YOHANES 8:33
Teks
Yesus baru saja berkata kepada mereka yang mulai percaya: tinggallah dalam firman-Ku, maka kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan membebaskan kamu. Dan di situlah suasana berubah. Udara di pelataran Bait Allah seolah mengeras. Kata "bebas" itu menusuk sesuatu yang tidak mereka sadari sedang mereka jaga. Jawaban mereka datang cepat, hampir tanpa jeda: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Jadi, mengapa Engkau berkata, 'Kamu akan bebas?'" Satu kalimat pendek yang berisi silsilah, harga diri, dan penolakan sekaligus. Mereka tidak bertanya apa maksud-Nya; mereka membantah. Yang ditawarkan sebagai pembebasan mereka dengar sebagai penghinaan, seakan Yesus menuduh mereka berada dalam rantai yang jelas-jelas tidak mereka rasakan di pergelangan tangan.
Inti
Perhatikan betapa ganjilnya klaim itu di mulut orang-orang yang setiap tahun merayakan Paskah, perayaan tentang leluhur mereka yang dulu membuat batu bata di Mesir. Mereka juga hidup di bawah Roma; ada pos pajak di jalan mereka dan tentara asing di benteng dekat Bait Allah. "Tidak pernah menjadi hamba siapa pun" bukan fakta sejarah, melainkan pernyataan iman yang keliru arah: kami milik Abraham, maka kami aman. Di sinilah inti teks ini. Dosa yang paling sulit disentuh bukanlah dosa yang membuat kita malu, melainkan status yang membuat kita merasa tidak membutuhkan apa-apa. Kemerdekaan yang Yesus tawarkan hanya bisa diterima oleh orang yang sanggup mengaku terikat. Selama kita menjawab tawaran anugerah dengan daftar keturunan, kita sedang menutup pintu dari dalam.
Benang Merah
Yang tragis dari jawaban itu adalah bahwa Abraham sendiri tidak pernah bersandar pada keturunan. Ia dipanggil keluar dari negeri asing, diberi janji ketika rahim Sara sudah mati, dan menerima semuanya sebagai pemberian. Keturunan Abraham justru dilahirkan dari ketidakmampuan. Lalu bangsa itu menjadi budak sungguhan di Mesir, dan dibebaskan bukan karena silsilah mereka, melainkan karena Allah mendengar jeritan mereka. Seluruh kisah Israel adalah kisah orang-orang yang dibebaskan, bukan orang-orang yang tidak pernah terikat. Dan sekarang, di pelataran Bait Allah, Pembebas itu berdiri di depan mereka dan menawarkan Keluaran yang lebih dalam: bukan dari Firaun atau Roma, melainkan dari dosa yang menjadikan manusia hamba di dalam rumahnya sendiri. "Apabila Anak membebaskan kamu, kamu benar-benar bebas," kata-Nya dua ayat kemudian. Bukan status warisan, melainkan tindakan seorang Anak.
Cermin
Kita punya versi kalimat itu masing-masing, dan biasanya terdengar lebih sopan. "Saya sudah tiga puluh tahun di gereja ini." "Anak-anak saya dibaptis semua." "Saya tidak pernah berutang pada siapa pun." "Keluarga kami bukan keluarga yang seperti itu." Kalimat-kalimat yang benar secara fakta, tetapi dipakai sebagai perisai persis pada saat seseorang menyentuh tempat yang sakit. Kebanggaan rohani jarang muncul sebagai kesombongan terang-terangan; ia muncul sebagai kecepatan membela diri. Perhatikan dirimu saat pasanganmu, rekan kerjamu, atau khotbah hari Minggu menyinggung sesuatu, dan dalam dua detik kamu sudah punya jawaban. Kecepatan itu adalah rantainya. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu kalimat "saya tidak pernah…" yang paling sering kamu pakai untuk membela diri. Ucapkan dengan suara keras, lalu katakan sesudahnya: "Tuhan, bebaskan aku dari kalimat ini."
Intertekstual
Yohanes Pembaptis sudah lebih dulu menghantam kartu truf yang sama ketika ia memperingatkan orang banyak agar jangan berkata dalam hati bahwa mereka punya Abraham sebagai bapa, sebab Allah sanggup membangkitkan anak-anak Abraham dari batu-batu. Jadi klaim di ayat 33 ini bukan kekeliruan spontan; itu adalah refleks yang sudah lama tertanam, dan sudah lama ditegur. Lalu ada Paulus di Roma 6, yang mengambil persis logika Yesus di ayat berikutnya: manusia selalu menjadi hamba sesuatu, entah hamba dosa entah hamba kebenaran, dan yang disebut kemerdekaan sering kali hanya soal siapa tuannya. Dua suara ini, sebelum dan sesudah Yesus, mengatakan hal yang sama: warisan rohani tidak pernah menjadi pengganti pertobatan.
Pertanyaan
Yohanes mencatat bahwa orang-orang ini adalah "orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya." Mereka percaya, dan sepuluh ayat kemudian mereka ingin membunuh-Nya. Bagaimana mungkin? Dan pertanyaan yang lebih menusuk: jika seseorang bisa menjadi hamba tanpa merasakan rantainya, bagaimana ia bisa tahu? Perbudakan semacam ini menyembunyikan dirinya sendiri; justru itulah yang membuatnya begitu kuat. Teks ini tidak memberi kita metode untuk memeriksa diri secara mandiri. Yang ada hanyalah firman yang datang dari luar, mengganggu, dan menuntut agar kita tinggal di dalamnya cukup lama sampai ia melukai. Sebagian orang di pelataran itu bertahan dan mendengar; sebagian lagi akhirnya mengambil batu. Mengapa yang satu dan bukan yang lain, Yohanes tidak menjelaskan. Kita hanya tahu bahwa semuanya mendengar kalimat yang sama.
Detail
Dalam bahasa Yunani, kata "tidak pernah menjadi hamba" berbentuk perfek: suatu bentuk yang mencakup seluruh masa lalu sampai detik ini, tanpa celah. Mereka tidak berkata "kami sekarang merdeka"; mereka berkata "sepanjang sejarah kami, tidak pernah." Satu bentuk kata kerja, dan Mesir terhapus. Perbudakan di Babel terhapus. Penjajahan Yunani terhapus. Pos pajak Roma di ujung jalan terhapus. Ini bukan kebohongan yang disengaja; ini adalah ingatan yang sudah dirapikan sedemikian rupa sehingga harga diri bisa tetap berdiri. Dan kita semua punya bentuk perfek semacam itu tentang diri kita sendiri, kalimat yang menutup rapat bagian-bagian hidup yang tidak ingin kita hitung. Kebenaran yang membebaskan sering kali dimulai dengan membuka kembali satu kalimat yang sudah terlalu lama kita ucapkan tanpa diperiksa.
Refleksi
Kalimat "tidak pernah" apa yang paling cepat keluar dari mulutmu ketika seseorang menyentuh bagian hidupmu yang tidak ingin kamu bicarakan?
Jika kemerdekaan hanya bisa diterima oleh orang yang mengaku terikat, pengakuan mana yang sedang kamu tunda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 8:33
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 8:33?
Tentang apakah YOHANES 8:33?
Apa konteks historis dari YOHANES 8:33?
Apa yang YOHANES 8:33 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 8:33 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, Yesus pun menyisih ke bukit yang sunyi sebelum menghadapi keramaian. Ajari aku melakukan hal yang sama: berhenti sejenak, menenangkan hati, mencari wajah-Mu sebelum hari ini menuntut terlalu banyak dariku. Aku butuh ruang bersama-Mu.
Tuhan, aku tahu rasanya berdiri di tengah, ditatap banyak mata, dengan kesalahan yang terbuka. Tolong aku percaya bahwa Engkau tidak ikut melempar. Dan jauhkan aku dari sikap menyeret orang lain demi membuktikan bahwa aku lebih baik.
Aku mengatakan apa yang telah Aku lihat pada Bapa-Ku, dan kamu melakukan apa yang telah kamu dengar dari bapamu." Yesus berbicara dari apa yang Dia lihat. Mereka bertindak dari apa yang mereka dengar. Ada jarak besar antara keduanya. Cara hidupmu hari ini diam-diam menunjukkan suara siapa yang paling sering kaudengarkan.
Dia yang mengutus Aku ada bersama-Ku. Dia tidak meninggalkan Aku sendiri," kata Yesus sambil dikelilingi orang-orang yang ingin melempari-Nya. Tidak ada satu pun yang berdiri di pihak-Nya, tapi Dia tetap tidak sendiri. Dan nanti di salib, Dia yang ditinggalkan, supaya kamu yang hari ini merasa tak punya siapa-siapa tidak pernah benar-benar sendirian.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi