YESAYA 14
Teks
Sebelum ada satu kata pun tentang kejatuhan Babel, ada kata tentang kasih: "TUHAN akan menyayangi Yakub dan akan kembali memilih Israel." Dari situ pasal ini bergerak ke sebuah nyanyian ejekan yang akan dinyanyikan umat yang pulang, sebuah lagu atas mayat raja Babel: tongkat penindas patah, bumi beristirahat, bahkan pohon-pohon aras bernapas lega. Lalu kamera turun ke dunia orang mati, tempat raja-raja bangkit dari takhta mereka untuk menyambut si penakluk dengan kalimat yang dingin, "Sekarang, kamu juga telah menjadi lemah seperti kami." Pasal ini ditutup dengan dua ucapan pendek: Asyur akan diinjak di gunung TUHAN, dan Filistea diperingatkan agar jangan terlalu cepat bersukacita atas patahnya sebuah rotan.
Inti
Ada dua suara yang berkata "Aku" dalam pasal ini, dan seluruh isinya adalah benturan antara keduanya. Yang pertama berbicara "dalam hatimu": "Aku akan naik ke langit… Aku akan menyamai Yang Mahatinggi." Lima kali ia merancang kenaikannya sendiri, dan tidak seorang pun mendengar, sebab itu diucapkan di ruang paling tersembunyi manusia. Suara kedua tidak berdebat, tidak membalas ejekan, hanya menyatakan: "seperti yang telah Aku rencanakan, demikianlah hal itu akan terlaksana." Di sinilah letak ketenangan yang menakutkan dari teks ini. Kekuasaan yang meneror bangsa-bangsa ternyata bukan lawan tanding Allah, melainkan sesuatu yang disapu dengan "sapu kehancuran". Dan yang membuat kita terdiam: rencana besar itu dimulai bukan dengan penghancuran, melainkan dengan Allah yang menyayangi umat-Nya yang kalah.
Benang Merah
Lima kali "Aku akan" di ayat 13 dan 14 adalah ringkasan paling padat tentang apa yang salah dengan kita sejak taman itu: naik, meninggikan, duduk di tempat yang bukan milik kita, menyamai Yang Mahatinggi. Dan jawaban Allah atas gerakan itu ternyata bukan sekadar menjatuhkan, melainkan melakukan yang sebaliknya dalam diri-Nya sendiri. Paulus di Filipi 2 melukiskan Yesus Kristus persis sebagai antitesis raja Babel: Dia yang setara dengan Allah tidak menganggap itu sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan turun, sampai ke kematian, bahkan kematian di kayu salib. Raja Babel merancang kenaikan dan berakhir di liang kubur; Kristus memilih penurunan dan ditinggikan. Dua jalan, dua arah, dan hanya satu yang berakhir dalam kehidupan. Pertanyaannya bukan jalan mana yang lebih indah, melainkan jalan mana yang sedang kita tempuh tanpa menyadarinya.
Cermin
Yang menusuk dari ayat 13 adalah tiga kata: "dalam hatimu". Bukan pidato di depan rakyat, bukan prasasti di tembok istana. Kalimat paling megah raja itu diucapkan di tempat yang tidak didengar siapa pun. Kita pun punya ruang itu. Di dalam mobil sepulang rapat, ketika kita menyusun ulang percakapan agar kita tampak lebih benar. Di depan layar, ketika kita menghitung siapa yang naik jabatan lebih dulu. Di meja makan keluarga besar, ketika kita diam-diam membandingkan anak kita dengan anak saudara kita. Teks ini tidak menuduh kita menjadi tiran; teks ini bertanya apa yang kita katakan ketika tidak ada yang mendengar. Hari ini: tulis di secarik kertas satu kalimat "aku akan…" yang paling sering kamu ucapkan diam-diam kepada dirimu sendiri, bacakan keras-keras kepada Allah, lalu robek kertas itu.
Konteks
Ayat 28 memberi jangkar waktu: tahun kematian Raja Ahas, sekitar 715 SM. Saat itu Babel belum menjadi ancaman utama; Asyur yang menginjak Timur Dekat, dan Yehuda baru saja keluar dari pemerintahan seorang raja yang memilih tunduk pada Asyur demi keamanan. Maka nyanyian tentang runtuhnya Babel terdengar aneh di telinga pertama, seperti berita kemenangan atas musuh yang belum lahir. Yesaya menulis untuk generasi yang belum ada, untuk orang-orang buangan yang kelak duduk di tepi sungai asing. Bentuk sastranya pun tajam: ayat 4 menyebutnya ejekan, sebuah lagu duka yang iramanya dibajak untuk menertawakan orang mati. Dan Filistea, tetangga kecil di pesisir, bersorak karena satu tongkat patah, tanpa tahu bahwa dari akar yang sama akan muncul sesuatu yang jauh lebih berbisa.
Detail
"Hai bintang pagi, putra fajar." Dalam bahasa Ibrani kata itu helel, "yang bersinar", dan dari terjemahan Latinnya lahirlah nama Lucifer, yang kemudian dipakai gereja untuk iblis. Tetapi teks ini berbicara tentang seorang raja manusia yang mayatnya diinjak-injak. Lebih baik kita tidak buru-buru menutup jarak itu. Yang menarik justru gambarannya sendiri: bintang fajar adalah cahaya yang paling terang menjelang subuh, dan juga cahaya yang paling pasti lenyap begitu matahari terbit. Kemegahan yang usianya diukur dalam menit. Mungkin di situlah teks ini menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada Babel, sesuatu yang selalu mengulang dirinya di setiap kekuasaan yang mengira dirinya fajar padahal hanya bintang yang segera pudar.
Gema Kitab Suci
Yesus mengambil bahasa pasal ini dan menempelkannya pada sebuah desa nelayan. Kepada Kapernaum Ia berkata bahwa kota itu, yang merasa ditinggikan sampai ke langit, akan diturunkan ke dunia orang mati (Matius 11:23). Kalimat yang dirancang untuk raja adidaya ternyata pas juga untuk kampung kecil yang menganggap remeh kunjungan Allah. Ukuran kesombongan ternyata tidak ditentukan oleh ukuran kekuasaan. Dan di ujung Alkitab, Wahyu 18 menyanyikan lagi lagu ini: Babel jatuh, para pedagang menangis, dan bumi terdiam. Nama itu terus kembali karena ia bukan sekadar kota, melainkan sebuah cara hidup. Yang tersisa dari Yesaya 14 bukan kemenangan kita atas tiran, melainkan janji terakhirnya: "TUHAN telah mendirikan Sion dan para kurban dari umat-Nya akan berlindung di dalamnya."
Refleksi
Kalimat "aku akan…" mana yang paling sering kamu ucapkan dalam hati, dan apa yang akan berubah jika kamu mengucapkannya keras-keras di hadapan Allah?
Pasal ini dibuka dengan kasih Allah kepada umat yang kalah dan ditutup dengan Sion sebagai tempat berlindung bagi korban. Mengapa menurutmu penghakiman atas Babel dibingkai justru oleh belas kasihan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 14
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 14?
Tentang apakah YESAYA 14?
Apa konteks historis dari YESAYA 14?
Apa yang YESAYA 14 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 14 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 14?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
