KEJADIAN 17
Teks Itu Sendiri
Tiga belas tahun Allah diam, lalu Ia menampakkan diri kepada seorang laki-laki berumur 99 tahun dan berkata: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku tanpa cela." Dalam perjumpaan itu Abram menerima nama baru, Abraham, bapak banyak bangsa, beserta janji tentang keturunan, raja-raja, tanah Kanaan, dan sebuah perjanjian kekal yang dimeteraikan dalam daging melalui sunat atas setiap laki-laki di rumahnya. Sarai pun diberi nama baru dan, yang mengejutkan, dijanjikan seorang anak pada umur 90 tahun; Abraham tersungkur dan tertawa, lalu mencoba menawar dengan menyodorkan Ismael. Allah menolak tawaran itu dengan lembut namun tegas: Ishak yang akan menjadi pewaris perjanjian, sementara Ismael diberkati secara tersendiri. Hari itu juga Abraham menyunat seisi rumahnya.
Intinya
Yang menentukan di pasal ini bukan apa yang Abraham lakukan, melainkan siapa yang berbicara. Allah memperkenalkan diri sebagai El Shaddai, Allah Yang Mahakuasa, tepat ketika tubuh Abraham dan Sara sudah habis kemampuannya. Perjanjian ini bukan kontrak antara dua pihak yang seimbang; Allah berkata "Dari pihak-Ku" dan menanggung seluruh isi janji, sedangkan bagian Abraham hanyalah memegang teguh tanda yang Allah tetapkan. Inti kalimat itu terdengar dalam rumusan yang kelak menjadi detak jantung seluruh Alkitab: "Aku akan menjadi Allah bagimu dan bagi keturunan-keturunan sesudahmu." Kalimat itu bergema sampai ke Wahyu 21, ketika suara dari takhta berkata bahwa Allah akan diam bersama manusia dan menjadi Allah mereka. Jadi sunat bukan harga yang dibayar untuk janji, melainkan cap milik yang ditorehkan pada tubuh orang yang sudah dimiliki. Anugerah lebih dahulu, tanda menyusul.
Benang Merah
Paulus membaca pasal ini dengan teliti dan menemukan urutannya: Abraham dibenarkan karena percaya jauh sebelum ia disunat, sehingga sunat berfungsi sebagai meterai atas kebenaran yang sudah ia terima lewat iman. Itulah sebabnya, kata Paulus dalam Roma 4, Abraham bisa menjadi bapak bagi orang bersunat maupun tidak bersunat; janji "bapak dari banyak bangsa" justru menuntut pintu yang lebih lebar daripada satu suku. Dan ketika Perjanjian Baru berbicara tentang sunat hati, tentang tanda yang tidak lagi ditorehkan oleh tangan manusia, itu bukan pembatalan Kejadian 17 melainkan pemenuhannya: daging yang dikerat sebagai tanda akhirnya menunjuk pada Dia yang seluruh tubuh-Nya dikerat. Dari rahim yang mati muncul Ishak; dari kubur yang tertutup muncul Kristus. Allah yang sama bekerja dengan cara yang sama.
Cermin
Ada satu kalimat Abraham yang terasa sangat manusiawi: "Oh, biarlah Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu." Ia tidak menolak Allah; ia hanya menawarkan sesuatu yang sudah ada, yang bisa dilihat, yang sudah tiga belas tahun bermain di halaman rumahnya. Kita melakukan hal yang sama. Ketika janji Allah terasa terlalu lambat, kita menyodorkan hasil kerja kita sendiri sebagai pengganti: karier yang sudah kita bangun, anak yang kita atur hidupnya, pelayanan yang kita kerjakan supaya terasa berguna, tabungan yang kita anggap jaring pengaman. Semua itu sering memang berkat, seperti Ismael diberkati. Tetapi berkat bukan perjanjian, dan Allah tidak mau diperas untuk mengesahkan rencana cadangan kita. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu nama atau satu hal yang diam-diam Anda sodorkan kepada Allah sebagai pengganti janji-Nya, lalu ucapkan dengan suara keras: "Engkau adalah Allahku, bukan ini."
Profil
Israel yang pertama mendengar pasal ini adalah umat yang tahu rasanya hidup sebagai minoritas di tanah orang: di Mesir, kelak di Babel. Bagi mereka kalimat "negeri yang kamu tinggali sementara ini" bukan teori. Sunat pun bukan simbol religius yang nyaman, melainkan penanda tubuh yang tidak bisa disembunyikan di pemandian umum atau di medan perang, sesuatu yang membuat mereka tampak aneh di mata tetangga. Justru di situ letak penghiburannya: tanda itu dibawa dalam daging, tidak bisa hilang bersama bait suci yang runtuh atau tanah yang dirampas. Dan mereka pasti terhenyak membaca ayat 12 dan 13: budak yang dibeli dengan uang pun ikut disunat. Perjanjian ini sejak awal lebih luas daripada garis darah.
Detail
Abraham tersungkur, lalu tertawa. Dalam bahasa Ibrani kata itu tsakhaq, dan Allah mengambilnya untuk menamai anak yang dijanjikan: Ishak, "dia tertawa". Allah tidak menegur tawa itu, tidak menghukumnya seperti Zakharia kelak dibuat bisu. Ia justru mengabadikannya dalam nama pewaris perjanjian. Jadi setiap kali nama Ishak disebut di sepanjang Alkitab, terdengar gema tawa seorang tua yang tidak sanggup memercayai telinganya sendiri. Itu bukan tawa ejekan, melainkan tawa orang yang perhitungannya baru saja hancur: seratus tahun, sembilan puluh tahun, angka-angka yang menutup pintu. Allah membiarkan angka itu diucapkan lengkap, lalu tetap berkata "Sungguh!" Iman di sini tidak berarti berhenti menghitung; iman berarti menyerahkan hasil hitungan kepada Allah Yang Mahakuasa.
Tokoh Utama
Abraham dalam pasal ini bukan pahlawan iman yang berdiri tegak. Ia pria tua yang dua kali jatuh tersungkur, yang tertawa dalam hati, yang menawar, yang sudah lama mengatur hidupnya seolah Ismael adalah jawaban akhir. Namun perhatikan ayat 23: "pada hari itu juga". Tanpa penundaan, tanpa menunggu musim yang lebih baik, ia menyunat dirinya sendiri pada umur 99 tahun dan seisi rumahnya, termasuk anak yang baru saja disingkirkan dari garis perjanjian. Itulah bentuk iman yang sesungguhnya: bukan ketiadaan keraguan, melainkan ketaatan yang bergerak sementara keraguan masih tertawa di dalam dada. Abraham mengambil pisau karena ia percaya bahwa Allah yang bicara itu sanggup, meski tubuhnya sendiri berkata tidak.
Refleksi
Apa "Ismael" dalam hidup Anda, hal baik yang Anda jadikan pengganti janji Allah yang belum digenapi?
Di mana Anda masih menunda ketaatan sampai keraguan Anda hilang, padahal Abraham taat "pada hari itu juga" dengan tawa yang belum reda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 17?
Tentang apakah KEJADIAN 17?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 17?
Apa yang KEJADIAN 17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika kulit khatannya disunat." Sembilan puluh sembilan. Usia di mana orang merasa sudah selesai berubah, sudah terlalu tua untuk hal baru. Tetapi Abraham tetap taat, dan tubuhnya yang tua pun menanggung tanda perjanjian itu. Apa yang kamu tunda karena merasa sudah terlambat?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menarik janji-Mu ketika Abraham sujud dan tertawa, bertanya apakah anak bisa lahir bagi orang berumur seratus tahun. Aku bersyukur Engkau sabar dengan tawa dan keraguan di hatiku, dan tetap menggenapi apa yang Kaukatakan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
