KOLOSE 2:22
Teks
Paulus baru saja mengutip slogan yang beredar di jemaat Kolose, "Jangan jamah, jangan cicipi, jangan sentuh", dan sekarang ia menusuknya dengan satu kalimat pendek: "Aturan-aturan ini akan binasa setelah diikuti karena aturan-aturan itu dibuat berdasar pada perintah dan ajaran manusia." Perhatikan betapa membumi argumennya. Ia tidak langsung berbicara tentang teologi tinggi, melainkan tentang benda. Sepotong daging yang dilarang, secangkir anggur yang dijauhi, hari yang dipantangi: semua itu lenyap begitu dipakai. Dimakan, dicerna, dibuang. Dan aturan yang mengatur benda-benda fana itu ternyata bukan berasal dari takhta Allah, melainkan dari mulut manusia. Dua pukulan dalam satu napas: obyeknya tidak kekal, dan sumbernya tidak ilahi.
Inti
Di balik kalimat singkat ini terletak pertanyaan yang paling menentukan dalam hidup rohani: siapa yang berhak mengikat hati nurani Anda? Paulus tidak sedang menganjurkan kebebasan tanpa batas; ia sedang membela satu-satunya otoritas yang berhak mengikat, yaitu Kristus yang di dalam-Nya "berdiam seluruh kepenuhan keilahian yang hidup dalam bentuk jasmani" (ayat 9). Ketika aturan buatan manusia naik ke kursi itu, yang terjadi bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan pergeseran ibadah. Kekudusan lalu diukur dengan apa yang tidak Anda sentuh, bukan dengan Siapa yang telah menyentuh Anda. Dan itulah ironinya: sesuatu yang binasa dalam pemakaian dijadikan tolok ukur bagi jiwa yang kekal. Injil bergerak persis ke arah sebaliknya. Yang kekal, Kristus sendiri, turun untuk menyucikan yang fana, bukan yang fana dipakai untuk melunasi utang di hadapan yang kekal.
Benang Merah
Larangan ini sebenarnya punya sepupu tua dalam Kitab Suci. Di Taman Eden, ketika ular bertanya, perempuan itu menambahkan sesuatu yang tidak Allah katakan: jangan memakannya, dan jangan menyentuhnya. Sejak awal, manusia punya naluri untuk memagari perintah Allah dengan pagar buatannya sendiri, lalu memperlakukan pagar itu sebagai firman. Yang menarik, Paulus tidak menghina hukum makanan Perjanjian Lama; ia sudah menyebutnya "bayangan tentang hal-hal yang akan datang" (ayat 17). Bayangan itu nyata, diberikan Allah, dan berguna, tetapi tugasnya menunjuk ke depan. Ketika tubuh yang sesungguhnya sudah hadir, memeluk bayangan berarti berpaling dari yang nyata. Dan aturan Kolose ini bahkan bukan bayangan ilahi; ia bayangan dari bayangan, disusun oleh manusia yang ingin merasa aman.
Cermin
Kita jarang menyebutnya legalisme karena bahasanya selalu terdengar rohani. Tetapi coba periksa: apakah Anda diam-diam menilai kerohanian seseorang dari apakah ia minum atau tidak, dari jenis musik yang diputarnya, dari panjang roknya, dari apakah anaknya sekolah di sana atau di sini? Atau sebaliknya, apakah rasa aman Anda sendiri bertumpu pada catatan kecil: sudah puasa media sosial, sudah tidak makan ini, sudah bangun jam empat? Ada kelegaan yang jujur dalam aturan; ia memberi ukuran yang bisa dihitung, dan hati yang lelah menginginkan ukuran. Justru di situ tusukan Paulus terasa. Semua yang Anda hitung itu "akan binasa setelah diikuti". Makanan itu dicerna hari ini juga. Jiwa Anda tidak.
Pertanyaan
Kalau begitu, mengapa Paulus sendiri penuh dengan perintah? Jangan berdusta, matikan keinginan jahat, kenakan kasih. Bukankah itu juga aturan? Di sinilah teks menolak memberi kita daftar praktis untuk memilah mana disiplin sehat dan mana perbudakan. Paulus hanya memberi dua alat uji: dari mana asalnya, dan apa hasilnya. Sumbernya "perintah dan ajaran manusia", dan hasilnya, kata ayat 23, "tidak ada nilainya selain untuk memuaskan kedagingan". Yang membuat ini tidak nyaman: dari luar, keduanya bisa terlihat persis sama. Dua orang berpuasa; yang satu bertumbuh dalam Kristus, yang lain menumbuhkan kesombongan. Kita tidak selalu bisa membedakannya pada orang lain, dan sering tidak pada diri sendiri. Itu bukan alasan untuk santai, melainkan alasan untuk terus kembali kepada Kepala.
Profil
Bayangkan jemaat kecil di rumah Filemon: sebagian besar bekas penyembah dewa-dewa Frigia, beberapa orang Yahudi, budak duduk bersama tuan. Mereka baru saja meninggalkan dunia di mana kesucian selalu berarti pantangan: jangan menyentuh mayat, jangan memakan daging tertentu sebelum ritual, jangan mendekat sebelum dibasuh. Sekarang datang guru-guru yang berkata bahwa iman kepada Kristus itu bagus, tetapi belum lengkap; masih ada tangga yang harus dinaiki, penglihatan yang harus dicari, tubuh yang harus disiksa agar layak. Bagi telinga mereka, itu terdengar wajar, bahkan terhormat. Yang mengguncang bukan kata "jangan jamah", melainkan keberanian Paulus menyebut seluruh sistem itu fana dan buatan manusia. Ia sedang mencabut satu-satunya tangga sosial yang mereka kenal.
Konteks
Kolose terletak di Lembah Likus, kota yang sudah meredup dibanding tetangganya Laodikia yang kaya dan Hierapolis dengan mata air panasnya. Wol dan pencelupan kain menghidupi kota. Udara di sana penuh asap kurban, arak-arakan perayaan, dan jadwal bulan baru yang menentukan kapan orang berdagang, berpesta, dan makan bersama. Menolak ikut serta berarti kehilangan relasi dagang dan mengundang curiga. Paulus menulis dari penjara, kepada jemaat yang belum pernah melihat wajahnya, yang dirintis Epafras. Ia tidak bisa datang, tidak bisa menegur langsung, hanya bisa mengirim surat yang dibacakan keras-keras di ruang makan sebuah rumah. Dalam situasi rapuh seperti itu, ia menolak menawarkan aturan tambahan sebagai pegangan. Ia hanya menunjuk kepada Kristus, dan berkata: itu cukup.
Refleksi
Aturan tak tertulis mana di lingkungan gereja atau keluarga Anda yang diam-diam Anda pakai untuk mengukur kerohanian orang lain, dan dari mana sebenarnya aturan itu berasal?
Jika besok semua kebiasaan rohani yang bisa Anda hitung dilepaskan, apa yang tersisa dari rasa aman Anda di hadapan Allah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Colossians 2:22
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KOLOSE 2:22?
Tentang apakah KOLOSE 2:22?
Apa konteks historis dari KOLOSE 2:22?
Apa yang KOLOSE 2:22 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KOLOSE 2:22 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Colossians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk orang-orang yang berjuang bagi kami tanpa pernah bertemu muka dengan kami, seperti Paulus yang bergumul bagi jemaat di Laodikia. Terima kasih untuk setiap doa yang diam-diam menopang kami, dan untuk hati yang Engkau gerakkan untuk peduli pada orang asing.
Bapa, aku lelah menakar diriku dengan ukuran orang lain. Ada begitu banyak suara yang menilai apa yang kumakan, kulakukan, dan kupilih. Tolong aku berpegang pada Kristus saja, sebab di dalam Dia aku sudah diterima. Beri aku hati yang tenang dan bebas hari ini.
Aturan buatan sendiri bisa kelihatan sangat rohani. Bangun lebih pagi, makan lebih sedikit, menahan diri lebih keras. Tapi Paulus berkata semua itu "tidak ada nilainya sama sekali dalam mengendalikan hawa nafsu." Yang habis bukan keinginanmu, melainkan tenagamu. Kristus tidak menawarkan daftar larangan, Dia menawarkan diri-Nya. Sudahkah kau berhenti mengukur imanmu dari seberapa lelah kau berusaha?
Salib terlihat seperti kekalahan. Tubuh yang tergantung, telanjang, dipermalukan di depan umum. Tapi Paulus membalik pemandangan itu: justru kuasa-kuasa gelap yang "dipermalukan di muka umum", dilucuti, digiring sebagai tawanan. Yang menuduhmu hari ini sebenarnya sudah kalah. Kamu masih takut pada musuh yang sudah tanpa senjata?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi