KEJADIAN 6:7
Teks
Setelah melihat bahwa kejahatan manusia begitu besar dan setiap niat hati mereka jahat sepanjang waktu, TUHAN mengambil keputusan: "Aku akan memusnahkan manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi." Yang disebut bukan hanya manusia, melainkan juga binatang, binatang merayap, dan burung-burung di udara. Alasannya diulang seperti gema yang berat dari ayat sebelumnya: "sebab Aku menyesal telah menjadikan mereka." Jadi ini bukan ledakan amarah yang tiba-tiba, melainkan kesimpulan yang lahir dari pengamatan panjang dan hati yang berduka. Sang Pencipta memutuskan untuk membatalkan sebagian besar karya tangan-Nya sendiri, dan Ia mengatakannya dengan kata kerja yang sama yang dipakai untuk mencipta.
Inti
Yang membuat ayat ini mengguncang bukanlah bahwa Allah menghukum, tetapi bahwa Ia menghukum apa yang disebut-Nya sendiri "yang telah Kuciptakan". Ada hak milik di sana. Kejadian 1 berulang kali menutup dengan penilaian "baik"; di sini penilaian itu dicabut. Dosa ternyata bukan sekadar pelanggaran aturan yang bisa didenda, melainkan pembusukan yang menjalar sampai ke akar ciptaan, sehingga bumi ikut terseret. Kekudusan Allah bukan sikap dingin yang menjaga jarak, melainkan komitmen untuk tidak membiarkan kejahatan hidup selamanya. Dan justru di sinilah anugerah mulai kelihatan bentuknya: Allah yang tidak peduli tidak akan pernah berduka. Penghakiman ini keluar dari hati yang terluka, bukan dari perhitungan yang dingin, dan satu ayat kemudian nama Nuh muncul sebagai celah terang.
Benang Merah
Perhatikan urutannya: keputusan memusnahkan diucapkan lebih dulu, baru setelah itu terdengar "Namun, Nuh mendapat perkenanan di mata TUHAN." Pola ini akan berulang di sepanjang Kitab Suci. Penghakiman datang, tetapi selalu ada yang diselamatkan melewatinya, bukan dijauhkan darinya. Nuh tidak dipindahkan ke tempat lain; ia diangkat melewati air yang mematikan itu di dalam sebuah bahtera. Di situlah bayangan Kristus mulai terbaca, bukan sebagai alegori yang dipaksakan, melainkan sebagai pola yang dikenali Perjanjian Baru sendiri ketika Petrus menyebut air bah sebagai gambaran baptisan. Yesus tidak menghindarkan penghakiman dari dunia; Ia masuk ke dalamnya. Yang di Kejadian 6 menimpa seluruh daging, di Golgota menimpa satu tubuh. Dan kata "Kuciptakan" yang menyayat itu akhirnya dipulihkan dalam janji langit dan bumi yang baru: Allah tidak mengakhiri karya-Nya dengan penyesalan, melainkan dengan pembaruan.
Cermin
Ayat ini menutup jalan keluar yang biasa kita pakai. Kita terbiasa mengukur diri secara horizontal: dibanding rekan kerja yang memanipulasi laporan, dibanding tetangga yang menelantarkan orang tuanya, saya masih lumayan. Tetapi yang dilihat TUHAN bukan perbandingan, melainkan "setiap maksud pikiran dari hatinya". Bukan yang Anda lakukan di rapat, tetapi yang Anda pikirkan tentang orang yang duduk di seberang meja. Bukan angka di rekening, tetapi ketenangan palsu yang Anda gantungkan padanya. Dan ada sisi lain: bila Allah berduka atas ciptaan-Nya, maka ketidakpedulian kita terhadap dunia yang rusak bukan kedewasaan, melainkan pengerasan hati. Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu pikiran yang Anda tahu tidak akan pernah Anda ucapkan keras-keras, sebutkan itu di hadapan Allah sebagai dosa, lalu robek kertasnya.
Tokoh Utama
Yang berbicara di sini adalah TUHAN, dan potret-Nya jauh lebih rumit daripada hakim yang mengetuk palu. Ia melihat, Ia menyesal, Ia berduka, baru kemudian Ia memutuskan. Urutan itu penting. Kata "menyesal" tidak berarti Allah keliru menghitung dan sekarang malu; kata itu menggambarkan pergeseran sikap-Nya terhadap manusia yang telah berubah menghadap-Nya. Allah bukan batu. Ia menanggapi. Hati-Nya tersentuh oleh apa yang terjadi di bumi, dan kesedihan-Nya bukan kelemahan melainkan bukti bahwa hubungan itu nyata bagi-Nya. Inilah Allah yang tidak pernah menjadi penonton netral atas sejarah. Dan justru karena Ia bisa berduka, Ia juga bisa berbelas kasihan; dari hati yang sama yang berkata "Aku akan memusnahkan" nanti terdengar "Aku akan menetapkan perjanjian-Ku denganmu."
Detail
Tertumpuk dalam satu ayat pendek: manusia, binatang, yang merayap, burung-burung di udara. Daftar itu bukan hiasan retoris. Itu adalah daftar hari kelima dan keenam penciptaan, diucapkan mundur. Kejadian 1 membangun dunia lapis demi lapis; Kejadian 6:7 membongkarnya lapis demi lapis. Air bah bukan sekadar bencana alam berskala besar, melainkan pembalikan penciptaan, kembalinya air yang dulu dipisahkan agar kehidupan bisa berdiri. Mengapa binatang ikut? Karena manusia bukan penghuni terpisah, melainkan kepala dari ciptaan; ketika ia rusak, apa yang dipercayakan kepadanya ikut runtuh. Ini mengoreksi anggapan bahwa dosa adalah urusan pribadi antara saya dan Allah. Dosa selalu punya jejak kaki, dan jejak itu terinjak di tanah, di air, di tubuh sesama.
Profil
Israel yang pertama mendengar cerita ini hidup di tengah bangsa-bangsa yang punya kisah air bah mereka sendiri. Dalam versi-versi tetangga, para dewa mengirim banjir karena manusia terlalu berisik dan mengganggu tidur mereka; manusia adalah gangguan, bukan kekasih yang mengecewakan. Bandingkan dengan yang mereka dengar di sini: TUHAN berduka. Bukan terganggu, bukan tersinggung harga diri-Nya, tetapi berduka atas karya tangan-Nya sendiri, dan alasannya moral, yaitu kejahatan dan kekerasan yang memenuhi bumi. Bagi umat yang baru keluar dari kerajaan yang membangun kejayaan di atas punggung budak, ini kabar yang menohok sekaligus menghibur. Allah mereka melihat kekerasan dan tidak diam. Tetapi Ia juga melihat mereka, dan mata yang sama yang menghakimi adalah mata yang di dalamnya Nuh mendapat perkenanan.
Refleksi
Di mana saya diam-diam berharap Allah bersikap netral terhadap kejahatan, karena penghakiman yang sungguh-sungguh juga akan menyentuh hidup saya sendiri?
Kalau hati Allah bisa berduka atas dunia yang rusak, apa yang seharusnya membuat hati saya berduka minggu ini, dan mengapa saya menghindarinya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 6:7
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 6:7?
Tentang apakah KEJADIAN 6:7?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 6:7?
Apa yang KEJADIAN 6:7 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 6:7 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, di tengah dunia yang terasa retak, Engkau tetap mengikat janji dengan manusia. Terima kasih Engkau menyediakan tempat aman bagi kami dan orang orang yang kami kasihi. Ajar kami percaya pada janji-Mu, bahkan ketika badai belum reda.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi