Penjelasan Alkitab

MAZMUR 70:1

Alkitab

Teks

Sebuah catatan kecil di atas mazmur ini memberi tahu kita bahwa doa ini bukan bisikan pribadi yang kebetulan terdengar: doa ini diserahkan "Kepada pemimpin pujian", karya Daud, dan ditandai "sebagai peringatan", supaya jangan sampai terlupakan. Lalu, tanpa pembukaan, tanpa pemanasan, tanpa satu pun kalimat pujian pendahuluan, terdengar jeritnya: "Ya Allah, selamatkan aku, ya TUHAN, bergegaslah menolongku!" Dua permintaan, dua nama Allah, satu napas. Yang pertama menyangkut nyawa yang terancam; yang kedua menyangkut waktu, sebab pertolongan yang datang terlambat sama saja dengan pertolongan yang tidak datang. Seluruh sisa mazmur ini, sampai kata terakhir "janganlah berlama-lama", hanyalah gema dari satu ayat pembuka ini.

Inti

Ayat ini mengajarkan sesuatu yang mengganggu sekaligus membebaskan: doa tidak harus rapi. Daud tidak menjelaskan situasinya kepada Allah, tidak menawarkan alasan mengapa ia layak ditolong, tidak menutupi paniknya dengan bahasa liturgis. Ia memakai kata kerja yang dalam bahasa Ibrani terdengar seperti dorongan tangan di punggung, chusyah, "bergegaslah", kata yang biasa dipakai untuk orang yang harus berlari. Manusia di hadapan Allah ternyata boleh terdengar seperti orang yang sedang tenggelam. Dan Allah, menurut mazmur ini, bukan Allah yang tersinggung oleh ketidaksabaran orang yang mengasihi-Nya. Justru di sini terletak inti anugerah: keselamatan dimulai bukan dari kemampuan kita merumuskan doa yang pantas, melainkan dari kesediaan Allah mendengar suara yang pecah. Yang tidak punya apa-apa lagi selain nama-Nya, sudah memegang cukup.

Benang Merah

Doa yang tergesa ini punya tempatnya dalam kisah besar Allah, dan tempat itu bukan di pinggir. Sepanjang Perjanjian Lama, umat Allah hidup dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: berapa lama lagi Engkau menahan diri? Israel di Mesir berteriak sampai suaranya naik ke hadapan Allah, dan Allah turun. Pola itu berulang: jerit dulu, baru pembebasan. Ayat ini menaruh Daud persis di titik itu, dengan mulut terbuka dan tangan kosong. Dan ketika Yesus di Getsemani memohon agar cawan itu lewat, lalu di kayu salib berseru bahwa Ia ditinggalkan, kita mendengar suara yang sama, hanya lebih dalam. Ia tidak ditolong dengan cepat. Ia dibiarkan menunggu sampai mati, supaya jeritan "bergegaslah menolongku" dari mulut kita tidak pernah lagi jatuh ke ruang kosong.

Cermin

Ada jenis penderitaan yang bukan soal apa, melainkan soal berapa lama. Hasil biopsi yang belum keluar. Anak yang sudah delapan bulan tidak membalas pesan. Rekening yang menipis sementara lamaran kerja kedelapan belas tidak dijawab. Rekan kerja yang pelan-pelan merusak nama Anda di ruangan yang tidak Anda masuki. Dalam situasi seperti itu, kita cenderung melakukan dua hal: menyibukkan diri supaya tidak merasa, atau menyusun doa yang sopan supaya Allah tidak dianggap lambat. Daud tidak melakukan keduanya. Ia berani berkata bahwa waktu Allah terasa terlalu panjang, dan ia mengatakannya kepada Allah, bukan di belakang punggung-Nya. Hari ini, sebutlah dengan suara keras satu hal yang sedang Anda tunggu, lalu ucapkan kalimat Daud apa adanya: "Ya Allah, selamatkan aku, ya TUHAN, bergegaslah menolongku!"

Tokoh Utama

Daud dalam ayat ini bukan raja. Tidak ada mahkota, tidak ada pasukan, tidak ada mazmur kemenangan. Yang ada hanyalah seorang laki-laki yang tahu bahwa ada orang "yang mengincar nyawaku" dan yang mendengar cemoohan "Rasakan, rasakan!" di punggungnya. Menariknya, ia memanggil Allah dengan dua nama sekaligus: Allah, yang berkuasa atas segala sesuatu, dan TUHAN, nama perjanjian, nama yang mengikat Allah pada umat-Nya. Itu bukan kelebihan kata. Itu strategi seorang yang putus asa tetapi tidak bodoh: ia memegang kuasa Allah dengan satu tangan dan kesetiaan Allah dengan tangan lain. Di ujung mazmur ia menyebut dirinya "sengsara dan melarat", pengakuan yang tidak pernah keluar dari mulut orang yang masih punya cadangan. Ia sudah habis, dan justru karena itu ia jujur.

Profil

Mazmur ini diserahkan kepada pemimpin pujian, artinya jeritan pribadi ini dinyanyikan bersama-sama di Bait Allah. Bayangkan sekelompok orang Israel, sebagian baru kehilangan tanah karena utang, sebagian hidup di bawah pemerintahan yang menekan, sebagian sakit dan diasingkan, membuka ibadah bukan dengan pujian melainkan dengan permohonan tergesa. Bagi mereka, ini melegakan: ternyata rumah Allah bukan tempat di mana kita harus berpura-pura baik-baik saja. Kata "sebagai peringatan" dalam judul mengingatkan bahwa doa ini sengaja disimpan, diulang, dihafalkan, supaya generasi berikutnya punya kata-kata siap pakai ketika lidah mereka kelu. Umat itu tahu sesuatu yang mudah kita lupakan: iman bukan berarti berhenti mendesak, melainkan tahu ke mana desakan itu harus diarahkan.

Intertekstual

Ayat ini hampir sama persis dengan bagian penutup Mazmur 40, sebuah doa yang di sana justru menyusul pengakuan bahwa Allah telah menarik penulisnya dari lumpur. Pengulangan itu jujur secara rohani: pertolongan yang pernah diterima tidak membuat kita kebal terhadap krisis berikutnya. Kita akan berdoa doa yang sama lagi, dan itu bukan tanda iman yang gagal. Bandingkan juga dengan perumpamaan Yesus tentang janda yang terus mengetuk pintu hakim yang tidak adil; intinya bukan bahwa Allah perlu dibujuk, melainkan bahwa desakan yang tidak tahu malu adalah bentuk iman yang Ia hargai. Mazmur 70 memberi kata-kata untuk desakan itu, dan menutupnya bukan dengan keluhan, melainkan dengan pengakuan: "Engkau adalah penolongku dan penyelamatku."

Refleksi

Doa mana yang sudah begitu lama Anda ucapkan sampai Anda diam-diam berhenti berharap, dan apa yang menahan Anda untuk mengucapkannya lagi hari ini dengan suara keras?

Daud berani berkata kepada Allah bahwa waktu-Nya terasa terlalu lambat. Apa yang biasanya Anda lakukan dengan ketidaksabaran itu: menyimpannya, menyangkalnya, atau membawanya kepada-Nya?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 70:1

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti MAZMUR 70:1?
Sebuah catatan kecil di atas mazmur ini memberi tahu kita bahwa doa ini bukan bisikan pribadi yang kebetulan terdengar: doa ini diserahkan "Kepada pemimpin pujian", karya Daud, dan ditandai "sebagai peringatan", supaya jangan sampai terlupakan.
Tentang apakah MAZMUR 70:1?
Doa yang tergesa ini punya tempatnya dalam kisah besar Allah, dan tempat itu bukan di pinggir. Sepanjang Perjanjian Lama, umat Allah hidup dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: berapa lama lagi Engkau menahan diri? Israel di Mesir berteriak sampai suaranya naik ke hadapan Allah, dan Allah turun.
Apa konteks historis dari MAZMUR 70:1?
Daud dalam ayat ini bukan raja. Tidak ada mahkota, tidak ada pasukan, tidak ada mazmur kemenangan. Yang ada hanyalah seorang laki-laki yang tahu bahwa ada orang "yang mengincar nyawaku" dan yang mendengar cemoohan "Rasakan, rasakan!" di punggungnya.
Apa yang MAZMUR 70:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Ayat ini hampir sama persis dengan bagian penutup Mazmur 40, sebuah doa yang di sana justru menyusul pengakuan bahwa Allah telah menarik penulisnya dari lumpur. Pengulangan itu jujur secara rohani: pertolongan yang pernah diterima tidak membuat kita kebal terhadap krisis berikutnya.
Bagaimana MAZMUR 70:1 masih relevan hari ini?
Daud berani berkata kepada Allah bahwa waktu-Nya terasa terlalu lambat. Apa yang biasanya Anda lakukan dengan ketidaksabaran itu: menyimpannya, menyangkalnya, atau membawanya kepada-Nya?

Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 70?

Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi