KELUARAN 24:4
Teksnya
Setelah seluruh bangsa menjawab dengan satu suara, "Kami akan melaksanakan semua perintah yang telah difirmankan oleh TUHAN," Musa tidak langsung beristirahat. Ia menulis. Semua firman TUHAN itu dicatatnya, diubah dari suara menjadi teks, dari momen menjadi dokumen. Lalu pagi-pagi benar keesokan harinya, sebelum panas Sinai naik, ia sudah berada di kaki gunung membangun sebuah mazbah. Dan di sekeliling mazbah itu ia menegakkan dua belas tiang batu, satu untuk setiap suku Israel. Satu ayat, tiga tindakan: menulis, mendirikan mazbah, menegakkan dua belas tiang. Tidak ada percakapan, tidak ada mukjizat, tidak ada api. Hanya seorang laki-laki tua yang bangun sebelum matahari dan mengangkat batu, mempersiapkan tempat di mana darah akan tertumpah esok hari.
Intinya
Yang terjadi di sini adalah perjanjian yang dibuat permanen. Israel baru saja berjanji dengan mulut, dan mulut manusia adalah hal yang paling mudah berubah di dunia ini; empat puluh hari kemudian mereka sudah menari di depan anak lembu emas. Maka Musa menulis. Firman itu tidak boleh tergantung pada ingatan sebuah bangsa yang labil. Allah mengikat diri-Nya pada sesuatu yang bisa dibaca ulang, digugat, dan dihakimkan kepada mereka sendiri. Lalu mazbah: karena kata-kata saja tidak pernah cukup untuk menyatukan Allah yang kudus dengan umat yang berdosa. Harus ada tempat di mana darah mengalir. Dan dua belas tiang berdiri berhadapan dengan satu mazbah, seperti dua pihak yang berdiri berhadapan dalam sebuah kontrak. Allah di satu sisi, seluruh Israel di sisi lain, dan di antaranya: kurban.
Benang Merah
Tiga tindakan Musa di ayat ini kelak akan bertemu dalam satu Pribadi. Musa menulis firman; Yesus datang sebagai Firman yang menulis diri-Nya ke dalam daging dan sejarah, bukan lagi di atas gulungan yang bisa hilang. Musa mendirikan mazbah; Yesus menjadi mazbah sekaligus kurban, dan darah yang besok dipercikkan Musa ke atas bangsa itu (ayat 8) adalah kalimat yang Ia pinjam di meja perjamuan terakhir ketika Ia mengangkat cawan dan berbicara tentang darah perjanjian (Matius 26). Ia tidak sedang mengarang istilah baru; Ia sedang berkata bahwa Sinai akhirnya sampai pada tujuannya. Dan dua belas tiang itu: Israel yang utuh, berdiri diam di hadapan Allah. Ketika Yesus memilih dua belas murid, Ia sedang menegakkan tiang-tiang yang sama di atas fondasi yang tidak akan runtuh.
Cerminnya
Anda pernah mengucapkan "ya" dengan sungguh-sungguh. Di depan altar pernikahan, di awal tahun, pada malam retret ketika hati terasa lembut. Dan Anda tahu persis berapa lama "ya" itu bertahan sebelum rutinitas, kelelahan, atau sakit hati menggerogotinya. Israel menjawab dengan satu suara dan empat puluh hari kemudian menyembah lembu emas. Jangan buru-buru menghakimi mereka; hitung dulu janji Anda sendiri. Tetapi perhatikan apa yang dilakukan Musa: ia tidak mengandalkan antusiasme bangsa itu, ia menulis, dan ia membangun tempat untuk darah. Anugerah selalu mengantisipasi kegagalan kita. Hari ini, ambil secarik kertas, tulis satu janji yang pernah Anda buat kepada Allah dan belum Anda tepati, lalu di bawahnya tulis: "darah perjanjian". Simpan di dompet Anda.
Pertanyaannya
Mengapa Allah membiarkan sebuah janji dicatat yang Ia tahu pasti akan dilanggar? Tulisan itu bukan sekadar kenang-kenangan; tulisan itu menjadi bukti. Begitu firman TUHAN tercatat hitam di atas putih, Israel kehilangan hak untuk berkata "kami tidak tahu". Ada sesuatu yang terasa keras di sini, seolah Allah sedang menyiapkan berkas tuntutan. Saya tidak ingin melunakkannya: hukum yang tertulis memang mendakwa. Tetapi perhatikan urutannya, karena di sinilah letak belas kasihan itu. Musa menulis, lalu segera membangun mazbah. Dokumen dan darah lahir pada halaman yang sama. Allah tidak pernah memberikan tuntutan tanpa sekaligus menyediakan penutupnya. Itu bukan penghiburan murah; itu beban yang akhirnya dipikul Seseorang di luar kota Yerusalem.
Detailnya
"Bangun pagi-pagi pada keesokan harinya." Kalimat kecil yang mudah dilewati. Ada satu malam penuh antara janji bangsa itu dan mazbah yang berdiri. Musa bisa saja menunda, menunggu apakah semangat kolektif itu bertahan sampai subuh. Ia tidak menunggu. Dalam Perjanjian Lama, bangun pagi-pagi hampir selalu menandai ketaatan yang tidak ditawar lagi; Abraham juga bangun pagi-pagi ketika berangkat ke Moria dengan Ishak (Kejadian 22). Keduanya bangun dini hari untuk berjalan menuju tempat kurban. Dan ada pagi ketiga, ketika para perempuan datang pagi-pagi benar ke kubur dan menemukan batu yang sudah terguling. Pagi adalah waktu Allah menyelesaikan apa yang dijanjikan-Nya di malam hari. Ketaatan yang nyata punya jam bangun.
Tokoh Utamanya
Musa berdiri di tempat yang paling sepi di seluruh pasal ini. Di atas, Allah berkata bahwa hanya dia yang boleh mendekat; di bawah, seluruh bangsa berseru bahwa mereka akan melakukan segalanya. Ia satu-satunya yang tahu betapa jauh jarak antara kedua suara itu. Maka ia menulis, karena ia tidak percaya pada ingatan manusia. Ia membangun mazbah, karena ia tahu apa yang akan dibutuhkan bangsa ini. Ia menegakkan dua belas tiang, karena tidak satu suku pun boleh tertinggal. Ini potret seorang pengantara: bekerja sendirian di kaki gunung, pada waktu yang masih gelap, untuk orang-orang yang akan mengkhianatinya. Dan setiap kali Anda melihat gambar itu, Anda sedang melihat bayangan dari Dia yang berdoa sendirian di Getsemani.
Refleksi
Janji mana dalam hidup Anda yang Anda ucapkan dengan tulus tetapi tidak Anda tepati, dan apa yang berubah ketika Anda meletakkannya bukan di bawah tekanan tekad, melainkan di bawah darah perjanjian?
Musa menulis dan membangun sebelum matahari terbit, tanpa saksi dan tanpa tepuk tangan. Pekerjaan ketaatan mana yang sedang Allah minta dari Anda justru di tempat yang tidak dilihat siapa pun?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Exodus 24:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KELUARAN 24:4?
Tentang apakah KELUARAN 24:4?
Apa konteks historis dari KELUARAN 24:4?
Apa yang KELUARAN 24:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KELUARAN 24:4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Exodus 24
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ada saat-saat ketika aku harus melangkah ke dalam awan dan tidak melihat apa-apa. Ajar aku tetap tinggal di sana, menunggu Engkau berbicara, walau hari demi hari terasa lama. Aku percaya Engkau ada di tengah kabut itu, dan Engkau tidak diam selamanya.
Lalu, Musa bangkit bersama Yosua, pelayannya, dan Musa naik ke gunung Allah." Yosua ikut naik, tetapi bukan dia yang masuk ke dalam awan. Ia menunggu, tanpa penglihatan, tanpa loh batu, tanpa nama yang dicatat orang. Bertahun-tahun kemudian dialah yang memimpin umat masuk ke tanah perjanjian. Mungkin masa menunggumu sekarang bukan penundaan, melainkan sekolahmu.
Setengah darah untuk mazbah, setengah untuk umat. "Musa mengambil setengah dari darah itu dan menaruhnya dalam bejana-bejana, dan setengah dari darah itu dia percikkan ke atas mazbah." Satu darah, dibagi dua, supaya Allah dan manusia terikat dalam perjanjian yang sama. Kamu tidak sedang berhubungan dengan Allah lewat janjimu yang goyah, tetapi lewat darah yang menyentuh kedua belah pihak.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi