1 KORINTUS 11
Teks Itu Sendiri
Paulus menegur dua hal yang terjadi ketika jemaat Korintus berkumpul. Pertama soal penampilan kepala laki-laki dan perempuan saat berdoa dan bernubuat, yang ia kaitkan dengan urutan "kepala": Allah, Kristus, laki-laki, perempuan. Kedua, dan jauh lebih keras, soal Perjamuan Tuhan yang sudah berubah menjadi pesta makan yang memalukan: "ada yang lapar dan yang lainnya mabuk." Di tengah teguran itu Paulus mengulang kata-kata Yesus pada malam Ia dikhianati, dan menutup dengan nasihat yang sederhana sekali: "saling menunggulah."
Konteks
Bayangkan sebuah rumah besar di Korintus, sekitar tahun 54. Ruang makan resmi, triclinium, hanya muat sembilan sampai duabelas orang yang berbaring di dipan. Sisanya, mungkin tiga puluh atau empat puluh orang, berdiri atau duduk di halaman dalam. Tuan rumah yang kaya masuk lebih awal, karena ia tidak bekerja. Budak dan tukang datang setelah matahari turun, ketika anggur terbaik sudah habis dan yang tersisa tinggal roti kering. Di dunia Romawi itu bukan skandal; itu tata krama. Kelas menentukan tempat duduk dan menu. Dan justru di situlah mereka merayakan kematian seorang Tuhan yang disalibkan sebagai budak. Bau anggur, asap lampu minyak, dan perut kosong orang-orang yang berdiri di pinggir: itulah latar pasal ini.
Inti
Paulus tidak sedang mengatur etiket. Ia sedang mengatakan bahwa cara kita berkumpul adalah pemberitaan. "Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." Perjamuan bukan hanya ritual pengingat, melainkan khotbah yang diperagakan oleh tubuh jemaat. Karena itu jemaat yang mempermalukan orang miskin sedang mengkhotbahkan kebohongan: mereka mengaku memberitakan salib sambil memperagakan hierarki Romawi. Ketika Paulus berbicara tentang "tanpa mengakui tubuh Tuhan," ia bermain dengan dua arti sekaligus: roti itu dan jemaat itu. Kamu tidak bisa menghormati tubuh Kristus di meja sambil menghina tubuh Kristus yang duduk kelaparan di halaman. Penghakiman yang ia sebut bukan ancaman sewenang-wenang, melainkan didikan: "kita dididik oleh Tuhan."
Benang Merah
Kalimat "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dalam darah-Ku" membawa seluruh sejarah keselamatan ke dalam satu ruang makan. Perjanjian selalu dimeteraikan dengan darah dan selalu dirayakan dengan makan bersama. Paskah di Mesir menyatukan budak-budak menjadi satu bangsa di sekitar satu meja; sekarang darah Kristus menyatukan tuan dan budak, orang Yahudi dan Yunani, di sekitar satu roti. Yang membuatnya begitu tajam: perjanjian baru itu lahir "pada malam ketika Ia dikhianati." Meja pertama sudah mengandung pengkhianatan. Kristus tidak menunggu sampai murid-murid-Nya layak. Ia memecahkan roti di tengah mereka yang akan lari. Jemaat Korintus, dengan segala kekacauannya, tidak sedang berada di luar kisah itu; mereka sedang mengulanginya.
Profil
Orang Korintus mendengar kata-kata yang jauh lebih menohok daripada yang kita tangkap. "Apa kamu tidak punya rumah untuk makan dan minum?" adalah sindiran kelas: hanya orang berada yang punya rumah dengan ruang makan. Paulus menelanjangi mereka di depan umum, dan di budaya kehormatan-malu, itu hukuman sosial yang nyata. Sebaliknya, bagi budak yang berdiri di pinggir, kalimat "mempermalukan mereka yang tidak punya apa-apa" mungkin kalimat pertama dalam hidupnya yang membela martabatnya secara terbuka. Soal tudung kepala pun bukan sepele: rambut yang tergerai di depan umum punya konotasi tertentu di kota pelabuhan itu, dan kepala yang ditudungi laki-laki adalah kebiasaan imam-imam Romawi yang berkuasa. Paulus meminta ibadah yang tidak meniru panggung status kota.
Cermin
Kita jarang mabuk di gereja. Tapi kita sangat mahir dalam versi halus dari hal yang sama. Kita berbicara dengan orang yang menarik dan melewati orang yang membosankan. Kita menyiapkan makanan terbaik untuk tamu yang bisa membalas undangan. Kita mengenal nama anak-anak dari keluarga yang berpengaruh dan tidak tahu nama petugas kebersihan gedung. Ketika Paulus berkata "Manusia harus menguji dirinya sendiri," ujian itu bukan terutama daftar dosa pribadi di kamar sendiri, melainkan pertanyaan yang mengarah ke samping: siapa yang saya biarkan berdiri di pinggir? Dan perintahnya begitu konkret sehingga hampir mengejek kita: "saling menunggulah." Hari ini juga: tuliskan satu nama dari jemaatmu yang selalu datang dan pulang tanpa pernah kamu ajak bicara, lalu kirimkan pesan singkat kepadanya sekarang.
Antarteks
Dua gema layak disebut. Pertama, ayat 3 dan ayat 11 harus dibaca bersama, bukan terpisah. Paulus memang menyebut urutan kepala, tetapi ia sendiri yang menahan pembacaan yang timpang: "dalam Tuhan, tidak ada perempuan tanpa laki-laki, atau laki-laki tanpa perempuan." Perhatikan juga bahwa perempuan di Korintus jelas berdoa dan bernubuat dalam ibadah; Paulus mengatur caranya, bukan melarangnya. Kedua, Lukas 22 mencatat bahwa setelah Yesus memecahkan roti, murid-murid bertengkar soal siapa yang terbesar. Pertengkaran status di dekat meja Tuhan ternyata setua meja itu sendiri. Korintus bukan penyimpangan aneh; Korintus adalah kita, dan jawabannya sama: tubuh yang dipecahkan "untukmu."
Refleksi
Jika cara jemaatmu berkumpul adalah sebuah khotbah tanpa kata, pesan apa yang sebenarnya sedang diberitakan kepada orang yang paling miskin di ruangan itu?
Kapan terakhir kali kamu benar-benar menunggu seseorang, bukan sekadar bersabar terhadapnya, tetapi menahan diri agar ia bisa ikut menikmati apa yang kamu nikmati?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 11?
Tentang apakah 1 KORINTUS 11?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 11?
Apa yang 1 KORINTUS 11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perempuan berasal dari laki-laki, tetapi setiap laki-laki dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Lalu Paulus menutup perhitungan itu: "Namun, segala sesuatu berasal dari Allah." Tidak ada sisa ruang untuk merasa lebih tinggi. Kalau hari ini kamu masih memandang seseorang dari atas, ingat: kamu pun pernah sepenuhnya bergantung pada orang lain, dan pada Allah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
