KOLOSE 2:16
Teks
"Karena itu, jangan biarkan seorang pun menghakimi kamu dengan masalah makanan dan minuman atau hari raya keagamaan, perayaan bulan baru atau hari Sabat." Satu kalimat, dan di dalamnya seluruh kalender ibadah Israel disebut sekali lagi: apa yang masuk ke mulut, apa yang dituang ke cawan, pesta tahunan, bulan baru yang bulanan, Sabat yang mingguan. Paulus tidak sedang membuang semuanya ke tempat sampah; ia sedang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak lagi memakai hal-hal itu sebagai palu hakim di atas kepala orang yang sudah ada di dalam Kristus. Kata pembukanya penting: "Karena itu." Ayat ini berdiri di atas apa yang baru saja diceritakan, salib yang membatalkan surat utang dan mempermalukan para penguasa. Karena itu, dan hanya karena itu, penghakiman orang lain kehilangan gigi.
Inti
Yang mengejutkan bukan kebebasannya, melainkan dasarnya. Paulus tidak berkata: aturan-aturan itu kuno, zaman sudah berubah, jangan terlalu kaku. Ia berkata: sesuatu telah terjadi di kayu salib yang mengubah siapa yang berwenang menilai kamu. Penghakiman itu sudah selesai, dan tempatnya bukan di meja makan atau di kalender, tetapi di tubuh Kristus yang tergantung. Jika Allah sendiri sudah mengampuni "semua pelanggaran kita" (ayat 13), maka setiap pengadilan tambahan adalah pengadilan liar, tanpa yurisdiksi. Di situlah letak keheningan yang perlu kita diami sebentar. Sebab hati kita justru lebih tenang dengan daftar yang bisa dicentang daripada dengan pengampunan yang tidak bisa diukur. Mungkin itu sebabnya Paulus harus memerintahkan hal ini, bukan sekadar menyarankannya: kita tidak otomatis mau bebas. Apa yang sebenarnya kita cari ketika kita membiarkan diri dihakimi lagi?
Benang Merah
Ayat berikutnya memberi kunci yang tidak boleh kita lepaskan: "Semuanya itu hanyalah bayangan tentang hal-hal yang akan datang, tetapi wujud yang sesungguhnya adalah Kristus." Bayangan bukan kebohongan. Bayangan justru bukti bahwa ada tubuh yang nyata, ada terang yang jatuh dari suatu arah. Selama berabad-abad Israel hidup di dalam bayangan itu: setiap bulan baru mengingatkan bahwa waktu adalah milik Allah, setiap Sabat adalah latihan berhenti dan percaya bahwa dunia tidak bergantung pada tangan kita, setiap pesta menceritakan kembali pembebasan. Semuanya benar, semuanya diberikan Allah sendiri. Tetapi semuanya menunjuk ke depan. Dan ketika yang ditunjuk itu datang dengan tubuh dan darah, memandangi bayangan sambil membelakangi Dia menjadi tragedi yang halus. Bukan karena bayangannya buruk, tetapi karena wujudnya sudah berdiri di ruangan yang sama.
Cermin
Coba jujur sejenak: siapa yang paling mudah membuat Anda merasa kurang rohani? Mungkin bukan seorang guru sesat dari Kolose, melainkan seseorang di gereja Anda yang berpuasa lebih rajin, yang tidak menyentuh alkohol, yang menjaga hari Minggu dengan lebih ketat, yang bangun pukul empat untuk berdoa. Atau justru kebalikannya: Anda yang diam-diam menghitung kekurangan orang lain, dan menemukan ketenangan di sana. Paulus menyebut makanan dan minuman, dan itu bukan kebetulan; ukuran kesalehan yang paling laku selalu yang paling kelihatan. Yang tidak kelihatan, seperti kesabaran terhadap istri yang lelah atau kejujuran dalam laporan keuangan, terlalu sulit dijadikan lencana. Pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini kepada kita bukan "apakah saya bebas", tetapi "mengapa saya begitu ingin diukur?"
Tokoh Utama
Di balik larangan ini berdiri satu Pribadi yang sengaja tidak disebut sebagai Hakim, padahal Dialah satu-satunya yang berhak. Kristus yang dilukiskan pada ayat 14 dan 15 adalah Dia yang mengambil surat utang itu, memakukannya, lalu berdiri sebagai pemenang. Perhatikan gerakan-Nya: Ia tidak menghapus tuntutan dengan menyatakannya tidak penting, Ia menanggungnya. Inilah wajah Allah yang aneh dan menakjubkan sekaligus: kekudusan-Nya tidak dilunakkan, tetapi diletakkan di atas diri-Nya sendiri. Dan Dia yang paling berhak menghakimi justru menjadi alasan mengapa mulut para penghakim lain harus tutup. Ada kelembutan yang keras di sini. Kristus tidak melindungi kita dari penilaian dengan berkata bahwa dosa tidak apa-apa; Ia melindungi kita dengan memikulnya.
Konteks
Kolose adalah kota kecil di lembah Sungai Lykus, di Asia Kecil, tidak sepenting Laodikia di dekatnya. Paulus sendiri belum pernah bertemu muka dengan jemaat itu (ayat 1), dan menulis dari tahanan. Di kota-kota seperti itu hidup komunitas Yahudi yang sudah lama menetap, bercampur dengan kesalehan populer yang gemar pantangan, penglihatan, dan penghormatan kepada malaikat (ayat 18). Bayangkan atmosfernya: keluarga bertanya mengapa Anda tidak lagi menjaga bulan baru; tetangga rohani menawarkan tingkat pengalaman yang lebih tinggi bila Anda mau berpantang lebih keras. Tekanan itu bukan teologi abstrak, melainkan sosial, sehari-hari, di meja makan dan di pasar. Bagi orang percaya baru tanpa akses kepada Paulus, suara-suara itu terasa lebih dekat daripada Injil yang mereka terima.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan Sabat? Perintah keempat bukan tradisi manusia; ia berdiri di dalam Sepuluh Perintah, berakar pada Allah yang berhenti pada hari ketujuh. Paulus tidak menjelaskannya, dan saya tidak akan berpura-pura bahwa ia menjelaskannya. Yang ia katakan hanya ini: Sabat adalah bayangan, wujudnya Kristus. Apakah itu berarti tidak ada lagi ritme berhenti bagi orang percaya? Rasanya tidak, sebab kebutuhan kita untuk berhenti tidak dihapus oleh salib. Tetapi dasarnya berpindah: bukan hari yang membuat saya diterima, melainkan Dia yang membuat saya bisa berhenti tanpa cemas. Dan ada ironi yang tidak boleh kita lewatkan: Paulus sendiri di ayat ini sedang menilai para penilai. Kebebasan ini jelas bukan kebebasan dari segala penilaian, hanya dari pengadilan yang tidak berwenang. Di mana batasnya? Teks ini membiarkan kita bergumul, dan mungkin itu memang perlu.
Refleksi
Suara siapa yang paling sering berfungsi sebagai hakim atas hidup rohani Anda, dan sejak kapan Anda memberinya kursi itu?
Jika penghakiman atas Anda sudah selesai di kayu salib, apa yang berubah pada cara Anda menilai orang percaya lain minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Colossians 2:16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KOLOSE 2:16?
Tentang apakah KOLOSE 2:16?
Apa konteks historis dari KOLOSE 2:16?
Apa yang KOLOSE 2:16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KOLOSE 2:16 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Colossians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk orang-orang yang berjuang bagi kami tanpa pernah bertemu muka dengan kami, seperti Paulus yang bergumul bagi jemaat di Laodikia. Terima kasih untuk setiap doa yang diam-diam menopang kami, dan untuk hati yang Engkau gerakkan untuk peduli pada orang asing.
Bapa, aku lelah menakar diriku dengan ukuran orang lain. Ada begitu banyak suara yang menilai apa yang kumakan, kulakukan, dan kupilih. Tolong aku berpegang pada Kristus saja, sebab di dalam Dia aku sudah diterima. Beri aku hati yang tenang dan bebas hari ini.
Aturan buatan sendiri bisa kelihatan sangat rohani. Bangun lebih pagi, makan lebih sedikit, menahan diri lebih keras. Tapi Paulus berkata semua itu "tidak ada nilainya sama sekali dalam mengendalikan hawa nafsu." Yang habis bukan keinginanmu, melainkan tenagamu. Kristus tidak menawarkan daftar larangan, Dia menawarkan diri-Nya. Sudahkah kau berhenti mengukur imanmu dari seberapa lelah kau berusaha?
Salib terlihat seperti kekalahan. Tubuh yang tergantung, telanjang, dipermalukan di depan umum. Tapi Paulus membalik pemandangan itu: justru kuasa-kuasa gelap yang "dipermalukan di muka umum", dilucuti, digiring sebagai tawanan. Yang menuduhmu hari ini sebenarnya sudah kalah. Kamu masih takut pada musuh yang sudah tanpa senjata?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi