KISAH PARA RASUL 17:28
Teks
Di tengah Areopagus, dikelilingi patung-patung yang dibuat oleh tangan terampil orang Atena, Paulus menyebut satu kalimat yang menggeser seluruh peta: "Sebab, di dalam Dia, kita hidup, bergerak, dan ada." Bukan Allah yang ada di dalam kuil, melainkan manusia yang ada di dalam Allah. Lalu, alih-alih mengutip Musa atau para nabi kepada pendengar yang tak mengenal keduanya, Paulus memakai baris dari penyair mereka sendiri: "Karena kita ini juga adalah keturunan-Nya." Ia berdiri di atas tanah mereka, memakai kata-kata mereka, dan menunjukkan bahwa apa yang selama ini mereka gumamkan tanpa tahu kepada siapa, sesungguhnya berbicara tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang, menurut ayat sebelumnya, "tidak jauh dari kita masing-masing."
Inti
Perhatikan urutan tiga kata itu: hidup, bergerak, ada. Paulus tidak berkata bahwa Allah memberi kita hidup lalu melepaskan kita, seperti pemilik toko yang menyerahkan barang dan menutup pintu. Kata kecil "di dalam" menempatkan seluruh keberadaan kita di dalam wilayah Allah; kita tidak berdiri berhadapan dengan Dia sebagai dua pihak yang setara, kita ada karena ditopang. Napas yang baru saja Anda tarik sambil membaca ini bukan milik Anda; ayat 25 sudah mengatakannya, Dialah "yang memberi kepada siapa saja kehidupan, dan napas, dan segala sesuatunya." Inilah yang membedakan Allah dari berhala: berhala perlu dilayani, diangkat, dibersihkan, dijaga agar tidak jatuh. Allah yang sejati tidak membutuhkan apa pun dari kita, dan justru karena itu Ia bisa memberi segalanya. Ketergantungan kita total; kemurahan-Nya pun total.
Benang Merah
Kalimat "di dalam Dia, kita hidup, bergerak, dan ada" adalah kalimat penciptaan. Ia bergema mundur ke Kejadian 2, ke saat Allah meniupkan napas ke dalam hidung manusia dari tanah: sejak awal, hidup manusia bukan milik sendiri, melainkan pinjaman yang terus-menerus diperbarui. Tetapi Paulus tidak berhenti di penciptaan. Ia menutup khotbah ini dengan menunjuk pada "satu Orang yang telah ditentukan-Nya," yang dibangkitkan dari antara orang mati. Inilah tikungan yang membuat kalimat filosofis itu menjadi Injil: Allah yang di dalam-Nya kita ada, memilih untuk masuk ke dalam ciptaan-Nya sendiri, mengambil napas manusia, dan kehilangan napas itu di kayu salib. Yang menopang segala sesuatu membiarkan diri-Nya tidak ditopang. Kedekatan yang diraba-raba orang Atena ternyata punya wajah, nama, dan bekas luka.
Cermin
Jujur saja: sebagian besar hari Anda dijalani seolah-olah Anda adalah sumber daya Anda sendiri. Anda menghitung tabungan supaya ada bantalan kalau semuanya runtuh. Anda bekerja keras sebagian karena panggilan, sebagian karena takut menjadi tidak penting. Anda memeriksa hasil laboratorium, memantau anak yang mulai menjauh, menyusun rencana cadangan untuk rencana cadangan. Semua itu tidak salah. Yang salah adalah keyakinan diam-diam di baliknya, bahwa hidup Anda berdiri di atas kompetensi Anda. Ayat ini mencabut lantai itu dengan lembut namun tuntas. Anda tidak menopang diri sendiri satu detik pun. Itu menakutkan bagi orang yang ingin memegang kendali, dan melegakan bagi orang yang sudah kehabisan tenaga memegangnya. Berhentilah sekarang, letakkan tangan di dada, hitung sepuluh tarikan napas, dan pada setiap embusan ucapkan dengan suara terdengar: "Napas ini bukan milikku."
Pertanyaan
Kalau kita benar-benar hidup di dalam Dia dan Dia "tidak jauh dari kita masing-masing," mengapa Allah begitu sering terasa absen? Ayat sebelumnya memakai gambaran yang mengganggu: manusia mencari, meraba, seolah berjalan dalam gelap sambil menyentuh dinding. Paulus bahkan menambahkan syarat yang getir, "jika memang mungkin." Jadi di sini ada dua kebenaran yang tidak saling membatalkan: secara keberadaan kita tenggelam di dalam Allah, secara pengenalan kita bisa meraba bertahun-tahun tanpa menemukan. Teks ini tidak menjelaskan jurang itu. Ia hanya menunjukkan bahwa jurang itu tidak diatasi oleh usaha meraba kita, melainkan oleh Allah yang akhirnya berhenti bersembunyi dan "memberitahukan semua orang di mana-mana." Kedekatan-Nya nyata sebelum Anda merasakannya. Itu bukan penghiburan murah; itu penghiburan yang harus dipercayai justru ketika tidak terasa.
Intertekstual
Penerjemah AYT menautkan ayat ini ke Ayub 12:10, dan tautan itu tepat. Ayub mengucapkan bahwa nyawa segala yang hidup dan napas setiap manusia ada di tangan Allah, dan ia mengucapkannya bukan di ruang kuliah melainkan di atas tumpukan abu, setelah kehilangan segalanya. Artinya, kalimat Paulus bukan optimisme orang yang hidupnya lancar. Ketergantungan total tetap benar ketika yang ditopang sedang hancur. Bandingkan juga dengan reaksi di ayat 32: begitu Paulus menyebut kebangkitan, sebagian mulai mengejek. Selama pembicaraan berhenti pada "kita semua ada di dalam Yang Ilahi," semua orang setuju; itu terdengar luhur dan tidak menuntut apa-apa. Yang memecah belah bukan mistik, melainkan kubur yang kosong.
Tokoh Utama
Paulus di Atena adalah orang yang marah dan mengasihi sekaligus. Ayat 16 mengatakan rohnya "merasa disusahkan" melihat kota penuh berhala; kata itu menggambarkan kegelisahan yang menyakitkan, bukan rasa jijik yang dingin. Lalu lihat apa yang ia lakukan dengan kemarahan itu: ia tidak merobohkan patung, tidak mengutuk kota, tidak menulis traktat tentang kebejatan Atena. Ia berjalan berkeliling, membaca tulisan di altar mereka, menghafal baris penyair mereka, dan berdiri di Areopagus dengan mengatakan, "kamu sangat religius." Ia mencari titik di mana kerinduan mereka sudah benar meski alamatnya keliru. Itulah cara orang yang sungguh percaya bahwa Allah tidak jauh dari siapa pun: ia menganggap lawan bicaranya sudah lebih dulu berada di dalam genggaman Allah, dan mulai bicara dari sana.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda paling keras berusaha menjadi penopang bagi diri sendiri, dan apa yang sebenarnya Anda takutkan di baliknya?
Siapa orang di sekitar Anda yang "religius" dengan cara yang keliru, dan apa baris kerinduannya yang bisa Anda dengarkan dulu sebelum Anda mengoreksinya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 17:28
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 17:28?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 17:28?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 17:28?
Apa yang KISAH PARA RASUL 17:28 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 17:28 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus tidak memaksa siapa pun percaya. Ia membuka Kitab Suci, menjelaskan, membuktikan bahwa "Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." Kata "harus" itulah yang mengganggu. Mesias yang menderita tidak masuk hitungan siapa pun waktu itu. Tapi justru di sanalah Allah menyelamatkan. Yang kau sebut kekalahan hari ini, mungkin di situ Dia sedang bekerja.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi