Penjelasan Alkitab

1 SAMUEL 19:17

Alkitab

Teks

Para suruhan Saul akhirnya masuk ke kamar dan menemukan bukan Daud, melainkan sebuah patung terafim berselimut dengan tenunan bulu kambing di bagian kepala. Saul lalu memanggil putrinya sendiri dan menuntut penjelasan: "Mengapa kamu menipu aku seperti ini dengan melepaskan musuhku sehingga dia terluput?" Mikhal menjawab dengan satu kalimat yang menyelamatkan nyawanya dan sekaligus mengorbankan nama suaminya: "Dia berkata kepadaku, 'Biarkanlah aku pergi, mengapa kamu harus mati?'" Dengan kata lain: aku tidak membantu Daud, aku diancam olehnya. Ayat ini adalah satu-satunya tempat di mana Mikhal dan ayahnya berhadapan langsung, dan yang keluar dari mulut perempuan itu bukanlah pembelaan, melainkan sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Inti

Perhatikan apa yang tidak dilakukan penulis kitab ini: dia tidak memuji Mikhal, tidak mencelanya, tidak menambahkan satu kalimat pun untuk memberi tahu kita bagaimana seharusnya kita menilai. Dia hanya melaporkan. Dan di sinilah letak kejujuran Alkitab yang sering membuat kita tidak nyaman: Allah menyelamatkan orang yang diurapi-Nya melalui patung berhala rumah tangga yang seharusnya tidak ada di rumah seorang Israel, dan melalui mulut seorang perempuan yang berbohong demi menyelamatkan diri. Kesetiaan Allah kepada janji-Nya ternyata tidak bergantung pada kemurnian tangan yang Ia pakai. Itu bukan izin untuk berbohong; itu kabar bahwa anugerah bergerak lebih dulu daripada kesucian kita, dan bahwa rencana Allah tidak bisa digagalkan oleh ketakutan manusia, bahkan ketakutan orang yang ada di pihak-Nya.

Benang Merah

Lihat posisi Daud di ayat ini: dia tidak ada. Dia sudah pergi lewat jendela, dalam gelap, tanpa pengawal, tanpa senjata, tanpa nama baik. Raja yang diurapi Samuel kini menjadi buronan yang keselamatannya bergantung pada selimut dan patung kayu. Pola ini berulang terus dalam sejarah keselamatan: janji Allah hampir selalu bergerak melalui jalur yang terlihat rapuh dan setengah kotor, bukan melalui jalur kekuasaan. Berabad-abad kemudian seorang bayi dibawa lari pada malam hari dari seorang raja yang juga ingin membunuh pesaing takhtanya. Bedanya, Anak itu pada akhirnya berhenti melarikan diri. Daud berkata, "Biarkanlah aku pergi"; Yesus justru berjalan masuk ke dalam malam di mana tidak ada jendela untuk meloloskan diri. Keselamatan kita tidak digantungkan pada kelihaian siapa pun, melainkan pada Dia yang menolak melarikan diri.

Cermin

Kalimat Mikhal itu terlalu akrab untuk kita tolak. "Dia yang menyuruhku." "Aku cuma mengikuti arahan." "Sebenarnya aku tidak setuju, tapi mereka memaksa." Kita jarang berbohong besar; kita menggeser sedikit letak tanggung jawab, cukup supaya kita berdiri di tempat aman dan orang lain yang berdiri di angin. Di kantor, ketika proyek gagal, satu kalimat kecil menyelamatkan posisi Anda dan membuat rekan Anda menanggung bobotnya. Di rumah, Anda menceritakan pertengkaran kepada saudara dengan sudut yang membuat pasangan Anda tampak tidak masuk akal. Yang menyakitkan dari Mikhal bukan keberaniannya menurunkan Daud lewat jendela, melainkan betapa cepatnya ia melepaskan nama suaminya begitu wajah ayahnya muncul di ambang pintu. Kita bisa mengasihi seseorang dengan tindakan malam hari, lalu menjatuhkannya dengan satu kalimat di pagi hari.

Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu kalimat yang pernah Anda ucapkan minggu ini yang membuat orang lain tampak buruk supaya Anda tampak aman. Lalu ucapkan dengan suara keras kepada Tuhan: "Aku yang mengatakannya, bukan dia."

Pertanyaan

Apakah Mikhal berdosa? Teks tidak mengatakannya, dan di situlah kita gelisah. Kita ingin Alkitab memberi aturan: berbohong untuk menyelamatkan nyawa boleh atau tidak boleh. Yang kita dapat hanyalah laporan. Mungkin memang ada situasi di mana kejujuran kepada seorang pembunuh bukanlah kebajikan melainkan kerja sama dengan pembunuhan. Tetapi perhatikan arah kebohongan Mikhal: ia tidak berbohong untuk melindungi Daud, sebab Daud sudah lolos. Ia berbohong untuk melindungi dirinya sendiri, dengan ongkos nama Daud. Dan itu tidak sepenuhnya bisa dibela. Alkitab membiarkannya tergantung di sana, tanpa penilaian, seolah berkata: kamu sendiri tahu, bukan, bedanya antara melindungi yang lemah dan menyelamatkan kulitmu sendiri? Jangan terlalu cepat menenangkan diri dengan jawaban yang rapi.

Profil

Pendengar pertama kisah ini adalah orang Israel yang hidup di bawah raja, dan yang tahu betul apa artinya rumah tangga penguasa retak dari dalam. Mereka mendengar sesuatu yang skandal ganda: ada terafim, patung pelindung rumah tangga, di rumah menantu raja; dan kedua anak Saul, Yonatan dan Mikhal, berpihak kepada orang yang hendak dibunuh ayah mereka. Bagi telinga mereka, ini bukan drama keluarga melainkan vonis: dinasti Saul sedang runtuh dari ruang tidurnya sendiri. Mereka juga menangkap ironi yang mudah lolos dari kita. Saul mengirim pasukan, menguasai informasi, memegang tombak, dan toh dikalahkan oleh selimut dan sebuah kalimat. Kekuasaan yang melawan pilihan Allah selalu terlihat besar sampai ia berhadapan dengan hal-hal kecil.

Intertekstual

Rahab di Yerikho juga berbohong kepada penguasanya untuk melindungi orang-orang Allah, dan ia kemudian disebut sebagai teladan iman, bukan teladan kejujuran. Perbandingan itu menolong: yang dihargai Alkitab bukan taktiknya, melainkan ke pihak mana seseorang akhirnya berdiri. Dan di situlah Mikhal menjadi tragis. Dalam 2 Samuel 6, ketika Daud menari di depan tabut, Mikhal memandang dari jendela, jendela yang sama jenisnya dengan yang dulu ia pakai untuk menurunkan suaminya, dan hatinya penuh hina. Perempuan yang pernah menyelamatkan Daud berakhir memandangnya dengan jijik. Satu malam keberanian tidak otomatis menjadi satu hidup kesetiaan. Itu peringatan bagi siapa pun yang mengira kisah imannya sudah selesai karena pernah melakukan hal benar satu kali.

Refleksi

Kalimat perlindungan diri mana yang paling sering Anda pakai, dan siapa yang biasanya membayar harganya?

Di mana dalam hidup Anda Allah sedang bekerja melalui orang atau cara yang Anda anggap tidak cukup murni untuk Ia pakai?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Samuel 19:17

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 1 SAMUEL 19:17?
Para suruhan Saul akhirnya masuk ke kamar dan menemukan bukan Daud, melainkan sebuah patung terafim berselimut dengan tenunan bulu kambing di bagian kepala. Saul lalu memanggil putrinya sendiri dan menuntut penjelasan: "Mengapa kamu menipu aku seperti ini dengan melepaskan musuhku sehingga dia terluput?
Tentang apakah 1 SAMUEL 19:17?
Lihat posisi Daud di ayat ini: dia tidak ada. Dia sudah pergi lewat jendela, dalam gelap, tanpa pengawal, tanpa senjata, tanpa nama baik. Raja yang diurapi Samuel kini menjadi buronan yang keselamatannya bergantung pada selimut dan patung kayu. Pola ini berulang terus dalam sejarah keselamatan: janji Allah hampir selalu bergerak melalui jalur yang terlihat rapuh dan setengah kotor, bukan melalui jalur kekuasaan.
Apa konteks historis dari 1 SAMUEL 19:17?
Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu kalimat yang pernah Anda ucapkan minggu ini yang membuat orang lain tampak buruk supaya Anda tampak aman. Lalu ucapkan dengan suara keras kepada Tuhan: "Aku yang mengatakannya, bukan dia."
Apa yang 1 SAMUEL 19:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Pendengar pertama kisah ini adalah orang Israel yang hidup di bawah raja, dan yang tahu betul apa artinya rumah tangga penguasa retak dari dalam. Mereka mendengar sesuatu yang skandal ganda: ada terafim, patung pelindung rumah tangga, di rumah menantu raja; dan kedua anak Saul, Yonatan dan Mikhal, berpihak kepada orang yang hendak dibunuh ayah mereka.
Bagaimana 1 SAMUEL 19:17 masih relevan hari ini?
Di mana dalam hidup Anda Allah sedang bekerja melalui orang atau cara yang Anda anggap tidak cukup murni untuk Ia pakai?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 1 Samuel 19

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 7

Yonatan tidak hanya mengirim kabar baik kepada Daud. Ia menjemputnya dan membawanya kembali kepada Saul, "sehingga ia ada di hadapannya seperti dahulu." Berani berbicara baik tentang seseorang saat ia tidak hadir, lalu berjalan di sampingnya saat ia kembali. Siapa yang kamu bela ketika ia tidak mendengar?

Doa Editorial pada ayat 19

Tuhan, ketika ada yang mengejar dan aku merasa terpojok, tunjukkan aku tempat aman untuk berteduh. Bawa aku kepada orang-orang yang mengenal-Mu, supaya di tengah ketakutan aku diingatkan bahwa Engkau tahu di mana aku berada dan tidak melepaskan aku.

Wawasan Editorial pada ayat 22

Saul bertanya, "Di manakah Samuel dan Daud?" Pertanyaan yang tepat, tetapi hati yang salah. Ia mencari mereka bukan untuk belajar, melainkan untuk membunuh. Namun Roh Allah menghadangnya di tengah jalan. Kadang Tuhan menghentikan langkahmu sebelum rencanamu selesai. Itu bukan penghalang, itu belas kasihan.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi