FILIPI 2:2
Teksnya
Paulus baru saja menumpuk empat alasan dalam ayat 1: kalau di dalam Kristus memang ada dorongan semangat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, dan belas kasihan, maka semua itu harus bermuara pada sesuatu. Ayat 2 adalah muaranya: "sempurnakanlah sukacitaku dengan sehati sepikir, memiliki kasih yang sama, dipersatukan dalam roh, dan memiliki satu tujuan." Perhatikan betapa aneh permintaan ini. Seorang tahanan yang tidak tahu apakah ia akan hidup atau mati tidak meminta doa untuk pembebasannya, tidak meminta kiriman uang tambahan, tidak meminta pembelaan hukum. Ia meminta agar jemaat kecil di Filipi berhenti saling menarik ke arah yang berbeda. Sukacitanya sudah ada, tetapi belum penuh; yang kurang bukan kebebasannya, melainkan keutuhan mereka.
Intinya
Kata yang dipakai Paulus untuk "sehati sepikir" adalah phronein, yang berarti cara berpikir, orientasi batin, arah ke mana hati seseorang condong. Kata yang sama muncul lagi tiga ayat kemudian: "Biarlah pikiran ini ada di antara kamu, sebagaimana juga dimiliki oleh Yesus Kristus." Jadi kesatuan yang dituntut di sini bukan kesamaan selera, bukan kesepakatan tentang segala hal, bukan pula suasana hangat yang dipaksakan. Ini adalah kesamaan arah batin yang bentuknya sudah ditentukan lebih dahulu oleh Kristus yang turun, mengosongkan diri, dan taat sampai mati. Artinya, perpecahan jemaat bukan sekadar persoalan sosial atau ketidakcocokan kepribadian. Perpecahan adalah tanda bahwa cara berpikir salib belum meresap. Dan sebaliknya: jemaat yang sungguh satu sedang memperagakan Injil, bukan hanya memercayainya.
Benang Merahnya
Empat hal yang disebut Paulus di ayat 1 bukan daftar kebajikan umum; semuanya bersumber "dalam Kristus". Dorongan semangat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, belas kasihan: itulah yang mengalir dari salib dan kebangkitan ke dalam jemaat. Maka kesatuan yang diminta di ayat 2 bukan target yang harus dikejar dengan tenaga sendiri, melainkan buah yang tumbuh dari akar yang sudah ditanam Allah. Inilah pola rencana keselamatan sejak semula: Allah mengumpulkan yang tercerai. Israel dipanggil menjadi satu umat dari banyak suku; nabi-nabi merindukan hati yang satu; dan pada Kristus, yang merendahkan diri sampai mati di kayu salib, perpecahan antara Allah dan manusia disembuhkan lebih dahulu, agar perpecahan antara manusia dan sesamanya ikut runtuh. Kesatuan jemaat bukan tambahan pada Injil. Ia adalah Injil yang menjadi terlihat.
Cerminnya
Ayat ini membongkar sesuatu yang jarang kita akui: kita bisa sangat rohani sambil tetap ingin menang. Dalam rapat majelis, dalam grup WhatsApp keluarga, dalam diskusi tentang uang gereja atau tentang cara membesarkan anak, ada dorongan halus untuk memastikan bahwa pandangan kitalah yang akhirnya diakui benar. Paulus menyebutnya di ayat berikutnya "ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia". Yang menyakitkan: kita sering menyebutnya prinsip. Dan ada sisi lain juga, mereka yang menghindari konflik dengan menarik diri diam-diam, lalu menyebutnya damai. Keduanya bukan "satu tujuan"; keduanya adalah tujuan sendiri yang disamarkan. Hari ini, tulislah satu nama orang di jemaat atau keluarga yang sedang tidak sehati denganmu, lalu doakan namanya dengan suara terdengar selama dua menit, dan minta secara khusus agar Allah memberi kalian berdua satu arah, bukan agar dia berubah menjadi seperti kamu.
Gema Nas Lain
Doa Yesus di Yohanes 17, ketika Ia meminta agar murid-murid-Nya menjadi satu seperti Bapa dan Anak adalah satu, memberi bobot yang mengerikan pada permintaan Paulus. Yang diminta bukan kerukunan organisasi, melainkan pantulan hubungan di dalam Allah sendiri, dan Yesus menyebut kesatuan itu sebagai bukti yang membuat dunia percaya. Bandingkan juga dengan jemaat di Korintus, di mana Paulus harus menegur perpecahan yang berpusat pada nama-nama pemimpin favorit. Perbedaannya jelas: Filipi bukan jemaat yang kacau, mereka justru jemaat kesayangan Paulus. Namun retak kecil, seperti yang nanti terlihat pada dua perempuan yang bertengkar di pasal 4, sudah cukup untuk membuat sukacita rasul itu belum penuh. Kesatuan tidak hancur oleh skandal besar saja; ia terkikis oleh gesekan kecil yang dibiarkan.
Profilnya
Filipi adalah koloni Romawi, kota pensiunan tentara, dengan kebanggaan status yang kental. Di sana orang tahu persis siapa berada di anak tangga mana: warga negara Romawi di atas, pendatang di bawah, budak paling bawah. Jemaat itu sendiri campuran aneh menurut ukuran zaman itu, seorang pedagang kain mewah, seorang bekas kepala penjara, seorang budak perempuan yang dulu dieksploitasi. Ketika mereka mendengar "dipersatukan dalam roh, dan memiliki satu tujuan", mereka tidak mendengar kata-kata manis. Mereka mendengar tuntutan agar tangga status kota mereka dirobohkan di dalam ruang ibadah. Dan mereka mendengarnya dari seorang tahanan, yaitu orang yang menurut hitungan Roma sudah kehilangan seluruh kehormatannya, tetapi yang justru sedang berbicara dengan otoritas penuh.
Tokoh Utamanya
Paulus di sini tampak rapuh dengan cara yang tidak sering kita bayangkan. Ia tidak berkata: taatlah, aku rasulmu. Ia berkata: sukacitaku belum penuh, sempurnakanlah. Itu bahasa orang yang membiarkan kebahagiaannya bergantung pada orang lain, sesuatu yang biasanya kita hindari mati-matian. Ia sedang meniru pola yang akan ia lukiskan beberapa ayat kemudian, yaitu Kristus yang tidak mempertahankan hak-Nya. Paulus tidak mempertahankan jarak amannya sebagai pemimpin. Ia menempatkan hatinya di tangan jemaat kecil yang jauh, sambil menunggu keputusan pengadilan yang bisa membunuhnya. Kasih selalu berbentuk begitu: memberi orang lain kuasa untuk membuat kita bersukacita, dan karena itu juga kuasa untuk melukai kita.
Refleksi
Di mana dalam hidupmu minggu ini "satu tujuan" akan menuntut kamu melepaskan sesuatu yang sebenarnya kamu berhak pertahankan?
Siapa yang sukacitanya bertambah penuh atau berkurang karena caramu bersikap dalam jemaat atau keluargamu, dan apakah kamu pernah menganggap itu urusan rohani?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Philippians 2:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti FILIPI 2:2?
Tentang apakah FILIPI 2:2?
Apa konteks historis dari FILIPI 2:2?
Apa yang FILIPI 2:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana FILIPI 2:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Philippians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ubahlah cara aku berpikir. Terlalu sering aku ingin menang, ingin dilihat, ingin didahulukan. Ajar aku memiliki hati seperti Yesus yang rela merendah dan memilih melayani. Mulailah dari hal kecil hari ini, dalam caraku memperlakukan orang di sekitarku.
Dan, setiap lidah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa."
Setiap lidah. Termasuk lidah yang dulu mengutuk Dia, yang berteriak "salibkan Dia", yang hari ini masih sibuk membela diri. Semua akan mengaku, entah dengan sukacita atau dengan penyesalan.
Kamu masih punya waktu memilih nadanya. Mengakui Dia Tuhan hari ini, saat belum semua orang melakukannya, itulah iman.
Terima kasih untuk orang-orang seperti Epafroditus yang Kauberikan di hidupku: saudara, teman sekerja, teman seperjuangan. Terima kasih Engkau memakai tangan mereka untuk melayani kebutuhanku, dan mengingatkan bahwa aku tak pernah berjuang sendirian.
Sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik dalam kemauan maupun pekerjaan, sesuai dengan kehendak-Nya yang baik." Perhatikan urutannya: kemauan lebih dulu, baru pekerjaan. Jadi dorongan kecil untuk mengampuni, yang muncul saat hatimu masih ingin marah, itu bukan hasil usahamu. Itu Allah yang sudah mulai bekerja di dalam dirimu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi