KELUARAN 10
Teksnya
"Pergilah! Layani TUHAN, Allahmu. Namun, siapa dan siapa yang akan pergi?" Itu suara seorang penguasa yang sudah kalah tetapi masih ingin menentukan syarat. Pasal ini mengisahkan tulah kedelapan dan kesembilan: belalang yang menghabiskan apa pun yang masih tersisa setelah hujan es, lalu kegelapan pekat selama tiga hari atas seluruh Mesir, sementara di tempat tinggal Israel tetap ada terang. Di antara keduanya, Firaun dua kali menawar: boleh pergi, asal anak-anak tinggal; boleh pergi, asal ternak tinggal. Musa tidak bergeser sejengkal pun, dan pasal ini ditutup dengan ancaman mati dan sebuah perpisahan yang dingin.
Intinya
Ayat pertama membuat kita tidak nyaman: Allah sendiri yang mengeraskan hati Firaun, dan Ia mengatakannya terus terang kepada Musa. Kata Ibrani yang dipakai di sini, kabed, berarti "berat". Hati Firaun menjadi berat, kaku, tidak lagi bisa digerakkan. Itu bukan sulap dari luar; itu penetapan ilahi atas sebuah arah yang sudah dipilih Firaun sendiri sejak pasal lima. Allah tidak sedang menciptakan kejahatan baru, Ia sedang mengunci kejahatan lama agar kejahatan itu memperlihatkan wajahnya sampai habis. Dan tujuannya disebut dengan jelas: supaya tanda-tanda itu terlihat, supaya ceritanya sampai ke telinga anak cucu, supaya satu kalimat tertanam di dalam dunia, "Akulah TUHAN". Pembebasan Israel bukan sekadar urusan politik buruh paksa. Ini soal siapa yang sebenarnya memerintah bumi.
Benang Merah
Perhatikan ke mana belalang itu dibuang: angin barat yang kuat mencampakkannya ke Laut Teberau. Laut yang sama akan menelan kereta-kereta Firaun empat pasal kemudian. Allah sedang melatih mata kita untuk melihat polanya: apa yang mengancam umat-Nya berakhir di dasar laut. Dan kegelapan itu, yang begitu pekat sampai "orang merasakan kegelapan itu", kembali satu kali lagi dalam Alkitab, bukan atas Mesir melainkan atas Golgota. Matius mencatat kegelapan meliputi seluruh negeri selama tiga jam ketika Yesus tergantung. Di Mesir, terang tinggal di rumah-rumah Israel sementara gelap menutupi para penindas. Di salib, gelap itu justru jatuh atas Anak Allah supaya terang tinggal pada kita. Itulah pertukaran yang membuat Keluaran 10 bukan sekadar sejarah kuno.
Cermin
Yang paling mengganggu dari pasal ini bukanlah belalang, melainkan cara Firaun menyerah. Ia menyerah sedikit demi sedikit, selalu dengan satu pengecualian. Silakan beribadah, tetapi tinggalkan anak-anakmu. Silakan pergi, tetapi tinggalkan ternakmu. Ia tidak menolak Allah secara terbuka; ia hanya ingin memegang jaminan. Jujurlah: bukankah itu bahasa yang kita kuasai dengan fasih? Tuhan boleh mengatur hari Minggu, tetapi jangan kalender kerja. Tuhan boleh menerima persepuluhan, tetapi jangan bicara soal sisa rekening. Tuhan boleh menyentuh pernikahan saya, tetapi jangan nama orang yang sudah bertahun-tahun saya simpan dalam kebencian. Dan pengakuan Firaun, "Aku telah berdosa kepada TUHAN", terdengar persis seperti doa kita ketika yang kita inginkan sebenarnya bukan pengampunan melainkan penghentian akibat. Begitu belalang hilang, hatinya kembali berat. Musa menjawab dengan kalimat yang tidak memberi ruang tawar: "tidak seekor pun yang akan ditinggalkan". Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu hal konkret yang selama ini kamu tahan dari Tuhan, sebuah nama, sebuah angka, sebuah kebiasaan, lalu ucapkan dengan suara keras: "Ini pun ikut."
Gema Alkitab
Nabi Yoel kemudian memakai kawanan belalang sebagai gambaran hari TUHAN, pasukan yang membuat negeri gelap dan tidak menyisakan apa pun. Ia menulisnya bukan untuk Mesir, melainkan untuk umat Allah sendiri. Itu menusuk: tulah yang di Keluaran menjadi tanda pembebasan bisa, di mulut seorang nabi, menjadi peringatan bagi orang-orang yang menyebut diri milik Allah. Status sebagai umat tidak membuat kita kebal terhadap hati yang mengeras. Sebaliknya, Yoel juga memanggil kepada pertobatan yang berbeda dari pertobatan Firaun: koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu. Perbedaan antara Firaun dan Israel bukanlah perbedaan antara orang jahat dan orang baik, melainkan antara hati yang hanya ingin lolos dan hati yang sungguh mau kembali.
Detailnya
Tiga hari kegelapan, dan satu kalimat yang mudah terlewat: "Mereka tidak dapat saling melihat dan tidak dapat beranjak dari tempatnya." Orang Mesir menyembah matahari; Firaun dianggap anak dewa matahari. Allah memadamkan ilah tertinggi Mesir tanpa satu kata pun diucapkan. Namun yang paling mengerikan bukan hilangnya matahari, melainkan hilangnya wajah sesama. Selama tiga hari tidak ada orang Mesir yang bisa melihat anak, istri, atau tetangganya. Dosa yang dibiarkan matang selalu berakhir begitu: bukan hanya kehilangan Allah, tetapi kehilangan orang lain, duduk terpaku di tempat sendiri. Dan pasal ini ditutup secara konsisten dengan tema wajah. Firaun berkata, "jangan lihat wajahku!" Orang yang menolak terang akhirnya menolak dilihat.
Konteks
Kita berada di akhir rangkaian tulah, mungkin pada musim semi di Delta Nil. Hujan es telah menghancurkan jelai dan rami; gandum dan sekoi yang terlambat tumbuh masih tersisa, dan justru itulah yang dihabiskan belalang. Artinya: panen tahun itu nol. Sebuah negara agraris yang menopang seluruh kawasan Timur Dekat kehilangan lumbungnya. Tidak heran para pejabat istana berani berkata terbuka kepada rajanya, "Apakah engkau belum menyadari bahwa Mesir telah binasa?" Itu nyaris pembangkangan di hadapan seorang raja yang dianggap ilahi. Di seberangnya berdiri Musa, mantan buronan, gembala dari Midian, yang berbicara atas nama "Allah orang Ibrani", Allah para budak. Seluruh logika kekuasaan dunia kuno dibalik di ruangan itu.
Refleksi
Pengecualian mana yang sedang kamu tawarkan kepada Allah, dan apa sebenarnya yang kamu takutkan bila pengecualian itu kamu lepaskan?
Kapan terakhir kali kamu berkata "aku telah berdosa" karena sungguh sedih telah melukai Allah, bukan karena ingin akibatnya berhenti?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Exodus 10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KELUARAN 10?
Tentang apakah KELUARAN 10?
Apa konteks historis dari KELUARAN 10?
Apa yang KELUARAN 10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KELUARAN 10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Exodus 10
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yang paling mengerikan dari kegelapan Mesir bukan gelapnya, melainkan akibatnya: "Mereka tidak dapat melihat satu sama lain, dan tidak seorang pun bangkit dari tempatnya selama tiga hari." Tiga hari tanpa wajah sesama, tanpa langkah. Sementara di rumah Israel ada terang, dan mereka masih bisa saling memandang. Terang Tuhan selalu mengembalikanmu kepada orang-orang di sekitarmu. Apa yang membuatmu diam di tempat belakangan ini?
Firaun menawarkan kompromi: pergilah, tapi tinggalkan anak-anakmu. Musa menolak. "Kami akan pergi dengan anak-anak muda kami dan orang-orang tua kami, dengan anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan kami." Tidak ada yang ditinggal. Godaan yang sama masih ada hari ini: melayani Tuhan tanpa membawa serta orang-orang terdekatmu. Siapa yang kamu tinggalkan di Mesir?
Angin yang membawa belalang, angin juga yang membuangnya. "Tidak ada seekor belalang pun yang tersisa di seluruh wilayah Mesir." Tuhan tidak setengah-setengah waktu melepaskan. Tapi lihat Firaun: lega ternyata bukan berarti bertobat. Kalau hidupmu mulai longgar lagi hari ini, kamu pakai untuk apa kelegaan itu?
Tuhan, ada bagian dalam diriku yang keras kepala seperti hati Firaun, yang tahu kebenaran tapi menolak melangkah. Lembutkan aku sebelum aku terlalu jauh. Aku tidak ingin tinggal dalam pilihan yang membuatku buta. Bukalah tanganku, dan biarkan aku melepaskan apa yang Kau minta.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
