YEREMIA 29:5
Teks
Allah menyuruh para buangan melakukan hal yang paling tidak masuk akal di tanah musuh: "Bangunlah rumah-rumah dan tinggallah di dalamnya, dan tanamilah kebun-kebun dan makanlah hasilnya." Bukan berkemas, bukan menunggu di pelabuhan, bukan berjaga-jaga dengan koper terbuka. Tanamlah kebun, di Babel, kota yang membakar Bait Suci mereka, dan makanlah buahnya bertahun-tahun kemudian.
Inti
Kata Ibrani yang dipakai untuk "tinggallah" adalah yashab, kata yang di seluruh Taurat dipakai untuk menetap di Tanah Perjanjian, mendiami warisan yang Tuhan berikan. Sekarang kata itu diucapkan tentang Babel. Ini bukan kompromi teologis; ini pernyataan tentang siapa Allah. Kalau Tuhan sanggup memerintahkan kehidupan yang tertata, berakar, dan berbuah di tengah hukuman-Nya sendiri, maka penghukuman itu tidak pernah menjadi ruang kosong yang ditinggalkan Allah. Ayat 4 sudah mengatakannya dengan tajam: "semua orang buangan yang telah Aku kirim ke pembuangan." Bukan Nebukadnezar yang menentukan alamat mereka, tetapi Tuhan. Dan Allah yang mengirim adalah Allah yang sama yang memberi izin untuk menanam. Di situlah anugerah dan penghakiman bertemu tanpa saling membatalkan: penghakiman itu nyata, dan di dalamnya Allah tetap memelihara.
Benang Merah
Perhatikan gaung penciptaan dalam perintah ini. Bangun, tanam, makan, dan di ayat berikutnya: "bertambah banyaklah di sana dan jangan berkurang." Itu bahasa Kejadian 1, mandat manusia atas bumi yang Allah sebut baik. Tuhan tidak mencabut panggilan penciptaan dari umat-Nya ketika mereka kehilangan tanah, bait, dan raja. Justru di reruntuhan, mandat itu diulang. Dan inilah pola yang kemudian mencapai puncaknya dalam Kristus: Allah menyelamatkan bukan dengan menarik umat-Nya keluar dari dunia yang rusak, tetapi dengan masuk ke dalamnya. Anak Allah lahir di bawah kekuasaan asing, bekerja dengan kayu, makan bersama orang berdosa, dan justru di tanah pembuangan sejarah manusia Ia mendirikan Kerajaan. Kebun di Babel adalah nubuat dalam bentuk sekop dan bibit: Allah membangun masa depan di tempat yang tampak tanpa masa depan.
Cermin
Kita lebih suka teologi evakuasi. Kalau pekerjaan terasa menekan, kalau lingkungan tidak lagi ramah pada iman, kalau tubuh melemah dan rencana hidup kandas, doa kita hampir selalu: keluarkan aku dari sini. Dan Tuhan menjawab: tanamlah kebun. Artinya, kerjakan yang di depanmu dengan serius, meski situasinya bukan pilihanmu. Perbaiki rumah yang bukan rumah idealmu. Didik anak-anakmu di sekolah yang tidak sempurna. Bangun persahabatan di kota yang mungkin kau tinggalkan lima tahun lagi. Menanam kebun adalah tindakan iman yang paling tidak romantis: kau menaruh sesuatu ke tanah yang buahnya belum kau lihat. Nabi-nabi palsu di ayat 8 dan 9 menjual sesuatu yang lebih enak, pemulihan cepat, dan Tuhan menyebutnya dusta. Kesabaran adalah bentuk kepercayaan yang paling sulit dan paling dewasa.
Kaitan dengan Nas Lain
Dalam Ulangan 28, salah satu kutuk yang paling menyayat adalah ini: engkau akan membangun rumah tetapi tidak mendiaminya, menanam kebun tetapi tidak memakan hasilnya. Kutuk itu sudah jatuh; Yerusalem hancur, kebun-kebun ditinggalkan. Lalu di Babel, Tuhan justru mengucapkan kebalikan dari kutuk itu. Bukan pembatalan penghakiman, sebab pembuangan tetap berlangsung tujuh puluh tahun, melainkan tanda bahwa kasih setia-Nya lebih dalam daripada murka-Nya. Dan dengan Kejadian 1:28, "bertambah banyaklah," Yeremia menempatkan orang-orang buangan kembali di dalam maksud Allah yang paling awal atas manusia. Umat yang kehilangan segalanya diberi kembali pekerjaan pertama manusia: mengelola, menumbuhkan, hidup.
Para Pendengar Pertama
Bayangkan mereka: pengrajin dan tukang besi yang diangkut Nebukadnezar (ayat 2), orang-orang terampil yang sengaja dipindahkan untuk memperkuat ekonomi Babel. Mereka duduk di kanal-kanal Mesopotamia sambil menghitung hari, karena nabi-nabi di tengah mereka menjanjikan pulang cepat. Surat Yeremia datang dan menghancurkan harapan pendek itu. Bagi mereka, "bangunlah rumah" berarti: kau akan mati di sini, dan cucumu yang akan pulang. Itu kabar yang keras. Tetapi ada juga yang melegakan: ibadah mereka tidak batal karena Bait Suci jauh. Allah Israel ternyata bukan dewa lokal yang kekuasaannya berhenti di perbatasan Yehuda. Ia berbicara di Babel, dan Ia menyebut Babel sebagai tempat Ia mengirim mereka. Tuhan semesta alam, bukan Tuhan satu wilayah.
Pertanyaan yang Tersisa
Bagaimana kita menerima bahwa Allah sendiri yang mengirim umat-Nya ke tempat penderitaan itu? Teks ini tidak melembutkannya sedikit pun. Bukan "Aku mengizinkan", tetapi "Aku telah mengirimmu". Dan pada ayat 17 penghakiman atas mereka yang tinggal di Yerusalem digambarkan tanpa belas kasihan, pedang, kelaparan, penyakit sampar. Kita ingin Allah yang hanya menyelamatkan, bukan yang juga membuang. Yeremia tidak memberi kita jalan keluar itu. Yang ia berikan hanya ini: tangan yang membuang adalah tangan yang sama yang memerintahkan menanam, dan yang kelak berkata "Aku akan mengunjungimu" (ayat 10). Kita tidak diberi penjelasan yang memuaskan tentang bagaimana keduanya menyatu dalam hati Allah. Kita diberi perintah untuk hidup, dan sebuah janji, dan itu harus cukup untuk hari ini.
Refleksi
Kebun apa yang seharusnya kau tanam sekarang, tetapi tidak kau tanam karena kau berharap segera pindah, sembuh, atau lepas dari keadaanmu?
Di mana kau lebih memercayai janji pemulihan cepat daripada kesetiaan Allah yang bekerja lintas generasi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 29:5
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 29:5?
Tentang apakah YEREMIA 29:5?
Apa konteks historis dari YEREMIA 29:5?
Apa yang YEREMIA 29:5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 29:5 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Jeremiah 29?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi