LUKAS 20:37
Teks Itu Sendiri
Yesus menjawab orang-orang Saduki bukan dengan argumen filosofis tentang jiwa, melainkan dengan menunjuk satu adegan tua: Musa di depan semak duri yang menyala. Di sana, kata Yesus, Musa sendiri sudah "menunjukkan tentang kebangkitan orang-orang mati," bukan lewat sebuah nubuat yang gamblang, tetapi lewat cara Allah memperkenalkan diri-Nya: "Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Perhatikan apa yang terjadi di sini. Tiga patriark itu sudah berabad-abad terkubur di gua Makhpela ketika Musa berdiri di tanah kudus itu. Namun Allah tidak berkata "Aku dahulu Allah mereka." Ia memakai bentuk sekarang. Dan dari tata bahasa yang nyaris tak terdengar itu Yesus menarik kesimpulan yang mengguncang seluruh teologi lawan bicara-Nya.
Inti Persoalan
Saduki hanya menerima kelima kitab Musa sebagai dasar yang mengikat, dan mereka yakin kebangkitan tidak ada di sana. Yesus tidak melawan mereka dengan mengutip Daniel atau Yesaya; Ia masuk ke kandang mereka sendiri dan menunjukkan bahwa Taurat pun sudah bersaksi, asal orang membaca siapa Allah itu, bukan sekadar apa yang Ia perintahkan. Intinya bukan bahwa manusia punya sesuatu yang kekal di dalam dirinya. Intinya adalah karakter Allah yang mengikat diri lewat perjanjian. Jika Allah berkata "Aku Allah Abraham," maka Abraham tidak boleh tetap mati, sebab kematian akan membuat janji Allah menjadi kosong. Kebangkitan, dalam logika Yesus, bukan pelarian dari kematian, melainkan konsekuensi dari kesetiaan Allah. Ayat berikutnya merangkumnya tajam: "Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang yang hidup."
Benang Merah
Yang membuat ayat ini mendebarkan adalah siapa yang mengucapkannya dan kapan. Yesus berdiri di Bait Allah, beberapa hari sebelum salib, berdebat tentang kebangkitan dengan orang-orang yang tak lama lagi ikut menyerahkan Dia untuk dibunuh. Argumen-Nya tentang Allah yang setia kepada Abraham akan diuji pada diri-Nya sendiri, di dalam kubur. Dan di pasal yang sama Ia sudah memberi gambarnya: Anak yang dilemparkan ke luar kebun anggur lalu dibunuh, dan batu yang dibuang tukang bangunan yang justru "menjadi Batu penjuru." Pola yang Ia baca pada semak duri, yaitu Allah yang tidak melepaskan milik-Nya kepada maut, adalah pola yang tiga hari setelah Jumat itu menjadi daging dan darah. Kesetiaan perjanjian selalu berujung pada kubur yang terbuka.
Cermin
Kita sering lebih Saduki daripada yang kita akui. Bukan karena menolak doktrin kebangkitan, tetapi karena di ruang jenazah, di hadapan hasil biopsi, di depan nisan orang tua yang sudah sepuluh tahun kita tinggalkan tanpa dikunjungi, kita diam-diam berpikir: yang mati itu sudah selesai. Kita mengatur hidup seolah kematian adalah kata terakhir, karena itu kita terburu-buru mengumpulkan, mengamankan, membuktikan diri selagi sempat. Yesus memotong kecemasan itu bukan dengan penghiburan melainkan dengan nama. Allah masih menyebut diri-Nya Allah Abraham. Ia tidak pernah berbicara tentang umat-Nya dalam bentuk lampau. Hari ini, sebutkan dengan suara keras nama satu orang percaya yang sudah meninggal dan yang Anda kasihi, lalu ucapkan sesudahnya: "Allah adalah Allahnya." Dengarkan kalimat itu keluar dari mulut Anda sendiri.
Tokoh Utama
Allah dalam ayat ini adalah Allah yang mengikat nama-Nya pada nama orang. Bukan "Allah langit dan bumi," bukan "Allah semesta," melainkan Allah dari tiga laki-laki tertentu dengan riwayat yang jauh dari rapi: seorang pengembara yang pernah membohongi raja, seorang ayah yang pilih kasih, seorang penipu yang berkelahi di tepi sungai. Kepada merekalah Ia merekatkan identitas-Nya, dan Ia tidak mencabutnya ketika mereka dikuburkan. Di situlah tersembunyi sesuatu yang hampir mengganggu: Allah seakan rela reputasi-Nya bergantung pada nasib orang-orang kecil ini. Jika Abraham lenyap, nama Allah ikut kehilangan isi. Itulah sebabnya Lukas melanjutkan dengan kalimat yang begitu luas: "semua orang hidup di hadapan-Nya."
Detail
Yesus tidak menyebut pasal dan ayat; Ia berkata "bagian yang mencatat tentang semak duri yang terbakar." Itu cara orang Yahudi menandai teks, tetapi penandanya sendiri berbicara. Semak itu menyala dan tidak habis. Api yang biasanya melahap ternyata tidak melahap. Dan tepat di situ, di depan nyala yang tidak memusnahkan, Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa sebagai Dia yang ADA, bukan yang pernah ada. Semak itu adalah khotbah bergambar tentang kehidupan yang bertahan di dalam api, sama seperti Israel yang bertahan di dapur perbudakan Mesir. Para Saduki membaca bagian itu sebagai cerita panggilan Musa. Yesus membacanya sebagai cerita tentang maut yang kehilangan hak atas orang-orang yang dinamai Allah.
Intertekstualitas
Dua teks berbenturan dan saling menerangi di sini. Yang pertama, Keluaran 3, tempat nama Allah diberikan di depan semak yang tidak terbakar habis; Yesus memperlakukan kalimat pengenalan diri itu sebagai bukti, bukan sekadar basa-basi ilahi. Yang kedua justru berada beberapa ayat sebelumnya dalam pasal ini: Mazmur 118 yang dikutip Yesus, "Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi Batu penjuru." Keduanya mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda. Allah tidak membiarkan apa yang menjadi milik-Nya berakhir di tempat pembuangan. Ironisnya, para Saduki yang bertanya soal tujuh suami dan satu janda sedang berdebat tentang hukum Musa mengenai melanjutkan keturunan orang mati, seolah hidup hanya bisa diteruskan lewat anak. Yesus menunjukkan jalan yang jauh lebih kokoh: nama Allah sendiri.
Refleksi
Di bagian hidup mana saya diam-diam hidup seperti orang Saduki, yakni percaya pada kebangkitan sebagai doktrin tetapi mengambil keputusan seolah kematian adalah kata terakhir?
Jika Allah mengikat nama-Nya pada nama orang, apa artinya bahwa Ia bersedia disebut Allah saya, dengan seluruh riwayat saya yang tidak rapi itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 20:37
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 20:37?
Tentang apakah LUKAS 20:37?
Apa konteks historis dari LUKAS 20:37?
Apa yang LUKAS 20:37 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 20:37 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 20
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Lalu, mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya." Yesus sedang menceritakan kematian-Nya sendiri, beberapa hari sebelum semuanya terjadi. Dan Dia tetap berdiri di sana, mengajar orang-orang yang akan membuang-Nya. Lalu Dia bertanya, bukan menuduh: "Jadi, apa yang akan dilakukan pemilik kebun anggur itu terhadap mereka?" Sebuah pertanyaan selalu memberi ruang untuk berbalik. Masih ada waktu bagimu.
Tuhan, ada kalanya aku datang kepada-Mu dengan pertanyaan yang sebenarnya hanya ingin menguji, bukan mendengar. Buat aku terdiam di hadapan hikmat-Mu, seperti mereka yang kehabisan kata karena jawaban-Mu terlalu benar untuk dibantah. Ajari aku kagum lagi.
Tuhan, Engkau tahu isi hati kami, bahkan saat kata kata kami terdengar manis. Jagalah kami dari pujian yang menyembunyikan maksud lain. Ajari kami datang kepada-Mu apa adanya, dan berikan keberanian untuk hidup dalam kebenaran yang Kauajarkan, tanpa memandang siapa yang melihat.
Mereka datang kepada Yesus sambil "berpura-pura sebagai orang benar", bukan untuk belajar, melainkan untuk menjerat. Pertanyaan mereka rapi, sopan, rohani, tetapi hatinya sudah memutuskan sesuatu sejak awal.
Aku bertanya pada diriku sendiri: ketika aku membuka Alkitab, aku sungguh ingin mendengar, atau sedang mencari ayat yang membenarkan keputusan yang sudah kuambil? Yesus tidak takut pada pertanyaan jujur. Yang Dia lihat adalah hati di baliknya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi