MATIUS 8:22
Teks Itu
Seseorang yang sudah disebut murid mendekat dengan permintaan yang paling wajar di dunia: izinkan aku pulang dulu, menguburkan ayahku, baru aku ikut. Bukan penolakan, bukan tawar-menawar; hanya penundaan yang setiap orang waras akan setujui. Jawaban Yesus jatuh tanpa bantalan: "Ikutlah Aku, dan biarlah orang mati menguburkan orang mati mereka sendiri." Tidak ada penjelasan, tidak ada pelunakan, tidak ada catatan kaki yang menerangkan bahwa Ia sebenarnya tidak sekeras itu. Kalimat itu dibiarkan berdiri sendirian di tengah rangkaian mukjizat penyembuhan, seperti batu yang tiba-tiba muncul di jalan yang tadinya rata. Dan Matius tidak memberi tahu kita apa yang orang itu lakukan sesudahnya. Ceritanya berhenti. Kita ditinggalkan bersama perintah itu, tanpa tahu apakah ada yang menaatinya.
Inti
Yang mengganggu bukan sekadar kekerasan nadanya, melainkan klaim yang tersembunyi di baliknya: Yesus menempatkan diri-Nya lebih dahulu daripada kewajiban paling suci yang dikenal Israel. Menguburkan orang tua bukan urusan perasaan, itu perintah hukum, tanggung jawab kehormatan, ekspresi konkret dari "hormatilah ayahmu dan ibumu". Dan Yesus meletakkan panggilan-Nya di atas itu. Hanya ada dua kemungkinan: Ia lancang, atau Ia memang Tuhan yang berhak menuntut demikian. Tidak ada jalan tengah yang nyaman. Perhatikan juga permainan kata yang Ia pakai: ada "orang mati" yang masih berjalan, bernapas, mengurus pemakaman. Kerajaan yang Yesus bawa ternyata bukan tambahan bagi hidup yang sudah ada, melainkan garis pemisah antara yang hidup dan yang hanya tampak hidup. Panggilan-Nya sendirilah yang membangunkan orang dari kematian itu.
Benang Merah
Panggilan yang memutus ikatan keluarga bukan hal baru dalam Alkitab. Abraham disuruh meninggalkan negerinya dan rumah bapanya, dan seluruh sejarah keselamatan bergerak dari perpisahan itu. Elisa, ketika dipanggil Elia, sempat pamit kepada ayah dan ibunya; Yesus tidak memberi kelonggaran yang sama. Ada sesuatu yang lebih mendesak di sini, dan Matius menempatkannya persis sebelum perahu berangkat ke seberang. Yang memanggil bukan seorang nabi yang meneruskan pesan, melainkan Dia yang beberapa ayat sebelumnya disebut menanggung "kelemahan-kelemahan kita" dan memikul "penyakit-penyakit kita". Dia yang akan turun ke dalam kematian itu sendiri berhak berkata: jangan berhenti di kuburan. Salib dan makam kosong berdiri di ujung kalimat keras ini, dan tanpa keduanya kalimat ini memang kejam. Dengan keduanya, kalimat ini adalah undangan untuk berpihak pada kehidupan.
Cermin
Kita jarang menolak Yesus secara terbuka. Kita menunda-Nya, dan penundaan kita selalu punya alasan yang terhormat: setelah anak-anak besar, setelah cicilan lunas, setelah masa sibuk di kantor lewat, setelah ibu tidak lagi membutuhkan aku setiap hari. Tidak satu pun dari alasan itu dosa. Justru di situ letak bahayanya. Yang paling efektif menahan kita bukan yang jahat, melainkan yang baik dan mendesak dan bisa dijelaskan kepada siapa saja. Murid ini tidak sedang berbohong; ayahnya memang perlu dikuburkan. Dan Yesus tetap berkata: ikut Aku, sekarang. Ada bagian dalam hidup kita yang sesungguhnya sudah mati, tetapi masih kita gendong dengan setia karena kita tidak tahu siapa diri kita tanpa beban itu. Hari ini, tuliskan pada selembar kertas satu kalimat: "Aku akan sungguh-sungguh mengikut Engkau setelah …" Lengkapi kalimat itu dengan jujur, lalu bacalah keras-keras di hadapan Tuhan.
Pertanyaan
Apakah Yesus benar-benar melarang orang berkabung? Teks ini tidak mengatakannya, dan kita tidak boleh membuatnya mengatakan lebih dari yang tertulis. Tetapi teks ini juga menolak dijinakkan. Kita ingin sekali menyisipkan penjelasan yang menenangkan, misalnya bahwa ayahnya belum benar-benar mati, atau bahwa ini hanya berlaku bagi satu orang dalam satu situasi khusus. Mungkin. Namun Matius tidak menyediakan pintu keluar itu, dan keheningannya adalah bagian dari pesannya. Yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih tajam: mengapa kita begitu cepat ingin melunakkan Yesus? Barangkali karena kita diam-diam tahu bahwa jika Ia sungguh berbicara begini, hidup kita harus disusun ulang. Teks ini membiarkan kita berdiri di situ, tanpa menghibur, sampai kita memutuskan siapa Dia bagi kita.
Konteks
Kapernaum, di tepi Danau Galilea, sore hari, dengan perahu yang siap bertolak. Yesus baru saja menyembuhkan orang kusta, hamba seorang perwira Romawi, ibu mertua Petrus, dan banyak orang lain. Kerumunan membesar, dan justru saat itu Ia memberi perintah untuk menyeberang, seolah menyaring siapa yang benar-benar ikut. Di dunia itu, menguburkan ayah adalah kewajiban tertinggi seorang anak laki-laki, terutama anak sulung; mengabaikannya berarti mempermalukan seluruh keluarga di depan kampung. Penguburan dilakukan cepat, lalu setahun kemudian tulang-tulang dikumpulkan kembali dalam upacara kedua. Artinya "menguburkan ayahku" bisa berarti sebuah proses panjang, bukan urusan satu sore. Murid ini meminta waktu yang mungkin berbulan-bulan, dan perahu itu berangkat sekarang.
Intertekstualitas
Ayat sebelumnya adalah pasangannya: seorang ahli Taurat menawarkan diri dengan penuh semangat, dan Yesus menjawab bahwa "Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya". Kepada yang terlalu bersemangat Ia menunjukkan harganya; kepada yang ingin menunda Ia menunjukkan mendesaknya. Dua arah, satu tujuan: mengikut Yesus tidak pernah menjadi tambahan yang rapi pada hidup yang sudah tersusun. Bandingkan juga dengan Elisa yang dibiarkan Elia pamit dan menyembelih lembunya sebelum berangkat. Perbedaan itu bukan kebetulan. Elia memanggil seorang pengganti; Yesus memanggil orang kepada diri-Nya sendiri, dan itu tuntutan dengan bobot yang lain sama sekali. Siapa yang berhak menuntut lebih dari Elia?
Refleksi
Kalimat "aku akan mengikut Engkau setelah …" yang kautulis tadi: sudah berapa lama kalimat itu hidup dalam dirimu, dan apa yang sebenarnya kaulindungi dengannya?
Matius tidak memberi tahu apa yang dilakukan murid itu. Kalau ceritamu sendiri ditutup hari ini pada ayat ini, kalimat apa yang akan tertulis sesudahnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 8:22
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 8:22?
Tentang apakah MATIUS 8:22?
Apa konteks historis dari MATIUS 8:22?
Apa yang MATIUS 8:22 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 8:22 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Matthew 8?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi