YOHANES 9:6
Teks
Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya sampai menjadi semacam lumpur, lalu mengoleskan campuran itu ke mata seorang pria yang buta sejak lahir. Tidak ada doa keras, tidak ada mantra. Hanya tangan, ludah, debu, dan mata yang belum pernah melihat cahaya.
Inti
Perhatikan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Anak Allah, yang baru saja menyebut diri-Nya "terang dunia" (ayat 5), berjongkok di jalanan Yerusalem dan bermain dengan lumpur. Ini adalah teologi yang mengagetkan: kemuliaan yang menyentuh kotoran. Dalam pikiran Yahudi abad pertama, ludah dianggap kotor, tanah jalanan kota lebih kotor lagi. Namun justru dengan bahan-bahan yang tampak hina inilah Yesus menyembuhkan. Allah tidak menjauhkan diri dari kefanaan kita; Ia justru merendahkan diri sampai ke butir-butir debu untuk menjumpai kita. Penyembuhan datang bukan lewat sesuatu yang mulia menurut ukuran manusia, melainkan lewat tangan yang bersedia menjadi kotor.
Benang Merah
Adukan tanah itu menggemakan sesuatu yang sangat tua. Dalam Kejadian 2, Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalamnya. Di sini, Sang Firman yang menciptakan itu kembali membungkuk ke tanah, seakan-akan menyelesaikan pekerjaan penciptaan yang belum tuntas pada mata pria ini. Yohanes sengaja menempatkan tanda ini setelah prolog tentang Firman yang menjadi daging. Yesus tidak hanya memperbaiki yang rusak; Ia mencipta ulang. Dan pola yang sama akan berulang dalam salib dan kebangkitan: keselamatan datang lewat kerendahan yang menjijikkan bagi mata dunia, lewat darah, kayu, dan makam. Terang dunia bekerja dari bawah ke atas, bukan sebaliknya.
Cermin
Kita sering menginginkan Allah bekerja dengan cara yang bersih dan terhormat. Kita ingin jawaban yang elegan, penyembuhan yang cepat, transformasi yang tidak membuat kita malu di hadapan tetangga. Namun bayangkan sejenak: Anda buta sejak lahir, dan orang asing mengoleskan lumpur ludah ke wajah Anda. Anda harus berjalan melewati keramaian dengan wajah kotor menuju kolam Siloam. Ada penghinaan dalam proses itu. Pertanyaannya untuk kita: apakah kita bersedia disembuhkan dengan cara yang memalukan? Apakah kita rela Tuhan menjamah luka kita lewat konseling yang canggung, pengakuan dosa yang menyakitkan, komunitas yang berantakan, atau tubuh yang menua tanpa mukjizat instan? Terang sering datang lewat lumpur lebih dahulu.
Intertekstualitas
Bandingkan dengan Markus 8:23, ketika Yesus menyembuhkan orang buta di Betsaida, di sana pun Ia memakai ludah-Nya. Rupanya ini bukan kebetulan, melainkan pola: Yesus memakai apa yang dari tubuh-Nya sendiri sebagai perantara penyembuhan. Kontraskan itu dengan Naaman di 2 Raja-raja 5, yang marah karena Elisa hanya menyuruhnya mandi di Sungai Yordan, "Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik?" Naaman ingin ritual yang megah; ia mendapat air keruh. Pria buta di Yohanes 9 tidak memiliki mata untuk protes, ia hanya patuh berjalan ke Siloam. Iman sering diuji bukan lewat kesulitan besar, melainkan lewat kesediaan menerima cara Allah yang tampak terlalu sederhana atau terlalu kotor.
Pertanyaan
Mengapa Yesus mempersulit hal ini? Ia sudah menyembuhkan orang dengan satu kata saja di tempat lain. Mengapa sekarang lumpur, dan mengapa harus pergi ke Siloam? Bukankah ini semacam pertunjukan yang tidak perlu? Jawaban jujur: kita tidak tahu pasti. Namun perhatikan bahwa hari itu adalah Sabat (ayat 14), dan mengaduk tanah dianggap "bekerja" oleh para rabi. Yesus tampaknya sengaja memilih tindakan yang provokatif. Ia tidak hanya menyembuhkan mata; Ia sedang membongkar sebuah sistem yang lebih peduli pada aturan daripada pada manusia. Namun bahkan penjelasan ini tidak menghilangkan keanehannya. Kadang Allah bekerja lewat cara yang tidak efisien menurut logika kita, dan kita harus belajar duduk dengan ketidaknyamanan itu tanpa buru-buru menjelaskannya.
Detail
Kata Yunani untuk "mengoleskan" di sini adalah epichriō, dan akarnya berkerabat dengan chriō, dari mana kata "Kristus" (yang diurapi) berasal. Yesus, Sang Mesias, secara harfiah "mengurapi" mata pria ini dengan lumpur. Ada permainan makna yang halus: pengurapan raja dan imam dilakukan dengan minyak berharga, tetapi Sang Terurap dari Allah mengurapi seorang pengemis buta dengan ludah dan debu. Inilah tanda kerajaan yang terbalik. Yang termulia menjumpai yang terhina; yang termahal menuangkan diri-Nya dalam yang termurah. Dan justru dalam sentuhan yang tampak menghinakan itu, pria ini menjadi orang pertama dalam Injil Yohanes yang menyembah Yesus dengan pengakuan penuh (ayat 38). Lumpur di wajahnya adalah pintu ke kemuliaan.
Refleksi
Di titik mana dalam hidup Anda saat ini Allah tampak bekerja lewat "lumpur", yaitu lewat proses yang lambat, kotor, atau memalukan, dan bukan lewat mukjizat yang bersih? Apakah Anda bersedia berjalan menuju kolam Siloam Anda, atau Anda masih menunggu cara yang lebih terhormat?
Jika Yesus mengurapi mata pengemis dengan ludah-Nya sendiri, apa artinya bagi Anda bahwa Allah tidak menjaga jarak dari kotoran hidup Anda? Bagian mana dari diri Anda yang Anda anggap terlalu hina untuk disentuh-Nya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 9:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 9:6?
Tentang apakah YOHANES 9:6?
Apa konteks historis dari YOHANES 9:6?
Apa yang YOHANES 9:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 9:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih untuk hari ini yang masih Engkau berikan, untuk tangan yang bisa bekerja dan waktu yang belum habis. Engkau berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku selama masih siang." Betapa berharganya siang yang Kauberi ini, dan tugas yang Kaupercayakan di dalamnya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi