Kitab Matius: Injil tentang Yesus Sang Raja dan Mesias yang Dijanjikan
Pendahuluan
Banyak orang memulai Perjanjian Baru dengan niat yang tulus, lalu berhenti di ayat kelima. Bukan karena ada hal yang sulit dipercaya, tetapi karena halaman pertama Injil Matius terasa seperti daftar nama yang tak berujung: Abraham, Ishak, Yakub, Peres, Zerah, Hezron, Ram. Kita ingin bertemu Yesus, tetapi yang kita temui adalah silsilah.
Padahal justru di situlah Matius sedang melakukan sesuatu yang berani. Ia tidak membuka kitabnya dengan renungan hangat, melainkan dengan dokumen keturunan, seperti seorang panitera istana yang membuktikan bahwa Sang Pewaris tahta memang sah. Sejak baris pertama, Matius berkata: Raja yang lama dijanjikan itu sudah tiba.
Di halaman ini Anda akan menemukan bagaimana seluruh kitab ini dibangun sebagai proklamasi seorang Raja, siapa yang menulisnya dan untuk siapa, apa lima pengajaran besar di dalamnya, ayat-ayat kuncinya, dan bagaimana membacanya dalam beberapa minggu tanpa tersesat.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Injil Matius sebagai piagam penobatan Sang Raja yang tidak pernah meninggalkan rakyat-Nya. Matius mengapit seluruh kitabnya dengan satu janji yang sama: di awal, Anak yang lahir itu dinamai Imanuel, Allah menyertai kita (Matius 1:23); di akhir, Raja yang bangkit berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:20). Semua yang ada di antaranya, silsilah, khotbah, mukjizat, konflik, salib, adalah cara Matius menjelaskan Raja macam apa yang memerintah dengan cara menyertai. Sudut pandang ini penting karena banyak orang mengenal Matius hanya sebagai gudang ayat hafalan, bukan sebagai satu kesaksian utuh tentang kehadiran Allah.
Apa kata Alkitab tentang Injil Matius?
Injil Matius memulai dengan sebuah kalimat yang terdengar administratif, namun sesungguhnya adalah klaim tahta: "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1). Dua nama itu dipilih dengan sengaja. Abraham adalah nama janji bahwa melalui satu keluarga semua bangsa akan diberkati. Daud adalah nama janji bahwa akan ada seorang Raja yang takhtanya kokoh selamanya. Dengan satu ayat, Matius menempatkan Yesus di titik temu kedua janji itu. Ia bukan tokoh baru yang muncul tiba-tiba; Ia adalah ujung dari sebuah kisah panjang yang sudah dimulai berabad-abad sebelumnya.
Setelah memperkenalkan Sang Raja, Matius memberi tahu apa pesan pertama-Nya. "Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!'" (Matius 4:17). Perhatikan urutannya: bukan "berusahalah lebih keras supaya Kerajaan datang", melainkan "Kerajaan sudah dekat, karena itu berbaliklah". Pertobatan dalam Matius bukan syarat agar Allah bergerak, tetapi tanggapan terhadap Allah yang sudah bergerak. Raja itu sudah berdiri di depan pintu; yang diminta dari kita adalah membuka, bukan membangun istana.
Lalu Raja itu duduk di sebuah bukit dan mengumumkan siapa saja yang menjadi warga kerajaan-Nya. Hasilnya mengejutkan: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang memiliki Kerajaan Sorga" (Matius 5:3). Kerajaan ini dibuka bukan untuk yang paling kuat rohani, tetapi untuk yang paling kosong tangannya. Dalam kerajaan dunia, orang masuk lewat prestasi; dalam Kerajaan Sorga, orang masuk lewat pengakuan bahwa ia tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.
Dari fondasi itu Yesus menata prioritas hidup warga-Nya: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Konteksnya adalah kekhawatiran sehari-hari tentang makanan dan pakaian, hal-hal yang sangat konkret. Yesus tidak mengatakan bahwa kebutuhan itu tidak penting; Ia mengatakan bahwa ada Raja yang mengetahuinya, sehingga kita tidak perlu memerintah diri sendiri lewat kecemasan.
Titik balik kitab ini terjadi ketika pertanyaan identitas dijawab dengan gamblang. "Maka jawab Simon Petrus: 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'" (Matius 16:16). Sesudah pengakuan itu, arah cerita berubah: Yesus mulai berbicara tentang penderitaan dan salib. Matius tidak membiarkan kita menyanyikan "Raja" tanpa melihat mahkota duri.
Dan sebelum kitab ini ditutup, Sang Raja memberi jangkauan pemerintahan-Nya. "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba akhir zaman" (Matius 24:14). Lalu datang perintah penutup: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Kitab yang dimulai dengan satu keluarga Yahudi berakhir dengan seluruh bangsa. Itu bukan pelebaran yang tidak terduga, melainkan penggenapan janji kepada Abraham yang sudah disebut di Matius 1:1.
Penulis, waktu, dan pembaca pertama Injil Matius
Kitab ini sendiri tidak menyebutkan nama penulisnya di dalam teks, sebagaimana ketiga Injil lainnya. Namun sejak salinan-salinan tertua, judulnya konsisten: "Menurut Matius". Tidak ada tradisi pesaing yang menempelkan nama lain pada kitab ini. Papias, penulis Kristen dari awal abad kedua, menyebut bahwa Matius menyusun perkataan Tuhan Yesus, dan bapa-bapa gereja sesudahnya, seperti Irenaeus, Origenes, dan Eusebius, meneruskan kesaksian yang sama.
Matius adalah nama yang kita jumpai di dalam kitab itu sendiri: seorang pemungut cukai yang dipanggil dari meja uangnya (Matius 9:9). Menarik bahwa daftar rasul dalam kitab ini menyebutnya "Matius pemungut cukai" (Matius 10:3), sebuah label yang tidak diberikan Markus maupun Lukas. Kalau memang ia penulisnya, itu terasa seperti tanda tangan yang jujur: ia tidak menyembunyikan dari mana ia diangkat. Seorang pemungut cukai terlatih mencatat, mengarsipkan, dan menghitung. Kitab yang begitu rapi tersusun, dengan pengelompokan pengajaran dan kutipan Perjanjian Lama yang dijahit rapi, cocok dengan tangan semacam itu.
Injil ini ditulis oleh orang yang pernah duduk di meja yang salah.
Soal waktu penulisan, para ahli terbagi. Sebagian menempatkannya pada tahun 50-an atau 60-an, sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan pada tahun 70, karena Matius berbicara tentang persembahan di mezbah dan pajak Bait Allah seolah semuanya masih berjalan (Matius 5:23-24; 17:24-27). Sebagian lain memperkirakan tahun 70-an atau 80-an, dengan alasan bahwa nada Matius terasa seperti jawaban bagi komunitas Yahudi Kristen yang sudah kehilangan Bait Allah dan sedang bergesekan keras dengan para pemimpin sinagoge. Bagi iman kita, kedua kemungkinan itu tidak mengubah pesannya; keduanya menempatkan kitab ini dalam satu generasi dari peristiwa yang diceritakannya.
Pembaca pertamanya jelas berlatar Yahudi. Matius tidak perlu menjelaskan istilah "Kerajaan Sorga", tidak perlu menerangkan tradisi mencuci tangan, dan mengutip Perjanjian Lama lebih dari lima puluh kali dengan rumusan khas, "supaya genaplah yang difirmankan". Banyak yang menduga kitab ini lahir di Antiokhia di Siria, kota dengan jemaat campuran Yahudi dan bukan Yahudi. Bayangkan orang-orang yang baru saja diusir dari lingkaran keagamaan mereka sendiri, yang bertanya lirih, "apakah kami masih umat Allah?" Kepada mereka Matius menyodorkan silsilah, penggenapan nubuat, dan janji penyertaan. Anda tidak kehilangan warisan Anda; Anda justru sedang memegang penggenapannya.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Injil Matius berdiri di persimpangan Alkitab seperti jembatan. Ia menatap ke belakang, ke seluruh Perjanjian Lama, dan ke depan, ke gereja yang tersebar di seluruh dunia. Karena itu tidak mengherankan bahwa gereja sejak awal menempatkannya sebagai kitab pertama Perjanjian Baru. Kalimat "anak Daud, anak Abraham" adalah sambungan yang mulus dari halaman terakhir para nabi.
Janji kepada Abraham berbunyi bahwa oleh dia semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:3). Janji kepada Daud berbunyi bahwa kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya (2 Samuel 7:16). Sejarah Israel lalu memperlihatkan raja demi raja yang gagal memikul janji itu; pembuangan seakan menutup rapat pintu tahta. Matius bahkan menyebut pembuangan ke Babel di dalam silsilahnya, seolah berkata: ya, ada patahan dalam garis ini, dan Allah tidak membuangnya.
Nubuat para nabi mengisi ruang tunggu itu. Yesaya berbicara tentang seorang anak dara yang mengandung dan menamai anaknya Imanuel, dan Matius mengutipnya utuh di pasal pertama. Mikha menunjuk Betlehem sebagai tempat lahirnya seorang pemimpin, dan orang-orang majus datang bertanya di manakah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu (Matius 2:2). Zakharia bernubuat tentang raja yang datang dengan lemah lembut mengendarai keledai, dan Matius mengutipnya saat Yesus memasuki Yerusalem. Hosea menyebut anak yang dipanggil keluar dari Mesir, dan Matius melihat pola itu terulang dalam pelarian keluarga Yusuf. Musa memberi hukum dari gunung, dan Yesus mengajar dari bukit sambil berkata, "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17).
Semua garis itu bertemu di satu titik: Sang Raja yang menyertai. Di Perjanjian Lama, kehadiran Allah terikat pada tempat, yaitu kemah dan kemudian Bait Allah, dan diatur dengan tirai serta batas yang ketat. Di Matius, kehadiran itu berjalan di jalan-jalan Galilea, menjamah orang kusta, duduk makan bersama pemungut cukai, dan akhirnya berkata bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, di situ Ia hadir (Matius 18:20).
Dari Matius, benang merah itu terus mengalir. Kitab Kisah Para Rasul menceritakan Injil Kerajaan yang benar-benar melangkah ke bangsa-bangsa, persis seperti Matius 24:14. Surat-surat rasuli menjelaskan bagaimana orang bukan Yahudi dicangkokkan ke dalam janji Abraham. Dan Wahyu menutup Alkitab dengan gambaran akhir: kemah Allah ada di tengah manusia, Ia akan diam bersama mereka. Kitab yang menyebut nama Imanuel di pasal pertama menemukan gemanya di halaman terakhir Alkitab.
Struktur dan tema utama
Matius bukan kumpulan cerita yang disusun acak. Kerangkanya sengaja dibuat agar mudah diingat dan diajarkan, dan begitu Anda melihatnya, seluruh kitab terbuka.
Yang paling terkenal adalah lima blok pengajaran besar, masing-masing ditutup dengan rumusan yang mirip, "setelah Yesus mengakhiri perkataan ini". Blok pertama adalah Khotbah di Bukit di pasal 5 sampai 7, yaitu piagam hidup warga Kerajaan. Blok kedua di pasal 10 adalah pengutusan para murid, ketika kuasa Raja didelegasikan. Blok ketiga di pasal 13 adalah rangkaian perumpamaan tentang Kerajaan yang tumbuh tersembunyi seperti benih dan ragi. Blok keempat di pasal 18 berbicara tentang hidup bersama sebagai komunitas: siapa yang terbesar, bagaimana mencari yang tersesat, sampai berapa kali kita harus mengampuni. Blok kelima di pasal 23 sampai 25 memandang ke depan, kepada penghakiman dan kedatangan Sang Raja. Lima blok ini sering dibandingkan dengan lima kitab Musa, dan itu masuk akal: Matius menampilkan Yesus sebagai Guru yang lebih besar dari Musa, bukan pemberi hukum baru yang menghapus yang lama, tetapi Raja yang menyingkapkan maksud terdalam dari kehendak Allah.
Di antara blok-blok pengajaran itu, Matius menyelipkan bagian-bagian cerita: kelahiran, pembaptisan, pencobaan, mukjizat, konflik dengan pemimpin agama, perjalanan ke Yerusalem, salib, dan kebangkitan. Pola pengajaran lalu perbuatan ini menegaskan satu hal: Raja ini tidak hanya berkata-kata, Ia bertindak. Otoritas-Nya bukan teori.
Ada kerangka kedua yang lebih halus namun sama pentingnya, ditandai oleh frasa "sejak waktu itu". Bagian pertama, Matius 1:1 sampai 4:16, memperkenalkan siapa Yesus. Bagian kedua dimulai tepat di Matius 4:17, ketika Ia mulai memberitakan Kerajaan Sorga, dan berlangsung sampai pengakuan Petrus. Bagian ketiga dimulai sesudah Matius 16:16, ketika Yesus mulai menyatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh, dan dibangkitkan. Jadi kitab ini bergerak dari identitas, ke pemberitaan, lalu ke salib. Pengakuan bahwa Ia Mesias bukan garis akhir; itu pintu masuk ke jalan penderitaan.
Tema-tema besarnya mengikuti kerangka itu. Pertama, penggenapan: Matius terus menunjukkan bahwa tidak satu pun janji Allah gugur. Kedua, Kerajaan Sorga, istilah khas Matius yang muncul puluhan kali; ini bukan sebutan untuk tempat setelah mati, melainkan untuk pemerintahan Allah yang menerobos masuk ke dalam sejarah. Ketiga, kemuridan: Injil ini paling banyak berbicara tentang bagaimana mengikut Yesus secara praktis, sampai-sampai amanat terakhirnya berbunyi "jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Keempat, belas kasihan di atas ritual, dengan kutipan yang diulang dua kali, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" (Matius 9:13). Dan yang menyatukan semuanya, tema penyertaan: dari Imanuel di pasal 1, lewat janji kehadiran di tengah dua atau tiga orang di pasal 18, sampai "Aku menyertai kamu senantiasa" di pasal 28. Struktur kitab ini pada akhirnya bercerita tentang seorang Raja yang mendekat.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang memiliki Kerajaan Sorga" (Matius 5:3). Ini ayat pembuka Khotbah di Bukit, dan bukan kebetulan bahwa pintu masuk Kerajaan justru diletakkan pada kemiskinan rohani. Ungkapan aslinya menggambarkan orang yang benar-benar melarat, bukan yang sekadar sederhana. Yesus memulai piagam kerajaan-Nya dengan mengumumkan bahwa yang tidak punya modal rohanilah yang justru memiliki segalanya. Kalau Anda merasa iman Anda tipis dan doa Anda terbata-bata, ayat ini bukan menuduh Anda; ayat ini justru menyebut Anda berbahagia. Kerajaan diberikan, bukan diraih.
"Maka jawab Simon Petrus: 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'" (Matius 16:16). Inilah engsel kitab ini. Selama belasan pasal Matius menumpuk bukti melalui silsilah, nubuat, pengajaran, dan mukjizat, lalu tiba saatnya pertanyaan itu dilontarkan langsung kepada para murid: menurut kamu, siapakah Aku? Jawaban Petrus menyatukan dua gelar. Mesias berarti Yang Diurapi, Raja yang dijanjikan; Anak Allah yang hidup berarti relasi yang tidak dimiliki siapa pun. Yesus lalu menegaskan bahwa pengakuan itu bukan hasil kecerdasan Petrus melainkan penyingkapan dari Bapa. Setiap pembaca Matius pada akhirnya berhenti di ayat ini, sebab kitab ini tidak menyediakan tempat duduk bagi penonton netral.
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Amanat penutup ini diberikan dengan dasar dan disertai janji. Dasarnya diucapkan sebelumnya: kepada Yesus telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Janjinya menyusul sesudahnya: Ia menyertai sampai akhir zaman. Di antara dasar dan janji itu ada satu perintah utama, yaitu menjadikan murid, dengan dua cara pelaksanaannya, membaptis dan mengajar melakukan segala sesuatu yang Ia perintahkan. Perhatikan bahwa targetnya adalah murid, bukan sekadar pendengar, dan lingkupnya semua bangsa. Di sini janji kepada Abraham yang disebut di Matius 1:1 akhirnya diberi kaki untuk berjalan. Sang Raja mengirim rakyat-Nya keluar, tetapi tidak pernah mengirim mereka sendirian.
Panduan praktis membaca Injil Matius
Cara paling melelahkan membaca Matius adalah memungut ayat-ayat terkenal secara terpisah. Cara paling memuaskan adalah mengikuti alurnya sebagai satu kisah dalam beberapa minggu. Berikut ritme yang bisa Anda pakai.
Minggu pertama, bacalah pasal 1 sampai 7 dengan pertanyaan tunggal: Raja macam apa yang sedang diperkenalkan? Jangan lewati silsilah; bacalah nama-namanya perlahan dan perhatikan bahwa di dalamnya ada Tamar, Rahab, Rut, dan istri Uria, yaitu perempuan-perempuan dengan kisah yang tidak rapi. Sang Raja tidak malu dengan pohon keluarga-Nya. Ketika masuk Khotbah di Bukit, tahan keinginan untuk langsung menilai diri; catat saja apa yang Anda pelajari tentang hati Allah.
Minggu kedua, bacalah pasal 8 sampai 13. Di sini otoritas Yesus diuji di lapangan: penyakit, badai, roh jahat, dosa, dan kematian. Perhatikan siapa saja yang datang kepada-Nya dan siapa yang mulai menjauh. Berhentilah agak lama di Matius 11:28-29, di mana Sang Raja berkata bahwa Ia lembut dan rendah hati, satu-satunya tempat dalam Injil di mana Yesus menggambarkan hati-Nya sendiri.
Minggu ketiga, bacalah pasal 14 sampai 20, dengan pengakuan Petrus di pasal 16 sebagai pusatnya. Setelah ayat itu, hitunglah berapa kali Yesus berbicara tentang penderitaan-Nya, dan bandingkan dengan apa yang dipikirkan para murid tentang kebesaran. Kontrasnya sangat jujur dan sangat menegur.
Minggu keempat, bacalah pasal 21 sampai 28 sekaligus jika memungkinkan, sebaiknya dalam satu atau dua kali duduk. Bagian ini adalah satu gerakan besar: masuk Yerusalem, bentrok dengan pemimpin agama, pengajaran tentang akhir zaman, perjamuan terakhir, Getsemani, salib, dan kubur yang terbuka. Perhatikan tulisan di atas kepala Yesus di kayu salib, "Inilah Yesus Raja orang Yahudi" (Matius 27:37). Para penyalib menulisnya sebagai hinaan; Matius menampilkannya sebagai kebenaran.
Sebagai pelengkap, tandai setiap kali Anda menemukan rumusan penggenapan nubuat, dan tulis satu kalimat doa setiap kali Anda menemukan perintah yang menyentuh hidup Anda pekan itu. Bacalah dengan pensil, bukan hanya dengan mata. Dan bila Anda hanya punya sedikit waktu, mulailah dari pasal 5 sampai 7, lalu pasal 28; awal dan akhir piagam kerajaan itu sudah cukup untuk mengubah cara Anda memandang hari Senin.
Cermin
Anda mungkin sudah lama menghafal Matius 6:33 dan tetap memeriksa saldo rekening dengan jantung berdegup. Saya juga. Injil Matius tidak membiarkan kita bersembunyi di balik ayat hafalan. Ia bertanya dengan tenang: kalau Kerajaan Sorga benar-benar sudah dekat, mengapa keputusan-keputusan Anda tentang uang, karier, dan waktu masih diatur oleh rasa takut kehilangan?
Pikirkan minggu Anda yang baru lewat. Berapa banyak energi yang habis untuk membuktikan bahwa Anda layak, di mata atasan, di mata keluarga besar, di mata teman-teman yang hidupnya terlihat lebih rapi di layar ponsel? Matius 5:3 memotong lingkaran itu. Yang miskin di hadapan Allah, yang tangannya kosong, yang tidak punya prestasi rohani untuk disetorkan, justru dikatakan memiliki Kerajaan. Itu melegakan, tetapi juga menyakitkan, sebab artinya semua usaha kita untuk terlihat kompeten di hadapan Allah adalah tenaga yang terbuang.
Injil ini juga menggosok di titik-titik lain. Pasal 18 bertanya berapa kali Anda bersedia mengampuni orang di rumah Anda sendiri, bukan orang asing di internet. Pasal 25 bertanya apakah Anda mengenali Kristus dalam wajah orang yang lapar, sakit, dan dipenjara, sebab Sang Raja berkata bahwa apa yang dilakukan untuk saudara-Nya yang paling hina dilakukan untuk Dia. Dan pasal 28 tidak memberi ruang untuk iman yang hanya berputar di dalam kepala; ada perintah untuk pergi.
Namun jangan lewatkan kalimat terakhirnya. Sesudah semua tuntutan tinggi Khotbah di Bukit, sesudah semua teguran, kitab ini tidak ditutup dengan daftar syarat, melainkan dengan sebuah janji kehadiran. Anda tidak diminta menjadi cukup baik dulu sebelum ditemani.
Raja ini tidak memerintah dari jauh.
Di malam ketika Anda merasa paling sendiri, di kamar rumah sakit, di dapur setelah pertengkaran, dalam kesepian yang tidak Anda ceritakan kepada siapa pun, Injil Matius berkata: Imanuel. Allah menyertai kita. Bukan konsep, bukan slogan, tetapi Pribadi yang tetap tinggal.
Dijelaskan untuk anak-anak
Untuk anak-anak, Injil Matius paling mudah diperkenalkan sebagai kisah tentang seorang Raja yang tidak seperti raja lainnya. Anak-anak sangat cepat memahami gagasan raja: ada mahkota, ada istana, ada pengawal, ada perintah. Justru karena itu, Yesus terasa mengejutkan bagi mereka. Raja ini lahir di tempat hewan diberi makan, bukan di istana. Ia menyembuhkan orang yang tidak dianggap penting. Ia berkata bahwa yang mau menjadi besar harus menjadi pelayan. Dan mahkota-Nya dibuat dari duri.
Penjelasan sederhana yang bisa Anda pakai di rumah kira-kira begini: Injil Matius adalah kitab yang menceritakan bahwa Allah sudah lama berjanji akan mengirim seorang Raja Penyelamat, dan Yesus adalah Raja itu. Ia mengajarkan cara hidup di dalam kerajaan-Nya, Ia mati untuk mengampuni dosa kita, Ia bangkit, dan sebelum kembali ke sorga Ia berkata bahwa Ia akan selalu menyertai kita. Untuk anak yang lebih kecil, satu kalimat sudah cukup: Yesus adalah Raja yang selalu bersama kita.
Yang sering menyentuh anak-anak adalah kalimat penutup kitab ini. Ketika seorang anak takut gelap, takut sekolah baru, atau sedih karena perpisahan dalam keluarga, janji "Aku menyertai kamu senantiasa" bisa menjadi kalimat yang mereka pegang bertahun-tahun.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus sesuai usia untuk kitab ini: versi cerita bergambar dan sangat sederhana untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun, versi dengan alur dan pertanyaan diskusi untuk anak usia 7 sampai 12 tahun, dan versi yang lebih jujur menghadapi pertanyaan sulit, misalnya tentang penderitaan dan Khotbah di Bukit, untuk remaja usia 12 tahun ke atas. Pilih yang sesuai, lalu bacalah bersama, bukan hanya berikan kepada mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Injil Matius?
Kitab ini tidak menyebutkan nama penulis di dalam teksnya, tetapi seluruh kesaksian gereja awal menunjuk pada Matius, salah satu dari kedua belas rasul, yang sebelumnya bekerja sebagai pemungut cukai. Papias, Irenaeus, Origenes, dan Eusebius semuanya menghubungkan kitab ini dengan namanya, dan tidak ada tradisi kuno yang mengusulkan nama lain. Menarik bahwa hanya dalam kitab inilah Matius disebut dengan tambahan "pemungut cukai" pada daftar rasul, sebuah kejujuran yang terasa seperti tanda tangan pribadi seseorang yang tahu betul dari mana ia diselamatkan.
Kapan Injil Matius ditulis?
Tidak ada tanggal pasti. Sebagian ahli menempatkannya pada tahun 50-an sampai 60-an, karena Matius menyebut praktik persembahan di mezbah dan pajak Bait Allah seperti hal yang masih berlangsung. Sebagian lain memperkirakan tahun 70-an sampai 80-an, dengan alasan situasi jemaat yang tergambar sudah berhadapan keras dengan kepemimpinan sinagoge sesudah Bait Allah dihancurkan pada tahun 70. Yang penting, kedua perkiraan itu tetap menempatkan kitab ini dalam satu generasi dari peristiwa yang diceritakannya, ketika para saksi mata masih hidup.
Mengapa Matius memakai istilah "Kerajaan Sorga" dan bukan "Kerajaan Allah"?
Matius menulis terutama bagi pembaca Yahudi, yang karena hormat sering menghindari penyebutan nama Allah secara langsung dan menggantinya dengan kata seperti "Sorga". Karena itu "Kerajaan Sorga" dan "Kerajaan Allah" menunjuk pada kenyataan yang sama, yaitu pemerintahan Allah yang sudah menerobos masuk melalui Yesus. Perbedaannya gaya bahasa, bukan isi. Bahkan Matius sendiri sekali memakai istilah Kerajaan Allah, misalnya dalam Matius 6:33, yang menunjukkan bahwa keduanya dapat dipertukarkan tanpa mengubah makna.
Apa perbedaan Injil Matius dengan Injil Markus dan Lukas?
Ketiganya bercerita tentang Yesus dengan banyak bahan yang sama, sehingga disebut Injil sinoptik, tetapi penekanannya berbeda. Markus paling ringkas dan bergerak cepat, menampilkan Yesus sebagai Hamba yang bertindak. Lukas paling luas jangkauannya, menyoroti orang-orang yang terpinggirkan dan menulis untuk pembaca non Yahudi. Matius paling tertata sebagai bahan pengajaran, mengelompokkan perkataan Yesus dalam lima khotbah besar, dan paling banyak mengutip Perjanjian Lama untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan kepada Israel.
Mengapa silsilah Yesus dalam Matius berbeda dengan yang di Lukas?
Kedua silsilah memiliki tujuan yang berbeda. Matius bergerak maju dari Abraham menuju Yesus dan menyusunnya dalam tiga bagian yang seimbang untuk menegaskan hak Yesus atas tahta Daud melalui garis Yusuf, ayah menurut hukum. Lukas bergerak ke belakang sampai Adam, memperlihatkan bahwa Yesus adalah Juruselamat bagi seluruh umat manusia. Banyak penafsir juga memahami bahwa keduanya menelusuri jalur keturunan yang tidak sama, satu melalui garis hukum kerajaan dan satu melalui garis keturunan biologis.
Apa arti "miskin di hadapan Allah" dalam Matius 5:3?
Ungkapan ini tidak terutama berbicara tentang keadaan keuangan, melainkan tentang kesadaran bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada Allah agar diterima. Kata yang dipakai menggambarkan orang yang benar-benar melarat, yang hanya bisa meminta. Yesus mengumumkan bahwa justru orang seperti itulah yang memiliki Kerajaan Sorga, sebab Kerajaan diberikan sebagai anugerah, bukan diperoleh sebagai upah. Kalimat ini sekaligus menutup pintu bagi kesombongan rohani dan membuka pintu selebar mungkin bagi siapa saja yang merasa tidak layak.
Apakah Khotbah di Bukit mungkin dijalankan dalam hidup nyata?
Khotbah di Bukit memang menuntut lebih dalam daripada aturan luar, sampai ke tingkat motif hati, dan tidak seorang pun dapat menjalankannya dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus tidak memberikannya sebagai ujian yang mustahil untuk mempermalukan kita, melainkan sebagai gambaran hidup warga kerajaan yang dimulai dari Matius 5:3, yaitu tangan yang kosong. Urutannya penting: pertama anugerah, kemudian ketaatan. Dijalankan bersama Sang Raja yang menyertai dan oleh pekerjaan Roh Kudus, khotbah ini menjadi arah pertumbuhan, bukan beban yang menghancurkan.
Berapa jumlah pasal dalam Injil Matius dan apa ayat kuncinya?
Injil Matius terdiri dari dua puluh delapan pasal, menjadikannya Injil terpanjang setelah Lukas dalam jumlah kata, tetapi paling banyak memuat pengajaran Yesus yang tersusun. Untuk ayat kunci, banyak pembaca memilih Matius 1:1 sebagai pernyataan tema, Matius 4:17 sebagai ringkasan pemberitaan Yesus, dan Matius 28:19-20 sebagai amanat penutup. Jika hanya satu yang boleh dipilih, Matius 28:19 sering dianggap paling mewakili, sebab di sana identitas Yesus sebagai Raja berbuah menjadi pengutusan bagi seluruh bangsa.
Apakah Amanat Agung dalam Matius 28:19 masih berlaku untuk orang Kristen hari ini?
Ya, dan janji penyertaan yang menyusulnya menunjukkan alasannya. Yesus berkata bahwa Ia menyertai sampai kepada akhir zaman, sehingga perintah itu berlaku selama masa itu berlangsung, bukan hanya untuk kesebelas murid yang mendengarnya. Matius 24:14 mengaitkan pemberitaan Injil ke seluruh dunia dengan akhir zaman, yang berarti tugas ini masih berjalan. Bentuk pelaksanaannya bisa beragam, mulai dari mengajar anak di rumah sampai melayani lintas budaya, tetapi intinya sama: menjadikan orang murid, bukan sekadar pendengar.
Apakah nubuat dalam Matius 24 sudah digenapi atau belum?
Para penafsir yang setia pada Alkitab berbeda pendapat. Sebagian melihat bagian besar pasal ini sebagai nubuat tentang kehancuran Yerusalem pada tahun 70, yang sudah terjadi. Sebagian lain memahaminya terutama tentang kedatangan Kristus yang kedua di masa depan. Banyak yang mengambil jalan tengah, bahwa peristiwa tahun 70 adalah penggenapan awal yang menjadi pola dari penggenapan akhir. Yang tidak diperdebatkan adalah penekanan Yesus sendiri: waktunya tidak diketahui siapa pun, karena itu berjaga-jagalah dan tetaplah setia melayani.
Mengapa Injil Matius diletakkan sebagai kitab pertama Perjanjian Baru?
Bukan karena kitab ini yang paling awal ditulis, sebab banyak ahli menduga Markus atau beberapa surat Paulus lebih dahulu selesai. Matius diletakkan di depan karena fungsinya sebagai jembatan. Silsilah yang membuka kitab ini menyambung langsung dengan janji-janji Perjanjian Lama, dan lebih dari lima puluh kutipan dari nabi dan Taurat menegaskan kesinambungan itu. Selain itu, susunannya yang rapi membuat Matius sejak awal menjadi kitab favorit untuk pengajaran katekisasi di gereja-gereja purba.
Bagaimana cara terbaik mulai membaca Injil Matius jika saya pemula?
Bacalah berurutan dan dalam potongan besar, bukan satu dua ayat lepas. Mulailah dengan pasal 1 sampai 4 untuk mengenal siapa Yesus, lanjutkan ke pasal 5 sampai 7 untuk mendengar piagam kerajaan-Nya, lalu ikuti alurnya sampai pasal 28. Bawalah satu pertanyaan sederhana setiap kali membaca: apa yang saya pelajari tentang Raja ini, dan apa yang Ia minta dari saya hari ini. Jika waktu Anda terbatas, empat minggu dengan tujuh pasal per minggu sudah cukup untuk menyelesaikannya dengan tenang.
Sebagai penutup
Injil Matius dimulai dengan daftar nama dan berakhir dengan sebuah janji, dan keduanya berbicara tentang hal yang sama. Daftar nama itu memberi tahu bahwa Allah tidak pernah melupakan apa yang pernah Ia janjikan, bahkan ketika sejarah Israel penuh patahan. Janji di akhir memberi tahu bahwa Raja yang sudah datang itu tidak lagi pergi. Di antara keduanya, Matius menyusun sebuah piagam: siapa warga Kerajaan, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka cari lebih dahulu, dan ke mana mereka diutus.
Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, jangan mulai dengan buku tentang Matius; mulailah dengan Matius sendiri, empat minggu, dua puluh delapan pasal, pensil di tangan. Perhatikan setiap kali Sang Raja mendekat kepada orang yang paling tidak dianggap layak, dan tanyakan mengapa hal itu begitu sering terjadi. Lalu bacalah kalimat terakhirnya dengan suara pelan, seolah diucapkan kepada Anda pribadi, sebab memang demikian. Allah menyertai kita, dari nama Imanuel di halaman pertama sampai selamanya.