KEJADIAN 26:13
Teks Itu
Setelah Ishak menabur di tanah asing dan menuai seratus kali lipat, ayat 13 mencatat akibatnya dengan nada yang hampir berlebihan: orang itu menjadi kaya, terus bertambah kaya, sampai akhirnya ia menjadi kaya raya. Tiga tahap dalam satu kalimat pendek. Bukan kekayaan yang datang sekali lalu berhenti, melainkan sesuatu yang bergerak, membesar, dan pada akhirnya tidak bisa disembunyikan lagi dari mata tetangga Filistin yang mengamati dari kejauhan.
Intinya
Perhatikan di mana ayat ini diletakkan. Ia berdiri persis sesudah kalimat "sebab TUHAN memberkatinya" (ay. 12) dan persis sebelum "orang-orang Filistin iri terhadapnya" (ay. 14). Kekayaan Ishak dikurung di antara berkat Allah dan kecemburuan manusia. Teks ini tidak mengajarkan bahwa harta adalah tanda keberkenanan Allah, dan juga tidak mengajarkan bahwa harta itu najis. Yang diajarkannya lebih tajam: berkat Allah menempatkan orang di posisi yang secara sosial berbahaya. Ishak tidak menjadi kaya karena ia lebih pintar bertani daripada orang Gerar. Ia kaya di tanah orang lain, sebagai pendatang, di tengah kelaparan, dan itu justru membuat keberadaannya mengusik. Berkat bukan bantal; berkat adalah tanggung jawab yang segera diuji.
Benang Merahnya
Janji kepada Abraham berbunyi bahwa melalui keturunannya seluruh bangsa di bumi akan diberkati (ay. 4). Ayat 13 adalah cicilan pertama dari janji itu, tetapi cicilan yang canggung: yang diberkati justru menjadi ancaman bagi bangsa di sekitarnya, bukan berkat. Baru di akhir pasal, ketika Abimelekh datang mencari perjanjian damai dan mengakui bahwa Tuhan menyertai Ishak, sesuatu dari janji itu mulai terwujud. Pola ini terus berulang sampai ke Kristus: kelimpahan yang dari Allah baru menjadi berkat bagi orang lain ketika ia dibagikan, bukan sekadar ditumpuk. Yesus, yang kaya, menjadi miskin supaya banyak orang menjadi kaya. Ishak menunjukkan tahap pertama; Kristus menunjukkan ke mana tahap itu harus bermuara.
Cerminnya
Anda mungkin tidak merasa kaya. Tetapi tanyakan pada diri sendiri: apa yang di tangan Anda sedang bertambah? Gaji yang naik pelan-pelan, rumah yang akhirnya lunas, reputasi di tempat kerja, jaringan pertemanan, pengaruh di gereja. Pertambahan hampir selalu terasa wajar bagi yang mengalaminya, dan hampir selalu terlihat mencolok bagi yang tidak. Di sinilah teks ini menggores. Ketika penghasilan Anda naik, apakah gaya hidup Anda yang naik lebih dulu, atau pemberian Anda? Ketika seorang rekan kerja lebih cepat dipromosikan, apakah Anda mengenali diri Anda bukan dalam Ishak, melainkan dalam orang Filistin yang menimbun sumur karena iri? Berkat menguji orang yang menerimanya dan orang yang menyaksikannya, dan biasanya kita berdiri di kedua sisi bergantian.
Detailnya
Kata kerja Ibrani yang dipakai tiga kali di ayat ini adalah gadal, "menjadi besar". Bukan sekadar "banyak harta", tetapi "membesar". Kata yang sama dipakai Allah kepada Abraham ketika berjanji membuat namanya besar. Jadi ayat ini bukan laporan keuangan, melainkan gema janji. Dan justru karena itu ia menuntut sesuatu. Menjadi besar selalu berarti mengambil lebih banyak ruang, dan ruang itu diambil dari orang lain. Ishak sendiri kemudian belajar hal ini dengan cara yang mahal: ia menyerahkan dua sumur, Esek dan Sitna, sebelum mendapat Rehobot, tempat yang lapang. Orang yang dibesarkan Allah ternyata dipanggil untuk mundur dua kali. Itu bukan kelemahan; itu cara berkat tidak berubah menjadi penindasan.
Pertanyaannya
Lalu bagaimana dengan orang percaya yang menabur dan tidak menuai seratus kali lipat, yang bekerja jujur dan tetap terlilit utang? Teks ini tidak memberi jaminan apa pun kepada mereka, dan kita tidak boleh berpura-pura demikian. Ishak diberkati bukan karena prinsip yang bisa ditiru, melainkan karena ia berdiri dalam garis janji tertentu, pada momen tertentu, sesudah Allah secara harfiah menampakkan diri dan menyuruhnya tinggal. Bahaya terbesar dari ayat 13 adalah membacanya sebagai rumus. Yang jujur kita katakan: Alkitab memperlihatkan Allah yang kadang memberkati secara materi dengan berlimpah, dan kadang membiarkan orang-orang-Nya yang paling setia mati miskin. Ayat ini menuntut kerendahan hati dari yang berkelimpahan, bukan rasa bersalah dari yang kekurangan.
Gemanya
Ulangan 8 memperingatkan Israel yang sudah makmur di tanah perjanjian agar jangan berkata dalam hati bahwa kekuatan tangan merekalah yang menghasilkan kekayaan itu. Peringatan itu diberikan bukan pada masa krisis, melainkan justru pada masa kenyang, karena di situlah lupa paling mudah terjadi. Dan Yesus menceritakan tentang seorang kaya yang panennya berlimpah lalu membangun lumbung lebih besar, dan disebut bodoh bukan karena ia kaya, melainkan karena seluruh masa depannya ia bicarakan dengan dirinya sendiri, tanpa Allah dan tanpa sesama. Ishak berbeda: pada akhirnya ia mendirikan mazbah dan memanggil nama Tuhan (ay. 25), dan ia menyediakan jamuan makan bagi orang yang pernah mengusirnya (ay. 30). Itulah ujian sesungguhnya dari ayat 13.
Refleksi
Kalau penghasilan atau pengaruh saya bertambah dua kali lipat tahun ini, apa yang paling mungkin bertambah lebih dulu dalam hidup saya: gaya hidup, pemberian, atau kecemasan?
Sumur mana yang sedang saya pertahankan mati-matian, padahal mungkin panggilan saya adalah melepaskannya dan menggali di tempat lain?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 26:13
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 26:13?
Tentang apakah KEJADIAN 26:13?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 26:13?
Apa yang KEJADIAN 26:13 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 26:13 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Genesis 26?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi