BILANGAN 11
Teks
Israel mengeluh, dan api TUHAN menjilat tepi perkemahan sebelum doa Musa memadamkannya. Lalu kerinduan akan daging meledak: mereka mengenang ikan, mentimun, bawang di Mesir, dan memandang manna dengan jijik. Musa patah; ia memohon agar Tuhan membunuhnya saja daripada terus memikul umat ini sendirian. Tuhan menjawab dua kali: tujuh puluh tua-tua menerima sebagian roh yang ada pada Musa dan bernubuat, dan angin membawa burung puyuh berlimpah-limpah sampai setinggi dua hasta. Tetapi sementara daging itu "masih berada di antara gigi mereka," tulah menimpa. Tempat itu dinamai Kibrot-Taawa: kuburan orang-orang yang rakus. Pasal ini berakhir bukan dengan kelegaan, melainkan dengan tanah pekuburan dan perjalanan yang dilanjutkan ke Hazerot.
Inti
Yang mengerikan di sini bukanlah bahwa Israel lapar, melainkan apa yang dinyatakan oleh kelaparan itu. Tuhan sendiri merumuskannya: "kamu telah menolak TUHAN yang tinggal di antaramu." Keluhan tentang menu ternyata keluhan tentang Pemberi. Manna turun setiap malam bersama embun, begitu setia sampai menjadi membosankan, dan kesetiaan yang membosankan itulah yang mereka benci. Mereka merindukan Mesir yang "cuma-cuma", lupa bahwa harganya adalah punggung mereka sendiri. Teks ini berkata sesuatu yang tidak nyaman tentang anugerah: pemberian Allah yang berkelanjutan dapat kita terima sambil hati kita diam-diam berpaling. Dan ia berkata sesuatu tentang Allah: Ia mendengar, Ia menjawab, Ia bahkan mengabulkan, tetapi pengabulan yang diberikan kepada hati yang menolak Dia dapat menjadi penghakiman yang terbungkus kelimpahan.
Benang Merah
Dua kalimat dalam pasal ini membuka jalan panjang ke depan. Yang pertama keluhan Musa: ia tidak mengandung umat ini, ia tidak melahirkan mereka, mengapa ia harus menggendong mereka "seperti seorang pengasuh menggendong bayi menyusui"? Pertanyaan itu menggantung sampai ada Seorang yang memang memikul umat tanpa patah, yang tidak meminta kematian sebagai jalan keluar melainkan menerimanya sebagai jalan masuk. Yang kedua adalah kerinduan Musa sendiri: "Biarlah semua umat menjadi nabi sehingga TUHAN memberikan roh-Nya kepada mereka." Tujuh puluh tua-tua hanyalah cicipan; roh yang dibagi dari Musa masih terbatas, bahkan sementara saja, "mereka tidak melakukannya lagi." Di Pentakosta kerinduan itu dijawab bukan dengan pembagian, melainkan dengan pencurahan. Beban yang meremukkan satu orang akhirnya ditanggung oleh Roh Kudus di dalam satu tubuh.
Cermin
Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah mengeluh, melainkan apa yang Anda sebut "cuma-cuma" ketika mengenang masa lalu. Pekerjaan sebelum Anda punya tanggung jawab ini. Masa sebelum menikah, sebelum anak-anak, sebelum penyakit itu punya nama. Ingatan punya kebiasaan menghapus rantai dan menyisakan bawang putih. Sementara itu manna tetap turun: gaji yang cukup walau tidak mewah, pasangan yang masih di sana, pagi yang kembali datang, roti yang ada di meja. Justru keteraturan itulah yang membuat kita bosan, dan kebosanan rohani jauh lebih berbahaya daripada krisis, sebab ia tidak terasa seperti dosa. Ia hanya terasa seperti lelah. Hari ini, sebutkan dengan suara keras tiga pemberian yang begitu rutin sampai Anda berhenti melihatnya, dan ucapkan terima kasih atas ketiganya satu per satu.
Pertanyaan
Mengapa Allah memberi apa yang diminta, lalu menghukum karena permintaan itu? Burung puyuh itu bukan kebetulan; angin datang "dari TUHAN." Ia sendiri yang mengirim jawaban yang menjadi kuburan. Kita ingin menjinakkan ini dengan berkata bahwa mereka terlalu rakus, dan memang teks menyebut tempat itu Kibrot-Taawa. Tetapi tetap tersisa sesuatu yang tidak bisa diratakan: ada doa yang dikabulkan sebagai penghakiman. Mungkin inilah salah satu kengerian yang paling senyap dalam hidup beriman, bahwa Allah bisa menyerahkan kita kepada apa yang kita desak. Saya tidak tahu bagaimana menenangkan hal ini, dan saya tidak yakin teks ini ingin ditenangkan. Ia hanya meninggalkan nama tempat itu di peta, dan membiarkan kita berjalan terus ke Hazerot.
Detail
Satu kata kecil di ayat 5 membongkar seluruh pasal ini: ikan di Mesir dimakan "secara cuma-cuma." Cuma-cuma. Di Mesir, tempat punggung mereka dicambuk, tempat anak-anak lelaki mereka ditenggelamkan. Tidak ada yang cuma-cuma di sana; harganya hanya tidak dibayar dengan uang. Ingatan telah berbohong, dan bohongnya begitu meyakinkan karena memang ada ikannya, memang ada mentimunnya. Dusta yang paling kuat selalu dibangun dari detail yang benar. Dan perhatikan ironi tajamnya: yang sungguh-sungguh cuma-cuma justru manna, yang turun setiap malam bersama embun tanpa seorang pun menanamnya. Anugerah yang nyata mereka sebut membosankan; perbudakan yang nyata mereka sebut gratis. Pertukaran itu masih terjadi di dalam diri kita, biasanya tanpa suara.
Teks-Teks yang Bergema
Keluaran 16 menceritakan keluhan yang hampir sama, juga tentang daging dan roti, tetapi di sana jawaban Allah murni pemberian: manna dan puyuh tanpa tulah. Di antara dua pasal itu berdiri Sinai dan perjanjian. Umat yang sudah mengenal Allah lebih dalam juga diperlakukan lebih serius; keakraban tidak membuat dosa menjadi lebih ringan, melainkan lebih pribadi. Bandingkan juga Mazmur 106, yang mengenang peristiwa ini dan menyimpulkan bahwa Allah memberi mereka apa yang mereka minta, tetapi mengirimkan kekurusan ke dalam jiwa mereka. Mazmur itu membaca Bilangan 11 persis seperti yang saya takutkan: perut kenyang, jiwa menyusut. Dua teks ini bersama-sama menjaga kita dari dua jurang, menganggap Allah selalu lunak, atau menganggap Ia selalu mengancam.
Refleksi
Apa yang Anda kenang sebagai "cuma-cuma" dari masa lalu Anda, dan berapa harga sebenarnya yang sudah Anda lupakan?
Jika Allah mengabulkan doa Anda yang paling mendesak minggu ini, persis seperti yang Anda minta, apakah Anda masih menginginkan Dia sesudahnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Numbers 11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti BILANGAN 11?
Tentang apakah BILANGAN 11?
Apa konteks historis dari BILANGAN 11?
Apa yang BILANGAN 11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana BILANGAN 11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Numbers 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Musa sudah sampai di titik ia berkata lebih baik mati saja. Dan Allah tidak menegurnya. Jawaban-Nya: "Mereka akan menanggung beban umat ini bersamamu sehingga kamu tidak menanggungnya sendirian."
Kadang Allah tidak mengangkat bebanmu, Ia mengirim orang. Pertanyaannya, maukah kamu membiarkan mereka mendekat?
Dari Kibrot-Taawa, bangsa itu berangkat ke Hazerot, dan mereka tinggal di Hazerot." Satu kalimat datar, padahal baru saja mereka menguburkan orang-orang yang mati karena keinginan yang tak terkendali. Hidup berjalan terus, tenda dibongkar, perjalanan dilanjutkan. Tapi pindah tempat tidak sama dengan pindah hati. Kamu bisa meninggalkan satu musim dan membawa serta keinginan yang sama. Apa yang sebenarnya kamu kubur di belakang sana?
Terima kasih, Tuhan, untuk burung puyuh yang Kaukirim sampai bertumpuk di sekeliling perkemahan, sepuluh homer bagi yang paling sedikit mengumpulkan. Engkau memberi berlimpah bahkan kepada umat yang bersungut-sungut. Tanganku tak pernah cukup besar untuk menampung kebaikan-Mu.
Tuhan, Engkau tahu ada beban yang terlalu berat kupikul sendiri. Terima kasih karena Engkau tidak membiarkan aku berjalan sendirian, tetapi menempatkan orang orang yang mau berdiri di sampingku. Ajar aku rendah hati untuk meminta tolong dan percaya bahwa Engkau yang menopang kami semua.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
