Siapa Simson: Hakim Terkuat yang Jatuh karena Hawa Nafsu
Pendahuluan
Ada satu kalimat di Alkitab yang begitu tenang, begitu datar, dan justru karena itu terasa mengerikan. Seorang laki-laki terbangun dari tidur di pangkuan seorang perempuan. Ia mendengar keributan, dan ia melakukan apa yang selalu berhasil: menggoyangkan tubuhnya, menegangkan otot, siap merenggut apa pun yang mengikatnya. Ia tidak tahu bahwa ada sesuatu yang telah pergi dari hidupnya, jauh sebelum rambutnya jatuh ke lantai. Ia tidak tahu, karena kehilangan itu tidak berbunyi.
Simson adalah tokoh paling kuat dan paling tragis dalam Kitab Hakim-hakim. Anak yang kelahirannya dikabarkan oleh malaikat, laki-laki yang mematahkan tali seperti benang, hakim yang memerintah dua puluh tahun, dan tahanan yang mati di bawah reruntuhan sebuah kuil. Di halaman ini kita akan menelusuri hidupnya dari awal sampai akhir, jujur tentang dosanya, jujur juga tentang kasih Allah yang tidak pernah melepaskannya, dan melihat ke mana kisah ini sesungguhnya menunjuk.
Sudut pandang panduan ini
Kisah Simson biasanya diringkas menjadi peringatan moral: hati-hati dengan perempuan, hati-hati dengan hawa nafsu. Itu benar, tetapi terlalu dangkal. Panduan ini membaca Simson dari satu kalimat kunci: "Tetapi ia tidak tahu, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia" (Hakim-hakim 16:20). Masalah terdalam Simson bukanlah bahwa ia kehilangan kekuatan, melainkan bahwa ia kehilangan keintiman dengan Allah tanpa menyadarinya. Ia terus memakai karunia sementara hubungannya dengan Pemberi karunia mengering. Hawa nafsu adalah gejalanya; penyakitnya adalah hidup dari pemberian Allah tanpa Allah sendiri. Dan justru di sanalah kasih karunia masuk, di reruntuhan.
Apa kata Alkitab tentang Simson?
Simson muncul di Hakim-hakim 13 sampai 16, empat pasal terakhir sebelum kitab itu runtuh ke dalam kekacauan total. Zamannya digambarkan dengan satu kalimat pahit di akhir kitab: setiap orang berbuat apa yang dipandangnya benar. Israel berulang kali berpaling dari Tuhan, dijajah, berseru, lalu diselamatkan oleh seorang hakim. Kali ini, sebelum Israel berseru, Allah sudah bergerak lebih dahulu.
Seorang malaikat datang kepada isteri Manoah, perempuan yang mandul, dan berkata: "Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau pencukur, sebab dari sejak lahirnya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin" (Hakim-hakim 13:5). Perhatikan dua hal. Pertama, Simson dikuduskan sebelum ia bisa memilih apa pun; ia nazir sejak kandungan, bukan karena kesalehannya, melainkan karena panggilan Allah. Kedua, kata "mulai". Simson tidak akan menyelesaikan pembebasan itu. Ia hanya permulaan, dan Alkitab dengan sengaja membiarkan kisah ini terbuka.
Simson tumbuh, dan Roh Tuhan mulai menggerakkan dia. Tetapi langkah pertamanya yang tercatat adalah keinginan pada seorang perempuan Filistin di Timna. Kepada ayah dan ibunya yang menegur, ia berkata singkat: ambil dia bagiku, sebab dia menarik hatiku. Dalam perjalanan ke sana, seekor singa muda menyerangnya, dan di situlah kita membaca: "Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing. Tidak ada apa-apa di tangannya. Tetapi tidak diceriterakannya kepada ayahnya atau kepada ibunya apa yang dilakukannya itu" (Hakim-hakim 14:6). Kekuatan Simson tidak pernah berasal dari rambutnya, tidak pernah dari ototnya. Kekuatannya adalah Roh Tuhan yang berkuasa atas dia. Dan sejak awal, ia menyimpan pengalamannya dengan Allah sebagai rahasia pribadi, bukan sebagai kesaksian.
Sesudah itu hidupnya menjadi rangkaian bentrokan pribadi: teka-teki di pesta perkawinan yang berakhir dengan pengkhianatan, tiga ratus rubah berekor api yang membakar ladang Filistin, seribu orang dipukul dengan tulang rahang keledai, gerbang kota Gaza dipikul ke atas gunung. Ia memerintah sebagai hakim atas Israel dua puluh tahun, tetapi ia tidak pernah memimpin satu pasukan pun. Ia bertarung sendiri, untuk dendamnya sendiri, dan Allah tetap memakai kemarahannya itu untuk menggoyahkan penindas umat-Nya.
Lalu datanglah Delila. Empat kali ia bertanya tentang sumber kekuatan Simson, tiga kali Simson bermain-main dengan jawaban, dan tiga kali ia bangun mendapati dirinya diserang. Ia tahu ia sedang dijual. Ia tetap kembali. Akhirnya, setelah didesak sampai ia merasa mau mati, ia membuka segalanya: "Kepalaku belum pernah kena pisau pencukur, sebab sejak dari kandungan ibuku aku ini seorang nazir Allah. Jika kepalaku dicukur, maka hilanglah kekuatanku dan aku menjadi lemah dan seperti orang-orang lain" (Hakim-hakim 16:17). Yang ia serahkan bukan sekadar informasi, melainkan tanda pengudusannya.
Maka tibalah ayat yang menjadi poros panduan ini: "Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: Aku akan bebas seperti yang sudah-sudah dan akan meronta-ronta. Tetapi ia tidak tahu, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia" (Hakim-hakim 16:20). Matanya dicungkil, ia dirantai dengan tembaga, dan laki-laki terkuat di Israel menggiling di penjara Gaza. Tetapi rambutnya mulai tumbuh kembali, dan di rumah berhala yang penuh sorak, ia berdoa: "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan berilah kiranya aku kekuatan hanya sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin" (Hakim-hakim 16:28). Allah menjawab. Rumah itu runtuh, dan tertulis: "Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya" (Hakim-hakim 16:30).
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Simson bukan sekadar tokoh aneh di sudut Perjanjian Lama. Hidupnya adalah potret bangsanya sendiri. Israel dipilih dan dikuduskan sebelum ia bisa berjasa apa pun, sama seperti Simson dikuduskan di dalam kandungan. Israel diberi kekuatan yang bukan miliknya, lalu bermain-main dengan bangsa-bangsa dan dewa-dewa yang seharusnya ia tinggalkan. Israel dibutakan, dirantai, dan dibawa ke pembuangan. Dan di sana, di tempat penggilingan, umat itu berseru kepada Allah yang masih mengingat perjanjian-Nya. Membaca Simson berarti membaca sejarah Israel dalam tubuh satu orang.
Kisah Simson adalah cermin, bukan hanya biografi.
Pola pemberitahuan kelahiran yang dialami isteri Manoah kembali lagi dan lagi. Hana yang mandul melahirkan Samuel, anak yang juga dikhususkan bagi Tuhan. Elisabet yang sudah lanjut umur melahirkan Yohanes Pembaptis, yang tidak akan minum anggur dan akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari kandungan ibunya (Lukas 1:15). Lalu Maria, yang bukan mandul melainkan perawan, mengandung dari Roh Kudus. Setiap kali Allah hendak memulai sesuatu yang besar, Ia mulai di rahim yang mustahil. Simson adalah gema awal dari pola itu, dan Yesus Kristus adalah penggenapannya.
Perbedaannya justru yang paling banyak mengajar kita. Simson adalah nazir yang melanggar hampir setiap butir pengudusannya: ia menyentuh bangkai singa dan mengambil madu dari dalamnya, ia berpesta bersama orang Filistin, dan akhirnya rambutnya dicukur. Yesus adalah Yang Kudus yang tidak pernah melanggar apa pun, namun dengan sukarela menyentuh yang najis, makan bersama orang berdosa, dan tidak menjadi tercemar tetapi justru menyucikan. Simson mematahkan tali dan membebaskan dirinya berkali-kali; Kristus membiarkan diri-Nya diikat dan tidak melepaskan diri. Simson berdoa supaya ia dapat membalas kedua matanya; Kristus berdoa supaya mereka yang memaku Dia diampuni. Simson mati dengan tangan terkembang di antara dua tiang, dan pada saat kematiannya lebih banyak musuh dikalahkan daripada sepanjang hidupnya. Kristus mati dengan tangan terkembang di antara dua kayu, dan pada saat kematian-Nya Ia melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa serta menang atas mereka.
Dan yang paling mengejutkan, Simson muncul dalam daftar iman: "Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi" (Ibrani 11:32). Namanya berdiri di sana, di antara orang-orang yang kepadanya Allah berkenan, bukan karena hidupnya rapi, tetapi karena pada akhirnya ia menggantungkan segalanya pada Allah dan bukan pada dirinya. Itu bukan pemutihan sejarah. Itu tanda bahwa Perjanjian Baru membaca hidup Simson dengan cara yang sama seperti kita seharusnya membaca hidup kita sendiri: dari kasih karunia, bukan dari prestasi.
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang menentukan segalanya, dan menariknya, tidak satu pun dari ketiganya adalah adegan kekuatan yang paling terkenal.
Momen pertama terjadi sebelum Simson sadar akan apa pun: kabar malaikat di padang kepada seorang perempuan mandul. Sebelum ia lahir, hidupnya sudah diberi arah, larangan, dan janji. "Dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel" (Hakim-hakim 13:5). Semua yang dimiliki Simson adalah pemberian: kelahirannya, panggilannya, kekuatannya, bahkan jabatannya sebagai hakim. Tidak ada satu pun yang ia hasilkan. Inilah kunci untuk memahami keruntuhannya nanti, sebab orang yang lupa bahwa hidupnya adalah pemberian akan mulai memperlakukan pemberian itu seperti milik pribadi yang bisa dipakai sesuka hati.
Momen kedua adalah singa dan madu di Hakim-hakim 14. Roh Tuhan berkuasa atas dia, singa itu dicabiknya, dan ia tidak menceritakan apa-apa kepada ayah dan ibunya. Beberapa hari kemudian ia kembali ke bangkai itu, mengambil madu dari dalamnya, memakannya, lalu memberikannya kepada orang tuanya tanpa mengatakan dari mana asalnya. Di situ terjadi dua hal dalam satu tarikan napas: pengalaman paling kuat dengan Roh Allah, dan pelanggaran paling sunyi terhadap pengudusannya. Seorang nazir tidak boleh menyentuh yang mati. Tidak ada yang tahu. Tidak ada akibat yang langsung terasa. Kekuatannya tidak berkurang sedikit pun. Dan justru itulah bahayanya: Simson belajar bahwa ia bisa melanggar tanpa merasakan apa-apa. Dosa yang tidak berakibat hari ini terasa seperti izin.
Momen ketiga bukan saat rambutnya jatuh, melainkan saat ia bangun dan mengira dirinya masih Simson yang lama. "Aku akan bebas seperti yang sudah-sudah" (Hakim-hakim 16:20). Ia mengucapkan kalimat itu dengan yakin, dengan refleks seorang pemenang, dan ia keliru total. Kehilangan hadirat Tuhan tidak diumumkan dengan suara gemuruh. Itu terjadi perlahan, melalui rangkaian kompromi yang semuanya terasa bisa ditangani, sampai yang tinggal hanyalah kebiasaan rohani tanpa kuasa. Matanya baru benar-benar terbuka setelah kedua matanya dicungkil, dan di penjara Gaza, sambil memutar batu penggilingan seperti hewan beban, ia akhirnya berdoa untuk pertama kalinya dengan sungguh-sungguh memanggil Allah sebagai Allahnya (Hakim-hakim 16:28). Allah menjawab doa itu. Bukan karena Simson sudah memperbaiki diri, tetapi karena Allah setia kepada janji-Nya sendiri.
Yang kita pelajari dari Simson
Pelajaran pertama: karunia bukan ukuran kedekatan dengan Allah. Simson bisa mencabik singa sambil menyembunyikan dosanya. Ia bisa memukul seribu orang dan tetap tidak berdoa. Kita hidup di zaman ketika kemampuan mudah disalahartikan sebagai kerohanian; pelayanan yang berbuah, khotbah yang menggerakkan, karier yang naik, keluarga yang terlihat rapi. Simson memaksa kita bertanya hal yang lebih tajam: bukan seberapa besar yang Allah kerjakan melalui saya, tetapi apakah saya masih mengenal Dia. Kekuatan yang tidak lagi disertai keintiman adalah bangunan yang rayapnya bekerja dari dalam.
Pelajaran kedua: hawa nafsu jarang menjatuhkan orang dalam satu hentakan. Simson tidak bangun pada suatu pagi lalu memutuskan menghancurkan hidupnya. Ia hanya terus mengikuti apa yang menarik hatinya, dari Timna ke Gaza, dari Gaza ke lembah Sorek. Setiap kali ia bertahan, setiap kali ia merasa masih sanggup mengendalikan permainan. Yang berbahaya dari dosa bukanlah bahwa dosa itu segera menghukum kita, melainkan bahwa dosa itu membuat kita mati rasa. Empat kali Delila menanyakan rahasianya, dan Simson tetap tidur di pangkuannya. Ada saat di mana seseorang tidak lagi tertipu; ia hanya memilih untuk tidak peduli. Di titik itu, satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan yang jujur, bukan tekad yang lebih keras.
Pelajaran ketiga, dan ini yang paling melegakan: reruntuhan bukan akhir cerita Allah. Kalimat "Tetapi rambut kepalanya mulai tumbuh kembali" ditulis ketika Simson tidak punya apa-apa lagi, tidak mata, tidak kebebasan, tidak kehormatan. Allah bekerja dalam kegelapan sel itu tanpa fanfare. Doa terakhir Simson bukan doa yang sempurna; masih ada dendam di dalamnya. Namun doa itu didengar, dan namanya tetap dicatat dalam Ibrani 11:32. Jika Anda berpikir bahwa kegagalan Anda telah membuat Anda terlalu rusak untuk dipakai, kisah ini berdiri melawan pikiran itu. Bukan karena dosa tidak berakibat, sebab akibatnya nyata dan pahit, tetapi karena kasih karunia Allah tidak kehabisan jalan.
Cermin
Mungkin Anda membaca ini dan merasa jauh dari Simson. Anda tidak mencabik singa, tidak membakar ladang, tidak pernah dirantai di Gaza. Tetapi tanyakan pada diri Anda satu hal, dan jawablah dengan jujur: kapan terakhir kali Anda berbicara dengan Tuhan seperti kepada seseorang yang Anda kasihi, bukan sebagai bagian dari rutinitas?
Kejatuhan Simson tidak dimulai di pangkuan Delila. Itu dimulai jauh sebelumnya, di momen-momen ketika ia mengalami pertolongan Allah dan tidak menceritakannya kepada siapa pun, ketika ia melanggar sedikit dan tidak terjadi apa-apa. Anda mungkin sedang berada di sana sekarang. Pekerjaan tetap berjalan, kompetensi Anda masih dipuji, tetapi hati Anda kosong dan Anda menutupinya dengan produktivitas. Pernikahan Anda masih berdiri, tetapi mata Anda mulai berkeliaran ke layar di malam hari dan Anda meyakinkan diri bahwa itu tidak melukai siapa pun. Keuangan Anda aman, tetapi doa Anda tinggal formalitas karena Anda sudah tidak merasa membutuhkan apa pun. Anda masih memimpin ibadah keluarga, masih mengajar sekolah minggu, dan di dalam diri Anda ada ruangan yang sudah lama tidak dibuka.
Simson meronta-ronta dan tidak terjadi apa-apa. Itulah yang paling ditakuti: bukan kehilangan tenaga, tetapi kehilangan hadirat Tuhan tanpa menyadarinya. Kabar baiknya, Anda tidak perlu menunggu sampai kedua mata Anda dicungkil untuk melihat. Anda bisa melihat hari ini. Doa Simson dari penjara hanya beberapa baris panjangnya, dan Allah mendengarnya. Doa Anda tidak harus indah. Cukup jujur. Katakan saja bahwa Anda lelah berpura-pura kuat, bahwa Anda ingin Dia dan bukan sekadar berkat-Nya. Allah tidak pernah menolak hati yang datang dengan tangan kosong.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung suka pada Simson, karena ia terdengar seperti pahlawan dalam film. Di situlah letak kesempatan sekaligus tantangannya. Kalau kita berhenti pada otot dan singa, anak akan menyimpulkan bahwa Simson hebat karena rambutnya panjang. Padahal inti ceritanya justru sebaliknya.
Untuk anak kecil, katakan dengan sederhana: Allah memberi Simson kekuatan yang luar biasa supaya ia bisa menolong bangsanya. Kekuatan itu bukan milik Simson sendiri; itu hadiah dari Tuhan. Tetapi Simson lupa bersyukur dan lupa mendengarkan Tuhan. Ia terus memilih apa yang ia sukai, meskipun ia tahu itu salah. Akhirnya ia kehilangan segalanya. Tetapi ketika ia berdoa dan meminta tolong, Tuhan masih mendengarkan dia. Tuhan tidak pernah bosan mendengarkan anak-anak-Nya yang mau kembali.
Untuk anak yang lebih besar, ceritanya bisa dipakai untuk berbicara tentang pilihan kecil yang menumpuk, tentang rahasia yang disimpan, dan tentang perbedaan antara berbakat dan setia. Bagi remaja, ini adalah salah satu kisah paling relevan di seluruh Alkitab untuk membicarakan godaan, batas diri, dan tekanan dari orang yang kita sukai, tanpa nada menghakimi.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk berbagai usia, yaitu untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun, anak sekolah tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas, dengan bahasa, contoh, dan pertanyaan diskusi yang disesuaikan. Pilih versi yang cocok dengan anak Anda, lalu bacalah bersama dan biarkan mereka bertanya sebanyak yang mereka mau.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Simson dalam Alkitab?
Simson adalah hakim terakhir yang kisahnya diceritakan panjang dalam Kitab Hakim-hakim, tercatat di Hakim-hakim 13 sampai 16. Ia berasal dari suku Dan, anak Manoah, dan kelahirannya dikabarkan oleh malaikat Tuhan kepada ibunya yang mandul. Ia dikuduskan sebagai nazir Allah sejak dalam kandungan dan dipakai Tuhan untuk mulai membebaskan Israel dari penindasan bangsa Filistin. Ia memerintah sebagai hakim selama dua puluh tahun, memiliki kekuatan luar biasa ketika Roh Tuhan berkuasa atas dia, tetapi hidupnya ditandai oleh hawa nafsu, dendam pribadi, dan akhirnya kematian di bawah reruntuhan kuil Filistin.
Di kitab mana kisah Simson diceritakan?
Seluruh kisah Simson ada dalam Kitab Hakim-hakim, tepatnya pasal 13 sampai 16, dan namanya disebut sekali lagi dalam Perjanjian Baru di Ibrani 11:32. Empat pasal itu tersusun rapi: kelahirannya yang dikabarkan malaikat, perkawinannya di Timna beserta teka-teki dan pembalasannya, kemenangannya dengan tulang rahang keledai, lalu kejatuhannya bersama Delila dan kematiannya di Gaza. Kitab Hakim-hakim sendiri menutup dengan gambaran zaman ketika tidak ada raja di Israel dan setiap orang berbuat apa yang dipandangnya benar, dan hidup Simson adalah contoh paling jelas dari suasana itu.
Apakah kekuatan Simson benar-benar ada di rambutnya?
Tidak. Alkitab selalu menghubungkan kekuatan Simson dengan Roh Tuhan, bukan dengan rambutnya. Hakim-hakim 14:6 mengatakan bahwa Roh Tuhan berkuasa atas dia sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing. Rambut panjang adalah tanda kelihatan dari pengudusannya sebagai nazir Allah, semacam tanda perjanjian, bukan sumber tenaga magis. Karena itu ketika rambutnya dicukur, yang sesungguhnya hilang bukanlah zat ajaib, melainkan hubungan dan pengudusan yang ia serahkan sendiri. Kalimat penutupnya jelas: Tuhan telah meninggalkan dia (Hakim-hakim 16:20).
Apa itu nazir Allah, dan apakah Simson menaatinya?
Nazir adalah orang yang mengkhususkan dirinya bagi Tuhan menurut aturan dalam Bilangan 6: tidak minum anggur atau apa pun dari buah anggur, tidak memotong rambut, dan tidak menyentuh orang atau hewan mati. Biasanya nazar ini bersifat sukarela dan sementara, tetapi Simson ditetapkan sebagai nazir sejak dari kandungan (Hakim-hakim 13:5). Sedihnya, ia melanggar hampir semuanya. Ia mengambil madu dari bangkai singa, berpesta tujuh hari bersama orang Filistin, dan akhirnya membiarkan rambutnya dicukur setelah membuka rahasianya dalam Hakim-hakim 16:17. Pengudusannya nyata; ketaatannya tidak.
Siapa Delila dan mengapa ia mengkhianati Simson?
Delila adalah perempuan dari lembah Sorek yang dicintai Simson. Alkitab tidak menyebut dia sebagai isterinya. Para raja Filistin mendatanginya dan menawarkan masing-masing seribu seratus syikal uang perak jika ia berhasil membujuk Simson membuka rahasia kekuatannya. Jadi motifnya jelas: uang dan kesetiaan pada bangsanya sendiri. Yang mengejutkan bukanlah pengkhianatan Delila, sebab Simson sudah tiga kali bangun dan mendapati dirinya diserang, melainkan bahwa Simson tetap tinggal. Ia tahu ia sedang dijual, dan ia memilih untuk tidak pergi. Di situlah kita melihat betapa dalam hawa nafsu bisa membutakan.
Berapa lama Simson menjadi hakim atas Israel?
Alkitab mencatat dua kali bahwa Simson memerintah sebagai hakim atas Israel selama dua puluh tahun, pada masa orang Filistin menguasai Israel. Yang menarik, selama dua puluh tahun itu tidak ada satu pun catatan tentang dia memimpin pasukan, mengumpulkan suku-suku, atau memanggil umat kembali kepada Tuhan seperti yang dilakukan Debora atau Gideon. Semua tindakannya bersifat perorangan dan hampir selalu didorong oleh urusan pribadi. Allah tetap memakai dia, tetapi hidup Simson menunjukkan bahwa jabatan rohani bisa berjalan bertahun-tahun tanpa hati yang benar-benar tertuju kepada Allah.
Apakah Simson diselamatkan, padahal hidupnya begitu kacau?
Ibrani 11:32 menyebut namanya di antara saksi-saksi iman, bersama Gideon, Barak, Yefta, Daud, dan Samuel. Itu bukan berarti Alkitab menyetujui perbuatannya; Kitab Hakim-hakim menceritakan dosanya tanpa menutup-nutupi apa pun. Tetapi pada akhirnya Simson berpaling kepada Tuhan dan menggantungkan segalanya pada Allah, bukan pada dirinya sendiri (Hakim-hakim 16:28). Keselamatan tidak pernah didasarkan pada catatan hidup yang bersih, melainkan pada kasih karunia Allah yang diterima dengan iman. Kisah Simson adalah salah satu bukti paling mentah bahwa Allah menyelamatkan orang berdosa, bukan orang baik.
Apakah kematian Simson bisa disebut bunuh diri?
Secara tradisional jawabannya tidak, dan alasannya penting. Simson tidak mati karena ingin mengakhiri penderitaannya, tetapi mati dalam tugasnya sebagai hakim yang berperang melawan penindas umat Allah, sama seperti seorang tentara yang tahu bahwa tindakannya akan membuat ia gugur. Ia berkata: "Biarlah aku mati bersama-sama orang Filistin ini" (Hakim-hakim 16:30). Sekaligus kita boleh jujur bahwa doanya masih bercampur dendam pribadi atas kedua matanya. Alkitab menceritakannya tanpa memuji motifnya, lalu mencatat hasilnya: musuh yang jatuh pada kematiannya lebih banyak daripada sepanjang hidupnya.
Apa arti nama Simson?
Nama Simson dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan kata "shemesh" yang berarti matahari, sehingga namanya bisa dipahami sebagai "kecil matahari" atau "yang bersinar seperti matahari". Ia dilahirkan di daerah Zora, dekat wilayah yang bernama Bet-Semes, yaitu rumah matahari. Nama itu terasa seperti janji: seorang anak yang akan membawa terang bagi bangsa yang hidup dalam kegelapan penjajahan. Ironinya menyayat, sebab matahari kecil itu berakhir dengan mata yang dicungkil, dalam kegelapan penjara Gaza, sebelum Allah memakai dia sekali lagi.
Apa bedanya Simson dan Yesus Kristus sebagai penyelamat?
Keduanya kelahirannya dikabarkan lebih dahulu, keduanya dikhususkan bagi Allah, dan keduanya menang melalui kematian. Tetapi Simson hanya "mulai" menyelamatkan Israel (Hakim-hakim 13:5), sedangkan Yesus Kristus menyelesaikan karya penyelamatan dengan sempurna. Simson jatuh pada hawa nafsu; Kristus dicobai dalam segala hal namun tidak berbuat dosa. Simson mati untuk membalas musuhnya; Kristus mati untuk mengampuni musuh-Nya. Simson kehilangan kekuatan karena dosanya sendiri; Kristus menyerahkan kuasa-Nya dengan sukarela demi dosa kita. Simson membuat kita rindu akan Penyelamat yang lebih baik, dan itulah tujuan kisahnya.
Mengapa Allah tetap memakai Simson padahal ia terus berdosa?
Karena Allah bertindak berdasarkan janji-Nya, bukan berdasarkan mutu manusia yang dipakai-Nya. Ia telah berjanji akan mulai membebaskan Israel melalui Simson, dan Ia menepatinya. Ini bukan tanda bahwa Allah tidak peduli pada dosa; hidup Simson berakhir hancur, buta, dan sunyi, dan itu adalah buah pahit dari pilihannya sendiri. Namun kesetiaan Allah tidak bergantung pada kesetiaan kita. Itu menghibur dan sekaligus menegur, karena dipakai Allah ternyata bukan jaminan bahwa hati kita sedang dekat dengan Dia.
Apa pelajaran utama kisah Simson tentang hawa nafsu?
Bahwa hawa nafsu bekerja dengan menumpulkan, bukan dengan menyerang. Simson tidak kehilangan segalanya dalam satu malam; ia kehilangan sedikit demi sedikit kepekaannya, sampai ia bisa tidur di pangkuan perempuan yang jelas-jelas menjualnya. Karena itu pertanyaan yang tepat bukan "sejauh mana saya masih aman", tetapi "apa yang sedang membuat saya berhenti merasa bersalah". Jalan keluarnya bukan tekad yang lebih keras, melainkan pertobatan yang jujur dan keintiman yang dipulihkan dengan Tuhan, sebab kekuatan Simson selalu terletak pada hadirat Allah, bukan pada dirinya.
Sebagai penutup
Yang paling mengerikan dalam kisah Simson bukanlah rambut yang jatuh, bukan rantai tembaga, bukan pula mata yang dicungkil. Yang paling mengerikan adalah satu kalimat pendek: ia tidak tahu. Ia mengira dirinya masih seperti dulu, masih kuat, masih sanggup, padahal hadirat yang membuatnya kuat sudah lama tidak ia cari. Hidup bisa terus berjalan cukup lama dengan kekuatan sisa, dan itulah sebabnya kisah ini ditulis: supaya kita tidak menunggu sampai runtuh untuk melihat.
Namun ceritanya tidak berhenti di penggilingan Gaza. Rambut itu tumbuh kembali, doa yang tersendat itu didengar, dan nama Simson tetap tertulis dalam Ibrani 11:32, di antara mereka yang hidup dari iman. Allah tidak membuang orang yang datang kepada-Nya dengan tangan kosong.
Kalau Anda ingin melanjutkan, bacalah Hakim-hakim 13 sampai 16 dalam satu kali duduk, lalu bandingkan dengan Bilangan 6 tentang nazir, dan akhiri dengan Ibrani 11. Lalu duduklah sebentar dan tanyakan satu hal yang tidak bisa dijawab oleh pengetahuan Alkitab, hanya oleh hati yang jujur: apakah saya masih mengenal Dia, atau hanya masih sanggup?
