MATIUS 8:10
Teks
Seorang perwira Romawi baru saja mengatakan bahwa ia tidak perlu Yesus melangkah masuk ke rumahnya; satu patah kata saja sudah cukup. Dan Yesus berhenti. Ia kagum. Kepada orang banyak yang berjalan di belakang-Nya Ia berkata, "Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, Aku belum menemukan iman sebesar ini di antara orang Israel." Dalam satu kalimat, Anak Allah mengaku terkejut oleh seorang asing, seorang pegawai pasukan pendudukan, dan menjadikan keterkejutan itu sebagai pelajaran umum bagi umat perjanjian yang sedang mengikuti-Nya. Perhatikan bahwa Yesus tidak berbicara kepada perwira itu di sini. Ia berbalik dan berbicara kepada kita.
Inti
Ada sesuatu yang sulit dicerna dalam kata "kagum". Kita terbiasa membayangkan Yesus sebagai Dia yang mengetahui segala sesuatu lebih dulu, yang tidak pernah bisa dikejutkan. Namun Matius menulis bahwa Ia kagum, dan tidak menjelaskannya. Biarkan saja celah itu terbuka sebentar. Yang jelas: iman yang membuat Yesus berhenti bukanlah iman yang paling berpengetahuan, bukan yang paling rajin ibadahnya, bukan yang paling benar keturunannya. Iman itu adalah pengakuan bahwa firman Yesus memiliki kuasa yang sama nyatanya dengan perintah seorang komandan kepada prajuritnya. Dan iman itu ditemukan di luar batas yang kita duga. Kerajaan Allah ternyata tidak dibangun di atas garis darah atau kedekatan geografis dengan Bait Allah, melainkan di atas kepercayaan telanjang kepada satu Pribadi. Itu kabar baik yang sekaligus mengguncang.
Benang Merah
Perwira ini berdiri di titik sambungan antara dua babak besar cerita Allah. Sejak Abraham, janji itu selalu punya dua sisi: satu umat dipilih, dan melalui umat itu segala bangsa diberkati. Sisi kedua sering terlupakan, bahkan oleh mereka yang paling setia memelihara sisi pertama. Lalu datanglah seorang Romawi, dan di mulut Yesus terdengar kalimat yang nyaris mustahil: iman terbesar yang Ia temukan tidak berada di dalam Israel. Perhatikan apa yang Yesus katakan sesudahnya, "banyak yang akan datang dari timur dan barat, dan duduk makan dengan Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Kerajaan Surga." Jadi perwira itu bukan pengecualian yang manis, melainkan tanda awal. Meja perjamuan sedang diperlebar, dan yang memperlebarnya adalah Dia yang kelak mati di luar gerbang kota, di tangan pasukan yang sama.
Cermin
Pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini bukan "apakah saya beriman", melainkan "apa yang saya andalkan ketika saya beriman". Perwira itu tidak punya apa-apa: bukan keturunan Abraham, bukan catatan ibadah, bukan kelayakan moral. Yang ia punya hanya keyakinan bahwa satu kata dari Yesus sudah cukup. Kita, yang sudah bertahun-tahun di gereja, sering justru lebih miskin di titik itu. Kita tahu doktrin, kita memimpin kelompok, kita menyiapkan renungan, dan diam-diam kita berpikir bahwa semua itu membuat doa kita lebih berbobot. Lalu anak kita sakit, atau pekerjaan goyah, dan kita menawar dengan Allah memakai rekam jejak sendiri. Hari ini, sebutkan satu nama orang yang sedang menderita, lalu berdoalah dengan satu kalimat saja, tanpa alasan, tanpa penjelasan mengapa Allah pantas mendengarkan Anda. Satu kalimat, lalu diam.
Detail
Kata "kagum" dalam bahasa Yunani di sini adalah ethaumasen, kata yang biasanya dipakai Matius untuk menggambarkan orang banyak yang tercengang melihat Yesus. Sekarang arahnya terbalik: Yesuslah yang tercengang. Hanya dua kali dalam Injil dicatat bahwa Ia kagum, dan yang satunya lagi adalah karena ketidakpercayaan di kampung halaman-Nya sendiri. Dua-duanya mengganggu. Di sini Yesus bukan sedang berpura-pura terkesan demi mendidik orang banyak; Matius menulisnya sebagai kejadian, bukan sebagai teknik mengajar. Dan dalam keterkejutan itu ada sesuatu yang lembut: iman Anda, yang Anda anggap kecil dan goyah, bisa membuat Dia berhenti berjalan. Kita terlalu cepat mengubah Yesus menjadi mesin yang tak tersentuh. Teks ini menolaknya.
Konteks
Kapernaum adalah kota perbatasan di tepi danau, titik kutip pajak dan pos militer. Seorang perwira di sana memimpin sekitar seratus orang dan mewakili kekuasaan yang menduduki tanah janji. Secara sosial ia berada di atas Yesus; secara agama ia najis. Masuk ke rumah seorang non-Yahudi akan membuat Yesus harus menjalani pentahiran, dan setiap orang dalam kerumunan itu tahu hal tersebut. Justru perwira itulah yang membebaskan Yesus dari kesulitan tersebut, bukan karena ia menghindari kontak, melainkan karena ia menghormatinya. Ironinya tajam: satu pasal ini dibuka dengan Yesus menjamah orang kusta, lalu dilanjutkan dengan seorang kafir yang berkata bahwa sentuhan pun tidak perlu. Batas-batas kekudusan sedang digeser dari dua arah sekaligus, dan orang banyak menyaksikannya.
Intertekstualitas
Bandingkan dengan Yesaya 53:4, yang dikutip Matius beberapa ayat kemudian: "Dialah yang mengambil kelemahan-kelemahan kita dan menanggung penyakit-penyakit kita." Matius menempatkan pujian atas iman si perwira di tengah rangkaian penyembuhan yang semuanya bermuara pada ayat itu. Iman tidak berdiri sendiri; ia bersandar pada Seseorang yang akan menanggung, bukan sekadar memerintah dari jauh. Bandingkan juga dengan murid-murid di perahu beberapa ayat sesudahnya, yang berteriak, "Tuhan, selamatkan kami! Kita sedang binasa!" dan mendengar jawaban, "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang beriman?" Orang luar percaya tanpa melihat; orang dalam panik setelah melihat segalanya. Matius menaruh keduanya berdampingan, dan membiarkan kita memilih di sisi mana kita berdiri.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda datang kepada Allah tanpa membawa satu pun alasan mengapa Ia pantas mendengarkan Anda, dan apa yang membuat itu terasa sulit?
Siapa "orang luar" dalam hidup Anda yang imannya mungkin lebih membuat Yesus berhenti daripada iman Anda sendiri, dan apa yang Allah ingin Anda pelajari dari mereka?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 8:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 8:10?
Tentang apakah MATIUS 8:10?
Apa konteks historis dari MATIUS 8:10?
Apa yang MATIUS 8:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 8:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yesus heran. Bukan karena mukjizat, tetapi karena iman seorang perwira Romawi, orang luar, yang berkata cukup satu perkataan saja. "Aku belum pernah menemukan iman sebesar ini pada siapa pun di Israel." Orang yang paling jauh dari Bait Allah justru paling dekat memahami siapa Yesus. Apa yang membuat imanmu kecil hari ini: kurangnya bukti, atau terlalu lama terbiasa?
Tuhan, bahkan kuasa gelap pun harus tunduk meminta izin pada-Mu. Aku sering lupa itu dan membiarkan ketakutan terasa lebih besar daripada Engkau. Tolong aku percaya bahwa tidak ada satu pun yang bergerak di luar kendali-Mu. Aku bersandar pada kuasa-Mu hari ini.
Yesus menyembuhkan orang kusta itu dengan sentuhan, lalu berkata: "Ingatlah, jangan ceritakan kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkan dirimu kepada imam." Kenapa? Karena kulit yang bersih belum cukup. Orang itu perlu diterima kembali di tengah umatnya. Yesus tidak hanya memulihkan tubuhmu, Dia mengembalikan tempatmu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi