KEJADIAN 17:19
Teks
Seorang laki-laki berusia 99 tahun terbaring telungkup di tanah, tertawa diam-diam ke dalam hatinya, lalu mencoba menawar: cukuplah Ismael saja. Ayat 19 adalah jawaban Allah atas tawaran itu, dan jawaban-Nya dimulai dengan satu kata yang menutup semua perundingan: "Sungguh!" Bukan Ismael, melainkan Sara, perempuan berusia 90 tahun yang rahimnya sudah lama dianggap selesai, yang akan melahirkan seorang anak laki-laki. Nama anak itu pun sudah ditetapkan sebelum ia dikandung: Ishak, yang berarti "ia tertawa". Dan dengan anak itulah, bukan dengan yang lain, Allah akan meneguhkan perjanjian-Nya, "sebagai perjanjian kekal yang akan berlaku sampai kepada keturunan-keturunannya setelah dia." Abraham mengusulkan jalan yang masuk akal; Allah menolaknya dengan ramah tetapi tanpa kompromi.
Inti
Di dunia Abraham, ahli waris adalah urusan strategi. Anak dari seorang budak perempuan bisa diangkat secara sah, dan hukum-hukum di Mesopotamia mengatur hal itu dengan rinci. Permintaan Abraham untuk Ismael bukan iman yang lemah saja; itu kebijaksanaan sosial yang wajar. Justru di situlah ayat ini menggigit. Allah menolak solusi yang bisa diatur manusia, dan memilih satu-satunya jalan yang tidak bisa direkayasa siapa pun: rahim yang mati. Perjanjian ini bukan kemitraan antara Allah dan seorang patriark yang cakap; ini pemberian murni dari pihak Allah, dan Ia menjaganya tetap murni dengan menunda sampai tidak ada lagi penjelasan alamiah. Nama anak itu mengabadikan tawa Abraham, seolah Allah berkata: tawa ragu-mu akan Kuubah menjadi tawa sukacita, dan kau akan memanggilnya setiap hari seumur hidupmu.
Benang Merah
Yang dipilih di sini bukan anak sulung, bukan yang paling kuat, bukan hasil usaha. Yang dipilih adalah anak yang mustahil. Pola itu lalu berjalan terus melalui seluruh Kitab Suci seperti benang yang jelas warnanya: Ribka mandul, Rahel mandul, Hana mandul, sampai akhirnya seorang perawan di Nazaret bertanya hal yang sebenarnya sama dengan tawa Abraham, bagaimana mungkin. Allah tampaknya sengaja membangun sejarah keselamatan di atas rahim yang tertutup, supaya tidak ada satu pun generasi yang bisa berkata: kami ada karena kami mampu. Paulus menangkap ini ketika ia menyebut orang percaya sebagai anak-anak perjanjian seperti Ishak, bukan anak-anak daging. Ishak bukan gambaran Kristus dalam setiap detailnya, tetapi ia adalah bukti pertama bahwa keselamatan selalu lahir dari pihak Allah, bukan dari kemampuan kita mengatur masa depan.
Cermin
Kita semua punya Ismael. Rencana cadangan yang masuk akal, yang sudah ada, yang bisa dipegang: pekerjaan aman yang kita ambil sambil mengubur panggilan; hubungan yang kita pertahankan karena takut sendirian; kompromi kecil dalam keuangan yang kita sebut realistis. Doa kita sering berbunyi persis seperti doa Abraham: biarlah yang sudah ada ini saja diperkenankan hidup di hadapan-Mu. Itu doa yang jujur, dan Allah tidak menghina Abraham karenanya. Tetapi Ia juga tidak mengabulkannya. Ia memberkati Ismael dan tetap menolak menjadikan solusi kita sebagai pusat. Ada perbedaan antara apa yang Allah berkati dan apa yang Allah janjikan. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu "Ismael" milikmu, rencana cadangan yang diam-diam kaupegang lebih erat daripada janji Allah, lalu bacalah kertas itu keras-keras sambil berkata: Tuhan, ini punyaku; "Sungguh!" adalah punya-Mu.
Konteks
Tiga belas tahun sunyi memisahkan pasal 16 dari pasal 17. Ismael lahir ketika Abraham berumur 86 tahun; sekarang ia 99. Selama tiga belas tahun itu tidak ada firman, tidak ada penampakan, hanya seorang anak laki-laki yang tumbuh di perkemahan dan seorang ayah yang pelan-pelan menyesuaikan harapannya dengan kenyataan. Bayangkan: tenda-tenda kulit kambing, bau ternak, kemah seorang kepala kaum pendatang yang kaya tetapi tanpa tanah sendiri, hidup di antara penduduk Kanaan sebagai orang yang menumpang. Di dunia itu, keturunan laki-laki bukan sekadar kebahagiaan keluarga; itu satu-satunya jaminan bahwa namamu, tanahmu, dan kuburanmu tidak lenyap. Allah menunggu sampai semua jaminan alamiah habis, lalu berbicara.
Profil
Orang Israel yang pertama kali mendengar cerita ini sudah menjadi bangsa, dan mereka tinggal berdampingan dengan keturunan Ismael, para pedagang padang gurun yang jumlahnya tidak sedikit dan yang jelas-jelas diberkati. Pertanyaan mereka bukan teoretis: mengapa kami, bukan mereka? Ayat ini menjawab dengan menunjuk ke asal-usul yang memalukan sekaligus membebaskan. Kalian ada bukan karena nenek moyang kalian lebih subur, lebih saleh, atau lebih dulu lahir. Kalian ada karena Allah berkata "Sungguh!" kepada seorang kakek yang tertawa. Bagi umat yang kemudian hancur di pembuangan, itu bukan dongeng sopan melainkan tali penyelamat: Allah yang membuka rahim yang mati bisa menghidupkan bangsa yang mati.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan Ismael? Allah mendengarkan Abraham, memberkati anak itu, menjanjikan dua belas raja, bangsa yang besar. Tetapi perjanjian kekal itu tidak untuknya. Teks tidak memberi alasan moral apa pun; tidak dikatakan Ismael kurang layak. Pemilihan di sini tidak dijelaskan, hanya dinyatakan, dan itu memang terasa keras. Kita boleh mencatat bahwa yang diberikan kepada Ishak bukan privilese melainkan beban, sebab lewat garis itu berkat harus sampai kepada segala bangsa, termasuk keturunan Ismael. Tapi itu tidak menghapus rasa sakitnya. Allah memilih, dan pilihan-Nya tidak kita pahami sampai tuntas. Yang kita tahu hanyalah ini: Ia juga mendengar doa untuk yang tidak terpilih, dan Ia memberkatinya.
Refleksi
Rencana cadangan mana dalam hidupmu yang sebenarnya sudah menjadi pengganti janji Allah, dan kapan terakhir kali kamu berani menyebutnya demikian?
Kalau Allah menamai anak itu "ia tertawa", apa artinya bahwa keraguanmu diabadikan bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai sukacita?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 17:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 17:19?
Tentang apakah KEJADIAN 17:19?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 17:19?
Apa yang KEJADIAN 17:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 17:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika kulit khatannya disunat." Sembilan puluh sembilan. Usia di mana orang merasa sudah selesai berubah, sudah terlalu tua untuk hal baru. Tetapi Abraham tetap taat, dan tubuhnya yang tua pun menanggung tanda perjanjian itu. Apa yang kamu tunda karena merasa sudah terlambat?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menarik janji-Mu ketika Abraham sujud dan tertawa, bertanya apakah anak bisa lahir bagi orang berumur seratus tahun. Aku bersyukur Engkau sabar dengan tawa dan keraguan di hatiku, dan tetap menggenapi apa yang Kaukatakan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi