MAZMUR 90
The Teks
Musa membuka dengan pengakuan yang nyaris tak masuk akal bagi orang yang hidupnya habis di padang gurun: "Tuhan, Engkau telah menjadi tempat kediaman kami dari generasi ke generasi." Lalu ia menempatkan dua ukuran waktu berdampingan, Allah yang ada "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya" dan manusia yang dikembalikan kepada debu, rumput yang mekar pagi hari dan kering sebelum malam, tujuh puluh tahun yang isinya "kesusahan dan kesengsaraan". Dari kesadaran itu lahir permohonan yang mengubah arah mazmur ini: ajari kami menghitung hari, puaskan kami pada waktu pagi dengan kasih setia-Mu, dan teguhkan pekerjaan tangan kami, supaya yang fana ini tidak lenyap tanpa bekas.
Inti
Mazmur ini menolak dua pelarian yang kita sukai. Pelarian pertama: menganggap kefanaan sebagai kecelakaan biologis belaka. Musa justru menyebutnya tindakan Allah, "Engkau mengembalikan manusia kepada debu," dan menghubungkannya dengan murka atas dosa yang tidak tersembunyi, sebab "Engkau menaruh kesalahan-kesalahan kami di hadapan-Mu, dan rahasia kami dalam terang wajah-Mu." Pelarian kedua: menjadikan kesadaran itu alasan untuk sinis. Tetapi ayat 1 sudah mendahului seluruh keluhan. Allah yang membatasi umur kita adalah Allah yang menjadi rumah kita lintas generasi. Karena itu hikmat di sini bukan sikap pasrah, melainkan cara hidup: menghitung hari bukan untuk cemas, melainkan untuk memperoleh "hati yang berhikmat," hati yang tahu mana yang pantas dibayar dengan waktu yang tersisa dan mana yang tidak.
Benang Merah
Perhatikan satu pembalikan yang mudah terlewat. Pada ayat 3 Allah berkata kepada manusia, "Kembalilah, hai anak manusia!" Pada ayat 13 Musa memakai kata yang sama kepada Allah: "Kembalilah, ya TUHAN, berapa lama lagi?" Manusia yang disuruh pulang ke debu berani meminta Allah berbalik kepadanya. Permohonan itu tidak dijawab di dalam mazmur ini; jawabannya datang jauh kemudian, ketika Allah sendiri masuk ke dalam hitungan hari manusia. Yesus Kristus hidup kurang dari separuh "tujuh puluh tahun" itu, mati muda, dikembalikan ke debu kubur, lalu dibangkitkan. Sejak itu permintaan "teguhkanlah pekerjaan tangan kami" bukan harapan kosong: ada satu pekerjaan tangan manusia yang sudah diteguhkan selamanya, dan pekerjaan kita diikat ke sana.
Cermin
Mazmur ini menggugat cara kita membelanjakan waktu, bukan sekadar perasaan kita tentang kematian. Kalender Anda adalah pengakuan iman yang paling jujur: rapat yang tak perlu Anda hadiri, jam-jam yang habis untuk membela harga diri di grup percakapan, tabungan yang menumpuk untuk masa yang belum tentu Anda lihat, tubuh yang Anda peras demi target yang tahun depan sudah diganti orang lain. Musa tidak menyuruh Anda berhenti bekerja; ia menyuruh Anda menghitung. Menghitung berarti mengakui bahwa setiap "ya" adalah "tidak" bagi sesuatu yang lain, dan bahwa anak Anda yang berumur sembilan tahun hanya berumur sembilan tahun satu kali. Hari ini: ambil kertas, tulis angka perkiraan sisa tahun hidup Anda berdasarkan ayat 10, lalu tulis satu hal yang akan Anda hentikan minggu ini karena tidak pantas dibayar dengan sisa itu.
Detail
Kata terakhir mazmur ini diucapkan dua kali: "teguhkanlah pekerjaan tangan kami, ya, teguhkan perbuatan tangan kami." Kata Ibraninya kûn, "membuat berdiri tetap, mengokohkan". Pengulangan itu bukan gaya bahasa yang indah; itu suara orang yang tahu betul betapa rapuh permintaannya. Sepanjang mazmur, yang berdiri tetap hanyalah Allah, sedangkan manusia dihanyutkan seperti rumput. Lalu Musa, dengan berani sekaligus putus asa, meminta agar sesuatu dari tangan manusia yang fana ini ikut diberi ketetapan Allah. Bukan agar namanya dikenang, melainkan agar kerjanya tidak sia-sia. Inilah satu-satunya jalan agar pekerjaan Anda bertahan: bukan karena mutunya, melainkan karena Allah berkenan mengokohkannya.
Intertekstual
Ayat 3 menggemakan Kejadian 3, ketika Allah mengatakan kepada Adam bahwa ia akan kembali menjadi debu. Musa tidak memperlakukan kematian sebagai nasib netral, tetapi sebagai putusan yang sah atas dosa; itulah sebabnya ayat 8 berbicara tentang "rahasia kami dalam terang wajah-Mu", hal-hal yang kita sembunyikan dari pasangan dan rekan kerja tetapi terang benderang di hadapan Allah. Di sisi lain, 2 Petrus 3 mengambil ayat 4 dan membaliknya menjadi penghiburan: bila seribu tahun bagi Allah seperti satu hari, maka Ia tidak terlambat, Ia sabar. Kefanaan kita dan kesabaran Allah ternyata dihitung dengan jam yang sama.
Konteks
Judulnya menyebut Musa, "abdi Allah", dan isinya cocok dengan satu generasi yang menghabiskan empat puluh tahun di padang gurun sambil menguburkan orang tuanya satu per satu karena pemberontakan di Kadesh. Mereka hidup di tenda, tanpa tanah, tanpa alamat tetap, dan justru di situ terdengar pengakuan bahwa Allah sendirilah "tempat kediaman kami dari generasi ke generasi": rumah mereka bukan bangunan melainkan Pribadi. Di dunia kuno, umur panjang dan keturunan adalah tanda berkat, dan nama yang bertahan adalah bentuk keabadian yang terjangkau. Musa melepaskan keduanya sebagai jaminan dan meletakkan segalanya pada kebaikan Tuhan: "Kiranya pekerjaan-Mu dinyatakan kepada hamba-hamba-Mu, dan kemuliaan-Mu kepada anak-anak mereka."
Refleksi
Jika Anda menuliskan ke mana sepuluh jam terakhir Anda pergi, apa yang akan daftar itu katakan tentang apa yang Anda anggap layak dibayar dengan hidup Anda?
Ayat 14 meminta kepuasan "pada waktu pagi", di jam yang sama ketika rumput mekar sebelum layu. Dari mana Anda mencari kepuasan setiap pagi, dan berapa lama kepuasan itu bertahan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 90
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 90?
Tentang apakah MAZMUR 90?
Apa konteks historis dari MAZMUR 90?
Apa yang MAZMUR 90 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 90 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 90
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Siapa yang mengetahui kekuatan murka-Mu, dan amarah-Mu sesuai dengan takut akan Engkau?" Musa bertanya, dan tidak ada yang menjawab. Kita memang jarang menganggap dosa seberat itu. Kita menundanya, menertawakannya, menamainya "kebiasaan kecil". Lalu ayat berikutnya minta diajar menghitung hari. Mungkin di situ awalnya: berhenti menganggap enteng, lalu mulai hidup serius di hadapan Allah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
