PENGKHOTBAH 3:11
Teksnya
Setelah mendaftar empat belas pasang waktu yang saling bertabrakan, lahir dan mati, merobek dan menjahit, Pengkhotbah menarik satu kesimpulan yang ganjil: "Dia telah menjadikan segala sesuatu dengan indah pada waktunya." Bukan sebagian indah, bukan nanti indah, melainkan indah pada waktunya, termasuk waktu meratap dan waktu perang. Lalu ia menambahkan hal yang membuat kalimat itu tidak nyaman: Allah menaruh kekekalan di dalam hati manusia, sehingga kita merindukan gambar utuh, ingin melihat seluruh rancangan dari ujung ke ujung. Dan justru itu yang tidak diberikan. Kita diberi kerinduan akan keseluruhan, tetapi hanya dibekali penglihatan sepotong. Ayat ini menaruh dua hal berdampingan tanpa mendamaikannya: keindahan yang Allah kerjakan tepat waktu, dan ketidakmampuan kita membacanya dari awal sampai akhir.
Intinya
Yang dikatakan ayat ini tentang Allah sederhana dan keras sekaligus: Dia bekerja dengan ketepatan waktu yang tidak Ia jelaskan kepada kita. Waktu bukan ruang kosong yang kita isi sesuka hati; waktu adalah milik-Nya, dan setiap perbuatan kita jatuh ke dalam waktu yang sudah Ia tata. Konsekuensi etisnya tajam. Kalau Allah yang memegang gambar utuh, maka tugas saya bukan mengendalikan hasil, melainkan bertindak benar di bagian yang saya lihat. Itu membebaskan sekaligus menuntut. Membebaskan, karena saya tidak perlu menjamin bahwa keputusan saya hari ini akan terbukti tepat dalam dua puluh tahun. Menuntut, karena saya tidak boleh lagi menunda kebaikan dengan alasan belum tahu apakah ini waktunya. Kekekalan di hati bukan izin untuk melamun, melainkan dorongan untuk hidup sekarang dengan serius, karena yang sementara ini ditimbang oleh Yang kekal.
Benang Merah
Pengkhotbah berdiri di tempat yang gelap: ia tahu ada keindahan pada waktunya, tetapi ia tidak bisa membuktikannya. Ia melihat pengadilan yang busuk (ayat 16) dan manusia yang mati seperti binatang (ayat 20). Keindahan itu tetap sebuah pernyataan iman, bukan hasil pengamatan. Di situlah Perjanjian Baru menyambung. Dalam Kristus, satu titik dalam waktu dibuka ke seluruh rancangan: Paulus menyebutnya "kegenapan waktu" ketika Allah mengutus Anak-Nya. Salib adalah momen yang tampak paling jauh dari indah, dan justru di sanalah waktu Allah tepat. Artinya kerinduan akan kekekalan di hati kita bukan cacat desain, melainkan ruang yang menunggu diisi oleh seseorang. Bukan oleh penjelasan, melainkan oleh Pribadi yang sudah berjalan dari awal sampai akhir.
Cermin
Kekekalan di hati itu terasa paling nyata ketika Anda tidak bisa tidur karena memikirkan anak yang menjauh, atau ketika Anda menghitung tabungan dan bertanya apakah cukup sampai pensiun. Kita ingin kepastian bahwa pilihan kita benar, dan karena tidak mendapatkannya, kita melakukan dua hal: menunda, atau mengendalikan. Menunda percakapan sulit dengan orang tua sampai "waktu yang tepat" yang tidak pernah datang. Mengendalikan pasangan, anak buah, atau anak remaja, karena kalau saya tidak memegang kemudi, siapa lagi. Ayat ini mencabut kedua alasan itu. Anda tidak akan pernah melihat dari awal sampai akhir; yang Anda punya hanyalah potongan hari ini, dan potongan itu cukup untuk berbuat benar.
Hari ini, tulis satu hal yang sudah lebih dari sebulan Anda tunda sambil menunggu waktu yang tepat, lalu kerjakan langkah pertamanya dalam sepuluh menit: kirim pesannya, angkat teleponnya, buka dokumennya.
Konteks
Pengkhotbah menulis dari posisi orang yang punya segalanya untuk bereksperimen: kekayaan, kuasa, waktu luang. Ia bukan petani miskin yang pasrah karena tidak punya pilihan; ia justru orang yang sudah mencoba semua pilihan dan menemukan dasar yang sama. Di dunia Timur Dekat kuno, raja adalah penjamin ketertiban, orang yang seharusnya menyelaraskan kerajaannya dengan irama ilahi. Suara yang bicara di sini mengakui bahwa ia tidak bisa. Kalimat "pekerjaan yang telah Allah berikan kepada anak-anak manusia untuk menyibukkan mereka" di ayat 10 terdengar hampir sinis: kesibukan sebagai pemberian. Inilah nada seluruh kitab, kejujuran seorang bijak yang menolak menghibur dengan setengah kebenaran, dan justru karena itu bisa dipercaya.
Pertanyaan
Bagaimana kita menyebut "indah" waktu untuk membunuh dan waktu untuk perang? Pengkhotbah tidak mengatakan setiap peristiwa itu baik secara moral. Ia mengatakan Allah menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, dan kalimat itu tidak dibongkarnya lebih jauh. Godaan kita adalah menghaluskannya: kanker itu sebenarnya berkat terselubung, kehilangan pekerjaan itu pintu yang lebih baik. Teks ini tidak memberi izin untuk itu. Yang dikatakannya justru sebaliknya: Anda tidak dapat mengetahui pekerjaan Allah dari awal sampai akhir. Jadi jangan berpura-pura tahu. Keindahan itu diyakini, bukan dijelaskan. Dan iman yang jujur kadang berbunyi seperti ini: saya percaya ada gambar utuh, tetapi hari ini saya hanya melihat robekannya, dan saya menolak menjahitnya dengan kebohongan sopan.
Detailnya
Kata yang diterjemahkan "kekekalan" (Ibrani olam) juga bisa berarti masa yang jauh, ke belakang maupun ke depan; cakrawala yang tidak terlihat ujungnya. Allah menaruh cakrawala itu di dalam hati manusia. Bukan di kepala, melainkan di hati, pusat kehendak dan keputusan dalam cara pikir Ibrani. Artinya kerinduan ini bukan rasa ingin tahu intelektual, melainkan tekanan yang mengarahkan tindakan kita. Kita membangun rumah yang akan melampaui kita, menanam pohon yang buahnya dinikmati cucu, menulis surat untuk dibaca sesudah kita mati. Hewan tidak melakukan itu. Inilah yang membedakan kita dari binatang yang disebut di ayat 19, satu-satunya perbedaan yang diakui Pengkhotbah: kita hidup di dalam waktu sambil menyadari ada yang melampauinya.
Refleksi
Keputusan mana dalam hidup Anda sekarang yang tertahan karena Anda menuntut kepastian yang memang tidak dijanjikan kepada Anda?
Di mana Anda pernah menghaluskan penderitaan orang lain dengan kalimat "pasti ada maksud indah di baliknya", dan apa yang sebenarnya ia butuhkan dari Anda saat itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ecclesiastes 3:11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti PENGKHOTBAH 3:11?
Tentang apakah PENGKHOTBAH 3:11?
Apa konteks historis dari PENGKHOTBAH 3:11?
Apa yang PENGKHOTBAH 3:11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana PENGKHOTBAH 3:11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ecclesiastes 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Ada waktu untuk memeluk, dan ada waktu untuk menahan diri dari pelukan." Bagian kedua itu yang paling sulit. Kita pikir mengasihi selalu berarti mendekap dan menahan. Padahal kadang tangan yang terbuka lebih mengasihi daripada tangan yang menggenggam erat. Anak yang harus pergi, sahabat yang butuh ruang. Beranikah kamu melepaskan pada waktunya?
Ada waktu untuk dilahirkan, dan ada waktu untuk mati; ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk mencabut yang ditanam." Perhatikan: menanam dan mencabut sama-sama diberi waktu. Kita suka babak menanam, dan menolak babak melepaskan. Tapi tangan yang menetapkan musim tanammu juga menetapkan kapan sesuatu harus selesai. Apa yang sedang kamu genggam, padahal waktunya sudah lewat?
Ia juga menaruh kekekalan dalam hati manusia, tetapi manusia tidak dapat memahami pekerjaan yang Allah lakukan dari awal sampai akhir." Itu sebabnya kau selalu merasa kurang, bahkan saat semuanya berjalan baik. Ada ruang di hatimu yang terlalu besar untuk diisi dunia. Kerinduan itu bukan cacat, itu tanda tanganNya.
Siapa yang mengetahui roh manusia, apakah naik ke atas, dan roh binatang, apakah turun ke bawah bumi?" Pengkhotbah tidak sedang meragukan Allah. Dia jujur: ada hal yang tidak bisa kamu buktikan dengan mata. Kamu berdiri di makam orang yang kamu kasihi dan tidak melihat apa pun naik ke atas. Di titik itulah iman mulai, bukan berhenti.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi