Penjelasan Alkitab

KEJADIAN 6:6

Alkitab

Teks

Setelah Allah memandang bumi dan melihat bahwa kejahatan manusia begitu meluas sampai ke akar niat hati mereka, ayat 6 memberi tahu kita apa yang terjadi di dalam diri Allah sendiri: "TUHAN menyesal bahwa Dia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu mendukakan hati-Nya." Bukan kemarahan yang meledak lebih dulu, melainkan penyesalan dan duka. Baru sesudah itu, di ayat 7, keputusan penghakiman diucapkan. Jadi urutannya penting: Allah melihat, Allah berduka, Allah bertindak. Yang paling mengejutkan bukanlah air bah, tetapi kalimat singkat bahwa hati Allah tersakiti oleh karya tangan-Nya sendiri. Seluruh kisah Nuh berdiri di atas satu ayat yang membuka pintu ke dalam batin Sang Pencipta, dan pintu itu tidak menunjukkan kekuasaan yang dingin, melainkan kasih yang terluka.

Inti

Kata Ibrani di belakang "mendukakan hati-Nya" adalah 'atsav, sakit yang mendalam, kata yang sama yang dipakai untuk kesakitan melahirkan dan jerih payah bekerja sesudah kejatuhan di Kejadian 3. Artinya: kutuk yang menimpa manusia ternyata memantul kembali kepada Allah. Dia tidak menonton kerusakan dunia dari balik kaca antipeluru; Dia merasakannya. Di sinilah dua hal yang sering kita pisahkan bertemu dalam satu ayat: kekudusan yang tidak bisa membiarkan kekerasan berkuasa, dan kasih yang tidak bisa melepaskan manusia tanpa berduka. Penghakiman dalam Alkitab tidak pernah lahir dari ketidakpedulian, melainkan dari kepedulian yang terlanggar. Dan "menyesal" di sini bukan berarti Allah keliru dalam mencipta, seolah Dia salah perhitungan. Kata itu menggambarkan perubahan arah tindakan Allah sebagai tanggapan terhadap manusia yang berubah, bukan perubahan dalam karakter-Nya. Justru karena Dia tetap setia pada kebaikan ciptaan-Nya, Dia tidak bisa tinggal diam ketika ciptaan itu merusak dirinya sendiri.

Benang Merah

Ayat ini menanam benih yang baru mekar penuh di Golgota. Pola yang muncul di sini, yaitu Allah yang berduka lalu bertindak menyelamatkan melalui satu orang dan satu perjanjian, adalah pola yang akan diulang terus sepanjang Alkitab. Perhatikan bahwa dukacita Allah tidak berhenti pada penghancuran; delapan ayat kemudian Dia berkata kepada Nuh, "Aku akan menetapkan perjanjian-Ku denganmu." Air bah bukan kata terakhir, perjanjian yang menjadi kata terakhir. Dan ketika hati Allah yang terluka itu akhirnya mengambil bentuk manusia, kita melihat Yesus menangis di depan kubur Lazarus dan di atas kota Yerusalem. Duka Allah di Kejadian 6 adalah duka yang sama yang kelak memikul salib. Bedanya: di sini Allah memusnahkan dunia yang rusak; di Kalvari Dia membiarkan diri-Nya sendiri dimusnahkan agar dunia itu selamat.

Cermin

Kita terbiasa berpikir bahwa dosa merugikan diri kita sendiri dan melukai sesama. Ayat ini menambahkan sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman: dosa kita menyakiti Allah. Bukan sekadar melanggar aturan-Nya, tetapi menyentuh hati-Nya. Kemarahan yang Anda simpan terhadap rekan kerja selama tiga tahun, kebiasaan tersembunyi yang Anda kelola dengan rapi agar tidak ketahuan, cara Anda berbicara kepada pasangan ketika lelah, semuanya bukan hanya urusan moral pribadi. Ada Pribadi di seberang sana yang berduka. Bagi banyak orang ini justru melegakan: ternyata kita tidak berhadapan dengan Hakim yang acuh, melainkan dengan Bapa yang tersinggung karena Dia mengasihi. Hari ini, sebutkan satu hal dalam hidup Anda yang Anda tahu mendukakan hati Allah, ucapkan dengan suara keras di hadapan-Nya, lalu berhenti sejenak sebelum meminta ampun.

Konteks

Kejadian 6 berdiri di ujung sebuah kemerosotan yang panjang. Sejak taman, Alkitab mencatat spiral yang terus menurun: Kain membunuh adiknya, Lamekh membanggakan pembalasan dendam yang berlipat ganda, dan kini seluruh bumi "dipenuhi dengan kekerasan." Pembaca pertama kisah ini, umat Israel, hidup di dunia yang penuh cerita air bah. Bangsa-bangsa sekitar juga punya legenda banjir besar, tetapi di sana para dewa mengirim banjir karena manusia terlalu berisik dan mengganggu tidur mereka. Di Kejadian, alasannya moral dan relasional: keadilan dilanggar, darah ditumpahkan, hati Allah terluka. Perbedaan itu bukan detail kecil. Israel diajar bahwa Allah mereka tidak kapris dan tidak bisa disuap, tetapi terikat pada kebenaran, dan bahwa dunia ini punya tatanan moral yang nyata.

Detail

Ada permainan kata yang hilang dalam terjemahan mana pun. Kata Ibrani untuk "menyesal" adalah nakham, yang juga berarti menghibur atau menghela napas dalam. Kata ini muncul lagi tepat sebelum kisah ini, ketika ayah Nuh memberi nama anaknya dengan harapan bahwa ia akan membawa penghiburan dari jerih payah dan kutuk atas tanah. Nama Nuh sendiri berakar pada gagasan istirahat. Jadi dalam satu bagian yang sama, kata itu muncul dua kali dengan dua wajah: Allah "menyesal" telah menjadikan manusia, dan seorang anak dilahirkan sebagai "penghiburan." Dukacita Allah dan pengharapan manusia dikunci dalam satu akar kata yang sama. Bahkan di titik terkelam narasi ini, bahasa Alkitab sudah berbisik bahwa penghakiman dan penghiburan datang dari tangan yang sama.

Tokoh Utama

Tokoh utama ayat ini bukan Nuh, bukan raksasa-raksasa, melainkan Allah sendiri, dan Dia digambarkan dengan cara yang nyaris tidak sopan menurut ukuran teologi rapi. Dia melihat, Dia menyesal, Dia berduka. Penulis Kejadian berani memakai bahasa manusia untuk melukiskan batin Allah karena tidak ada bahasa lain yang cukup. Yang muncul bukan potret Allah yang emosional dan labil, tetapi Allah yang sungguh-sungguh terlibat dengan dunia yang Dia buat. Dia tidak netral. Dia mengikat diri-Nya pada nasib ciptaan-Nya sedemikian rupa sehingga kerusakan ciptaan itu menjadi luka-Nya sendiri. Inilah yang membuat kekudusan-Nya berbahaya sekaligus berharga: Dia terlalu peduli untuk membiarkan kejahatan berjalan terus, dan terlalu mengasihi untuk menghancurkannya tanpa berduka.

Teks-teks Terkait

Paulus menulis kepada jemaat di Efesus agar mereka tidak mendukakan Roh Kudus, dan ia memakai kata yang bergema langsung dengan ayat ini. Nasihat itu diberikan di tengah daftar hal-hal yang sangat biasa: kepahitan, kemarahan, fitnah, kata-kata yang merusak. Artinya, apa yang terjadi dalam skala kosmis di Kejadian 6 juga terjadi dalam skala rumah tangga dan jemaat. Sebaliknya, bacalah kembali Kejadian 1, di mana Allah berulang kali melihat ciptaan-Nya dan menyatakannya baik. Kata kerja yang sama, "melihat," dipakai di pasal 6, tetapi kini yang dilihat-Nya adalah kerusakan. Dua pandangan Allah atas dunia yang sama: sukacita seorang seniman dan duka seorang yang dikhianati. Di antara keduanya terentang seluruh kisah Alkitab.

Profil

Israel mendengar cerita ini sebagai bangsa yang tahu rasanya diselamatkan melalui air. Mereka telah berjalan di antara dinding-dinding laut sementara pasukan Firaun tenggelam. Ketika mereka mendengar tentang air bah dan bahtera, mereka tidak mendengar dongeng purba, melainkan pola hidup mereka sendiri: penghakiman dan keselamatan datang dalam gelombang yang sama. Mereka juga hidup dengan hukum yang menuntut kekudusan, dan ayat ini menjelaskan mengapa. Bukan karena Allah gemar mengatur, tetapi karena Dia punya hati yang bisa terluka. Bagi bangsa yang baru saja menerima perjanjian di Sinai dan berulang kali melanggarnya, kalimat bahwa Allah berduka pastilah menusuk. Mereka tahu persis rasanya menjadi umat yang mendukakan Allah dan tetap tidak dibuang.

Pertanyaan

Bagaimana mungkin Allah yang mahatahu "menyesal"? Jika Dia sudah tahu sejak semula bahwa manusia akan sampai ke titik ini, bukankah penyesalan-Nya hanya sandiwara? Jawaban yang terlalu cepat akan berkata bahwa ini hanya bahasa kiasan agar kita mengerti. Tetapi itu terlalu murah. Alkitab tidak sedang berpura-pura; ia sedang mengatakan sesuatu yang sungguh terjadi dalam relasi antara Allah dan manusia. Mungkin yang perlu kita lepaskan bukan kemahatahuan Allah, melainkan asumsi kita bahwa mengetahui sesuatu lebih dulu berarti tidak lagi merasakannya. Seorang ibu yang tahu anaknya akan menghancurkan dirinya tidak menjadi kebal terhadap kehancuran itu. Pengetahuan tidak membekukan hati. Di sini kita berdiri di tepi misteri, dan lebih baik berdiri di tepinya daripada menutupinya dengan penjelasan yang licin.

Refleksi

Kalau dosa Anda bukan hanya pelanggaran aturan tetapi luka pada hati Allah, apa yang berubah dalam cara Anda mengakuinya?

Di mana Anda selama ini membayangkan Allah sebagai penonton yang netral atas penderitaan dunia, dan bagaimana ayat ini menantang gambaran itu?

Nuh "mendapat perkenanan di mata TUHAN" di tengah dunia yang rusak. Apa artinya berjalan dengan Allah ketika lingkungan Anda bergerak ke arah lain?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 6:6

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti KEJADIAN 6:6?
Setelah Allah memandang bumi dan melihat bahwa kejahatan manusia begitu meluas sampai ke akar niat hati mereka, ayat 6 memberi tahu kita apa yang terjadi di dalam diri Allah sendiri: "TUHAN menyesal bahwa Dia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu mendukakan hati-Nya." Bukan kemarahan yang meledak lebih dulu, melainkan penyesalan dan duka.
Tentang apakah KEJADIAN 6:6?
Ayat ini menanam benih yang baru mekar penuh di Golgota. Pola yang muncul di sini, yaitu Allah yang berduka lalu bertindak menyelamatkan melalui satu orang dan satu perjanjian, adalah pola yang akan diulang terus sepanjang Alkitab. Perhatikan bahwa dukacita Allah tidak berhenti pada penghancuran; delapan ayat kemudian Dia berkata kepada Nuh, "Aku akan menetapkan perjanjian-Ku denganmu.
Apa konteks historis dari KEJADIAN 6:6?
Kejadian 6 berdiri di ujung sebuah kemerosotan yang panjang. Sejak taman, Alkitab mencatat spiral yang terus menurun: Kain membunuh adiknya, Lamekh membanggakan pembalasan dendam yang berlipat ganda, dan kini seluruh bumi "dipenuhi dengan kekerasan." Pembaca pertama kisah ini, umat Israel, hidup di dunia yang penuh cerita air bah.
Apa yang KEJADIAN 6:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Tokoh utama ayat ini bukan Nuh, bukan raksasa-raksasa, melainkan Allah sendiri, dan Dia digambarkan dengan cara yang nyaris tidak sopan menurut ukuran teologi rapi. Dia melihat, Dia menyesal, Dia berduka. Penulis Kejadian berani memakai bahasa manusia untuk melukiskan batin Allah karena tidak ada bahasa lain yang cukup.
Bagaimana KEJADIAN 6:6 masih relevan hari ini?
Israel mendengar cerita ini sebagai bangsa yang tahu rasanya diselamatkan melalui air. Mereka telah berjalan di antara dinding-dinding laut sementara pasukan Firaun tenggelam. Ketika mereka mendengar tentang air bah dan bahtera, mereka tidak mendengar dongeng purba, melainkan pola hidup mereka sendiri: penghakiman dan keselamatan datang dalam gelombang yang sama.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 6

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Doa Editorial pada ayat 18

Bapa, di tengah dunia yang terasa retak, Engkau tetap mengikat janji dengan manusia. Terima kasih Engkau menyediakan tempat aman bagi kami dan orang orang yang kami kasihi. Ajar kami percaya pada janji-Mu, bahkan ketika badai belum reda.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun penjelasan Alkitab. Meskipun kami berupaya menjaga ketepatan teologis, perangkat lunak ini dapat membuat kesalahan. Gunakanlah sebagai pelengkap, bukan pengganti, bagi penelaahan Alkitab pribadi Anda dan kehidupan bersama dalam persekutuan gereja.

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Perusahaan?