ROMA 10:17
Teks
Setelah rentetan pertanyaan yang saling mengejar di ayat 14-15 ("bagaimana mereka berseru… bagaimana mereka percaya… bagaimana mereka mendengar…"), Paulus menarik kesimpulannya dalam satu kalimat pendek yang nyaris seperti hentakan palu: "Jadi, iman datang dari pendengaran, dan pendengaran melalui Firman Kristus." Artinya: iman bukan sesuatu yang tumbuh sendiri dari dalam diri manusia, seperti tanaman liar di halaman hati kita. Iman lahir karena ada sesuatu yang datang dari luar, sebuah berita yang diucapkan dan didengar. Dan berita itu bukan sekadar informasi religius umum; isinya, sumbernya, dan kuasanya adalah Kristus sendiri. Ayat ini menutup satu argumen sekaligus membuka yang berikut: kalau iman memang datang lewat pendengaran, maka pertanyaan besar tentang Israel di ayat 18-21 menjadi tak terelakkan, sebab mereka jelas sudah mendengar.
Inti
Inti ayat ini menyentuh sesuatu yang sangat dalam tentang siapa Allah dan siapa kita. Allah adalah Allah yang berfirman, dan sejak Kejadian, firman-Nya bukan komentar atas kenyataan melainkan yang menciptakan kenyataan. Terang ada karena Ia berkata. Maka ketika Paulus mengatakan iman timbul dari pendengaran, ia sedang menempatkan pertobatan sejajar dengan penciptaan: sesuatu yang tidak ada dipanggil menjadi ada oleh suara Allah. Kata Yunani yang dipakai untuk "pendengaran" di sini, akoē, bisa berarti tindakan mendengar maupun berita yang didengar; keduanya bertemu dalam satu titik, yaitu kita tidak menyumbang apa pun kecuali telinga. Dan itulah anugerah dalam bentuknya yang paling telanjang. Berbeda dengan ayat 3, di mana orang berusaha menegakkan kebenaran sendiri, di sini manusia hanya menerima. Iman bukan prestasi rohani; iman adalah gema dari suara Kristus yang lebih dahulu berbicara.
Benang Merah
Sepanjang Alkitab, umat Allah lahir dan hidup dari firman yang diucapkan. Abraham tidak menemukan Allah lewat perenungan; ia mendengar panggilan dan berjalan. Israel di Sinai tidak melihat wujud, mereka mendengar suara. Para nabi diutus dengan rumus yang selalu sama: beginilah firman Tuhan. Perjanjian itu sendiri berbentuk perkataan, bukan patung dan bukan tanah, sehingga umat Allah selalu menjadi umat yang bertelinga sebelum menjadi umat yang bertindak. Yang baru dalam ayat 17 adalah isi suara itu. Bukan lagi hukum yang menuntut dari kejauhan, melainkan "Firman Kristus", sebab menurut ayat 4 Kristus adalah puncak dari Hukum Taurat. Yang dahulu diucapkan lewat perantara kini diucapkan dalam Anak, dan yang diberitakan bukan syarat yang harus dipenuhi melainkan kabar tentang Dia yang telah memenuhinya.
Cermin
Ayat ini membongkar satu kepercayaan yang tenang duduk di dalam banyak dari kita: bahwa iman adalah kekuatan batin yang harus kita produksi sendiri. Ketika iman terasa tipis, kita mencari solusi di dalam diri: berusaha lebih tulus, lebih disiplin, lebih merasa. Padahal Paulus menunjuk ke arah lain, ke luar diri kita, ke suara yang datang dari luar. Itu melegakan sekaligus menegur. Melegakan karena iman Anda tidak bergantung pada suasana hati Selasa pagi. Menegur karena banyak dari kita hidup dengan telinga yang jarang diarahkan pada firman, lalu heran mengapa hati terasa kering di tengah pekerjaan, tagihan, dan anak-anak yang menuntut. Hari ini, bacalah satu bagian Injil dengan bersuara, cukup sepuluh ayat, sampai telinga Anda sendiri mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Anda.
Konteks
Paulus menulis kepada jemaat di Roma yang bercampur, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, di ibu kota kekaisaran tempat kabar penting biasanya datang lewat pemberita resmi yang mengumumkan kemenangan kaisar. Dalam dunia tanpa cetakan dan tanpa Alkitab pribadi, iman memang praktis selalu masuk lewat telinga: kitab dibacakan di sinagoge, berita disampaikan dari mulut ke mulut. Latar pasal 9 sampai 11 adalah luka yang nyata, yaitu bahwa banyak sesama bangsa Paulus menolak Mesias mereka sendiri, sementara bangsa-bangsa lain justru menerima. Ayat 17 berdiri persis di tengah ketegangan itu, sebagai batu pijakan sebelum Paulus menutup segala kemungkinan alasan: mereka bukan tidak mendengar, sebab suara pemberitaan itu, kata ayat 18, telah sampai ke ujung-ujung bumi.
Tokoh Utama
Tokoh utama ayat ini bukan pengkhotbah dan bukan pendengar, melainkan Kristus yang berfirman. Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata pendengaran itu melalui firman tentang Kristus, tetapi "Firman Kristus": Dialah yang berbicara, juga ketika mulut yang bergerak adalah mulut seorang manusia yang lelah. Dan Allah yang berbicara ini bukan Allah yang berbicara sekali lalu diam. Gambaran yang Paulus pinjam di ayat 21 mengejutkan dalam kesabarannya: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang suka membantah." Itulah lanskap batin Allah dalam pasal ini, tangan yang terulur sepanjang hari, suara yang terus dikirim lewat orang-orang yang diutus, bahkan kepada mereka yang membalas dengan bantahan. Kedaulatan-Nya tidak dingin; suara-Nya adalah suara yang mencari.
Interteks
Yesaya 55 memberi resonansi terkuat: firman yang keluar dari mulut Allah tidak kembali dengan sia-sia, sebagaimana hujan tidak kembali ke langit tanpa membuat tanah bertunas. Paulus jelas hidup di dalam gambaran itu, dan justru karena itu ia berani mengutip keluhan Yesaya di ayat 16, "Tuhan, siapa yang percaya pada apa yang kami beritakan?" Firman yang berkuasa itu tetap bisa ditolak, dan Alkitab tidak menghaluskan misteri tersebut. Sisi lain terdengar dalam perumpamaan penabur, di mana benih yang sama jatuh di tanah yang berbeda-beda. Bersama-sama keduanya menjaga kita dari dua kesalahan: mengira pemberitaan hanyalah persuasi manusia, atau mengira mendengar dengan telinga otomatis berarti percaya dengan hati.
Refleksi
Di mana dalam hidup saya iman lebih saya perlakukan sebagai kekuatan yang harus saya hasilkan sendiri daripada sebagai jawaban atas suara yang lebih dahulu berbicara kepada saya?
Kalau Allah mengulurkan tangan-Nya sepanjang hari lewat pemberitaan, siapa yang hari ini mungkin sedang menunggu suara itu lewat mulut saya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 10:17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 10:17?
Tentang apakah ROMA 10:17?
Apa konteks historis dari ROMA 10:17?
Apa yang ROMA 10:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 10:17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 10
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, hari ini aku mau berkata dengan jujur: Yesus adalah Tuhanku. Dan di dalam hatiku aku percaya Engkau membangkitkan Dia dari kematian. Kalau imanku kadang goyah, tolong kuatkan aku, supaya pengakuan ini bukan sekadar kata, tapi hidupku.
Firman itu dekat kepadamu, di mulutmu dan di dalam hatimu." Kau tidak perlu memanjat ke langit atau turun ke jurang untuk menemukan Allah. Ia sudah lebih dulu mendekat. Yang dibutuhkan bukan perjalanan jauh, melainkan mulut yang berani mengaku dan hati yang mau percaya. Sedekat itu Dia denganmu hari ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi