EFESUS 4:8
Teksnya
Paulus tiba-tiba berhenti berargumen dan mulai mengutip: "Ketika Ia naik ke tempat tinggi, Ia menangkap orang-orang yang ditawan, dan memberikan karunia kepada manusia." Ia baru saja berkata bahwa setiap orang percaya menerima anugerah "sesuai dengan ukuran karunia Kristus" (ayat 7), dan sekarang ia menyandarkan pernyataan itu pada sebuah nyanyian kemenangan yang jauh lebih tua daripada gereja. Gambarnya adalah gambar seorang raja yang pulang dari medan perang: Ia mendaki, membawa serta barisan tawanan, lalu membagi-bagikan hasil kemenangan-Nya. Yang mengejutkan bukan pendakian itu, melainkan apa yang terjadi di puncaknya. Sang Pemenang tidak menyimpan rampasan. Ia menghamburkannya. Dan tangan yang menerima pemberian itu adalah tangan kita.
Intinya
Perhatikan arah gerakannya, sebab di situlah letak seluruh teologi ayat ini. Dalam dunia kuno, kemenangan mengalir ke atas: rakyat menyerahkan upeti kepada raja. Di sini semuanya terbalik. Kristus naik, dan justru dari ketinggian itu pemberian mengalir turun. Anugerah bukan sesuatu yang kita kumpulkan untuk dipersembahkan; anugerah adalah sesuatu yang dijatuhkan ke atas kita oleh Dia yang telah menang. Itu berarti apa pun yang ada padamu dalam hidup rohani, kemampuan mengajar, kesabaran mendengar, keberanian berkata jujur, bukan prestasi melainkan jarahan perang milik orang lain yang dibagikan kepadamu. Dan perhatikan: yang dibagikan Kristus di ayat 11 bukan benda, melainkan orang. Manusia sendiri menjadi karunia. Mungkin di situlah kita perlu diam sejenak, sebab kita jauh lebih mudah menganggap sesama sebagai beban daripada sebagai hadiah dari tangan Raja yang naik.
Benang Merah
Mazmur 68 menyanyikan Allah yang mendaki Sion setelah membebaskan umat-Nya dari Mesir dan menuntun mereka melintasi padang gurun. Nyanyian itu berdenyut dengan ingatan tentang perbudakan yang dipatahkan. Ketika Paulus meletakkan ayat itu di atas Kristus, ia tidak sedang meminjam kata-kata indah; ia sedang berkata bahwa pendakian Sang Raja ke Sion selalu menunjuk ke sesuatu yang lebih tinggi, kepada Dia yang "naik lebih tinggi dari semua langit supaya Ia memenuhi segala sesuatu" (ayat 10). Pola yang sama, hanya diperluas sampai tak terukur. Keluaran membebaskan satu bangsa dari satu kerajaan; kenaikan Kristus membongkar penjara yang jauh lebih tua. Dan seperti dahulu umat yang dibebaskan itu menerima tanah dan hukum sebagai pemberian, sekarang umat yang dibebaskan menerima Roh dan sesama. Kemenangan Allah selalu berakhir dengan pemberian, tidak pernah dengan penimbunan.
Cermin
Ada sesuatu yang menusuk dalam ayat ini bagi orang yang sudah lama melayani. Kita tahu cara mengukur diri: seberapa berguna aku, seberapa sering aku diminta, apa yang tersisa kalau namaku dicoret dari daftar. Ayat 8 memotong logika itu di pangkalnya. Yang kau miliki adalah pemberian dari tangan yang terbuka, bukan hasil pendakianmu sendiri. Itu melegakan sekaligus merendahkan. Tetapi ada sisi lain yang lebih tajam: jika kau adalah karunia bagi orang lain, maka orang lain juga karunia bagimu, termasuk anggota keluarga yang sulit, rekan pelayanan yang gaya kerjanya membuatmu lelah, jemaat yang selalu mengeluh. Mereka bukan gangguan dalam rencana Allah; mereka bagian dari rampasan yang dibagikan Sang Raja. Hari ini, tuliskan satu nama orang di gerejamu yang paling sering membuatmu menghela napas, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Engkau pemberian Kristus kepadaku." Lalu diam sebentar dan biarkan kalimat itu bekerja.
Detailnya
"Ia menangkap orang-orang yang ditawan." Kalimat ini janggal kalau dipikirkan pelan-pelan. Siapa para tawanan itu? Dalam Mazmur, mereka adalah musuh yang digiring di belakang kereta kemenangan. Tetapi Paulus menulis kepada orang-orang yang beberapa pasal sebelumnya ia gambarkan sebagai mati dalam pelanggaran, hidup mengikuti penguasa udara. Jadi mungkinkah tawanan itu adalah kita, yang dulu ditawan lalu direbut kembali? Atau justru kuasa-kuasa itu sendiri yang kini digiring tak berdaya di belakang Kristus? Teks tidak memutuskan untuk kita, dan barangkali memang tidak perlu. Yang jelas hanya ini: penawanan telah berpindah tangan. Ada tangan yang lebih kuat yang telah merampas apa yang dahulu menggenggam kita. Duduklah sejenak dengan ambiguitas itu; ia justru membesarkan, bukan mengaburkan.
Tokoh Utama
Sang Pemenang dalam ayat ini tidak digambarkan dengan pedang, melainkan dengan tangan yang membagi. Dan Paulus segera menambahkan bahwa sebelum naik, Ia turun (ayat 9). Itulah wajah Kristus yang muncul di sini: bukan raja yang lahir di puncak, melainkan Raja yang mendaki dari kedalaman. Rampasan yang Ia bagikan diperoleh di tempat terendah, di tempat yang tidak ingin kita bayangkan terlalu lama. Ada kelembutan yang aneh dalam kemenangan seperti itu. Raja-raja dunia mendaki agar jarak antara mereka dan rakyat menjadi jauh; Kristus mendaki justru "supaya Ia memenuhi segala sesuatu", supaya tidak ada ruang yang tidak tersentuh oleh-Nya. Kenaikan-Nya bukan kepergian. Ia naik untuk hadir di mana-mana sekaligus.
Pertanyaannya
Ada satu kejanggalan yang tidak bisa disembunyikan. Mazmur 68 berbicara tentang Allah yang menerima persembahan dari manusia; Paulus menulis bahwa Ia memberikan karunia kepada manusia. Arahnya dibalik. Apakah Paulus keliru mengutip? Ataukah ia sedang membaca mazmur itu dari sisi Paskah, dan menemukan bahwa apa yang diterima Sang Raja tidak pernah tinggal pada-Nya? Aku tidak bisa menyelesaikan pertanyaan ini dengan rapi, dan tidak ingin. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa disangkal: pembalikan itu bukan penyimpangan dari karakter Allah, melainkan pengungkapannya. Segala yang dipersembahkan kepada Dia kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih besar. Mungkin di situlah kita harus berhenti bertanya dan mulai bersyukur, meski dengan pertanyaan yang masih terbuka di tangan.
Refleksi
Apa yang selama ini kau anggap sebagai hasil kerja kerasmu, yang sebenarnya adalah rampasan perang yang dibagikan kepadamu?
Siapa orang yang paling sulit kau terima sebagai karunia Kristus, dan apa yang membuatmu menolak melihatnya begitu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 4:8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 4:8?
Tentang apakah EFESUS 4:8?
Apa konteks historis dari EFESUS 4:8?
Apa yang EFESUS 4:8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 4:8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak melewatkan aku. Setiap orang Kaupercayakan bagian sesuai ukuran pemberian Kristus, dan aku pun punya bagian itu. Ampuni aku kalau sering membandingkan diri. Ajar aku memakai apa yang Kauberi dengan setia.
Bapa, pikiranku sering lelah oleh pola lama yang sulit kulepaskan. Perbarui aku dari dalam, di tempat yang tidak terlihat orang lain. Ajar aku berpikir dengan cara-Mu, sedikit demi sedikit, sampai hidupku ikut berubah.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menuntut aku menjadi manusia tanpa amarah, melainkan mengajar aku: "Ketika kamu marah, jangan berbuat dosa." Terima kasih untuk batas kasih itu, agar matahari tidak terbenam sementara hatiku masih menyimpan marah.
Bapa, aku sering memilih kata yang aman daripada kata yang jujur. Tolong aku melepaskan kepura-puraan itu, dan berani berkata benar dengan lembut kepada orang-orang di sekitarku. Ingatkan aku bahwa kami saling terhubung, dan setiap dusta kecil melukai kami bersama.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi