MARKUS 10:47
Teks
Yesus baru saja meninggalkan Yerikho, dikelilingi murid-murid dan kerumunan yang bising. Di pinggir jalan duduk seorang pengemis buta, Bartimeus anak Timeus, yang tidak bisa melihat siapa yang lewat tetapi bisa mendengar. Dan begitu telinganya menangkap nama itu, "Yesus dari Nazaret", ia tidak menunggu, tidak sopan-sopan, tidak menimbang apakah pantas. Ia berteriak. Bukan sekadar memanggil, tetapi berseru dengan suara yang memaksa jalan raya itu berhenti: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Satu kalimat, dan di dalamnya ada pengakuan siapa Yesus, dan pengakuan siapa dirinya sendiri. Seorang yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan, kecuali kebutuhannya.
Inti
Perhatikan apa yang tidak diminta Bartimeus. Ia tidak berkata, "Berilah aku uang," padahal ia pengemis dan itu profesinya. Ia tidak menawar, tidak menyebut jasa, tidak menjelaskan bahwa ia layak. Ia hanya berkata: kasihanilah aku. Dalam bahasa aslinya kata itu, eleēson, adalah permohonan orang yang sepenuhnya bergantung pada kemurahan pihak lain, bukan pada haknya sendiri. Dan justru inilah pintu masuk Kerajaan Allah menurut Markus. Beberapa ayat sebelumnya seorang kaya datang dengan daftar ketaatannya sejak masa muda, dan ia pulang dengan hati susah. Bartimeus datang tanpa daftar apa pun, dan ia pulang melihat. Anugerah bukan hadiah untuk yang paling siap, melainkan jawaban bagi yang berani mengaku kosong. Iman, di sini, tidak berbentuk kesalehan melainkan teriakan.
Benang Merah
"Anak Daud" bukan sapaan sopan. Itu gelar politis, gelar mesianis, sisa janji lama bahwa Allah akan mendudukkan seorang keturunan Daud di atas takhta dan bahwa pada zaman itu mata orang buta akan dicelikkan. Bartimeus menyambungkan dua hal yang tidak berani disebut siapa pun di jalan itu: bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan, dan bahwa Raja itu datang untuk yang paling tidak berguna secara ekonomi. Menariknya, teriakan ini terdengar tepat sebelum Yesus naik ke Yerusalem untuk mati. Sang Raja Daud yang baru tidak berjalan menuju penobatan melainkan menuju salib, dan justru di sanalah "kasihanilah aku" akan dijawab untuk selamanya. Bartimeus meminta belas kasihan dari Pribadi yang sedang berjalan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan.
Cermin
Ada satu hal yang membuat kita jarang berteriak seperti Bartimeus: kita masih punya sesuatu untuk dijaga. Reputasi di kantor. Citra sebagai orang tua yang mengelola rumah tangganya dengan baik. Posisi sebagai pemimpin kelompok kecil yang seharusnya memberi jawaban, bukan meminta. Kita berdoa dengan kalimat yang tertata karena kalimat yang tertata melindungi kita dari kenyataan bahwa kita sedang panik soal utang, soal pernikahan yang dingin, soal hasil pemeriksaan dokter minggu depan. Bartimeus tidak punya apa-apa untuk dilindungi, dan itulah keuntungannya. Kebutaanmu mungkin bukan di mata, melainkan di tempat yang tidak kaubuka bahkan kepada pasanganmu. Sebutkan itu hari ini: ucapkan dengan suara keras, sendirian, kalimat Bartimeus persis seperti tertulis, lalu tambahkan satu kalimat jujur tentang hal yang paling kaumalu akui.
Detail
Kata "mendengar" di awal ayat ini mudah terlewat, padahal seluruh adegan bergantung padanya. Bartimeus tidak melihat rombongan itu; ia hanya menangkap desas-desus, "Yesus dari Nazaret". Orang-orang di sekelilingnya melihat lebih banyak daripada dia dan mengerti jauh lebih sedikit. Mereka melihat seorang guru dari kota kecil di utara; dia mendengar Anak Daud. Markus menyusun ini dengan sengaja: sepanjang pasal ini para murid yang bermata sehat berdebat soal tempat duduk di sebelah kanan dan kiri, dan tidak melihat apa pun. Yang buta di pinggir jalan melihat Mesias. Iman lahir dari pendengaran, dari kabar yang lewat, dan kadang orang yang paling sedikit memiliki adalah orang yang paling awas terhadap kabar itu.
Profil
Pembaca pertama Injil Markus kemungkinan besar orang Kristen di Roma yang hidup di bawah tekanan: sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian kehilangan keluarga, sebagian menyaksikan saudara seiman mati. Bagi mereka, seorang pengemis yang berteriak di pinggir jalan bukan tokoh eksotis, melainkan cermin. Mereka juga tidak punya kuasa, tidak punya perlindungan hukum, tidak punya nama baik di mata negara. Dan mereka membaca bahwa suara semacam itu menghentikan langkah Yesus. Perhatikan juga bahwa Markus menyebut namanya, Bartimeus anak Timeus, satu-satunya orang yang disembuhkan dan disebut namanya dalam Injil ini. Besar kemungkinan jemaat awal mengenalnya; orang ini masih hidup, masih bercerita. Bukan legenda, melainkan tetangga.
Konteks
Yerikho terletak sekitar dua puluh tujuh kilometer dari Yerusalem, di lembah yang panas, dan dari sana jalan menanjak curam ke kota suci. Menjelang Paskah, ribuan peziarah melewati jalan itu, dan para pengemis mengambil posisi di gerbang kota karena di sanalah sedekah paling deras mengalir, apalagi dari orang yang ingin membersihkan hatinya sebelum naik ke Bait Allah. Kebutaan pada masa itu berarti kematian ekonomi seumur hidup dan sering dianggap sebagai tanda penghukuman. Bartimeus duduk di pinggir, bukan di tengah, persis di posisi sosial yang ditentukan untuknya. Ketika ia berteriak, ia melanggar batas itu. Dan Yesus, yang sedang berjalan menuju penderitaan-Nya sendiri, berhenti.
Refleksi
Doa mana yang selama ini kaususun rapi supaya tidak terdengar seputus asa yang sebenarnya kaurasakan?
Siapa di sekitarmu yang sedang berteriak, dan tanpa sadar kau termasuk dalam "banyak orang" yang menyuruhnya diam?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Mark 10:47
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MARKUS 10:47?
Tentang apakah MARKUS 10:47?
Apa konteks historis dari MARKUS 10:47?
Apa yang MARKUS 10:47 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MARKUS 10:47 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Mark 10?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi