FILEMON 1:4
Teks
Sebelum Paulus meminta apa pun, sebelum nama Onesimus disebut, ia mengucap syukur. "Aku selalu bersyukur kepada Allahku ketika mengingat kamu dalam doa-doaku." Satu kalimat pendek yang sebenarnya memuat tiga gerakan sekaligus: Paulus mengingat Filemon, ia membawa ingatan itu kepada Allah, dan yang keluar dari mulutnya bukan permintaan melainkan ucapan syukur. Perhatikan arah kalimatnya. Filemon dipuji, tetapi pujian itu tidak berhenti pada Filemon; ia dialamatkan kepada Allah. Seolah Paulus berkata: apa yang baik dalam dirimu bukan prestasimu, itu pekerjaan Allah, dan karena itu Dialah yang menerima terima kasihku. Ayat ini adalah pintu masuk seluruh surat, dan pintu itu terbuka ke atas, bukan ke samping.
Inti
Kata kecil "Allahku" menyimpan seluruh teologi perjanjian. Paulus, yang sedang dirantai, tidak berkata "Allah" saja, melainkan "Allahku", bahasa yang sama dengan mazmur-mazmur yang lahir dari lubang penderitaan. Allah perjanjian mengikat diri-Nya pada orang tertentu, dengan nama, dan ikatan itu tidak putus oleh penjara. Dari situ mengalir hal kedua: Paulus bersyukur atas Filemon karena ia melihat anugerah di sana, bukan karakter alami yang kebetulan bagus. Iman dan kasih Filemon (ayat 5) adalah buah, bukan akar. Inilah cara pandang seorang yang sudah mengerti keselamatan: ketika ia memandang saudara seiman, ia melihat karya Allah yang sedang berlangsung, dan responsnya adalah syukur, bukan penilaian. Dan justru karena Paulus melihat Filemon sebagai orang yang telah dijamah anugerah, ia berani nanti memintanya melakukan sesuatu yang mahal: menerima kembali budak yang melarikan diri sebagai saudara. Syukur mendahului tuntutan, karena anugerah mendahului ketaatan.
Benang Merah
Syukur adalah bahasa asli umat Allah, dan sejarah keselamatan bisa dibaca sebagai sejarah pemulihan bahasa itu. Manusia jatuh ketika berhenti bersyukur dan mulai curiga terhadap kebaikan Sang Pencipta. Israel dipanggil untuk hidup dari ingatan: ingat bahwa engkau dahulu budak di Mesir, ingat siapa yang membebaskanmu. Dan sekarang, di sebuah rumah di Kolose, seorang rasul yang dirantai mengucap syukur atas seorang tuan tanah yang hatinya sudah dilunakkan Kristus. Yang menarik: seluruh surat ini bergerak menuju pembebasan seorang budak, dan pembebasan itu dibuka dengan syukur, bukan dengan strategi. Di situlah letak benang merahnya. Injil tidak pertama-tama mengubah struktur, melainkan mengubah cara orang memandang satu sama lain; dan dari pandangan baru itu struktur mulai retak. Kristus yang menanggung utang orang lain (ayat 18-19) adalah pola yang sudah bekerja di dalam diri Paulus sebelum ia menuliskannya.
Cermin
Pikirkan orang yang namanya paling sulit Anda sebut dalam doa. Rekan kerja yang selalu membuat Anda merasa kecil. Anak yang mengecewakan. Anggota kelompok kecil yang selalu berdebat. Paulus sedang meminta sesuatu yang mahal dari Filemon, dan ia tetap membuka dengan syukur. Kita biasanya melakukan yang sebaliknya: kita menyusun argumen, mengumpulkan bukti kesalahan, lalu memulai percakapan dari posisi menuntut. Ayat ini menelanjangi kebiasaan itu. Bersyukur atas seseorang berarti mengakui bahwa Allah sudah bekerja di dalam dirinya sebelum saya campur tangan, dan bahwa saya bukan satu-satunya penjaga kebenaran di ruangan itu. Ada juga kesombongan halus yang tersingkap di sini: kita senang mengingat orang lain dalam doa terutama ketika mereka bermasalah. Paulus mengingat Filemon ketika Filemon sedang baik-baik saja, dan tetap berterima kasih.
Detail
"Selalu." Kata itu mudah dilewati sebagai basa-basi surat kuno, tetapi letaknya penting: Paulus menulis dari penjara. Ia tidak bebas mengatur waktunya, tidak bisa bepergian, tidak tahu apakah ia akan hidup atau mati. Yang tersisa baginya adalah ingatan dan doa, dan justru di situ ia berkata "selalu". Penjara tidak mempersempit dunianya; ia malah menampung rumah-rumah jemaat di seluruh Asia Kecil di dalam doanya. Ini bukan optimisme, melainkan buah dari keyakinan bahwa Allah yang ia sapa "Allahku" tidak dibatasi oleh tembok. Perhatikan juga bahwa "selalu" dan "mengingat" berjalan bersama: syukur yang konsisten lahir dari ingatan yang dirawat. Orang yang berhenti mengingat, berhenti bersyukur, dan lalu mulai menuntut.
Intertekstual
Dalam Filipi, yang juga ditulis dari tahanan, Paulus memakai pola serupa: syukur, doa, lalu permohonan. Ini bukan kebetulan gaya, melainkan cerminan keyakinan bahwa jemaat adalah karya Allah yang akan Ia selesaikan. Bandingkan juga dengan kelanjutan surat ini sendiri: pada ayat 20 Paulus berkata, "Segarkanlah hatiku dalam Kristus." Ada garis lurus dari syukur di ayat 4 ke permintaan di ayat 20. Karena ia sudah lebih dulu mensyukuri bahwa Filemon menyegarkan hati orang-orang kudus (ayat 7), permintaannya bukan tekanan baru melainkan undangan untuk menjadi diri sendiri yang sudah dibentuk anugerah. Doa syukur bukan pemanasan retoris; ia menentukan bagaimana permintaan itu boleh diajukan.
Konteks
Sekitar tahun 60-an, Paulus ditahan, kemungkinan besar di Roma. Filemon adalah orang berada di Kolose: rumahnya cukup luas untuk menampung jemaat, dan ia memiliki budak. Dalam dunia Romawi, budak yang melarikan diri adalah masalah hukum dan masalah kehormatan; seorang tuan yang tidak menghukum dianggap lemah dan mengundang pembangkangan lain. Paulus tahu persis apa yang ia minta. Karena itu ia tidak memulai dengan perintah, meski ia bisa (ayat 8). Ia memulai dengan syukur di hadapan Allah, dan surat ini dibacakan keras-keras di depan seluruh jemaat yang berkumpul di rumah itu. Filemon mendengar dirinya disyukuri di depan saudara-saudaranya sebelum ia mendengar apa yang diminta. Itu bukan manipulasi; itu cara Injil bekerja pada hati manusia.
Refleksi
Siapa nama orang yang paling sulit Anda syukuri di hadapan Allah, dan apa yang membuat syukur itu tersendat?
Ketika Anda hendak meminta sesuatu yang mahal dari seseorang, apa yang biasanya Anda ucapkan lebih dahulu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Philemon 1:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti FILEMON 1:4?
Tentang apakah FILEMON 1:4?
Apa konteks historis dari FILEMON 1:4?
Apa yang FILEMON 1:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana FILEMON 1:4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Philemon 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Anugerah dan damai sejahtera bagi kamu dari Allah, Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus." Kalimat ini bukan sekadar sapaan sopan. Paulus akan meminta Filemon menerima kembali budak yang kabur darinya. Sebelum hal sulit itu disebut, ia menaburkan anugerah lebih dulu. Mungkin ada orang yang sulit kaumaafkan hari ini. Mulailah dari sana juga.
Aku ingin menahannya bersamaku supaya ia dapat melayaniku sebagai penggantimu selama aku dipenjara karena Injil." Paulus butuh Onesimus. Di penjara, bantuan itu berharga. Tapi ia melepaskannya pulang, supaya Filemon sendiri yang memilih memberi. Kasih sejati tidak merampas kesempatan orang lain untuk berbuat baik dengan rela. Adakah yang sedang kamu genggam, padahal seharusnya kamu lepaskan?
Markus, Aristarkhus, Demas, Lukas, teman-teman sekerjaku." Empat nama sejajar dalam satu baris. Markus pernah pergi meninggalkan Paulus di tengah perjalanan, lalu kembali. Demas masih setia saat surat ini ditulis, tapi nanti ia pergi karena mencintai dunia ini. Nama yang tercatat hari ini belum tentu bertahan sampai akhir. Kamu ada di daftar itu sekarang. Maukah kamu masih ada di sana besok?
Paulus bisa saja memerintah. "Karena itu, walaupun dalam Kristus aku memiliki keberanian penuh untuk memerintahkanmu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," tulisnya. Tapi ia berhenti di situ. Ia memilih memohon. Hak yang ditahan demi kasih. Kamu juga punya hak seperti itu hari ini, atas anakmu, pasanganmu, rekanmu. Apa kamu berani tidak memakainya?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi