YOHANES 6
Teksnya
Lima ribu orang makan sampai kenyang dari lima roti jelai dan dua ikan seorang anak, dan keesokan harinya mereka menyeberangi danau untuk mencari Yesus lagi. Yesus menyambut mereka dengan kalimat yang tidak sopan menurut ukuran mana pun: "kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda ajaib, melainkan karena kamu telah makan roti sampai kenyang." Dari situ percakapan berkembang menjadi pengajaran panjang di sinagoge Kapernaum: Yesus menyebut diri-Nya roti hidup yang turun dari surga, berbicara tentang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, dan pada akhir pasal ini kerumunan itu menyusut. Banyak murid mengundurkan diri. Tinggal dua belas orang, dan salah satunya sudah tahu ke mana ia akan pergi.
Intinya
Pasal ini membongkar perbedaan antara menginginkan pemberian Allah dan menginginkan Allah sendiri. Kerumunan itu bukan orang jahat; mereka lapar, mereka dikenyangkan, mereka kembali. Wajar. Tetapi Yesus menolak menjadi penyedia yang berguna. Ia berkata: "Akulah roti hidup." Bukan Ia memberi roti, Ia adalah roti itu. Artinya keselamatan bukan transaksi di mana kita menerima sesuatu dari Kristus lalu pergi menjalani hidup kita; keselamatan adalah menerima Dia ke dalam diri kita sampai hidup kita bergantung pada-Nya sebagaimana tubuh bergantung pada makanan. Karena itu pertanyaan mereka, "Apa yang harus kami lakukan," dijawab dengan cara yang meruntuhkan seluruh logika prestasi: "Inilah pekerjaan yang diinginkan Allah: percayalah kepada Dia yang sudah diutus Allah." Satu-satunya pekerjaan yang diminta adalah berhenti bekerja untuk membeli.
Benang Merah
Yesus tidak memilih gambar roti secara acak. Kerumunan itu sendiri mengangkat manna: "Nenek moyang kami makan manna di padang belantara." Israel di padang gurun hidup dari roti yang jatuh setiap pagi, cukup untuk sehari, tidak bisa ditimbun. Seluruh pendidikan iman bangsa itu adalah pelajaran ketergantungan harian. Yesus mengambil pola itu dan mendorongnya sampai ujung: "Nenek moyangmu telah makan manna di padang belantara, tetapi mereka mati." Manna menopang hidup sampai kubur; Ia menopang hidup melewati kubur. Dan perhatikan bahwa semua ini terjadi ketika "perayaan Paskah orang Yahudi sudah dekat." Roti, anak domba, darah, kelepasan: latar Paskah itu bukan hiasan kronologis, melainkan petunjuk bahwa tubuh yang akan Ia berikan "demi kehidupan dunia" adalah korban Paskah yang sesungguhnya.
Cermin
Tanyakan pada diri Anda dengan jujur: kalau Yesus berhenti memberi apa yang Anda harapkan dari-Nya, apakah Anda masih di sini? Kalau doa untuk pekerjaan itu tidak dijawab, kalau hasil pemeriksaan itu buruk, kalau anak Anda tetap menjauh, kalau pernikahan Anda tetap terasa dingin sepuluh tahun lagi. Kerumunan itu adalah cermin bagi setiap kita yang mengikut Yesus karena Ia terasa berguna: menenangkan kecemasan, merapikan keluarga, memberi arti pada karier. Yesus tidak memaki mereka, tetapi Ia juga tidak berpura-pura tidak tahu. Dan ketika ajaran-Nya menjadi keras, mereka berkata persis apa yang sering kita pikirkan tanpa berani mengucapkan: "Ajaran ini terlalu keras. Siapa yang sanggup menerimanya?" Kepergian mereka tercatat tanpa Yesus mengejar. Itu bagian yang paling mengganggu.
Tokoh Utama
Yesus dalam pasal ini sangat tidak strategis. Ia baru saja memenangkan hati ribuan orang, dan ketika mereka mau menjadikan Dia raja, Ia "menyingkir lagi ke bukit seorang diri." Ia bisa menahan mereka dengan roti; Ia memilih kalimat yang membuat mereka tersinggung. Ini bukan kedinginan. Justru sebaliknya: Ia terlalu mengasihi mereka untuk membiarkan mereka mengikuti sesuatu yang bukan diri-Nya. Perhatikan juga janji yang Ia selipkan di tengah pertentangan: "yang datang kepada-Ku tidak akan pernah Aku usir." Yesus yang membiarkan kerumunan pergi adalah Yesus yang bersumpah tidak akan pernah menolak seorang pun yang datang. Ia keras tentang syarat, lembut tanpa batas tentang penerimaan. Dan kemudian pertanyaan-Nya kepada kedua belas: "Apakah kamu juga ingin pergi?" Tidak ada paksaan, bahkan pada saat paling rapuh.
Para Pendengar Pertama
Yohanes menulis untuk komunitas yang sudah membayar harga karena mengaku Yesus, sebagian dikeluarkan dari sinagoge, sebagian melihat sahabat dan saudara mundur. Kisah tentang murid-murid yang "mengundurkan diri dan berhenti mengikuti Dia" bukan sejarah kuno bagi mereka; itu wajah orang-orang yang mereka kenal. Bagi pendengar Yahudi, kalimat tentang minum darah bukan hanya aneh, itu menjijikkan dan melanggar hukum yang tegas melarang darah. Yesus sengaja memakai bahasa yang tidak bisa dijinakkan. Dan tuduhan mereka, "Bukankah Dia ini Yesus, anak Yusuf, yang bapak dan ibunya kita kenal," terdengar sangat manusiawi: Ia terlalu biasa, terlalu dikenal, terlalu dari kampung sebelah untuk mengklaim datang dari surga. Keakraban ternyata bisa menjadi bentuk kebutaan yang paling sopan.
Kaitan dengan Nas Lain
Ketika Israel di padang gurun bersungut-sungut tentang manna dan merindukan makanan Mesir (Bilangan 11), keluhan mereka bukan soal kelaparan tetapi soal selera: mereka bosan bergantung. Kata yang dipakai Yohanes untuk reaksi orang Yahudi, menggerutu, menempatkan mereka dalam barisan yang sama; hanya sekarang yang mereka tolak bukan roti dari langit, melainkan Roti dari langit. Bandingkan pula godaan pertama di padang gurun, ketika Yesus sendiri ditawari mengubah batu menjadi roti dan menolak. Ia tahu dari dalam bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, dan itulah yang Ia perjuangkan di sini. Pengakuan Petrus menjadi jangkar seluruh pasal: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?" Bukan iman yang penuh kepastian, tetapi iman yang tidak menemukan alamat lain.
Refleksi
Apa yang sebenarnya Anda cari ketika Anda mencari Yesus minggu ini: Dia sendiri, atau sesuatu yang Anda harap Ia sediakan?
Bagian mana dari perkataan Yesus yang paling ingin Anda perhalus supaya lebih mudah diterima, dan mengapa justru bagian itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 6?
Tentang apakah YOHANES 6?
Apa konteks historis dari YOHANES 6?
Apa yang YOHANES 6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Setelah banyak orang mundur dan tidak lagi berjalan bersama-Nya, Yesus tidak mengejar mereka. Ia justru menoleh kepada yang dua belas: "Apakah kamu juga mau pergi?" Pertanyaan itu tidak memaksa. Ia memberi ruang untuk jujur. Mungkin hari ini kamu sedang lelah dengan ajaran yang terasa berat. Dengarlah, Dia bertanya, bukan mengancam. Dan Dia menunggu jawabanmu.
Sesudah itu, Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias." Hanya satu kalimat, seolah tidak penting. Padahal sebelumnya Yesus baru saja dipersoalkan dan ditolak di Yerusalem. Dia tidak berhenti, Dia menyeberang. Kadang langkah iman kita juga terlihat sepele: pindah, pergi, mulai lagi. Di seberang itulah lima ribu orang akan dikenyangkan.
Mereka menggerutu diam-diam, di antara mereka sendiri. Tetapi Yesus "mengetahui dalam diri-Nya bahwa murid-murid-Nya menggerutu tentang hal itu" dan Dia bertanya langsung, "Apakah perkataan ini menyinggungmu?"
Ada keluhan yang kamu simpan rapat tentang Tuhan, yang tidak pernah kamu ucapkan dalam doa. Dia sudah tahu. Dan Dia tidak menghindarinya, Dia justru membukanya supaya kamu berani bicara jujur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
