Apa Itu Persepuluhan Menurut Alkitab dan Apakah Masih Berlaku Sekarang
Pendahuluan
Setiap awal bulan, seorang ibu di Surabaya membuka aplikasi bank dan menatap angka di layar. Gaji sudah masuk. Cicilan, uang sekolah, beras, listrik. Lalu jarinya berhenti sejenak di kolom transfer untuk gereja. Bukan karena ia tidak mau memberi, tetapi karena ada suara kecil yang mengganggu: "Apakah aku memberi karena kasih, atau karena takut kena kutuk kalau tidak?"
Pertanyaan itu jauh lebih tua dari aplikasi bank. Sudah ribuan tahun umat Allah bergumul dengan satu tema yang menyentuh dompet dan hati sekaligus: persepuluhan. Sebagian orang mengajarkannya seperti tarif wajib. Sebagian lain menganggapnya sudah selesai bersama Bait Suci. Keduanya sering melewatkan hal yang paling penting.
Di halaman ini Anda akan menelusuri persepuluhan dari Kejadian sampai Wahyu, memahami mengapa Yesus Kristus mengubah seluruh percakapan ini, dan keluar dengan kejelasan yang membebaskan, bukan beban baru.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini tidak berhenti pada pertanyaan "berapa persen yang harus saya berikan". Alkitab justru mendorong kita ke pertanyaan yang lebih dalam: siapa pemilik seratus persennya? Persepuluhan pertama dalam Alkitab muncul sebelum Taurat ada, di hadapan seorang imam yang menggambarkan Kristus, dan itu bukan pembayaran pajak melainkan tindakan penyembahan. Karena itu kita akan membaca persepuluhan bukan sebagai kuota yang menenangkan hati nurani, melainkan sebagai latihan melepaskan kepemilikan di hadapan Imam Besar yang hidup. Perbedaan sudut pandang ini menentukan segalanya: yang satu menghasilkan ketakutan dan perhitungan, yang lain menghasilkan sukacita dan kemurahan.
Apa kata Alkitab tentang persepuluhan?
Kata "persepuluhan" secara sederhana berarti sepersepuluh bagian, sepuluh persen. Dalam bahasa Ibrani, ma'aser, dan dalam bahasa Yunani, dekate. Tetapi arti kata itu baru hidup ketika kita melihat di mana ia pertama kali muncul.
Peristiwa itu terjadi di sebuah lembah, sesudah pertempuran. Abram baru saja membebaskan keponakannya, Lot, dari tangan raja-raja yang menjarah Sodom. Di jalan pulang ia bertemu Melkisedek, raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi, yang membawa roti dan anggur serta memberkati dia. Kejadian 14:20 mencatat, "Dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. Perhatikan urutannya. Berkat datang lebih dulu, pemberian menyusul. Abram tidak sedang menyuap Allah agar menang; ia sudah menang, dan sepersepuluh itu adalah pengakuan bahwa kemenangan itu bukan hasil pedangnya sendiri. Tidak ada hukum yang memerintahkannya. Tidak ada ancaman kalau ia tidak melakukannya. Ada hati yang tergerak oleh kemurahan Allah.
Baru berabad-abad kemudian persepuluhan masuk ke dalam sistem hukum Israel. Imamat 27:30 berbunyi, "Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN." Kalimat itu bukan sedang menetapkan tarif, melainkan menyatakan kepemilikan. Sepersepuluh itu disebut "milik TUHAN", bukan karena sembilan puluh persen sisanya milik Israel, tetapi karena sepersepuluh itu menjadi tanda nyata bahwa seluruh tanah, seluruh hasil, seluruh hidup adalah milik Allah. Mazmur 24:1 menyatakannya tanpa tawar-menawar: "TUHANlah yang empunya bumi serta segala yang penuh di dalamnya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."
Dalam Taurat, persepuluhan itu punya fungsi yang sangat konkret. Bilangan 18 menetapkan bahwa persepuluhan menjadi bagian orang Lewi, karena mereka tidak menerima warisan tanah dan seluruh hidup mereka dipakai untuk pelayanan di kemah suci. Ulangan 14 menambahkan dimensi yang sering dilupakan: sebagian persepuluhan dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan dan dimakan bersama di hadapan-Nya, sebagai perjamuan sukacita, supaya umat belajar takut akan Tuhan. Setiap tahun ketiga, persepuluhan itu disimpan di kota-kota untuk orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda. Jadi persepuluhan Israel adalah campuran ibadah, gaji pelayan Tuhan, jaminan sosial, dan pesta syukur.
Di luar hukum, hikmah Israel meringkas prinsipnya dengan indah. Amsal 3:9 mengajak, "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." Kata "hasil pertama" itu penting. Bukan sisa, bukan yang tercecer di ujung bulan, tetapi yang pertama, yang paling segar, yang paling terasa. Memberi dari hasil pertama adalah cara tubuh dan dompet mengaku bahwa Allah bukan nomor dua.
Lalu datang teguran keras di ujung Perjanjian Lama. Umat yang pulang dari pembuangan mulai lalai, imam-imam kelaparan, rumah Allah terbengkalai. Maleakhi 3:8 menuduh dengan pedas: "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku." Dan Maleakhi 3:10 memberi tantangan yang terkenal, "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Ini bukan rumus investasi. Ini panggilan pulang bagi umat yang hatinya sudah menjauh, dengan janji bahwa Allah tidak pernah kalah murah hati.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Ikuti benangnya dari awal dan Anda akan melihat pola yang konsisten: pemberian selalu merupakan respons, bukan syarat.
Sesudah Abram, cucunya Yakub bersumpah di Betel bahwa dari segala yang diberikan Allah kepadanya, ia akan mempersembahkan sepersepuluh (Kejadian 28:22). Menarik, karena Yakub adalah orang yang gemar bernegosiasi, dan bahkan di sana persepuluhan muncul sebagai jawaban atas janji Allah yang datang lebih dulu. Kemudian sistem Taurat menstrukturkan kebiasaan itu, dan sejarah Israel naik turun mengikutinya. Ketika Raja Hizkia membawa pembaruan rohani, umat membawa persepuluhan sampai menumpuk seperti timbunan (2 Tawarikh 31). Ketika Nehemia membangun kembali Yerusalem, umat berjanji tidak akan mengabaikan rumah Allah, lalu kemudian, dalam Nehemia 13, Nehemia menemukan orang Lewi terpaksa kembali ke ladang karena bagian mereka tidak diberikan. Pemulihan rohani dan kemurahan selalu bergerak bersama.
Sampai di Perjanjian Baru, sesuatu bergeser. Yesus Kristus menyebut persepuluhan hanya beberapa kali, dan selalu dalam konteks menegur orang yang terlalu percaya pada ketelitiannya sendiri. Matius 23:23 mencatat, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Yesus tidak membatalkan persepuluhan mereka, tetapi Ia menolak persepuluhan yang dipakai sebagai pengganti hati. Anda bisa menakar bumbu dapur sampai gram terakhir dan tetap kehilangan Allah.
Puncaknya ada di Ibrani 7. Penulis surat itu kembali ke lembah tempat Abram bertemu Melkisedek dan berkata, dalam Ibrani 7:8, "Dan di sini yang memungut persepuluhan adalah orang-orang yang mati, sedangkan di sana Ia, yang tentang-Nya diberikan kesaksian, bahwa Ia hidup." Bacalah kalimat itu perlahan. Imam-imam Lewi menerima persepuluhan lalu mati, satu demi satu, generasi demi generasi. Tetapi Melkisedek muncul dalam Kitab Suci tanpa catatan kematian, sebagai gambaran dari Imam yang hidup selamanya, yaitu Yesus Kristus. Artinya, persepuluhan Abram sejak semula mengarah kepada Kristus. Sistem Lewi hanyalah bayangan yang sementara; Imam yang menerima penyembahan kita hari ini adalah Dia yang hidup.
Persepuluhan pertama diberikan kepada gambaran Kristus, bukan kepada Bait Suci.
Dan Alkitab tidak berakhir dengan pembukuan persepuluhan, melainkan dengan pemandangan kota Allah di mana raja-raja di bumi membawa kemuliaan mereka masuk ke dalamnya (Wahyu 21). Segala yang kita pegang akhirnya diletakkan di hadapan takhta. Dari Kejadian sampai Wahyu, arah gerakannya sama: dari tangan Allah yang memberi, melalui hidup kita, kembali kepada kemuliaan-Nya.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama: persepuluhan adalah cara membayar Allah agar Ia bekerja bagi kita. Maleakhi 3:10 sering dikutip seolah itu kontrak berjangka: setor sepuluh persen, tarik keuntungan berlipat. Tetapi janji itu diberikan kepada umat perjanjian yang sedang mencuri dari rumah Allah sendiri, dan berkat yang dijanjikan berbentuk hujan, panen, tanah yang tidak dimakan hama. Allah memang murah hati dan sering memelihara orang yang memberi dengan cara yang mengejutkan, tetapi Ia bukan mesin. 2 Korintus 9:7 menutup pintu bagi mentalitas transaksi: "Jadi hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Yang Allah kasihi adalah pemberi yang bersukacita, bukan pemberi yang berhitung untung.
Kesalahpahaman kedua: kalau saya tidak memberi persepuluhan, saya berada di bawah kutuk. Ayat tentang kutuk dalam Maleakhi berbicara kepada Israel di bawah perjanjian yang memang memuat berkat dan kutuk. Perjanjian Baru berbicara dengan nada lain, karena Kristus sudah menjadi kutuk bagi kita di atas kayu salib. Memakai ancaman kutuk untuk mengumpulkan dana adalah menaruh kembali beban yang sudah Ia pikul. Ketakutan mungkin bisa membuat orang mentransfer uang selama satu atau dua tahun, tetapi ketakutan tidak pernah menghasilkan penyembahan. Hanya kasih karunia yang sanggup membuka tangan sampai akhir.
Kesalahpahaman ketiga: karena kita hidup di bawah kasih karunia, soal uang tidak lagi penting. Ini kekeliruan yang berlawanan arah, dan ternyata lebih halus. Perjanjian Baru justru berbicara tentang harta lebih sering daripada tentang banyak topik lain. Jemaat pertama menjual milik mereka dan membagikannya sehingga tidak ada yang berkekurangan (Kisah Para Rasul 4). Paulus memerintahkan pengumpulan yang teratur dan proporsional dalam 1 Korintus 16:2, "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing, sesuai dengan apa yang kamu peroleh, menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah." Kasih karunia tidak menurunkan standar sepuluh persen menjadi nol; kasih karunia mengangkat pertanyaannya menjadi seratus persen. Bagi Abram, sepersepuluh adalah tanda bahwa semuanya milik Allah. Bagi kita yang mengenal Golgota, tanda itu tidak mungkin menjadi lebih kecil.
Kesalahpahaman keempat: persepuluhan hanya soal angka, sehingga selama angkanya benar, hati boleh dingin. Inilah yang justru ditegur Yesus dalam Matius 23:23. Orang Farisi sangat teliti, dan ketelitian itu tidak membuat mereka murah hati; ia membuat mereka merasa berhak. Ketika keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan diabaikan, persepuluhan berubah menjadi selubung yang rapi. Jangan sampai kita membangun sistem pemberian yang sempurna sementara pembantu rumah tangga kita dibayar tidak adil, atau saudara seiman yang menganggur kita biarkan berjuang sendiri.
Menghidupinya hari ini
Bagaimana ini terlihat pada hari Senin, bukan hanya pada hari Minggu?
Mulailah dengan urutan, bukan dengan persentase. Amsal 3:9 menyuruh memuliakan Tuhan dengan hasil pertama. Secara praktis itu berarti pemberian Anda ditetapkan lebih dahulu, bukan menunggu apa yang tersisa. Banyak orang yang saya kenal menemukan kelegaan besar ketika mereka memindahkan pemberian dari akhir daftar ke awal daftar. Sepuluh persen tetap menjadi titik tolak yang sehat dan mudah diingat, bukan karena hukum Musa mengikat orang percaya secara hukum, tetapi karena angka itu cukup besar untuk terasa dan cukup jelas untuk dijalankan dengan setia.
Lalu tentukan dengan hati yang tenang, bukan di bawah tekanan. Dua Korintus 9:7 menyebut "kerelaan hatinya", dan itu bukan berarti impulsif. Kerelaan justru tumbuh lewat perencanaan: duduk bersama pasangan, melihat penghasilan, memutuskan angka, dan menjalankannya. Kalau Anda memberi hanya saat suasana kebaktian sedang menyentuh, pemberian Anda akan naik turun mengikuti emosi. Kalau Anda memberi karena diancam, pemberian Anda akan berhenti begitu ketakutan mereda.
Arahkan pemberian itu ke tempat yang nyata. Dalam Alkitab, persepuluhan menopang mereka yang hidupnya dipakai untuk pelayanan, dan sekaligus menyentuh orang miskin, yatim, dan pendatang. Karena itu wajar bila bagian utama diberikan melalui gereja lokal tempat Anda dibina, sambil tetap membuka tangan untuk misi, hamba Tuhan di daerah, tetangga yang kehilangan pekerjaan, atau anak jemaat yang tidak sanggup bayar uang sekolah. Kemurahan yang alkitabiah selalu punya wajah dan nama.
Sesuaikan dengan keadaan hidup Anda dengan jujur. Kalau penghasilan Anda kecil dan tidak tetap, mulailah dari angka yang bisa Anda pertahankan, lalu naik pelan-pelan. Kalau Anda terjerat utang, jangan berhenti memberi sama sekali, tetapi rancang rencana pelunasan yang serius, sebab membayar utang juga tindakan integritas di hadapan Allah. Kalau penghasilan Anda besar, jangan berhenti di sepuluh persen hanya karena angka itu yang paling sering dikhotbahkan; tanyakan berapa yang bisa Anda lepaskan tanpa merusak tanggung jawab Anda terhadap keluarga.
Persepuluhan yang sehat melatih tangan untuk tidak menggenggam.
Dan periksa hati Anda sesekali. Bila pemberian membuat Anda merasa lebih rohani dari orang lain, ada yang perlu dibenahi. Bila pemberian membuat Anda semakin peka terhadap kebutuhan di sekitar Anda, itu tanda Roh Kudus sedang bekerja.
Cermin
Coba jawab satu pertanyaan ini dengan jujur, tanpa penonton: kalau Allah menutup laporan keuangan Anda selama dua belas bulan terakhir dan hanya menunjukkannya kepada Anda sendiri, apa yang akan terungkap tentang apa yang Anda kasihi? Yesus berkata dalam Matius 6:21, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Ia tidak berkata bahwa hati Anda akan menuntun uang Anda; Ia berkata uang Anda menunjukkan di mana hati Anda sudah berada.
Mungkin Anda termasuk orang yang memberi dengan setia, tepat sepuluh persen, tidak pernah terlambat, dan tetap merasa gelisah. Anda memberi supaya aman, supaya Allah tidak marah, supaya bisnis tidak runtuh. Kalau begitu, kabar baiknya adalah ini: Anda tidak perlu membeli perhatian Allah, karena Ia sudah memberikan Anak-Nya sendiri. Dua Korintus 8:9 mengingatkan kita akan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, "bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." Anda memberi bukan untuk masuk, tetapi karena sudah di dalam.
Atau mungkin Anda justru di sisi lain. Anda sudah lama berhenti memberi secara teratur, dengan alasan teologis yang cukup rapi: persepuluhan itu Perjanjian Lama, gereja terlalu banyak bicara uang, saya memberi kalau tergerak. Tetapi jika Anda menghitungnya, angkanya mendekati nol, sementara langganan hiburan, kopi, dan barang yang Anda tidak butuhkan berjalan otomatis setiap bulan tanpa pergumulan teologis apa pun. Kebebasan yang benar tidak pernah membuat tangan kita menyempit.
Uang menyentuh semua yang lain: rasa aman Anda, mimpi Anda tentang masa depan anak, harga diri Anda di mata rekan kerja, ketakutan Anda menjadi tua tanpa tabungan. Justru di titik itulah Allah mengundang Anda untuk memercayai Dia, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan angka yang Anda lepaskan lebih dahulu.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sebenarnya cepat mengerti tema ini, karena mereka sudah tahu rasanya sulit membagi camilan. Cara paling sederhana adalah dengan gambar sepuluh butir kelereng atau sepuluh potong biskuit. Semua ini pemberian dari Allah, dan satu bagian kita berikan kembali kepada-Nya untuk mengatakan terima kasih dan untuk membantu pekerjaan-Nya. Bukan karena Allah kekurangan, melainkan karena hati kita perlu belajar bahwa Ia yang paling penting.
Ceritanya bisa dimulai dari Abram yang pulang dari perang dan memberi sepersepuluh kepada Melkisedek dalam Kejadian 14:20. Anak-anak suka cerita ini karena ada raja, ada roti dan anggur, ada kemenangan. Tekankan bahwa Abram memberi karena Allah sudah menolongnya lebih dahulu. Lalu tunjukkan janda dalam Lukas 21 yang memberi dua peser, uang paling kecil, dan justru dipuji Yesus. Dari dua cerita itu anak-anak belajar dua hal sekaligus: memberi adalah ucapan syukur, dan nilainya tidak diukur dari besar kecilnya jumlah.
Sangat membantu bila anak diberi kesempatan berlatih, misalnya dengan tiga wadah untuk memberi, menabung, dan memakai. Biarkan mereka sendiri yang memasukkan uangnya ke persembahan, supaya sukacita itu menjadi ingatan tubuh, bukan hanya teori.
Untuk penjelasan yang lebih terarah sesuai usia, tersedia versi khusus untuk anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun, untuk anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun, dan untuk remaja dua belas tahun ke atas, dengan bahasa, contoh, dan pertanyaan diskusi yang disesuaikan dengan tahap mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti persepuluhan menurut Alkitab?
Persepuluhan berarti sepersepuluh atau sepuluh persen dari hasil dan penghasilan yang dikembalikan kepada Allah sebagai tanda bahwa Dialah pemilik segalanya. Imamat 27:30 menyebut bagian itu "milik TUHAN" dan "persembahan kudus bagi TUHAN". Dalam Israel, persepuluhan menopang orang Lewi yang tidak memiliki tanah, dipakai untuk perjamuan syukur di hadapan Tuhan, dan menolong orang miskin, yatim, serta pendatang. Jadi persepuluhan bukan sekadar angka administratif, melainkan tindakan ibadah yang punya akibat sosial yang sangat nyata.
Apakah persepuluhan masih berlaku bagi orang Kristen sekarang?
Perjanjian Baru tidak pernah mengulangi persepuluhan sebagai peraturan hukum bagi jemaat, tetapi juga tidak pernah menurunkan standar kemurahan. Sebaliknya, Paulus mengajarkan pemberian yang teratur, proporsional, rela, dan penuh sukacita, seperti dalam 2 Korintus 9:7. Karena itu banyak orang percaya memakai sepuluh persen sebagai titik tolak yang sehat, bukan sebagai kewajiban hukum yang menentukan keselamatan. Prinsip yang tetap berlaku adalah bahwa seluruh hidup dan seluruh harta kita adalah milik Allah, dan pemberian kita adalah pengakuan atas hal itu.
Apakah Maleakhi 3:10 berlaku untuk kita hari ini?
Maleakhi 3:10 berbicara kepada Israel pascapembuangan yang mengabaikan rumah Allah, dengan janji berkat berupa hujan dan panen di tanah perjanjian. Prinsip di dalamnya tetap benar: Allah tidak pernah kalah murah hati dan sungguh memelihara umat yang memercayai Dia. Namun ayat itu bukan jaminan keuntungan finansial berlipat bagi setiap orang yang mentransfer sepuluh persen. Membacanya sebagai rumus investasi berarti mengubah Bapa yang murah hati menjadi mesin, dan mengubah penyembahan menjadi transaksi.
Apakah saya kena kutuk kalau tidak memberi persepuluhan?
Tidak, dan sangat penting mendengar ini dengan jelas. Bahasa kutuk dalam Maleakhi terkait dengan perjanjian Sinai yang memuat berkat dan kutuk bagi bangsa Israel. Bagi orang percaya, Kristus sudah menanggung kutuk itu di kayu salib, dan tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Dia. Memberi karena takut dikutuk hanya menghasilkan ibadah yang tegang dan hati yang curiga terhadap Allah. Kelalaian memberi memang tanda hati yang perlu dipulihkan, tetapi obatnya adalah kasih karunia, bukan ancaman.
Persepuluhan dihitung dari penghasilan kotor atau bersih?
Alkitab tidak memberi rumus perpajakan modern, sebab persepuluhan Israel dihitung dari hasil ladang dan ternak. Prinsip Amsal 3:9 tentang memuliakan Tuhan dengan hasil pertama mengarahkan kita untuk menghitung dari penghasilan yang sungguh kita terima sebagai berkat, bukan dari sisa setelah semua keinginan terpenuhi. Banyak orang memilih menghitung dari penghasilan bruto sebagai bentuk kepercayaan; yang lain menghitung dari penghasilan bersih karena pertimbangan praktis. Yang lebih penting daripada rumusnya adalah konsistensi, kejujuran, dan hati yang rela.
Apakah persepuluhan harus diberikan hanya ke gereja lokal?
Pola Alkitab menekankan tempat penyimpanan yang terpusat, yaitu rumah perbendaharaan, agar pelayanan berjalan dan pelayan Tuhan terpelihara. Karena itu wajar dan bijak bila bagian utama pemberian Anda mengalir melalui gereja lokal tempat Anda dibina dan bertanggung jawab. Namun Ulangan 14 dan seluruh kesaksian Perjanjian Baru juga menunjukkan bahwa kemurahan menjangkau orang miskin, pendatang, dan pekerjaan misi. Memberi kepada gereja lokal dan menolong orang yang berkekurangan bukan dua pilihan yang saling meniadakan.
Apa bedanya persepuluhan dengan persembahan dan derma?
Persepuluhan adalah bagian yang ditakar, sepersepuluh, dan dalam Israel fungsinya sudah ditetapkan untuk pelayanan dan orang yang lemah. Persembahan atau derma adalah pemberian di luar takaran itu, yang lahir dari dorongan hati pada situasi tertentu, misalnya bantuan bencana, pembangunan, atau menolong keluarga yang sakit. Maleakhi 3:8 menyebut keduanya bersama-sama, "persembahan persepuluhan dan persembahan khusus". Sederhananya, persepuluhan melatih kesetiaan yang teratur, sedangkan persembahan melatih kepekaan terhadap kebutuhan yang muncul di depan mata kita.
Bagaimana kalau saya sedang berutang atau penghasilan saya sangat kecil?
Mulailah dengan jujur dan realistis, bukan dengan rasa bersalah. Melunasi utang adalah bagian dari integritas Kristen, sebab kita berjanji membayar, dan janji itu perlu ditepati. Anda bisa menetapkan pemberian yang lebih kecil tetapi konsisten sambil menjalankan rencana pelunasan yang serius, lalu meningkatkannya seiring beban berkurang. Ingat janda dalam Lukas 21 yang memberi dua peser dan dipuji Yesus. Allah menilai kerelaan hati, bukan besar angkanya, dan Ia tidak menuntut apa yang tidak Anda punya.
Apakah Yesus pernah berbicara tentang persepuluhan?
Ya, tetapi selalu dalam konteks menegur kesalehan yang kosong. Dalam Matius 23:23 Ia menyebut orang Farisi yang membayar persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan, namun mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus menutup teguran itu dengan kalimat penting, "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan," sehingga jelas Ia tidak sedang menghapus persepuluhan mereka, melainkan menolak persepuluhan yang dipakai sebagai pengganti hati yang benar. Ketelitian tanpa belas kasihan tetap kegagalan rohani.
Benarkah Abraham memberi persepuluhan sebelum hukum Taurat ada?
Benar, dan itu salah satu kunci untuk memahami seluruh tema ini. Kejadian 14:20 mencatat bahwa setelah Melkisedek memberkati dia, "Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya." Tidak ada perintah, tidak ada ancaman, hanya respons syukur atas kemenangan yang Allah berikan. Ibrani 7 memakai peristiwa itu untuk menunjukkan bahwa keimaman Melkisedek lebih tinggi daripada keimaman Lewi, dan bahwa persepuluhan Abram sejak awal mengarah kepada Kristus. Jadi pemberian selalu merupakan jawaban atas kemurahan Allah yang datang lebih dahulu.
Apa arti Ibrani 7:8 tentang persepuluhan?
Ibrani 7:8 berkata, "Dan di sini yang memungut persepuluhan adalah orang-orang yang mati, sedangkan di sana Ia, yang tentang-Nya diberikan kesaksian, bahwa Ia hidup." Penulis membandingkan imam-imam Lewi yang menerima persepuluhan lalu meninggal, generasi demi generasi, dengan Melkisedek yang dalam Kitab Suci tidak dicatat kematiannya dan menjadi gambaran Imam yang hidup selamanya, yaitu Yesus Kristus. Maknanya bagi kita sangat menghibur: pemberian kita hari ini bukan disalurkan ke sistem yang akan berakhir, melainkan dipersembahkan kepada Imam Besar yang hidup dan kekal.
Bolehkah memberi lebih dari sepuluh persen?
Tentu, dan Perjanjian Baru justru bergerak ke arah itu. Jemaat di Makedonia memberi melampaui kemampuan mereka dengan sukacita, meskipun mereka sendiri miskin, dan jemaat pertama di Yerusalem berbagi sampai tidak ada yang berkekurangan. Sepuluh persen sebaiknya dipahami sebagai lantai yang melatih kesetiaan, bukan langit-langit yang membatasi kemurahan. Semakin besar penghasilan seseorang, semakin wajar pula pemberiannya bertumbuh secara proporsional, sambil tetap bertanggung jawab memelihara keluarga sendiri dan tidak memberi demi pujian orang.
Bagaimana jika saya dan pasangan berbeda pandangan soal persepuluhan?
Jangan menyelesaikannya dengan diam-diam memberi tanpa sepengetahuan pasangan, sebab kesatuan dalam pernikahan lebih berharga daripada angka yang sempurna. Duduklah bersama, bacalah nas seperti 2 Korintus 9:7 tentang kerelaan hati, dan bicarakan bukan hanya jumlahnya melainkan juga ketakutan yang ada di baliknya. Sering kali perbedaan ini bukan soal teologi, tetapi soal rasa aman. Mulailah dari angka yang bisa Anda sepakati bersama dengan sukacita, lalu tinjau kembali setiap beberapa bulan, sambil berdoa agar Allah menyatukan hati Anda.
Sebagai penutup
Persepuluhan tidak pernah dimaksudkan menjadi tarif yang menenangkan hati nurani. Sejak lembah tempat Abram bertemu Melkisedek, sepersepuluh selalu berbicara tentang seratus persen: pengakuan bahwa kemenangan bukan hasil pedang kita, bahwa panen bukan hasil kepandaian kita, bahwa gaji bulan ini bukan sekadar imbalan kerja keras kita. Taurat memberi bentuk pada pengakuan itu, para nabi memanggil umat kembali kepadanya, Yesus Kristus membongkar versi palsunya, dan Ibrani 7:8 menunjukkan ke mana semua ini bermuara, yaitu kepada Imam yang hidup dan tidak pernah mati.
Maka pertanyaan yang perlu Anda bawa dalam doa mungkin bukan "berapa minimum yang harus saya berikan supaya aman", melainkan "apa yang masih saya genggam seolah itu milik saya sendiri". Ambil waktu membaca Kejadian 14, Ulangan 14, Maleakhi 3, dan 2 Korintus 8 sampai 9 secara berurutan; Anda akan melihat satu kisah yang utuh. Lalu tetapkan angka Anda dengan tenang, berikan lebih dahulu, dan perhatikan apa yang terjadi pada hati Anda selama satu tahun.