MATIUS 13:57
Teks
Mereka baru saja mengagumi Dia. Di sinagoge kampung-Nya sendiri, orang-orang Nazaret terpukau pada hikmat dan mukjizat Yesus, lalu di kalimat berikutnya mereka menghitung ulang daftar keluarga-Nya: anak tukang kayu, ibunya Maria, saudara-saudara-Nya punya nama yang mereka kenal, saudari-saudari-Nya tinggal beberapa rumah dari situ. Dan kekaguman itu berubah menjadi penolakan: "Dan, mereka menolak Dia." Tanggapan Yesus tidak marah, tidak membela diri, hanya satu kalimat yang terdengar seperti pengamatan lama yang sudah sering terbukti: "Seorang nabi tidak pernah tidak dihormati, kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya sendiri." Ayat berikutnya menutup adegan itu dengan sunyi yang mengganggu: Dia tidak banyak berbuat mukjizat di sana. Keakraban ternyata bisa menjadi tembok.
Inti
Yang tersingkap di sini bukan soal kurangnya bukti, melainkan cara kita mengelola yang kita anggap sudah kita kenal. Kata yang dipakai di balik "menolak" berakar pada kata Yunani skandalizō, "tersandung"; Yesus bukan gagal meyakinkan mereka, Dia justru menjadi batu yang membuat mereka jatuh. Inilah paradoks yang sudah dibangun Matius sepanjang pasal ini: rahasia Kerajaan ditaburkan secara terbuka, namun hanya didengar oleh telinga yang mau mendengar. Allah datang begitu dekat sehingga Dia bisa diabaikan, memakai wajah yang terlalu biasa untuk dihormati. Dan perhatikan sunyi di ujungnya: Yesus tidak memaksa. Dia tidak menghujani Nazaret dengan tanda-tanda sampai mereka tunduk. Kasih yang berinkarnasi rupanya juga kasih yang bisa ditolak, dan memilih untuk tidak melawan penolakan itu dengan kekuasaan.
Benang Merah
Penolakan di Nazaret bukan kecelakaan lokal; itu pola yang sudah tua. Para nabi memang jarang dirajam oleh orang asing, mereka biasanya dilukai oleh keluarga sendiri, oleh umat yang mengenal nama ayah mereka. Yesus menempatkan diri-Nya dalam barisan itu, tetapi Dia lebih dari sekadar nabi yang bernasib sama. Ladang dalam perumpamaan tadi adalah dunia, dan benih yang baik ditaburkan oleh Anak Manusia sendiri; kini Sang Penabur berdiri di kampung-Nya dan tanahnya berbatu. Yang terjadi di sinagoge Nazaret adalah versi kecil dari yang akan terjadi di Yerusalem: Dia datang kepada milik-Nya, dan milik-Nya tidak menerima Dia. Salib tidak muncul tiba-tiba. Salib adalah penolakan yang sama, dibawa sampai ke ujungnya, dan justru di sanalah keselamatan lahir.
Cermin
Bahaya yang ditunjukkan ayat ini bukan ateisme, melainkan keakraban yang sudah lelah. Anda mungkin sudah membaca Alkitab lima kali, memimpin kelompok, tahu jawaban sebelum pertanyaan selesai diucapkan. Dan justru di situ Yesus bisa lewat tanpa Anda kenali. Hal yang sama terjadi pada orang-orang terdekat: pasangan yang sudah Anda simpulkan sejak tahun kelima pernikahan, anak remaja yang Anda pikir sudah Anda baca habis, rekan kerja yang Anda beri label dan tidak pernah Anda tinjau ulang. Nazaret tidak salah tentang fakta; mereka benar bahwa Dia anak tukang kayu. Mereka hanya berhenti terlalu cepat. Hari ini, ambil satu kalimat Yesus yang sudah terlalu sering Anda dengar sampai tidak lagi menyentuh, tulis di kertas, lalu bacakan dengan suara keras tiga kali, pelan-pelan, tanpa menjelaskan apa pun pada diri sendiri.
Pertanyaan
Ayat berikutnya menyisakan duri: Dia tidak banyak berbuat mukjizat di sana karena ketidakpercayaan mereka. Apakah ketidakpercayaan manusia benar-benar bisa membatasi kuasa Allah? Matius tidak mengatakan Yesus tidak sanggup, dan juga tidak menghibur kita dengan penjelasan. Yang tersisa adalah kenyataan yang tidak nyaman: ada tempat di mana kuasa itu menahan diri. Mungkin karena mukjizat bukan alat paksa, melainkan tanda yang hanya berarti bagi yang mau melihat. Mungkin karena Allah menghormati "tidak" manusia lebih serius daripada yang kita inginkan. Tetapi kita harus jujur bahwa ini juga berarti doa kita tidak selalu bekerja seperti mesin, dan bahwa kekerasan hati punya akibat nyata. Teks ini tidak menutup lubang itu. Ia membiarkannya menganga.
Detail
Perhatikan satu kata kecil: "dan di rumahnya sendiri." Yesus bisa berhenti pada "di tempat asalnya", dan kalimat itu sudah cukup pedih. Tetapi Dia menambahkan lingkaran yang lebih sempit lagi, lingkaran meja makan. Matius baru saja menyebut nama-nama itu, Yakobus, Yusuf, Simon, Yudas, saudari-saudari yang masih tinggal di kampung. Mereka tidak berdiri di pihak-Nya hari itu. Ada kesepian tertentu dalam kalimat Yesus yang tidak boleh kita buru-buru rohanikan. Orang yang paling tahu di mana Anda menyimpan perkakas, di mana Anda tidur, bagaimana suara Anda waktu kecil, justru bisa menjadi orang yang paling sulit melihat siapa Anda sekarang. Yesus mengenal rasa itu dari dalam. Itu bukan pelajaran moral; itu penghiburan bagi siapa pun yang tidak dikenali di rumah sendiri.
Konteks
Nazaret adalah desa kecil di Galilea, mungkin beberapa ratus jiwa, di mana semua orang tahu silsilah semua orang. Di dunia seperti itu, identitas bukan sesuatu yang Anda bangun sendiri; identitas diberikan oleh kelahiran dan pekerjaan ayah Anda. Menyebut Yesus "anak seorang tukang kayu" adalah cara halus untuk mengembalikan Dia ke tempat-Nya: kamu bukan siapa-siapa yang boleh mengajar di sini. Sinagoge desa bukan gedung megah, melainkan ruang berkumpul di mana laki-laki dewasa boleh membaca dan menafsir. Yesus pulang bukan sebagai anak hilang, melainkan sebagai rabi dengan murid dan reputasi. Dan kampung-Nya menanggapi dengan mekanisme sosial yang paling tua di dunia: bukan argumen, melainkan pengingat asal-usul. Kekaguman mereka tulus. Kesombongan mereka juga.
Refleksi
Siapa orang yang sudah Anda "selesai" kenali, sehingga Anda tidak lagi menunggu sesuatu yang baru dari dia, dan apa yang mungkin Anda lewatkan karena itu?
Bagian mana dari perkataan Yesus yang, kalau jujur, tidak lagi mengganggu Anda, dan apakah itu tanda kedewasaan atau tanda telinga yang mulai malas mendengar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 13:57
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 13:57?
Tentang apakah MATIUS 13:57?
Apa konteks historis dari MATIUS 13:57?
Apa yang MATIUS 13:57 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 13:57 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau berkata, "Tidak," saat lalang itu hendak dicabut. Kesabaran-Mu menjaga gandum yang lemah, termasuk aku. Aku bersyukur Engkau tidak buru buru mencabut, melainkan memberi waktu untuk bertumbuh sampai musim menuai.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi