ROMA 8:18
Teks
Paulus menimbang. Itulah kata kerjanya: "aku menganggap" — sebuah perhitungan, bukan penghiburan murahan. Ia meletakkan di satu sisi timbangan semua penderitaan masa kini, yang nyata dan berdarah, dan di sisi lain kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Lalu ia berkata: keduanya tidak sebanding. Bukan karena penderitaan itu ringan, melainkan karena yang di sisi seberang begitu berat sehingga timbangan itu terhempas ke bawah dan penderitaan terangkat ke udara. Kalimat ini menyambung ayat sebelumnya, tentang menjadi pewaris bersama Kristus, "jika kita benar-benar turut menderita bersama Dia." Jadi ini bukan pelarian dari luka, tetapi pembacaan ulang atas luka: penderitaan orang percaya berdiri di dalam jalur yang sama dengan salib, dan karena itu juga di dalam jalur kebangkitan.
Inti
Yang membuat ayat ini sanggup menanggung beban adalah kata "dinyatakan". Kemuliaan itu tidak sedang dibuat, tidak sedang diusahakan, tidak sedang menunggu apakah kita cukup kuat bertahan. Kemuliaan itu sudah ada, tersimpan, dan pada waktunya tirai akan disingkap. Paulus tidak menghibur dengan kemungkinan, melainkan dengan kepastian yang belum terlihat. Di sinilah Injil terasa berbeda dari optimisme: optimisme berkata keadaan akan membaik; Paulus berkata Allah sudah menetapkan akhir cerita dalam Kristus, dan penderitaan kita kini berada di dalam cerita itu, bukan di luarnya. Karena itu ayat ini tidak pernah menyuruh kita menyangkal sakit. Ia menyuruh kita mengukurnya dengan benar. Sakit yang diukur dengan dirinya sendiri terasa tak terbatas; sakit yang diukur dengan kemuliaan yang dijanjikan Allah tetap sakit, tetapi tidak lagi berkata-kata sebagai penentu akhir hidup kita.
Benang Merah
Ada satu pola yang berulang sepanjang Alkitab: kemuliaan tidak pernah datang lewat jalan pintas. Yusuf turun ke sumur sebelum naik ke istana. Israel melewati padang gurun sebelum tanah perjanjian. Dan Anak Allah sendiri, kata Paulus beberapa ayat sebelumnya, dikirim "dalam keserupaan dengan tubuh jasmani yang berdosa" sebelum duduk di sebelah kanan Allah. Pola ini bukan kebetulan sastra; itulah bentuk karya penyelamatan Allah. Yang baru dalam Kristus adalah bahwa pola itu tidak lagi berlaku dari jauh, melainkan mengalir kepada kita: kita "pewaris Allah, dan sesama pewaris dengan Kristus." Warisan itu satu paket. Salib dan kebangkitan tidak dapat dipisahkan pada Kristus, dan tidak dapat dipisahkan pula pada mereka yang ada di dalam Dia.
Cermin
Yang ditelanjangi ayat ini bukan penderitaan Anda, melainkan cara Anda menimbangnya. Kita sering menaruh di atas timbangan hal-hal yang kelihatan dan hanya itu: hasil pemeriksaan dokter, rekening yang menipis di tanggal dua puluh lima, anak yang tidak lagi mau bicara, tubuh yang tidak lagi menuruti perintah. Semua itu berat dan nyata, dan Paulus tidak menyangkalnya. Ia hanya menolak membiarkan sisi timbangan yang satu lagi kosong. Bahaya kita bukan terlalu merasakan sakit, melainkan terlalu sedikit menaruh kemuliaan Allah di sebelahnya, sehingga hidup kita ditentukan sepenuhnya oleh apa yang bisa difoto dan dihitung.
Hari ini, ambil selembar kertas, tulis satu penderitaan Anda yang paling nyata dengan sejujur-jujurnya, lalu di bawahnya tuliskan dengan tangan Anda sendiri: "tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." Simpan kertas itu di dompet.
Intertekstualitas
Paulus pernah menimbang hal yang sama di Korintus, ketika ia menyebut penderitaannya ringan dan sebentar dibandingkan bobot kemuliaan kekal (2 Korintus 4:17). Menarik: ia menulis itu justru saat tubuhnya dipukuli dan reputasinya hancur. Jadi timbangan ini bukan teori orang yang hidup nyaman. Di sisi lain, beberapa ayat kemudian dalam pasal ini Paulus mengutip Mazmur 44, mazmur keluhan pahit: "Demi Engkau, kami sedang dibunuh sepanjang hari; kami dianggap sebagai domba-domba untuk disembelih." Ia tidak menghapus keluhan itu dari Alkitab; ia justru menaruhnya di jantung argumennya. Pengharapan Kristen cukup kuat untuk memuat ratapan tanpa membungkamnya.
Profil
Orang-orang yang pertama mendengar surat ini duduk di rumah-rumah sempit di Roma, sebagian budak, sebagian orang Yahudi yang baru saja kembali setelah diusir kaisar dari kota mereka sendiri. Mereka tahu apa artinya kehilangan rumah karena keputusan seorang penguasa. Kata "kemuliaan" di telinga mereka bukan istilah rohani yang samar; itu kosakata istana, kosakata arak-arakan kemenangan kaisar. Paulus mengambil kata paling politis di kota itu dan berkata: kemuliaan yang sesungguhnya bukan milik Nero, melainkan akan dinyatakan kepada kalian, kelompok kecil yang tidak dihitung siapa pun. Bagi budak yang mendengarnya, kalimat itu bukan penghiburan lembut. Itu subversif.
Tokoh Utama
Perhatikan siapa yang sebenarnya bergerak dalam ayat ini. Bukan kita. Kita menderita, tetapi Allah yang menyatakan. Dialah subjek tersembunyi di balik kata pasif itu, dan itulah wajah Allah yang muncul di sepanjang pasal ini: Ia mengutus Anak-Nya, Ia membangkitkan Yesus, Ia mengangkat kita menjadi anak, Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri. Allah yang seperti ini tidak menonton penderitaan kita dari balkon. Ia sudah masuk ke dalamnya lebih dalam daripada kita. Dan justru karena Ia sudah membayar harga tertinggi, janji tentang kemuliaan itu bukan bujukan kosong. Allah yang menyerahkan Anak-Nya tidak akan kehabisan alasan untuk memberi kita sisanya.
Refleksi
Apa yang selama ini Anda taruh di sisi timbangan yang satu lagi, ketika penderitaan terasa memenuhi seluruh pandangan Anda?
Paulus berkata "aku menganggap", sebuah keputusan sadar, bukan perasaan spontan. Di titik mana hidup Anda hari ini menuntut keputusan semacam itu, bukan perasaan yang menyenangkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 8:18
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 8:18?
Tentang apakah ROMA 8:18?
Apa konteks historis dari ROMA 8:18?
Apa yang ROMA 8:18 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 8:18 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, sulit kupercaya bahwa Engkau lebih dulu memilihku, memanggilku, dan menyatakan aku benar di hadapan-Mu. Aku sering merasa tak layak, tapi Engkau tidak pernah setengah hati menyelesaikan apa yang Kau mulai dalam hidupku. Tolong aku hidup dari kepastian itu hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena dalam pengharapan inilah kami diselamatkan. Aku bersyukur untuk hari-hari ketika jawaban-Mu belum terlihat, namun hatiku tetap Kaujaga untuk menanti. Engkau memberiku kekuatan berpegang pada yang belum kulihat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi