ROMA 8
Teks
Bayangkan sebuah ruang sewaan di lantai atas sebuah insula Roma, malam hari, bau minyak lampu dan tubuh yang berdesakan; seorang budak membaca keras-keras surat panjang dari Paulus, dan kalimat pertama yang terdengar adalah: "sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi orang yang ada dalam Yesus Kristus." Di ruangan itu duduk orang-orang yang tahu persis apa arti kata penghukuman, sebab hukuman di kota itu bukan gagasan abstrak melainkan cambuk, denda, dan salib di pinggir jalan. Pasal ini bergerak dari vonis yang dibatalkan menuju Roh yang memerdekakan dan mendiami, lalu ke status anak yang berseru "Abba, Bapa!", ke seluruh ciptaan yang mengeluh menanti pembebasan, dan berakhir dengan daftar kekuatan kosmis yang semuanya gagal memisahkan kita dari kasih Allah.
Inti
Yang dikatakan Paulus di sini bukan bahwa Allah menutup mata terhadap dosa, melainkan bahwa Allah menanganinya di tempat lain: "Ia menghukum dosa dalam daging." Hukuman itu jatuh, tetapi tidak di atas kita. Dan karena vonis sudah dijatuhkan pada Kristus, Roh Kudus kini bebas masuk dan tinggal, bukan sebagai tamu yang menilai, melainkan sebagai kuasa hidup yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian. Bagi pendengar Roma yang hidup dalam masyarakat yang mengukur manusia dari status, patron, dan garis keturunan, ini radikal: mereka disebut anak dan pewaris, sesama pewaris dengan Kristus. Keselamatan di sini bukan tiket keluar dari dunia, melainkan pengangkatan ke dalam keluarga Allah, lengkap dengan warisan, penderitaan, dan tubuh yang kelak ditebus.
Benang Merah
Perhatikan kata-kata yang dipakai Paulus: perbudakan, kemerdekaan, warisan, keluhan. Itu kosakata Keluaran. Israel mengeluh di bawah cambuk Mesir, Allah mendengar, membebaskan, dan menyebut mereka anak sulung-Nya, lalu menuntun mereka lewat padang gurun menuju tanah warisan. Di sini polanya diulang dalam skala kosmis: bukan satu bangsa melainkan "seluruh ciptaan sama-sama mengeluh dalam kesakitan bersalin", dan bukan Musa melainkan Roh yang memimpin. Kristus adalah pusatnya karena Dialah yang menempuh vonis itu terlebih dahulu, sehingga Ia disebut "yang sulung di antara banyak saudara". Warisan yang dijanjikan bukan sepetak tanah di Kanaan, melainkan tubuh yang ditebus dan bumi yang dilepaskan dari kesia-siaan. Sejarah keselamatan tidak berhenti pada jiwa yang selamat; ia berakhir pada materi yang dipulihkan.
Cermin
Kita jarang takut pada salib di pinggir jalan, tetapi kita sangat akrab dengan suara pendakwa. Suara itu muncul saat Anda menutup laptop pukul sebelas malam dan tahu pekerjaan Anda tidak cukup baik; saat Anda melihat rekening dan mengingat keputusan bodoh lima tahun lalu; saat anak Anda membentak dan Anda diam-diam menyimpulkan bahwa Anda ayah atau ibu yang gagal. Paulus tidak menjawab dengan menaikkan harga diri Anda. Ia menggeser pengadilannya: "Siapa yang akan mendakwa orang-orang pilihan Allah? Allahlah yang membenarkan." Hakimnya sudah memihak Anda. Yang tersisa hanyalah suara-suara tanpa wewenang. Hari ini juga: tulis di secarik kertas satu dakwaan yang paling sering Anda ulangi terhadap diri sendiri, lalu ucapkan keras-keras di atasnya, "Allahlah yang membenarkan."
Tokoh Utama
Tokoh sentral pasal ini adalah Allah Bapa, dan Paulus menggambarkan-Nya dengan satu kalimat yang nyaris kasar: "Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua." Kata kerjanya keras. Allah tidak menahan tangan-Nya. Di dunia Romawi, seorang bapa keluarga memiliki kuasa penuh atas hidup anak-anaknya, dan mempertahankan garis keturunan adalah segalanya; menyerahkan anak sendiri adalah kegilaan sosial. Justru di situ Paulus membangun argumennya: jika Ia sudah memberikan yang termahal, tidak masuk akal Ia akan pelit dalam hal-hal kecil. Inilah lanskap batin Allah menurut Roma 8: bukan keengganan yang harus dibujuk, melainkan kemurahan yang sudah membuktikan diri lebih dulu, sebelum kita sempat memohon.
Detail
Satu kata Aram menyelinap ke dalam surat berbahasa Yunani yang dibacakan di kota berbahasa Latin: "Abba." Kata itu tidak diterjemahkan, hanya diulang, seolah bunyinya sendiri penting. Bayangkan siapa yang mendengarnya. Di rumah tangga Romawi, seorang budak boleh menyebut tuannya dominus, tetapi tidak pernah pater. Memanggilnya bapa adalah pelanggaran batas yang bisa berujung hukuman. Dan justru kata terlarang itulah yang kini keluar dari mulut mereka, bukan karena mereka berani, tetapi karena Roh yang menaruhnya di sana: "kamu tidak menerima roh perbudakan untuk kembali kepada ketakutan." Bunyi asing itu dipertahankan karena inilah bunyi doa Yesus sendiri. Kita meminjam kosakata Sang Anak.
Intertekstual
Dua gema pantas didengar. Yang pertama Paulus sebut sendiri: Mazmur 44, mazmur protes, di mana umat menuduh Allah tidur padahal mereka setia. Paulus tidak melunakkannya; ia mengutipnya utuh, "kami dianggap sebagai domba-domba untuk disembelih," lalu justru dari sana melompat ke "lebih daripada para pemenang." Kemenangan itu tidak menghapus penyembelihan; ia menampungnya. Yang kedua tidak disebut namanya tetapi terdengar jelas: di Kejadian 22, Allah berkata kepada Abraham bahwa ia "tidak menyayangkan anakmu." Paulus memakai kalimat yang sama tentang Allah sendiri, dengan satu perbedaan yang menentukan: tidak ada domba pengganti di semak-semak kali ini. Anak itu benar-benar diserahkan, dan karena itu tidak ada lagi yang perlu kita takutkan dari tangan-Nya.
Refleksi
Suara pendakwa mana yang masih Anda anggap punya wewenang atas hidup Anda, padahal Allah sudah membenarkan Anda?
Jika keselamatan mencakup "penebusan tubuh kita" dan pembebasan seluruh ciptaan, apa yang berubah dalam cara Anda memperlakukan tubuh, pekerjaan, dan dunia materi di sekitar Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 8?
Tentang apakah ROMA 8?
Apa konteks historis dari ROMA 8?
Apa yang ROMA 8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, sulit kupercaya bahwa Engkau lebih dulu memilihku, memanggilku, dan menyatakan aku benar di hadapan-Mu. Aku sering merasa tak layak, tapi Engkau tidak pernah setengah hati menyelesaikan apa yang Kau mulai dalam hidupku. Tolong aku hidup dari kepastian itu hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena dalam pengharapan inilah kami diselamatkan. Aku bersyukur untuk hari-hari ketika jawaban-Mu belum terlihat, namun hatiku tetap Kaujaga untuk menanti. Engkau memberiku kekuatan berpegang pada yang belum kulihat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
