RATAPAN 3
Teks
Seorang laki-laki maju ke depan dan berbicara dalam orang pertama: "Akulah orang yang telah melihat penderitaan akibat tongkat kemurkaan-Nya." Dua puluh ayat panjangnya ia menggambarkan Allah bukan sebagai penolong melainkan sebagai lawan, sebagai beruang yang mengadang, singa yang bersembunyi, pemanah yang menjadikan dia sasaran, tembok yang mengurung. Lalu, tepat di titik terendah, ingatannya berbalik: kasih setia TUHAN tidak pernah habis, selalu baru setiap pagi. Dari sana ia mengajar tentang menanti dengan tenang, tentang memikul kuk, tentang menyelidiki jalan sendiri dan kembali kepada TUHAN. Suaranya lalu melebur menjadi suara "kami" yang mengaku memberontak, menangis atas kehancuran kota, berseru dari dasar lubang, dan menutup dengan permohonan agar Allah mengadili para penindas.
Inti
Yang membuat pasal ini nyaris tak tertahankan adalah bahwa penderita dan pengharap adalah orang yang sama, dan Allah yang memukul dan Allah yang setia juga satu dan sama. Tidak ada dua tuhan di sini, satu yang keras dan satu yang lembut. "Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi yang baik dan yang jahat itu datang?" berdiri hanya beberapa baris dari "tidak dengan senang hati Dia menindas atau mendukakan anak-anak manusia." Iman Alkitab tidak menyelamatkan Allah dari tuduhan dengan mengecilkan kuasa-Nya; ia justru bersandar pada watak-Nya. Harapan di ayat 21 tidak lahir karena keadaan membaik, sebab keadaan tidak membaik sedikit pun; Yerusalem tetap puing. Harapan itu lahir dari ingatan akan kasih setia, kesetiaan perjanjian yang bertahan melewati reruntuhan. Itulah anugerah yang tidak sentimental: bukan penghiburan bahwa yang buruk tidak sungguh terjadi, melainkan bahwa Allah tidak menolak untuk selama-lamanya.
Benang Merah
Ayat 30 mengejutkan siapa pun yang membacanya dengan telinga Perjanjian Baru: "Biarlah dia memberikan pipinya kepada orang yang memukulnya, dan biarlah dia dikenyangkan dengan hinaan." Kalimat itu hampir sama persis dengan gambaran Hamba TUHAN dalam Yesaya 50, yang menyerahkan punggung dan pipi-Nya kepada para pemukul. Dan di sanalah benang merahnya mengencang. Penderita di Ratapan 3 memikul tongkat murka karena dosa bangsanya sendiri; ia harus menyelidiki jalannya dan kembali. Yesus memikul tongkat yang sama tanpa punya apa pun untuk diselidiki. Ia dikepung, dijadikan bahan ejekan, dan berseru dari kegelapan seolah doa-Nya didiamkan. Yang membuat pasal ini bukan sekadar puisi indah adalah ini: pada Jumat itu, Allah sendiri berdiri di tempat orang yang bicara di ayat 1.
Cermin
Ayat yang paling jarang dikutip di pasal ini justru yang paling sering kita alami: "Bahkan, ketika aku berseru dan berteriak minta tolong, Dia mendiamkan doaku." Kau mungkin mengenalnya. Doa berbulan-bulan untuk pernikahan yang tetap dingin, untuk anak yang tetap menjauh, untuk hasil biopsi yang tetap buruk, untuk pekerjaan yang tetap tidak datang. Dan kita, karena sopan, menyembunyikan kekecewaan itu di balik bahasa rohani. Ratapan tidak sopan. Ia menyebut Allah beruang dan pemanah, lalu tetap berkata "aku berharap." Kejujuran dan iman ternyata bisa berada dalam satu mulut. Hari ini juga: ambil selembar kertas, tulis satu kalimat paling jujur tentang apa yang Allah izinkan menimpamu, lalu salin ayat 22 dan 23 dengan tanganmu sendiri di bawahnya, dan bacakan keras-keras.
Profil
Yang pertama mendengar ini adalah orang-orang yang selamat dari tahun 586 sM: penduduk yang tersisa di reruntuhan Yerusalem, tanpa raja, tanpa Bait Allah, tanpa tembok. Mereka bukan hanya berduka; mereka berduka sambil tahu bahwa mereka layak menerimanya, sebab para nabi sudah memperingatkan puluhan tahun. Puisi ini disusun mengikuti abjad Ibrani, tiga ayat untuk setiap huruf, sebuah bentuk yang sangat tertata untuk isi yang begitu berantakan. Itu bukan kebetulan. Duka yang diberi bentuk bisa dinyanyikan bersama; duka tanpa bentuk hanya melumpuhkan. Kalimat tentang memikul kuk pada masa muda pun bukan nasihat umum: ada seluruh generasi yang tumbuh besar di atas puing dan bertanya mengapa merekalah yang harus membayar.
Intertekstualitas
Bahasa ayat 12 dan 13, Allah melenturkan busur dan menjadikan si penderita sasaran anak panah, hampir menyalin keluhan Ayub. Tetapi arahnya berlawanan: Ayub bersikeras ia tidak bersalah, sementara di sini terdengar "Kami telah melanggar dan memberontak." Alkitab membiarkan dua suara itu berdiri berdampingan tanpa mendamaikannya dengan paksa, dan itu melegakan, sebab penderitaan kita pun kadang jenis Ayub, kadang jenis Ratapan. Bandingkan juga dengan Mazmur 88, yang berakhir dalam kegelapan tanpa satu pun kalimat pengharapan. Ratapan 3 punya ayat 21; Mazmur 88 tidak, dan Allah tetap memasukkannya ke dalam Kitab Suci. Lalu Paulus, dalam 2 Korintus 4, memakai persis kosakata terkepung dan terhimpit, tetapi menambahkan: tidak terjepit, tidak binasa. Tembok itu masih ada; kini ada Yang keluar dari kubur.
Detail
"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku (ayat 24). Kata Ibrani di baliknya, heleq, adalah istilah pembagian tanah. Setiap suku Israel menerima heleq-nya di Kanaan, kecuali suku Lewi: mereka tidak mendapat ladang, sebab TUHAN sendirilah bagian mereka. Sekarang perhatikan siapa yang mengucapkannya. Seorang yang kehilangan tanah, kota, rumah, dan Bait Allah, yang duduk di antara reruntuhan tanpa satu petak pun yang tersisa atas namanya. Dan justru di titik nol kepemilikan itu ia mengambil alih pengakuan orang Lewi. Ia tidak berkata bahwa Allah akan mengembalikan bagiannya; ia berkata Allah adalah bagiannya. Itulah yang tersisa ketika segalanya diambil, dan ternyata itu cukup untuk mulai berharap lagi.
Refleksi
Doa mana yang kaurasa "didiamkan" Allah, dan apa yang selama ini kaulakukan dengan kekecewaan itu: kaubungkus dalam bahasa rohani, atau kaubawa apa adanya seperti ayat 8?
Jika hari ini semua yang kaumiliki diambil, kalimat "TUHAN adalah bagianku" akan terdengar seperti penghiburan kosong atau seperti kenyataan? Apa yang menentukan jawabanmu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Lamentations 3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RATAPAN 3?
Tentang apakah RATAPAN 3?
Apa konteks historis dari RATAPAN 3?
Apa yang RATAPAN 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RATAPAN 3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Lamentations 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Aku menjadi bahan tertawaan bagi seluruh bangsaku, ejekan mereka sepanjang hari." Yang paling perih bukan diejek musuh, melainkan oleh bangsanya sendiri. Orang-orang yang seharusnya berdiri di sisinya justru mengubah dukanya jadi lagu olok-olok. Mungkin kamu mengenal luka itu: ditertawakan justru di tempat kamu berharap dipeluk. Tuhan mendengar tangis yang tidak dianggap serius orang lain.
Bapa, ada saat aku merasa doaku hanya memantul kembali, seakan ada awan tebal di antara kita. Aku tidak berhenti berseru, walau sunyi. Tolong aku percaya bahwa Engkau tetap mendengar, bahkan ketika aku tidak merasakannya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
