2 PETRUS 3:15
Teks
Jangan salah membaca waktu yang masih tersisa: kesabaran Tuhan yang menunda hari penghakiman bukanlah kelambanan, melainkan ruang yang Ia buka supaya orang diselamatkan. Itulah yang Petrus tegaskan: "Anggaplah kesabaran Tuhan sebagai kesempatan untuk kita menerima keselamatan." Lalu, hampir seperti sebuah catatan sambil lalu yang justru berbobot, ia menambahkan bahwa Paulus, "saudara terkasih kita," sudah menulis hal yang sama kepada para pembaca ini "dengan hikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya." Jadi ayat ini melakukan dua hal sekaligus: ia mengubah cara kita menghitung hari, dan ia menunjukkan seorang rasul yang dengan senang hati berdiri di samping rasul lain, bukan di atasnya.
Inti
Di sini waktu diberi nama baru. Para pengejek di ayat 4 membaca sejarah yang berjalan terus sebagai bukti bahwa janji Allah kosong; Petrus membaca sejarah yang sama sebagai kesabaran yang punya tujuan. Bedanya bukan pada data, tetapi pada siapa yang dipercaya berdiri di balik data itu. Dan tujuan kesabaran itu bukan kenyamanan kita, melainkan keselamatan: Allah menahan hari itu agar pertobatan masih mungkin, bagi orang lain dan bagi kita sendiri. Perhatikan kata "kita" di ayat ini; Petrus tidak menempatkan diri di luar barisan yang membutuhkan waktu itu. Artinya setiap pagi yang Anda terima bukan sekadar jatah biologis, melainkan pemberian yang punya arah. Waktu adalah anugerah dengan maksud, dan karena itu waktu bisa disalahgunakan.
Benang Merah
Kesabaran ini bukan penemuan baru dari Petrus. Sepanjang Perjanjian Lama Allah berulang kali menunda, memberi Israel satu generasi lagi, mengirim satu nabi lagi, dan itu selalu tampak seperti kelemahan sampai ternyata itulah kasih. Petrus sendiri baru saja mengingatkan air bah (ayat 6): dunia yang dihancurkan itu pun didahului oleh masa penantian yang panjang. Puncaknya ada di salib. Di sana penundaan itu menemukan alasannya: penghakiman ditanggung lebih dulu oleh Yesus Kristus supaya hari penghakiman tidak perlu menjadi kata terakhir bagi siapa pun yang berbalik kepada-Nya. Karena itu "kesempatan untuk kita menerima keselamatan" bukan sekadar perpanjangan waktu; itu adalah ruang yang dibeli dengan darah, dan ruang seperti itu tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Cermin
Sisi tajam ayat ini terasa saat Anda jujur soal bagaimana waktu Anda dipakai. Ada percakapan dengan ayah Anda yang sudah tiga tahun Anda tunda karena selalu ada tahun depan. Ada rekan kerja yang Anda sindir di grup obrolan sambil berpikir masih ada waktu untuk memperbaikinya. Ada dosa yang Anda pelihara diam-diam justru karena Anda tahu Allah sabar; kesabaran-Nya Anda pakai sebagai kredit, bukan sebagai kesempatan. Petrus menyebut orang yang memutarbalikkan tulisan Paulus (ayat 16), dan begitulah cara paling halus memutarbalikkan Injil: menjadikan anugerah alasan untuk menunda. Sementara itu ayat ini juga menyingkap ketakutan Anda, bahwa waktu habis sebelum sempat beres. Tidak. Hari ini masih hari kesempatan.
Hari ini juga, tulis satu nama orang yang hubungannya dengan Anda rusak, lalu kirim satu pesan singkat kepadanya: bukan pembelaan diri, hanya kalimat pembuka yang jujur.
Konteks
Surat ini ditulis kepada jemaat yang sudah cukup lama menunggu. Generasi pertama mulai meninggal ("sejak nenek moyang kita mati", ayat 4), dan Kristus belum kembali. Di dunia Yunani-Romawi, janji yang tidak ditepati merusak kehormatan; guru-guru palsu memanfaatkan itu untuk menertawakan pengharapan Kristen dan sekaligus melonggarkan tuntutan moralnya. Perhatikan hubungannya: mereka mengejek kedatangan Tuhan sambil "mengikuti hawa nafsu mereka yang berdosa" (ayat 3). Teologi tentang waktu tidak pernah netral; kalau tidak ada hari perhitungan, hidup boleh dijalani asal enak. Petrus menulis kepada orang-orang yang tergoda percaya bahwa menunggu itu sia-sia, dan ia menjawab bukan dengan tanggal, melainkan dengan karakter Allah.
Tokoh Utama
Allah dalam ayat ini digambarkan bukan sebagai Hakim yang enggan, melainkan sebagai Penyelamat yang menahan diri. Kesabaran-Nya aktif, bukan pasif; Ia menunggu bukan karena ragu, tetapi karena Ia "tidak ingin seorang pun binasa" (ayat 9). Ada sesuatu yang mengharukan di situ: Yang berkuasa mengakhiri segalanya kapan saja memilih memberi waktu kepada orang-orang yang mengejek-Nya. Tetapi jangan melunakkan gambaran ini. Kesabaran punya ujung; ayat 10 tidak dicabut oleh ayat 15. Allah yang sabar adalah Allah yang datang seperti pencuri. Kedua hal itu bersama-sama membentuk sikap Kristen terhadap waktu: tenang, tetapi tidak santai.
Detail
Kata kecil yang mudah terlewat: "saudara terkasih kita." Petrus, tokoh utama di Yerusalem, menyebut Paulus, yang pernah menegurnya terbuka, sebagai saudara yang dikasihi, dan mengakui hikmat yang Allah berikan kepadanya. Ia bahkan menempatkan surat-surat Paulus sejajar dengan "bagian-bagian lain dari Kitab Suci" (ayat 16). Ini bukan basa-basi sopan santun; ini praktik etis dari ayat yang sama. Orang yang percaya bahwa waktu adalah kesempatan keselamatan tidak akan membuangnya untuk memelihara rivalitas rohani. Petrus mengakui bahwa Paulus menulis hal-hal yang "sulit dimengerti" tanpa memakai kesulitan itu untuk menjatuhkannya. Menghormati saudara seiman yang gayanya berbeda dari Anda adalah bentuk nyata hidup di bawah kesabaran Allah.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda diam-diam memakai kesabaran Allah sebagai izin untuk menunda, bukan sebagai kesempatan untuk berbalik?
Siapa saudara seiman yang sulit Anda hargai, dan apa yang menghalangi Anda menyebut dia "saudara terkasih" seperti Petrus menyebut Paulus?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Peter 3:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 PETRUS 3:15?
Tentang apakah 2 PETRUS 3:15?
Apa konteks historis dari 2 PETRUS 3:15?
Apa yang 2 PETRUS 3:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 PETRUS 3:15 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Peter 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, ada hari-hari ketika segala sesuatu terasa berjalan seperti biasa saja, dan aku mulai bertanya apakah janji-Mu benar akan tiba. Tolong aku menunggu tanpa menjadi sinis. Teguhkan hatiku bahwa Engkau tidak pernah terlambat, hanya sabar.
Kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, tempat kebenaran tinggal di dalamnya." Perhatikan kata "tinggal". Di dunia ini kebenaran sering cuma numpang lewat, terdesak, dianggap tamu yang merepotkan. Di sana ia akhirnya punya rumah. Kalau hatimu lelah karena yang jujur selalu kalah, penantianmu tidak sia-sia.
Bapa, Engkau sudah memberi peringatan lebih dulu supaya aku tidak lengah. Jagalah hatiku dari suara suara yang terdengar meyakinkan tapi menjauhkan aku dari-Mu. Tolong aku berdiri teguh, berakar dalam kasih-Mu, dan tidak mudah terbawa arus.
Dan, melalui air itu juga, dunia pada waktu itu binasa, dibanjiri oleh air bah." Petrus menulis ini kepada orang yang berkata bahwa segalanya akan terus berjalan seperti biasa. Padahal dunia pernah tampak setenang itu, sampai air naik. Yang kamu anggap pasti belum tentu kekal. Pertanyaannya: di atas apa hidupmu berdiri hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi