MATIUS 13:45
Teks
"Sekali lagi, Kerajaan Surga adalah seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah." Satu kalimat, tanpa hiasan, tanpa penjelasan. Yesus menempatkan di hadapan pendengar-Nya sesosok saudagar yang sedang dalam perjalanan mencari, dan baru pada ayat berikutnya kita tahu apa yang terjadi ketika ia menemukannya: ia menjual segala miliknya dan membeli mutiara itu. Namun ayat 45 sendiri belum sampai di sana. Ayat ini masih berdiri di tengah pencarian, belum di titik penemuan. Kerajaan Surga, kata Yesus, menyerupai seseorang yang sedang menyisir pasar, menimbang, menilai, belum berhenti. Perhatikan: yang diperbandingkan bukan mutiaranya, melainkan orangnya. Kerajaan itu seperti seorang pedagang yang mencari.
Inti
Di sinilah teks ini menolak dibaca terburu-buru. Perumpamaan sebelumnya berbicara tentang harta yang ditemukan seseorang secara tak terduga di ladang orang lain; ia tidak sedang mencari apa pun. Tetapi pedagang ini memang mencari. Ia tahu apa itu mutiara indah, ia terlatih membedakan yang asli dari yang pucat. Dan justru orang yang paling ahli menilai inilah yang akhirnya kehilangan segalanya demi satu benda. Kerajaan Surga rupanya bekerja dalam dua arah yang sama-sama benar: kadang menabrak kita tanpa peringatan, kadang menemui kita di ujung pencarian panjang yang kita sendiri mulai. Lalu muncul pertanyaan yang tidak dijawab Yesus dan mungkin memang tidak boleh kita tutup terlalu cepat: siapa sebenarnya yang mencari dalam cerita ini, kita atau Dia?
Benang Merah
Ada satu pergeseran yang mudah terlewat. Sepanjang Alkitab, yang mencari lebih dulu hampir selalu Allah. Ia berjalan di taman memanggil manusia yang bersembunyi, Ia memanggil Abram keluar dari Ur, Ia mengutus nabi demi nabi kepada umat yang menutup telinganya, seperti yang baru saja dikutip Yesus dari Yesaya di ayat 15. Kalau perumpamaan ini kita baca dengan latar itu, gambar pedagang yang rela kehilangan seluruh hartanya demi satu mutiara terdengar akrab: itulah yang dilakukan Anak Manusia. Ia yang menabur benih baik di ladang dunia, Ia juga yang membayar dengan segalanya. Perumpamaan ini tidak memaksakan alegori itu, dan Yesus tidak menjelaskannya. Tetapi keheningan-Nya membiarkan kita berdiri di antara dua kemungkinan yang keduanya menusuk: mungkin saya pedagang itu, mungkin saya mutiara itu.
Cermin
Perhatikan bahwa pedagang ini bukan orang miskin yang beruntung. Ia punya modal, reputasi, jaringan, mungkin gudang. Dan semuanya menjadi tidak berarti. Anda mungkin mengenali dirinya: orang yang sudah tahu banyak, sudah membaca banyak, sudah menilai banyak khotbah dan banyak gereja, dan justru karena itu sulit berhenti menimbang. Pencarian bisa menjadi cara halus untuk tidak pernah menyerahkan apa pun. Selama saya masih mencari, saya belum perlu membayar. Ayat ini membiarkan kita di titik itu, di pasar, dengan uang masih di tangan. Hari ini, ambil selembar kertas dan tulis satu hal konkret yang paling berat Anda lepaskan seandainya Kristus memintanya, sebutkan namanya dengan lantang di hadapan Tuhan, lalu simpan kertas itu di tempat yang akan Anda lihat besok pagi.
Profil
Pendengar pertama berdiri di tepi danau, kebanyakan petani, nelayan, buruh harian. Mereka tidak pernah memegang mutiara. Mutiara pada zaman itu adalah barang mewah paling bergengsi di dunia Mediterania, lebih mahal daripada emas, dikaitkan dengan istana dan perempuan bangsawan Roma. Menyebut seorang pedagang mutiara berarti menyebut orang yang berlayar jauh, ke Laut Merah atau Teluk Persia, dengan risiko besar. Bagi orang banyak itu, tokoh ini bukan cermin diri melainkan sosok dari dunia lain. Dan justru itu kekuatannya: orang yang paling tahu nilai, orang yang punya paling banyak untuk dipertaruhkan, akhirnya melepaskan semuanya. Kalau dia sampai begitu, apa sebenarnya yang sedang ditawarkan Yesus kepada orang-orang yang berdiri tanpa alas kaki di pasir itu?
Konteks
Ayat ini adalah perumpamaan keenam dari rangkaian di pasal 13, dan tempatnya sudah berubah. Ayat 36 mencatat Yesus meninggalkan orang banyak dan masuk ke rumah. Jadi mutiara ini diucapkan di ruang tertutup, hanya bagi murid-murid, sesudah penjelasan panjang tentang lalang, penuaian, dan tungku api. Nadanya berat. Dan di tengah kegentingan itu Yesus justru berbicara tentang sukacita dan tentang seseorang yang rela bangkrut. Beberapa ayat kemudian Ia pulang ke kota asal-Nya dan ditolak oleh orang-orang yang mengenal nama ibu dan saudara-saudara-Nya. Mereka memandang dan tidak melihat. Mutiara berdiri di depan mereka, dan mereka menawarnya dengan harga tukang kayu.
Intertekstualitas
Dua gema layak didengar. Pertama, Amsal berbicara tentang hikmat sebagai sesuatu yang harus dicari seperti orang menggali perak; pencarian bukan hal asing dalam iman Israel, melainkan bentuk ketaatan. Kedua, Paulus dalam Filipus 3 menulis bahwa ia menganggap segala sesuatu sampah karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhannya. Paulus adalah pedagang mutiara itu dalam bentuk manusia nyata: ahli Taurat dengan modal rohani yang lengkap, yang satu hari menutup buku besarnya dan menuliskan semuanya sebagai kerugian. Dan bandingkan sekali lagi dengan ayat 44: di sana orang menemukan tanpa mencari. Injil ternyata cukup luas untuk keduanya, yang tersandung dan yang berlayar jauh.
Refleksi
Apa yang sesungguhnya sedang saya cari ketika saya membuka Alkitab pagi ini: Dia sendiri, atau rasa tenang karena sudah membaca?
Jika Kristus adalah mutiara itu, mengapa saya masih menghitung-hitung harga, dan apa yang sebenarnya saya takut kehilangan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 13:45
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 13:45?
Tentang apakah MATIUS 13:45?
Apa konteks historis dari MATIUS 13:45?
Apa yang MATIUS 13:45 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 13:45 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau berkata, "Tidak," saat lalang itu hendak dicabut. Kesabaran-Mu menjaga gandum yang lemah, termasuk aku. Aku bersyukur Engkau tidak buru buru mencabut, melainkan memberi waktu untuk bertumbuh sampai musim menuai.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi