KISAH PARA RASUL 2:44
The Text
Lukas menutup rangkaian peristiwa Pentakosta dengan satu kalimat yang nyaris tanpa hiasan: "Semua yang percaya berkumpul bersama dan memiliki segala sesuatunya bersama-sama." Tiga ribu orang yang baru saja dibaptis, yang sebagian besar adalah peziarah dari Partia, Mesir, Kreta, dan Roma, kini tidak lagi hidup sebagai rombongan asing yang saling berpapasan di jalanan Yerusalem. Mereka berada di satu tempat, dan yang lebih mengejutkan, mereka berada di satu dompet. Ayat berikutnya menjelaskan apa artinya secara praktis: harta benda dijual, hasilnya dibagikan "sesuai kebutuhannya masing-masing". Jadi kalimat pendek ini bukan gambaran suasana hati yang hangat, melainkan laporan tentang perubahan struktur ekonomi sebuah komunitas yang baru berumur beberapa hari.
The Core
Yang sering luput adalah urutannya. Kebersamaan harta bukan syarat untuk menerima Roh, melainkan akibat dari menerima Roh. Petrus baru saja berkata bahwa janji itu berlaku "untukmu, dan anak-anakmu, dan untuk semua orang yang masih jauh"; begitu orang-orang yang jauh itu dibawa masuk, jarak di antara mereka runtuh juga dalam hal yang paling keras kepala: uang. Di sini Lukas menyatakan sesuatu tentang keselamatan yang tidak nyaman bagi kita. Pengampunan dosa yang dijanjikan dalam ayat 38 ternyata tidak berhenti di dalam hati seseorang; ia merembes sampai ke lumbung dan ladang. Allah yang mencurahkan Roh-Nya "ke atas semua manusia" tidak membangun kumpulan individu yang diselamatkan sendiri-sendiri, melainkan satu tubuh yang kepemilikannya sudah bergeser. Kepunyaanku menjadi kepunyaan kita, karena keduanya lebih dahulu menjadi kepunyaan Tuhan.
The Common Thread
Kalimat "sesuai kebutuhannya masing-masing" di ayat 45 bukan penemuan Lukas. Itu bahasa padang gurun. Ketika Israel mengumpulkan manna, setiap keluarga mendapat cukup, yang mengumpulkan banyak tidak berlebih, yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan, dan siapa pun yang menimbun mendapati simpanannya busuk keesokan harinya. Allah melatih umat-Nya hidup dari pemberian harian, bukan dari cadangan pribadi. Di Yerusalem, pola itu muncul kembali, tetapi kali ini manna-nya adalah sesama orang percaya: ladang yang dijual, rumah yang dilepas, roti yang dipecahkan dari rumah ke rumah. Dan sumbernya jelas disebut Petrus: Kristus yang ditinggikan "telah mencurahkan" apa yang mereka lihat dan dengar. Yang turun dari surga bukan lagi roti di tanah, melainkan Roh yang membuat orang melepaskan genggamannya. Ekonomi padang gurun kembali, sekarang digerakkan oleh Tuhan yang bangkit.
The Mirror
Kita cepat sekali mengubah ayat ini menjadi metafora. Berbagi hati, berbagi waktu, berbagi doa, semuanya baik, dan semuanya kebetulan tidak mengurangi saldo rekening. Tetapi Lukas berbicara tentang harta benda yang dijual. Pertanyaannya menjadi sangat konkret: berapa banyak dari keputusan keuanganmu tahun ini yang ditentukan oleh kebutuhan saudara seimanmu, dan berapa banyak oleh rasa takut bahwa suatu hari kamu sendiri akan kekurangan? Kita menyebut ketakutan itu "hikmat finansial". Kadang memang begitu. Kadang itu hanya nama sopan untuk ketidakpercayaan bahwa Allah yang memberi Anak-Nya sanggup memberi sisanya. Dan yang paling menusuk: jemaat mula-mula tahu siapa yang kekurangan. Mereka cukup dekat untuk tahu. Kita sering tidak tahu, dan ketidaktahuan itu nyaman.
Hari ini juga, sebutkan satu orang dalam jemaatmu yang kebutuhannya kamu tahu, lalu kirim sejumlah uang kepadanya tanpa memberi tahu siapa pun.
The Question
Kalau ini begitu indah, mengapa tidak bertahan? Beberapa tahun kemudian jemaat Yerusalem justru menjadi jemaat termiskin, sampai Paulus harus mengumpulkan sumbangan dari jemaat-jemaat non-Yahudi untuk mereka. Apakah eksperimen itu gagal? Lukas tidak pernah memerintahkan pola ini kepada jemaat lain, dan dalam kisah Ananias, Petrus menegaskan bahwa tanah itu tetap milik Ananias sebelum dijual. Jadi ini spontan, bukan aturan. Tapi hati-hati: kita terlalu senang memakai kata "spontan" sebagai pintu keluar. Bahwa sesuatu tidak diwajibkan tidak berarti sesuatu itu tidak dituntut oleh kasih. Mungkin jawabannya justru terbalik: jemaat itu menjadi miskin karena mereka sungguh-sungguh melakukannya, dan tubuh Kristus yang lebih luas lalu menanggung mereka kembali. Kemurahan hati tidak selalu terbukti sebagai strategi yang aman.
The Intertext
Dua gema layak didengar. Pertama, Ulangan 15: Tuhan menjanjikan bahwa di antara umat-Nya tidak akan ada orang miskin, asal mereka sungguh menaati perintah-Nya. Janji itu berabad-abad tinggal sebagai janji kosong, sampai Lukas menulis di Kisah Para Rasul 4 bahwa tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka. Itu bukan kebetulan; Lukas sedang berkata bahwa hukum Musa akhirnya menemukan umat yang sanggup menjalankannya, karena Roh telah dicurahkan. Kedua, ketika Paulus mendesak jemaat Korintus memberi bagi orang-orang kudus yang miskin, ia mengutip justru kisah manna: supaya ada keseimbangan, yang banyak tidak kelebihan, yang sedikit tidak kekurangan. Tiga titik, satu garis: padang gurun, Yerusalem, Korintus. Dan garis itu menegur kita di 1 Korintus 11, di mana meja Tuhan sendiri menjadi tempat orang kaya mempermalukan orang miskin.
The Detail
Perhatikan kata "bersama-sama" dalam "memiliki segala sesuatunya bersama-sama". Dalam bahasa Yunani itu koina, "milik bersama", dan akar kata yang sama muncul dua ayat sebelumnya, ketika Lukas menulis bahwa mereka bertekun dalam "persekutuan", koinōnia. Dalam bahasa Indonesia kedua kata itu terdengar berjauhan; dalam teks aslinya keduanya satu keluarga. Artinya, persekutuan bukan kegiatan di samping kehidupan ekonomi, melainkan bentuk kehidupan ekonomi itu sendiri. Ketika kita memakai kata "persekutuan" untuk kopi sesudah kebaktian, kita memakai kata yang oleh Lukas dipakai untuk kunci lumbung. Itu bukan berarti setiap jemaat harus menjual rumahnya. Tapi itu berarti setiap kali kita menyebut diri bersekutu, kata itu sedang mengajukan tagihan yang belum tentu ingin kita lihat.
Reflection
Siapa dalam jemaatmu yang kebutuhannya sungguh-sungguh kamu ketahui, dan apa yang dikatakan jawaban itu tentang kedekatanmu dengan mereka?
Jika "persekutuan" dan "milik bersama" berasal dari satu akar kata, bagian mana dari hidupmu yang selama ini kamu simpan di luar jangkauan persekutuan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 2:44
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 2:44?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 2:44?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 2:44?
Apa yang KISAH PARA RASUL 2:44 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 2:44 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Bapa, karena Yesus kini duduk di sebelah kanan-Mu, bukan tinggal di dalam kubur. Aku bersyukur untuk kepastian ini: Dia yang memerintah adalah Dia yang mengenal namaku, dan tidak ada satu pun keadaanku yang lepas dari tangan-Nya yang berkuasa.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi