PENGKHOTBAH 1
Teks
Seorang yang menyebut dirinya Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem, membuka bukunya bukan dengan nasihat melainkan dengan vonis: "Kesia-siaan atas segala kesia-siaan! Semuanya adalah kesia-siaan." Lalu ia membentangkan bukti dari alam dan sejarah: generasi datang dan pergi sementara bumi tetap, matahari terbit dan terbenam dengan terengah-engah, angin berputar-putar kembali ke peredarannya, sungai-sungai mengalir tanpa pernah memenuhi laut. Mata tidak pernah puas, telinga tidak pernah penuh, dan tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Di bagian kedua ia beralih dari pengamatan ke pengalaman pribadi: sebagai raja yang kaya hikmat ia menyelidiki segala yang dilakukan di bawah langit, dan menemukan bahwa itu pun "usaha mengejar angin." Kesimpulannya pahit dan jujur: yang bengkok tidak dapat diluruskan, dan menambah pengetahuan berarti menambah kesengsaraan.
Inti
Perhatikan di mana Pengkhotbah menaruh batas penglihatannya: "di bawah matahari," "di bawah langit." Ia tidak sedang menyangkal Allah; ia sedang menolak berpura-pura melihat lebih jauh daripada yang bisa dilihat manusia dari dalam dunia yang terkutuk. Dan justru di situ ayat 13 menjatuhkan bobot teologisnya: pencarian yang melelahkan ini adalah "tugas menyulitkan yang Allah berikan kepada anak-anak manusia." Kesia-siaan itu bukan kecelakaan kosmis, bukan nasib buta, melainkan pemberian, sesuatu yang diserahkan Allah ke dalam tangan kita. Ini adalah teologi penciptaan yang sudah retak oleh Kejadian 3, dibaca oleh seorang yang tidak mau melarikan diri ke penghiburan murahan. Kalimat "yang bengkok tidak dapat diluruskan" adalah pengakuan bahwa manusia tidak sanggup menebus dirinya sendiri; kerja keras, hikmat, kekuasaan, semuanya berputar seperti angin. Kalau ada pelurusan, itu harus datang dari atas matahari.
Benang Merah
Pengkhotbah berdiri persis di titik yang dibutuhkan Injil: ia menutup semua pintu keluar yang dibuat manusia sendiri. Kerja keras tidak menyelamatkan, hikmat tidak menyelamatkan, kekuasaan seorang anak Daud pun tidak. Yang bengkok tetap bengkok. Lalu datang seorang Anak Daud yang lain, yang tidak menulis tentang kesia-siaan melainkan masuk ke dalamnya, yang tubuh-Nya sendiri diserahkan ke bawah matahari sampai gelap menutupinya. Paulus memakai kata yang sama seperti yang dipakai terjemahan Yunani Pengkhotbah ketika ia menulis bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kemauannya sendiri, dalam pengharapan. Itulah benang merahnya: kesia-siaan bukan kata terakhir Allah, melainkan cara Allah menahan kita agar tidak berlabuh di dunia yang sedang berlalu, sampai kebangkitan membuat "ini baru" akhirnya benar.
Cermin
Ayat 8 mungkin ayat paling akurat tentang hidup Anda: "Mata tidak pernah puas melihat, begitu juga telinga tidak pernah penuh mendengar." Itu Anda pada pukul sebelas malam, menggulir layar tanpa mencari apa pun. Itu juga Anda di tempat kerja, ketika promosi yang dikejar tiga tahun ternyata hanya memindahkan kegelisahan ke ruangan yang lebih besar. Pengkhotbah tidak menyuruh Anda berhenti bekerja; ia menolak Anda menaruh beban keabadian di atas pekerjaan yang tidak sanggup memikulnya. Dan ayat 11 menyentuh ketakutan yang jarang kita ucapkan: tidak ada kenangan tentang hal-hal terdahulu. Anda akan dilupakan. Anak cucu Anda tidak akan tahu nama Anda. Hari ini, tuliskan satu hal yang paling ingin Anda dikenang karenanya, lalu ucapkan dengan suara keras: "Ini pun akan dilupakan, tetapi aku tidak dilupakan Allah."
Detail
Kata "terengah-engah" di ayat 5 pantas dibaca pelan. Matahari tidak sekadar terbit dan terbenam; ia bergegas, bernapas berat, menyeret dirinya kembali ke tempat ia mulai. Pengkhotbah memberi napas kepada benda langit yang oleh bangsa-bangsa tetangga Israel disembah sebagai dewa. Di sini dewa matahari itu dilukiskan sebagai buruh yang kelelahan, menempuh rute yang sama tanpa akhir dan tanpa hasil. Dan kalau matahari saja kelelahan, apa yang tersisa dari kerja keras manusia di bawahnya? Detail kecil ini menyingkapkan seluruh strategi pasal ini: ia tidak menyerang berhala dengan argumen, ia membuat berhala itu tampak capek. Hanya Allah yang berada di atas matahari yang tidak terengah-engah.
Antarteks
Kejadian 3 adalah latar yang tak terucapkan di sini: tanah yang terkutuk, kerja yang berpeluh, manusia yang kembali menjadi debu. Pengkhotbah sedang menulis catatan kaki panjang atas kutukan itu, dengan kejujuran yang menolak dilunakkan. Bandingkan pula dengan 1 Raja-raja 10, ketika ratu Syeba melihat kemegahan Salomo dan kehabisan napas. Pasal 1 ini seolah suara dari dalam istana yang sama, memberi tahu kita bahwa dari sisi dalam, semua itu terasa seperti mengejar angin. Dua teks itu tidak saling membantah; bersama-sama keduanya mengajar bahwa berkat yang paling berlimpah pun tidak pernah dirancang untuk menjadi tujuan akhir hati manusia.
Profil
Pendengar pertama adalah orang Israel yang tahu betul janji-janji perjanjian: tanah, keturunan, damai sejahtera, hikmat raja mereka yang termasyhur sampai ke ujung bumi. Mereka hidup setelah masa keemasan itu retak, mungkin di bawah kekuasaan asing, membayar pajak kepada orang yang tidak menyembah Tuhan. Bagi mereka, "tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" bukan kalimat melankolis seorang filsuf, melainkan potret politik: kerajaan datang dan pergi, penindas berganti nama saja. Yang mereka dengar bukan ateisme, sebab Allah disebut dengan tenang di ayat 13. Yang mereka dengar adalah izin untuk berkabung tanpa kehilangan iman, dan dorongan untuk mencari pengharapan bukan di bawah matahari, melainkan pada Dia yang memberikannya.
Refleksi
Pekerjaan atau pencapaian apa yang diam-diam Anda bebani dengan tugas memberi hidup Anda arti kekal, dan apa yang berubah kalau beban itu Anda lepaskan?
Pengkhotbah menyebut pencarian yang melelahkan itu pemberian Allah. Di mana dalam hidup Anda kelelahan justru menjadi cara Allah menjauhkan Anda dari berlabuh di tempat yang salah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ecclesiastes 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti PENGKHOTBAH 1?
Tentang apakah PENGKHOTBAH 1?
Apa konteks historis dari PENGKHOTBAH 1?
Apa yang PENGKHOTBAH 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana PENGKHOTBAH 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ecclesiastes 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Apa keuntungan manusia dari segala jerih payahnya, yang dia kerjakan di bawah matahari?" Pengkhotbah tidak sedang mengeluh, dia sedang bertanya jujur. Coba hitung: berapa jam kerjamu minggu ini, dan apa yang benar benar tersisa? Pertanyaan ini tidak mau membuatmu berhenti bekerja. Dia hanya ingin kamu berhenti berharap pekerjaanmu bisa memberi apa yang hanya Tuhan sanggup berikan.
Kesia-siaan dari kesia-siaan," kata Pengkhotbah, "kesia-siaan dari kesia-siaan! Semuanya kesia-siaan." Kata yang dipakai sebenarnya berarti uap, embusan napas. Coba embuskan napasmu ke kaca dingin, lalu lihat betapa cepat bekasnya hilang. Itu hidup yang kamu genggam begitu kencang. Bukan berarti tak berharga, tapi memang tak bisa dipegang. Apa yang sedang kamu remas hari ini, padahal ia hanya uap?
Tuhan, ada orang yang punya segalanya dan tetap merasa kosong. Aku mengerti sedikit rasa itu. Jabatan, pencapaian, semua yang kukejar tidak pernah cukup mengisi hatiku. Ajar aku mencari Engkau lebih dulu, sebab hanya di dekat-Mu aku benar-benar tenang.
Terima kasih untuk matahari yang terbit dan terbenam, lalu bergegas kembali ke tempat terbitnya. Setiap pagi yang datang tanpa pernah terlambat mengingatkanku bahwa Engkau setia menjaga ritme hidupku, bahkan saat hariku terasa berulang dan melelahkan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
