FILIPI 2:5
Teks
Paulus baru saja mengatakan sesuatu yang tajam: jangan ada yang dilakukan karena ambisi egois atau kesombongan yang sia-sia, dan jangan hanya memandang kepentingan sendiri. Lalu datanglah ayat 5, yang berfungsi seperti engsel pintu: "Biarlah pikiran ini ada di antara kamu, sebagaimana juga dimiliki oleh Yesus Kristus." Singkatnya: cara berpikir yang seharusnya mengatur hidup bersama jemaat di Filipi bukanlah hasil kesepakatan sosial atau strategi menjaga kerukunan, melainkan cara berpikir Kristus sendiri. Dan kalimat itu langsung mengalir ke bawah, ke ayat 6 sampai 11, ke sosok yang tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah, yang mengosongkan diri, yang taat sampai mati di kayu salib. Ayat 5 adalah jembatan antara perintah yang sangat membumi dan nyanyian tentang Anak Allah yang turun.
Inti
Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata "tirulah tindakan Kristus", melainkan "biarlah pikiran ini ada di antara kamu". Kata Yunaninya, phroneite, bukan sekadar soal pemikiran di kepala; itu mencakup sikap batin, orientasi, apa yang kita anggap layak diperjuangkan. Inilah yang menentukan seribu keputusan kecil sebelum kita sempat merenungkannya. Dan di sinilah letak ketajamannya: Paulus menempatkan standar etika Kristen bukan pada aturan yang bisa dicentang, melainkan pada karakter Pribadi yang rela kehilangan. Etika Kristen tidak dimulai dari "apa yang harus saya lakukan", tetapi dari "siapa yang telah turun kepada saya". Itu berarti kerendahan hati bukan taktik untuk disukai orang, bukan pula rasa rendah diri yang malu pada diri sendiri, melainkan kebebasan seseorang yang tidak lagi perlu mempertahankan posisinya, karena posisinya sudah aman dalam Kristus.
Benang Merah
Jalan yang digambarkan di ayat 6 sampai 11 adalah pola yang sudah lama bergema dalam Kitab Suci: yang turun dinaikkan, yang mempertahankan diri kehilangan. Manusia pertama menggenggam apa yang bukan haknya dan jatuh; Kristus "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sesuatu yang harus dipertahankan", padahal itu memang hak-Nya. Di situ seluruh arus dibalik. Hamba yang menderita dalam nubuat Yesaya, raja yang menolak membalas, nabi yang dibuang demi umat yang menolaknya: semuanya adalah bayangan samar dari satu gerakan turun yang berakhir di kayu salib. Dan karena gerakan itu berakhir dengan kebangkitan dan nama di atas segala nama, kerendahan hati orang Kristen bukan pesimisme. Kita merendah bukan karena merendah itu mulia, melainkan karena kita tahu ke mana jalan itu bermuara.
Cermin
Di sinilah ayat ini menggigit. Dalam rapat kerja, ketika gagasan Anda diklaim rekan lain tanpa menyebut nama Anda, phroneite Kristus tidak berarti Anda harus pura-pura tidak sakit hati; artinya Anda tidak perlu menghabiskan tiga hari menyusun pembelaan, karena nama Anda tidak sedang dipertaruhkan. Di rumah, itu berarti siapa yang mengalah soal jadwal, siapa yang bangun ketika anak menangis, siapa yang minta maaf lebih dulu padahal merasa lebih benar. Soal uang: apakah Anda memberi dari sisa, atau dari bagian yang terasa? Soal waktu: siapa yang Anda balas pesannya lebih cepat, orang yang berguna atau orang yang membutuhkan? Ayat ini menelanjangi kebiasaan halus kita menghitung nilai orang berdasarkan apa yang bisa mereka berikan.
Hari ini: pikirkan satu orang yang belakangan ini Anda anggap merepotkan, lalu kirimkan pesan singkat yang menanyakan kabarnya tanpa menyelipkan permintaan apa pun.
Profil
Filipi adalah koloni Romawi, kota pensiunan tentara, tempat status diukur terang-terangan: gelar, jabatan, garis keturunan, patronase. Orang menaiki tangga kehormatan dan semua orang tahu siapa berdiri di anak tangga mana. Ke telinga seperti itu, Paulus menulis bahwa Kristus "menghambakan diri sebagai budak". Kata itu bukan metafora sopan bagi mereka; budak adalah manusia tanpa kehormatan, tanpa hak, milik orang lain. Menyebut Tuhan yang disembah sebagai budak yang mati disalib adalah penghinaan sosial yang nyaris tak tertahankan. Dan jemaat itu sendiri punya gesekan: dua perempuan yang berselisih, pelayan-pelayan yang bersaing. Paulus tidak menyuruh mereka berdamai demi kenyamanan; ia menyuruh mereka turun, mengikuti Tuhan yang lebih dulu turun sampai ke dasar.
Intertekstual
Ketika Yesus mendapati murid-murid-Nya bertengkar soal siapa yang terbesar, Ia berkata bahwa siapa yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan, dan bahwa Ia sendiri datang bukan untuk dilayani (Markus 10). Paulus menulis Filipi 2 seolah ia sedang menguraikan kalimat itu dalam bentuk nyanyian. Lalu di Yohanes 13, Yesus melepas jubah-Nya, mengambil kain, dan membasuh kaki, pekerjaan budak, lalu berkata bahwa murid tidak lebih tinggi dari gurunya. Dua adegan ini menjelaskan mengapa ayat 5 tidak bisa diperlunak menjadi anjuran bersikap ramah: yang diminta adalah pelepasan hak, bukan pemolesan sikap. Dan kedua adegan itu terjadi menjelang salib, bukan di ruang kelas.
Pertanyaan
Bisakah kita sungguh memiliki pikiran Kristus, padahal yang digambarkan ayat 6 sampai 8 adalah sesuatu yang hanya Dia sanggup lakukan? Kita tidak memiliki kesetaraan dengan Allah untuk dilepaskan. Dan ada bahaya kedua yang lebih menyakitkan: ayat ini sering dipakai untuk membungkam orang yang sedang ditindas, menyuruh istri yang dipukuli atau pekerja yang diperas agar "rendah hati". Itu penyalahgunaan. Kristus melepaskan sesuatu yang benar-benar milik-Nya, secara sukarela, dari posisi kuat. Kerendahan hati yang dipaksakan orang lain kepada Anda bukan kerendahan hati, itu penindasan. Namun jujur saja, jarak antara Dia dan kita tetap tidak terjembatani; ayat 13 mengatakan Allah sendiri yang bekerja di dalam kita. Kita tidak meniru dari kejauhan; kita diubah dari dalam, pelan-pelan, sering terlambat.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda paling gigih mempertahankan posisi, dan apa sebenarnya yang Anda takut kehilangan di sana?
Siapa orang yang selama ini Anda perlakukan berdasarkan kegunaannya bagi Anda, dan apa langkah kecil yang mengubahnya minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Philippians 2:5
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti FILIPI 2:5?
Tentang apakah FILIPI 2:5?
Apa konteks historis dari FILIPI 2:5?
Apa yang FILIPI 2:5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana FILIPI 2:5 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Philippians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba." Perhatikan: tidak ada yang merampas apa pun dari Yesus. Dia sendiri yang melepaskan. Dan yang Dia pilih bukan posisi aman, melainkan rupa hamba.
Apa yang masih kaugenggam hari ini supaya orang tetap menghormatimu? Yesus justru turun, dan di situlah Dia paling mirip Allah.
Bapa, ubahlah cara aku berpikir. Terlalu sering aku ingin menang, ingin dilihat, ingin didahulukan. Ajar aku memiliki hati seperti Yesus yang rela merendah dan memilih melayani. Mulailah dari hal kecil hari ini, dalam caraku memperlakukan orang di sekitarku.
Dan, setiap lidah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa."
Setiap lidah. Termasuk lidah yang dulu mengutuk Dia, yang berteriak "salibkan Dia", yang hari ini masih sibuk membela diri. Semua akan mengaku, entah dengan sukacita atau dengan penyesalan.
Kamu masih punya waktu memilih nadanya. Mengakui Dia Tuhan hari ini, saat belum semua orang melakukannya, itulah iman.
Terima kasih untuk orang-orang seperti Epafroditus yang Kauberikan di hidupku: saudara, teman sekerja, teman seperjuangan. Terima kasih Engkau memakai tangan mereka untuk melayani kebutuhanku, dan mengingatkan bahwa aku tak pernah berjuang sendirian.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi