EFESUS 4:28
Teks
Paulus menulis kalimat yang terdengar hampir terlalu sederhana: orang yang dulu mencuri, jangan mencuri lagi. Tetapi ia tidak berhenti di situ, dan justru di situlah kalimat ini menjadi ganjil. Berhenti mencuri saja belum cukup; tangan yang dulu mengambil sekarang harus bekerja keras, melakukan pekerjaan yang baik, sampai tangan itu punya sesuatu untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Jadi perjalanan yang digambarkan bukan dari mencuri menuju kejujuran, melainkan dari mencuri menuju kemurahan hati. Dari tangan yang menggenggam, lewat tangan yang bekerja, menjadi tangan yang terbuka. Ada tiga tahap di sini, dan kebanyakan dari kita berhenti dengan puas di tahap kedua, lalu menyebutnya hidup yang benar.
Inti
Perhatikan bahwa Paulus tidak mengancam pencuri dengan hukuman dan tidak memerintahkannya membayar ganti rugi. Ia mengarahkan orang itu ke masa depan, bukan ke masa lalu, dan masa depan itu berbentuk orang lain. Inilah cara kerja anugerah dalam surat ini: manusia lama dibuang, manusia baru dikenakan (ayat 22 dan 24), dan manusia baru itu ternyata dikenali bukan terutama dari apa yang tidak lagi ia lakukan, melainkan dari untuk siapa ia sekarang hidup. Dosa dalam pandangan Paulus selalu punya arah: mengambil dari sesama. Maka pemulihan pun punya arah: memberi kepada sesama. Allah tidak sekadar menghentikan aliran yang salah; Ia membalikkannya. Dan pertanyaan yang tinggal menggantung, yang tidak dijawab teks ini, adalah pertanyaan yang paling mengganggu: kalau tangan saya sudah bersih tetapi masih tertutup, apakah saya sungguh sudah menjadi manusia baru?
Benang Merah
Perintah "jangan mencuri" adalah salah satu dari sepuluh kata di Sinai, dan selama berabad-abad ia berfungsi sebagai pagar: sampai di sini, jangan lewat. Paulus memindahkan pagar itu menjadi jalan. Ia menulisnya dari penjara, sebagai orang yang, menurut ayat 1, "dipenjarakan karena Tuhan", dan seluruh pasal ini bergerak dari satu kesatuan yang diberikan Allah menuju bentuk-bentuk konkret yang kelihatan dengan mata. Itu pola yang sama dengan seluruh kisah keselamatan: Allah tidak pernah puas dengan pengekangan, Ia mengincar pemulihan. Israel dibebaskan dari Mesir bukan supaya berhenti menjadi budak, melainkan supaya menjadi umat yang memelihara orang asing, janda dan yatim. Dan Kristus, kata ayat 10, turun lebih dulu sebelum naik "supaya Ia memenuhi segala sesuatu". Tangan yang terbuka adalah gema kecil dari gerakan itu.
Cermin
Anda mungkin tidak pernah mencuri dalam arti hukum. Tetapi coba diamkan diri sejenak dengan pertanyaan ini: dari mana datangnya yang ada di tangan Anda, dan ke mana ia mengalir? Ada cara mengambil yang tak pernah masuk berita: jam kerja yang dihitung penuh padahal separuh dipakai untuk hal lain, pengakuan yang diam-diam Anda terima atas kerja orang lain, waktu yang dicuri dari anak-anak karena pekerjaan terasa lebih penting, tenaga yang habis untuk mengamankan diri sendiri sampai tidak ada sisa untuk siapa pun. Paulus tidak menuntut Anda merasa bersalah; ia menuntut arah baru. Bukan "kurangi pengeluaran", melainkan "supaya ada sesuatu untuk dibagikan". Hari ini juga: pikirkan satu orang yang Anda tahu sedang kekurangan, lalu kirimkan sesuatu yang nyata kepadanya, uang, makanan, atau tawaran tenaga Anda, sebelum matahari terbenam.
Konteks
Efesus adalah kota pelabuhan yang ramai, penuh pekerja harian, budak, dan orang bebas yang hidup dari upah yang tak pasti. Mencuri di sana bukan selalu kejahatan besar; sering ia adalah cara bertahan hidup bagi orang yang tidak punya jaring pengaman apa pun. Kerja tangan sendiri, dalam dunia Yunani-Romawi, justru dipandang rendah, pantas bagi budak, bukan bagi orang terhormat. Maka kalimat Paulus menabrak dua arah sekaligus: kepada yang miskin ia berkata, hidupmu tidak boleh lagi ditopang oleh apa yang bukan milikmu; kepada seluruh jemaat ia berkata, pekerjaan tangan bukan aib, itulah tempat lahirnya kemurahan hati. Jemaat ini baru saja disebut satu tubuh, satu Roh, satu baptisan. Sekarang kesatuan itu diuji di dompet.
Detail
Kata yang gampang dilewati adalah "sesuatu". Bukan "banyak", bukan "kelebihan", bukan "sisa". Paulus tidak menetapkan jumlah, dan ia juga tidak menunggu sampai orang itu berkecukupan. Yang ia bayangkan adalah seorang mantan pencuri, orang yang baru saja belajar bekerja, yang penghasilannya nyaris tidak cukup untuk dirinya sendiri, dan tetap disebut sanggup memberi. Ada sesuatu yang hampir tidak masuk akal di sini, dan mungkin justru di situlah pintunya. Sebab kalau memberi hanya boleh dimulai setelah aman, ia tidak akan pernah dimulai; selalu ada satu tingkat keamanan lagi yang belum tercapai. Paulus memotong lingkaran itu dengan kata yang sengaja tak terukur. Berapa banyak? Sesuatu. Mulailah dari sana, dan lihat apa yang terjadi pada hatimu.
Tokoh Utama
Yang berdiri di pusat ayat ini bukan pencuri, melainkan Allah yang menolak menutup buku tentang seseorang. Perhatikan bahwa Paulus menyebut orang itu dengan masa lalunya, "orang yang telah mencuri", dan tetap mempercayakan kepadanya peran sebagai pemberi. Allah tidak menempatkannya di kursi belakang jemaat sebagai penerima belas kasihan seumur hidup. Ia menaruhnya di posisi yang bermartabat: kau akan menjadi orang yang darinya orang lain hidup. Itu bukan sekadar pengampunan, itu pemulihan panggilan. Pasal ini ditutup dengan kalimat bahwa kita saling mengampuni "sebagaimana Allah dalam Kristus juga mengampuni kamu". Pengampunan Allah rupanya tidak berhenti pada penghapusan catatan; ia mengembalikan orang ke dalam kemampuan untuk berbuat baik. Sulit membayangkan kemurahan yang lebih dalam dari itu.
Intertekstualitas
Zakheus di Yerikho berdiri sendirian di rumahnya dan berjanji mengembalikan empat kali lipat serta membagikan setengah hartanya kepada orang miskin, dan Yesus menyebut hari itu hari keselamatan. Tidak ada khotbah, tidak ada daftar syarat; ada tangan yang tiba-tiba terbuka setelah bertahun-tahun mengeruk. Bandingkan juga dengan ayat sebelumnya di pasal ini, ayat 25, yang melarang kepalsuan dan memerintahkan berkata benar "karena kita sama-sama anggota dari satu tubuh". Alasannya sama persis di ayat 28, meski tidak diucapkan: Anda tidak bisa mencuri dari tubuh Anda sendiri, dan Anda tidak bisa membiarkan bagian tubuh yang lain kelaparan sementara tangan Anda kenyang. Etika Paulus selalu bertumpu pada anatomi, bukan pada aturan.
Profil
Bayangkan surat ini dibacakan keras-keras di sebuah rumah, dan di antara yang duduk di lantai ada orang yang semua tetangga tahu pernah mengambil barang orang. Ia menunggu kalimat penghakiman yang biasa. Yang ia dengar justru: kau akan punya sesuatu untuk dibagikan. Bagi telinga jemaat itu, ini adalah pembalikan status sosial yang cukup keras. Orang yang dianggap beban akan menjadi sumber. Dan bagi anggota yang lebih mapan, yang mungkin diam-diam mengawasi si mantan pencuri, kalimat ini juga menusuk: kalau dia dituntut memberi dari kekurangannya, apa alasanmu? Mereka mendengar sesuatu yang sering luput dari kita: ayat ini bukan nasihat pribadi tentang moral kerja, melainkan aturan main sebuah komunitas yang baru.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang tangannya tidak bisa bekerja? Yang sakit, yang menua, yang dipecat, yang mencari kerja bertahun-tahun tanpa hasil? Ayat ini, kalau dibaca dengan ceroboh, bisa menjadi cambuk di punggung orang yang sudah tersungkur, dan sejarah gereja penuh dengan pembacaan semacam itu. Saya tidak mau menghaluskannya: Paulus memang menempatkan kerja sebagai jalan normal menuju kemurahan hati, dan ia tidak menambahkan pengecualian. Tetapi ia menulis kepada satu tubuh, bukan kepada individu-individu terpisah, dan dalam tubuh itu tangan yang lumpuh tetap tangan. Barangkali yang tersisa adalah pertanyaan yang harus kita bawa dalam diam: apa yang saya miliki, sekecil apa pun, yang sebenarnya bisa mengalir keluar hari ini? Jawabannya jarang datang cepat, dan mungkin memang tidak boleh datang cepat.
Refleksi
Kalau seseorang mengamati aliran uang, waktu dan tenaga saya selama sebulan terakhir, ke arah mana ia akan berkata hidup saya sedang bergerak?
Di mana saya berhenti puas di tahap kedua, merasa cukup karena tidak melakukan yang jahat, tanpa pernah sampai pada tangan yang terbuka?
Siapa orang yang Allah tempatkan dekat dengan saya justru supaya saya punya alasan untuk bekerja?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 4:28
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 4:28?
Tentang apakah EFESUS 4:28?
Apa konteks historis dari EFESUS 4:28?
Apa yang EFESUS 4:28 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 4:28 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak melewatkan aku. Setiap orang Kaupercayakan bagian sesuai ukuran pemberian Kristus, dan aku pun punya bagian itu. Ampuni aku kalau sering membandingkan diri. Ajar aku memakai apa yang Kauberi dengan setia.
Bapa, pikiranku sering lelah oleh pola lama yang sulit kulepaskan. Perbarui aku dari dalam, di tempat yang tidak terlihat orang lain. Ajar aku berpikir dengan cara-Mu, sedikit demi sedikit, sampai hidupku ikut berubah.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menuntut aku menjadi manusia tanpa amarah, melainkan mengajar aku: "Ketika kamu marah, jangan berbuat dosa." Terima kasih untuk batas kasih itu, agar matahari tidak terbenam sementara hatiku masih menyimpan marah.
Bapa, aku sering memilih kata yang aman daripada kata yang jujur. Tolong aku melepaskan kepura-puraan itu, dan berani berkata benar dengan lembut kepada orang-orang di sekitarku. Ingatkan aku bahwa kami saling terhubung, dan setiap dusta kecil melukai kami bersama.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi