1 YOHANES 2:3
Teks Itu Sendiri
Yohanes baru saja berbicara tentang Yesus sebagai Pembela di hadapan Bapa dan kurban pendamaian bagi dosa seluruh dunia. Lalu ia menyambung: "Demikianlah kita tahu bahwa kita mengenal Allah, yaitu jika kita menaati perintah-perintah-Nya." Jadi ada cara untuk mengetahui, bukan sekadar berharap, apakah relasi kita dengan Allah nyata atau hanya klaim di bibir. Tandanya bukan pengalaman rohani yang hebat, bukan pengetahuan yang dalam, melainkan ketaatan yang sederhana dan konkret pada apa yang Ia perintahkan.
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situ letak seluruh bobot ayat ini. Yohanes tidak berkata: taatilah perintah-Nya supaya kamu mengenal Allah. Ia berkata: ketaatanmu memperlihatkan bahwa kamu sudah mengenal Dia. Ayat 1 dan 2 mendahului ayat 3 bukan secara kebetulan; darah pendamaian lebih dulu, baru bukti kehidupan. Kata Yunani untuk "mengenal" di sini berbentuk perfek, egnōkamen, artinya: kita telah dibawa masuk ke dalam pengenalan itu dan masih berdiri di dalamnya. Bukan prestasi yang sedang kita kumpulkan, melainkan keadaan yang sudah diberikan. Ketaatan adalah denyut nadi, bukan jantungnya. Namun jangan buru-buru melunakkan: Yohanes tetap berkata bahwa tanpa denyut itu, klaim mengenal Allah adalah kebohongan (ayat 4).
Benang Merah
"Mengenal Allah" bukan istilah baru yang diciptakan Yohanes. Sepanjang Perjanjian Lama, itu adalah bahasa perjanjian: Israel mengenal TUHAN karena TUHAN lebih dulu memilih dan menyelamatkan mereka dari Mesir, lalu memberi hukum sebagai bentuk hidup umat yang telah ditebus. Masalahnya, Israel terus-menerus mengaku mengenal Allah sambil hidup seolah tidak. Karena itu nabi Yeremia menjanjikan perjanjian baru, ketika hukum ditulis di dalam hati dan semua orang, dari yang kecil sampai yang besar, akan sungguh mengenal Allah. Ayat 3 ini adalah janji itu yang sudah mulai terwujud. Dan yang membuatnya terwujud bukan usaha manusia yang lebih keras, melainkan Kristus yang disebut Yohanes sebagai "kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita." Ketaatan orang percaya adalah gema dari pendamaian itu, bukan syarat untuk memperolehnya.
Cermin
Ayat ini melucuti dua kelompok sekaligus, dan kemungkinan besar Anda berada di salah satunya. Yang pertama: orang yang merasa aman karena tahu banyak. Anda memimpin kelompok kecil, hafal alur Kitab Suci, bisa menjelaskan doktrin pembenaran dengan rapi, tetapi karyawan Anda tahu bahwa Anda tidak jujur soal angka, dan pasangan Anda tahu bahwa perkataan lembut Anda berhenti di depan pintu rumah. Yohanes berkata dingin: itu bukan pengenalan. Yang kedua: orang yang gemetar karena merasa ketaatannya terlalu rapuh untuk dijadikan bukti apa pun. Kepada Anda, urutan ayat 1 sampai 3 berbicara. Yohanes menulis "supaya kamu jangan berbuat dosa," lalu langsung menyediakan Pembela bagi yang jatuh. Ukurannya bukan kesempurnaan, melainkan arah: ke mana hidup Anda condong ketika tidak ada yang melihat.
Profil Pembaca
Jemaat yang menerima surat ini baru saja mengalami perpecahan yang menyakitkan. Sebagian orang keluar dari persekutuan (ayat 19) sambil mengaku memiliki pengenalan rohani yang lebih tinggi. Mereka berbicara tentang mengenal Allah dengan nada orang dalam, sambil meremehkan tubuh, sejarah, dan tuntutan moral sehari-hari. Bagi mereka, keselamatan adalah soal pencerahan, bukan soal bagaimana Anda memperlakukan saudara seiman yang miskin di rumah sebelah. Yang tertinggal di jemaat merasa kecil dan ragu: mungkin kami memang tidak mengenal Allah seperti mereka. Ke dalam keraguan itulah Yohanes menulis. Ia tidak menawarkan pengalaman yang lebih spektakuler; ia menawarkan ukuran yang bisa diperiksa dan direndahkan hati oleh siapa saja: apakah kamu menaati perintah-Nya?
Gema Kitab Suci
Kalimat Yohanes hampir merupakan kutipan dari gurunya. Dalam Injil Yohanes, malam sebelum penyaliban, Yesus mengikat kasih dan ketaatan menjadi satu simpul: siapa yang mengasihi Dia akan memegang perintah-Nya. Yohanes hanya memindahkan simpul itu dari mulut Yesus ke dalam surat pastoral. Sisi lainnya terdengar dalam janji Yeremia tentang perjanjian baru, ketika hukum tidak lagi berupa lempeng batu di luar diri melainkan tulisan di dalam hati, sehingga mengenal Allah dan menaati Allah berhenti menjadi dua hal terpisah. Kedua teks itu menjelaskan mengapa Yohanes begitu percaya diri: ia tidak sedang menuntut sesuatu dari manusia lama, ia sedang menggambarkan apa yang Roh Kudus kerjakan dalam manusia yang telah ditebus.
Sang Tokoh Utama
Tokoh yang berdiri di belakang ayat ini adalah Kristus dalam dua peran sekaligus, dan keduanya perlu dipegang bersama. Ia adalah Pembela yang berdiri di hadapan Bapa ketika kita gagal, dan Ia adalah Tuan yang perintah-Nya kita taati. Hapus yang pertama, dan ayat 3 berubah menjadi neraca yang menghancurkan; hapus yang kedua, dan iman menjadi omong kosong yang sopan. Yohanes menyebut Dia "Yang Benar itu," dan itu bukan hiasan. Justru karena Ia benar, pembelaan-Nya sah di hadapan Bapa, dan justru karena Ia benar, kebenaran itu mulai bekerja di dalam mereka yang mengenal-Nya. Allah tidak pernah mengampuni tanpa mengubah. Pengampunan-Nya bukan kertas bebas hukuman, melainkan pintu masuk ke dalam pengenalan yang menata ulang seluruh hidup.
Refleksi
Jika seseorang yang paling dekat dengan Anda harus menilai apakah Anda mengenal Allah berdasarkan ketaatan Anda, bukan perkataan Anda, apa yang akan ia katakan?
Ketaatan mana yang selama ini Anda tunda karena diam-diam Anda anggap bukan bagian penting dari mengenal Allah?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 John 2:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 YOHANES 2:3?
Tentang apakah 1 YOHANES 2:3?
Apa konteks historis dari 1 YOHANES 2:3?
Apa yang 1 YOHANES 2:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 YOHANES 2:3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 John 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak hanya menyuruhku hidup benar, tetapi lebih dahulu menunjukkannya dalam Yesus. Aku bersyukur punya teladan nyata untuk kuikuti: cara Dia bersabar, melayani, dan mengampuni. Terima kasih karena aku boleh tinggal di dalam Dia dan belajar berjalan seperti Dia berjalan.
Jangan mengasihi dunia ataupun apa yang ada di dalam dunia," tulis Yohanes. Ia tidak melarangmu menikmati hidup. Ia menjaga hatimu, sebab hati hanya punya satu arah. Perhatikan apa yang pertama kali kaucari saat bangun pagi, apa yang membuatmu gelisah saat kehilangan. Di situ kasihmu sedang tinggal.
Ada nama yang dulu duduk di sebelahmu, dan sekarang kursinya kosong. Yohanes tidak memaniskannya: "Mereka keluar dari antara kita, tetapi mereka bukan dari golongan kita." Kepergian itu tidak membatalkan imanmu, hanya menyingkapkan hati mereka. Jadi berhentilah menghitung siapa yang pergi. Tanyakan yang lebih jujur: apa sebenarnya yang membuatku tinggal?
Yohanes baru saja berkata: biarlah yang kamu dengar sejak awal tetap tinggal di dalam kamu. Lalu ia menambahkan, "Dan, inilah janji yang Ia janjikan kepada kita, yaitu hidup yang kekal." Jadi hidup kekal bukan hadiah untuk orang yang menemukan ajaran baru, melainkan untuk yang bertahan pada yang lama. Apa yang paling awal kamu dengar tentang Yesus, masih tinggal di situ?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi