Penjelasan Alkitab

2 KORINTUS 5:7

Alkitab

Teks Itu Sendiri

Satu kalimat pendek, nyaris seperti gumaman di sela-sela argumen: "Sebab, kami hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan." Paulus sedang berbicara tentang tubuh sebagai kemah yang suatu saat dirobohkan, tentang kerinduan yang terasa seperti keluhan, dan tentang Roh yang Allah berikan "sebagai jaminan." Di tengah itu ia menyisipkan alasan mengapa ia tetap tabah sekalipun, selama ada di rumah dalam tubuh ini, ia "berada di luar Tuhan." Jawabannya bukan penjelasan yang memuaskan rasa ingin tahu, melainkan sebuah cara berjalan. Kata yang dipakai di sini bukan kata abstrak untuk "hidup", melainkan peripateō, berjalan, melangkah, menjalani hari. Bukan sikap batin yang tersembunyi, tetapi langkah kaki yang arahnya ditentukan oleh sesuatu yang belum terlihat.

Intinya

Yang membuat ayat ini berbobot adalah apa yang tidak dikatakannya. Paulus tidak berkata iman adalah pengganti sementara yang lebih rendah daripada penglihatan, semacam tongkat bagi orang yang belum bisa melihat. Ia berkata iman adalah cara hidup yang pantas bagi orang yang sudah menerima panjar. Lihat ayat 5: Allah "yang memberikan Roh kepada kita sebagai jaminan." Kata itu dalam dunia dagang berarti uang muka yang mengikat secara hukum, cicilan pertama dari pembayaran penuh. Jadi iman di sini bukan lompatan dalam kegelapan, melainkan kepercayaan yang bersandar pada uang muka yang sudah ada di tangan. Di situ anugerah dan perjanjian bertemu: Allah lebih dulu mengikat diri-Nya, dan iman adalah bentuk hidup yang menanggapi ikatan itu. Kita berjalan bukan karena kita yakin pada diri sendiri, tetapi karena Dia sudah menandatangani lebih dulu.

Benang Merah

"Berjalan" adalah kata khas umat perjanjian. Abraham berjalan keluar dari Ur tanpa peta. Israel berjalan empat puluh tahun di belakang tiang awan, memakan roti yang hanya cukup untuk sehari. Dan kemah dalam ayat 1 bukan gambar yang dipilih asal-asal: umat Allah pernah tinggal di kemah sementara, mengikuti kemah suci yang bisa dibongkar dalam setengah hari. Seluruh pola keselamatan berjalan begitu, dari janji menuju penggenapan, dengan jarak di tengahnya. Yang baru dalam Kristus bukanlah bahwa jaraknya hilang, melainkan bahwa akhirnya sudah pasti: Dia yang mati dan dibangkitkan (ayat 15) sudah lebih dulu melewati kematian yang kita takutkan. Iman bukan sikap religius yang umum, melainkan bentuk hidup orang yang ditebus di antara Paskah dan kedatangan-Nya kembali.

Cermin

Hidup oleh penglihatan terdengar rohani untuk ditolak, tetapi kita melakukannya setiap hari. Kita mengukur hidup dari saldo rekening, dari hasil pemeriksaan dokter, dari apakah anak kita masih mau ikut ke gereja, dari apakah atasan menyebut nama kita dalam rapat. Semua itu kelihatan, dan karena kelihatan, terasa lebih nyata daripada janji Allah. Paulus tidak menyuruh kita menutup mata terhadap kenyataan itu; ia sendiri mengeluh dan merasa terbebani (ayat 4). Ia hanya menolak membiarkan yang kelihatan menentukan arah langkahnya. Perhatikan juga ayat 12: ada orang yang "bangga atas hal-hal lahiriah dan bukan atas apa yang ada dalam hati." Itu godaan paling halus bagi orang yang aktif melayani. Hari ini, tuliskan satu hal konkret yang sedang Anda takutkan karena Anda bisa melihatnya, lalu di bawahnya tuliskan satu kalimat: "Roh Kudus adalah jaminan Allah atas hidupku." Bacalah keras-keras sekali.

Konteks

Surat ini ditulis kepada jemaat di kota pelabuhan Korintus, kota dagang yang gemar pada penampilan: orator yang fasih, pembicara yang berwibawa, tubuh yang sehat, reputasi yang mengilap. Ke sana datang guru-guru lain yang mempertanyakan kredibilitas Paulus, karena ia tampak lemah, dipenjara, dipukuli, dan tidak memukau saat berbicara. Pertanyaan yang menggantung bukan sekadar teologis tetapi sosial: apakah rasul yang babak belur masih layak didengar? Dalam konteks itu kalimat tentang kemah yang dirobohkan terasa sangat pribadi, sebab tubuh Paulus memang sedang dirobohkan sedikit demi sedikit. Dan justru di situ ia berkata bahwa ukuran hidupnya bukan apa yang terlihat. Itu bukan penghiburan manis; itu perlawanan terhadap seluruh cara kota itu menilai manusia.

Tokoh Utama

Paulus di pasal ini bukan pahlawan yang tenang. Dua kali ia memakai kata "mengeluh". Ia merasa terbebani. Ia tidak berpura-pura bahwa kerinduan akan rumah surgawi membuat penderitaan tubuh menjadi ringan. Namun dua kali juga ia berkata "kami tabah", dan di antara keluhan dan ketabahan itulah ayat 7 berdiri. Lanskap batinnya jujur: rindu, lelah, sadar bahwa ia masih "berada di luar Tuhan", dan tetap berjalan. Yang menggerakkannya bukan optimisme tetapi ayat 14, "kasih Kristus menguasai kami". Kata itu berarti mendesak, mengapit, menyempitkan ruang gerak sampai hanya satu arah yang tersisa. Orang yang berjalan oleh iman bukan orang yang kuat, melainkan orang yang sudah tidak punya jalan lain karena telah dikuasai kasih itu.

Profil

Jemaat Korintus mendengar kalimat ini dengan telinga orang yang hidup di dunia kontrak dan jaminan. Kata "jaminan" di ayat 5 adalah istilah yang mereka pakai di pasar: uang muka yang menjadikan transaksi mengikat. Mereka juga tahu persis apa artinya kemah, karena Korintus penuh pekerja musiman dan pengrajin tenda. Lalu ayat 10 menyusul dengan "kursi pengadilan", bangku hakim yang berdiri di alun-alun kota mereka sendiri, tempat gubernur Romawi menjatuhkan putusan di depan umum. Jadi iman yang Paulus maksud tidak melayang-layang. Ia terdengar seperti ini: Anda punya uang muka dari Allah, Anda tinggal di tenda, dan suatu hari Anda berdiri di depan bangku hakim yang sesungguhnya. Berjalanlah sesuai kenyataan itu, bukan sesuai yang terlihat di pasar.

Refleksi

Apa yang sebenarnya paling menentukan keputusan-keputusan saya minggu ini: apa yang saya lihat, atau apa yang Allah janjikan?

Jika Roh Kudus adalah uang muka dari Allah, di bagian hidup mana saya bersikap seolah-olah Allah belum memberi apa-apa?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 5:7

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 2 KORINTUS 5:7?
Satu kalimat pendek, nyaris seperti gumaman di sela-sela argumen: "Sebab, kami hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan." Paulus sedang berbicara tentang tubuh sebagai kemah yang suatu saat dirobohkan, tentang kerinduan yang terasa seperti keluhan, dan tentang Roh yang Allah berikan "sebagai jaminan.
Tentang apakah 2 KORINTUS 5:7?
Yang membuat ayat ini berbobot adalah apa yang tidak dikatakannya. Paulus tidak berkata iman adalah pengganti sementara yang lebih rendah daripada penglihatan, semacam tongkat bagi orang yang belum bisa melihat. Ia berkata iman adalah cara hidup yang pantas bagi orang yang sudah menerima panjar.
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 5:7?
"Berjalan" adalah kata khas umat perjanjian. Abraham berjalan keluar dari Ur tanpa peta. Israel berjalan empat puluh tahun di belakang tiang awan, memakan roti yang hanya cukup untuk sehari. Dan kemah dalam ayat 1 bukan gambar yang dipilih asal-asal: umat Allah pernah tinggal di kemah sementara, mengikuti kemah suci yang bisa dibongkar dalam setengah hari.
Apa yang 2 KORINTUS 5:7 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Hidup oleh penglihatan terdengar rohani untuk ditolak, tetapi kita melakukannya setiap hari. Kita mengukur hidup dari saldo rekening, dari hasil pemeriksaan dokter, dari apakah anak kita masih mau ikut ke gereja, dari apakah atasan menyebut nama kita dalam rapat. Semua itu kelihatan, dan karena kelihatan, terasa lebih nyata daripada janji Allah.
Bagaimana 2 KORINTUS 5:7 masih relevan hari ini?
Surat ini ditulis kepada jemaat di kota pelabuhan Korintus, kota dagang yang gemar pada penampilan: orator yang fasih, pembicara yang berwibawa, tubuh yang sehat, reputasi yang mengilap. Ke sana datang guru-guru lain yang mempertanyakan kredibilitas Paulus, karena ia tampak lemah, dipenjara, dipukuli, dan tidak memukau saat berbicara.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 5

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Doa Editorial pada ayat 19

Bapa, terima kasih karena Engkau tidak lagi menghitung kesalahanku, melainkan merangkulku kembali melalui Kristus. Tolong aku percaya itu sungguh nyata hari ini, dan beri aku keberanian membawa damai yang sama kepada orang yang kusakiti dan yang menyakitiku.

Doa Editorial pada ayat 2

Bapa, ada rindu dalam diriku yang tidak bisa dipuaskan apa pun di dunia ini. Tubuh ini lelah, hatiku sering mengeluh. Tetapi aku tahu Engkau menyiapkan rumah bagiku. Tolong aku menanti dengan sabar, dan tetap percaya hari itu sungguh datang.

Syukur Editorial pada ayat 18

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau sendiri yang mengambil langkah pertama dan mendamaikan aku dengan diri-Mu melalui Kristus. Aku tidak perlu lagi hidup sebagai musuh-Mu. Terima kasih juga karena Engkau mempercayakan pelayanan pendamaian itu ke tanganku yang lemah ini.

Wawasan Editorial pada ayat 1

Paulus menyebut tubuh ini "kemah", bukan rumah. Kemah itu dipasang sebentar, digoyang angin, lalu dibongkar. Mungkin kamu merasakannya: tubuh yang makin lelah, sakit yang tak kunjung pergi. Tapi dengar apa yang dia tahu: "kami mempunyai suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Bukan akan punya. Sudah punya. Yang rapuh padamu bukan akhir ceritamu.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi