adalah tanda perjanjian sepanjang Alkitab. Musa dan para tua-tua makan dan minum di hadapan Allah di gunung; nabi-nabi melukiskan keselamatan sebagai perjamuan di atas gunung dengan daging yang gemuk. Setiap kali Allah mengikat diri pada manusia, ada meja di situ. Maka ketika Yesus yang bangkit meminta makanan, Dia tidak sedang mengisi perut; Dia sedang menutup lingkaran. Di Emaus Dia dikenali pada saat memecahkan roti, dan beberapa jam kemudian di Yerusalem Dia dikenali pada saat menerima ikan. Perjamuan terakhir di ruang atas, yang berakhir dengan tubuh yang diserahkan, kini dilanjutkan dengan tubuh yang kembali duduk makan. Dan ujungnya belum tiba: meja ini membentang sampai ke perjamuan terakhir yang dijanjikan. Sepotong ikan panggang adalah cicipan kecil dari dunia yang akan datang, tempat Allah dan manusia makan di ruangan yang sama.
Cermin
Anda mungkin mengenali posisi para murid itu: percaya dan tidak percaya pada saat yang sama, "belum percaya karena gembira." Ada bagian dalam diri kita yang menunggu bukti yang lebih besar sebelum berani berharap lagi, terutama setelah kehilangan yang nyata, setelah doa yang tidak dijawab seperti yang kita minta, setelah pekerjaan atau pernikahan yang tidak berjalan seperti dibayangkan. Kita menunggu Allah datang dalam bentuk yang spektakuler, dan sementara itu kita mengabaikan ruangan tempat kita berdiri: dapur, meja makan, tubuh yang lelah, makanan yang biasa. Yesus justru masuk di sana. Dia tidak meminta pengakuan teologis lebih dahulu; Dia meminta makan siang. Yang Dia terima dari mereka bukan iman yang sempurna, melainkan apa yang kebetulan ada.
Hari ini, makanlah satu kali makan tanpa layar apa pun, dan sebelum suapan pertama ucapkan dengan suara terdengar: "Tuhan Yesus, Engkau bangkit dengan tubuh, dan Engkau ada di meja ini."
Konteks
Hari itu belum berakhir sejak subuh ketika para perempuan menemukan kubur terbuka. Semuanya terjadi dalam rentang satu hari: kubur kosong, perjalanan ke Emaus, kembali ke Yerusalem, dan kini Yesus berdiri di tengah-tengah mereka. Mereka berkumpul di sebuah ruangan di kota yang baru saja mengeksekusi guru mereka, dengan imam-imam kepala masih berkuasa dan tentara Romawi masih berpatroli. Ketakutan mereka terhadap "hantu" bukan takhayul murahan; dalam dunia itu, roh orang mati dianggap bisa muncul, dan justru itulah yang paling masuk akal bagi mereka. Yang tidak masuk akal adalah tubuh. Ikan panggang sendiri menandakan kesederhanaan Galilea, makanan nelayan, sisa yang mudah disimpan. Di ruangan yang pengap oleh duka dan kecurigaan itu, aroma ikan menjadi hal paling biasa, dan karena itu paling meyakinkan.
Pertanyaan
Mengapa Yesus yang bangkit perlu makan? Apakah tubuh kemuliaan itu lapar? Lukas tidak menjelaskan, dan kita sebaiknya tidak mengarang jawaban. Teksnya hanya berkata Dia mengambil dan memakannya "di depan mereka," yang menyiratkan tujuan demonstratif. Tetapi itu tidak menyelesaikan teka-tekinya: tubuh yang bisa menghilang dari pandangan di Emaus, yang bisa berdiri tiba-tiba di tengah ruangan terkunci, tetap tubuh yang mengunyah ikan. Kita tidak punya kategori untuk itu. Setiap usaha menjelaskannya, entah dengan mengatakan "itu hanya simbolis" atau "Dia tetap manusia biasa," memotong salah satu sisi. Mungkin inilah yang harus kita tanggung: kebangkitan bukan sekadar kelanjutan hidup lama, juga bukan pelarian dari materi. Itu sesuatu yang ketiga, yang belum punya nama, dan kita baru akan mengerti ketika mengalaminya sendiri.
Tokoh Utama
Yang mengejutkan dari Yesus di ayat ini adalah betapa Dia menahan diri. Dia punya hak penuh untuk marah; mereka meninggalkan-Nya, menyangkal-Nya, menyebut kesaksian para perempuan sebagai omong kosong. Dia punya hak untuk menuntut penyembahan. Sebaliknya Dia berdiri di tengah ketakutan mereka dan berkata, "Damai besertamu," lalu menunjukkan luka-luka-Nya, lalu meminta makan. Ini bukan kelemahan melainkan kesabaran yang sangat terarah: Dia tahu persis apa yang dibutuhkan hati yang terguncang, bukan argumen melainkan kehadiran yang bisa disentuh dan dilayani. Allah yang kita sembah ternyata tidak terburu-buru memulihkan kehormatan-Nya sendiri. Dia lebih dulu memulihkan orang-orang-Nya, dan Dia melakukannya dengan cara paling rendah hati yang bisa dibayangkan: menadahkan tangan untuk sepotong ikan.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda sekarang Yesus sedang meminta sesuatu yang sederhana dari Anda, sementara Anda menunggu Dia menuntut sesuatu yang besar?
Apa artinya bagi tubuh Anda, yang menua dan lelah, bahwa Kristus bangkit dengan daging dan tulang dan tetap bisa makan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 24:42
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 24:42?
Tentang apakah LUKAS 24:42?
Apa konteks historis dari LUKAS 24:42?
Apa yang LUKAS 24:42 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 24:42 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 24
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, pagi ini aku datang seperti mereka yang berjalan ke kubur dengan tangan penuh duka dan hati yang belum tahu apa yang menanti. Ajar aku tetap melangkah walau gelap, karena Engkau sudah lebih dulu sampai di sana.
Yang terakhir dilihat para murid dari Yesus bukan punggung-Nya yang menjauh, melainkan tangan-Nya yang terangkat: "Lalu, Dia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka." Tangan yang masih berbekas paku itu terbuka untuk memberkati, bukan menuntut. Kalau hari ini kamu merasa ditinggalkan, ingat posisi tangan-Nya saat Dia pergi.
Akan tetapi, tinggallah di kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi." Perintah pertama setelah Paskah bukan "pergilah", melainkan "tinggallah". Para murid sudah melihat Yesus bangkit, tetapi mereka belum siap. Mungkin penundaan yang kamu benci itu bukan Tuhan menahan diri, melainkan Tuhan sedang memperlengkapi. Beranikah kamu menunggu sampai Dia yang memulai?
Dan sesudah berkata demikian, Yesus memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka." Yang Ia tunjukkan bukan kemuliaan, melainkan bekas luka. Tubuh yang sudah menang itu tetap membawa tanda salib. Jadi ketika kamu takut Ia terlalu jauh untuk mengerti sakitmu, lihatlah tangan itu. Luka tidak selalu harus hilang untuk membuktikan bahwa hidup sudah menang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi