YOHANES 14:1
Teks
Malam terakhir, ruangan atas, roti yang baru saja dipecahkan, dan seorang murid yang sudah pergi ke dalam gelap. Di tengah semua itu Yesus berkata: "Janganlah hatimu menjadi gelisah; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." Satu kalimat pendek yang terdiri dari sebuah larangan dan dua perintah. Jangan biarkan hatimu terguncang. Lalu, dua kali, satu kata yang sama: percayalah. Kepada Allah, dan kepada Aku. Yesus tidak menjelaskan dulu, tidak menghibur dengan penjelasan panjang tentang apa yang akan terjadi. Ia lebih dulu menyentuh tempat di mana keguncangan itu terjadi, yaitu hati, dan di sana Ia menaruh dua sandaran yang ternyata satu.
Inti
Perhatikan apa yang tidak dikatakan Yesus. Ia tidak berkata: keadaannya sebenarnya tidak seburuk itu. Ia tidak berkata: kalian terlalu emosional. Keadaannya memang seburuk itu; dalam beberapa jam Ia akan ditangkap. Yang Ia tawarkan bukan penjelasan melainkan Pribadi. Kata Yunani untuk gelisah di sini, tarassō, adalah kata yang sama yang dipakai untuk air yang teraduk-aduk sampai keruh, dan menariknya kata itu baru saja dipakai untuk Yesus sendiri (Yohanes 13:21). Hati-Nya pun terguncang. Jadi larangan ini bukan datang dari seseorang yang belum pernah gemetar. Dan lalu Ia menempatkan diri-Nya sejajar dengan Allah sebagai objek kepercayaan, tanpa argumen, tanpa pembelaan. Siapa yang berani berkata begitu, kecuali Ia memang benar berada di sana?
Benang Merah
"Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." Perhatikan bagaimana kalimat itu menyatukan dua hal yang oleh telinga Yahudi tidak boleh disatukan. Israel dibentuk selama berabad-abad oleh satu pengakuan: Tuhan itu esa, dan hanya kepada-Nya kita bersandar. Kepercayaan adalah milik Allah sendiri; menaruhnya pada yang lain namanya berhala. Lalu di ruangan itu, di meja terakhir, Yesus menempatkan diri-Nya di dalam kalimat itu tanpa merusaknya. Bukan sebagai tambahan, bukan sebagai perantara kelas dua, melainkan sebagai tempat yang sama. Beberapa kalimat kemudian Ia membuatnya terang: "Siapa saja yang telah melihat Aku, dia telah melihat Bapa." Seluruh jalur panjang dari Abraham sampai para nabi, semua janji tentang Allah yang berdiam di tengah umat-Nya, berkumpul di sini pada satu wajah manusia yang malam itu akan berkeringat dan berdarah.
Cermin
Ada bentuk kegelisahan yang sopan, yang tidak kelihatan dari luar. Bangun pukul tiga pagi memikirkan hasil pemeriksaan dokter. Menghitung sisa uang di bulan yang masih panjang. Menonton anak remaja menutup pintu kamarnya dan tidak tahu lagi apa yang ada di dalam kepalanya. Yesus tidak berkata bahwa hati Anda tidak boleh merasakan itu. Ia berkata: jangan biarkan hatimu terguncang sampai keruh, sampai Anda tidak bisa lagi melihat apa pun di dalamnya. Dan yang Ia berikan sebagai pegangan bukan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Para murid justru akan mengalami hal yang paling buruk. Yang Ia berikan adalah diri-Nya. Pertanyaannya menjadi tajam: ketika Anda takut, apa sebenarnya yang Anda cari lebih dulu, kepastian tentang hasilnya, atau Dia?
Konteks
Ini malam Paskah, di sebuah ruangan atas di Yerusalem, kota yang sedang penuh sesak oleh peziarah. Kekuasaan Roma duduk di benteng Antonia, para imam menghitung untung rugi politik, dan seorang murid baru saja keluar untuk menjual gurunya. Para murid ini bukan orang yang tenang secara alami; mereka telah meninggalkan perahu, meja cukai, keluarga, tiga tahun hidup, semuanya bertumpu pada satu orang. Yesus baru saja membasuh kaki mereka seperti budak, mengumumkan pengkhianatan, dan memberitahu Petrus bahwa ia akan menyangkal. Tanah di bawah kaki mereka bergeser. Kalimat "janganlah hatimu menjadi gelisah" diucapkan bukan di padang rumput yang tenang, melainkan tepat di titik ketika segala sesuatu yang mereka pegang mulai terlepas.
Pertanyaan
Bisakah perasaan diperintahkan? Kalau hati saya bergejolak malam ini, apakah saya sedang tidak taat? Teks ini tidak memberi kita jalan keluar yang mudah, dan sebaiknya kita jangan mencarinya. Tetapi ada sesuatu dalam bentuk kalimatnya: jangan biarkan. Ada ruang antara gelombang yang datang dan keputusan untuk tinggal di dalamnya. Yesus sendiri terguncang, dan itu bukan dosa. Yang Ia larang bukan gemetar, melainkan menetap di dalam gemetar seolah tidak ada yang lain. Namun jujur saja: sering kali kita tidak sanggup. Percaya bukan tombol yang bisa ditekan. Mungkin karena itu Ia mengucapkannya sebagai perintah, sebab perintah dari Dia membawa serta apa yang diperintahkan. Kita tidak menghasilkan ketenangan itu; kita menerimanya, kadang terlambat, kadang sepotong-sepotong.
Profil
Yohanes menulis puluhan tahun kemudian, untuk jemaat yang hatinya juga sedang terguncang. Mereka dikeluarkan dari sinagoge, kehilangan tempat dalam keluarga dan pekerjaan. Sebagian sudah mati. Dan Yesus, yang berjanji "Aku akan datang kembali," belum juga datang. Bagi mereka, kalimat pembuka pasal ini bukan hiburan umum melainkan sesuatu yang menyentuh luka persis di tengahnya: Ia pernah mengatakan ini kepada orang-orang yang keesokan harinya melihat Dia mati, dan mereka ternyata tidak ditinggalkan. Telinga mereka menangkap sesuatu yang mudah lolos dari kita: kalimat ini diucapkan oleh seseorang yang sedang berjalan menuju kematian-Nya sendiri, dan justru itulah yang membuatnya bisa dipercaya.
Refleksi
Ketika hati Anda terguncang minggu ini, apa yang pertama kali Anda cari untuk menenangkannya, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang di mana kepercayaan Anda sesungguhnya bersandar?
Yesus meminta kepercayaan tanpa lebih dulu menjelaskan apa yang akan terjadi. Di bagian hidup Anda yang mana Anda sedang menuntut penjelasan sebelum bersedia percaya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 14:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 14:1?
Tentang apakah YOHANES 14:1?
Apa konteks historis dari YOHANES 14:1?
Apa yang YOHANES 14:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 14:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih untuk Roh Kudus, Penolong yang Bapa utus dalam nama Yesus. Aku bersyukur Dia mengajarkan segala sesuatu kepadaku dan mengingatkan aku akan firman-Mu, justru saat aku lupa, bingung, dan tidak tahu harus melangkah ke mana.
Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Kalimat ini diucapkan Yesus kepada murid-murid yang panik karena Dia akan pergi. Tetapi perhatikan ayat sebelumnya: tujuannya supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jadi berdoa dalam nama-Nya bukan menempelkan stempel pada keinginanku, melainkan membawa hati yang ikut menginginkan apa yang Dia inginkan. Apa yang kamu minta hari ini, dan untuk siapa sebenarnya?
Bapa, ada hari-hari ketika aku merasa tidak punya tempat di mana pun. Tapi Yesus berjanji sedang menyiapkan tempat bagiku, dan Dia akan datang menjemput. Tolong aku memegang janji itu saat hatiku gelisah, dan hidup dengan tenang sambil menanti.
Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa." Murid-murid berduka karena memikirkan kehilangan mereka sendiri. Yesus mengajak mereka melihat ke mana Dia pergi, bukan sekadar apa yang mereka tinggalkan. Ada kasih yang menahan, ada kasih yang sanggup melepaskan. Di mana pandanganmu tertuju hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi