ROMA 8:28
Teks Itu Sendiri
Setelah dua puluh tujuh ayat yang penuh keluhan, ciptaan yang mengerang, tubuh yang belum ditebus, doa yang tak sanggup dirumuskan, Paulus tiba-tiba menaruh sebuah kepastian di atas meja: "Kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah." Bukan "kita berharap", bukan "kita merasa". Kita tahu. Dan pengetahuan itu tidak menggantung di udara: ayat berikutnya langsung menjelaskan apa yang dimaksud dengan "kebaikan" itu, yaitu menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kalimat ini bukan penghiburan umum tentang nasib baik, melainkan pernyataan tentang arah ke mana Allah menggiring seluruh hidup orang percaya.
Inti
Ayat ini sering dipakai seperti bantal empuk: apa pun yang terjadi, ujungnya pasti enak. Tetapi Paulus tidak sedang menjanjikan hasil yang menyenangkan. Ia sedang menjanjikan seorang Pribadi. "Kebaikan" di ayat 28 didefinisikan oleh ayat 29: "untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya." Itulah tujuan yang sedang dikerjakan Allah lewat segala sesuatu, termasuk lewat hal-hal yang jelas-jelas jahat. Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata segala sesuatu itu baik. Penindasan, kelaparan, pedang di ayat 35 tetap disebut apa adanya. Yang ia katakan adalah bahwa tidak ada satu pun dari semuanya itu yang lepas dari tangan Allah, dan tidak ada satu pun yang mampu menggagalkan pekerjaan-Nya membentuk kita menyerupai Kristus.
Benang Merah
Kalau Anda bertanya bagaimana Paulus berani sebegitu yakin, jawabannya ada di ayat 32: "Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua." Di sinilah seluruh argumen berpijak. Salib adalah bukti terburuk sekaligus terbaik bahwa Allah sanggup memakai kejahatan terbesar untuk kebaikan terbesar. Yang terjadi di Golgota adalah pengkhianatan, peradilan curang, penyiksaan negara. Dan justru di situ keselamatan dunia dikerjakan. Pola yang sama itu, salib dahulu lalu kemuliaan, sudah disebut Paulus di ayat 17: "jika kita benar-benar turut menderita bersama Dia, supaya kita juga akan dimuliakan bersama dengan Dia." Ayat 28 bukan optimisme; ia adalah bentangan pola Kristus atas hidup Anda.
Cermin
Maka pertanyaan yang mengganggu bukan "apakah Allah akan memperbaiki keadaan saya", melainkan "apakah saya sungguh menginginkan kebaikan yang Ia janjikan". Sebab kebaikan itu berbentuk salib sebelum berbentuk mahkota. Anda mungkin sedang berdoa agar diagnosis itu keliru, agar anak yang menjauh itu pulang, agar pekerjaan itu tidak lepas. Doa-doa itu sah dan Paulus sendiri mengakui kita sering tidak tahu apa yang seharusnya kita doakan. Tetapi ayat 28 tidak menjamin hasil yang Anda inginkan. Ia menjamin bahwa di tengah semua itu Allah sedang mengikis kesombongan Anda, melepaskan cengkeraman Anda pada rasa aman palsu, dan menuliskan wajah Kristus pada karakter Anda. Itu jaminan yang lebih keras sekaligus jauh lebih kokoh.
Profil Pembaca
Jemaat di Roma bukan orang-orang yang hidup nyaman. Sebagian dari mereka adalah orang Yahudi yang baru saja kembali setelah diusir dari kota atas perintah Kaisar Klaudius. Sebagian lagi orang bukan Yahudi, tidak sedikit di antaranya budak atau bekas budak. Ketika Paulus mengutip Mazmur, "kami dianggap sebagai domba-domba untuk disembelih," mereka tidak membaca itu sebagai kiasan. Mereka tinggal di ibu kota kekaisaran yang bisa membunuh warga tanpa proses. Kepada orang-orang itulah Paulus menulis bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu. Bagi mereka, kalimat ini bukan pemanis; ia adalah pernyataan politis bahwa yang memegang kendali akhir bukanlah Kaisar, melainkan Bapa yang memanggil mereka.
Konteks
Pasal 8 adalah puncak dari pergumulan panjang Paulus sejak pasal 5 tentang bagaimana orang yang sudah dibenarkan tetap hidup di dunia yang belum ditebus. Ia baru saja melukiskan ciptaan yang "mengeluh dalam kesakitan bersalin sampai sekarang ini", gambaran yang jujur tentang dunia yang rusak namun sedang melahirkan sesuatu. Ayat 28 berdiri persis setelah bagian tentang Roh Kudus yang bersyafaat dengan keluhan tanpa kata. Urutan itu penting. Kepastian bahwa segala sesuatu bekerja untuk kebaikan tidak dilontarkan kepada orang yang sedang santai, melainkan kepada orang yang doanya sudah habis kata. Paulus menulis dari pengalamannya sendiri sebagai rasul yang berulang kali dipenjara, dicambuk, dan ditolak.
Sang Tokoh Utama
Yang menjadi pelaku dalam ayat ini adalah Allah, dan Paulus melukiskan-Nya dengan rangkaian kata kerja di ayat 29 dan 30: mengenal, menentukan, memanggil, membenarkan, memuliakan. Tidak satu pun dari kata kerja itu bersubjek manusia. Allah di sini bukan penonton yang berempati dari kejauhan, melainkan Pekerja yang tak berhenti, yang menggenggam ujung awal dan ujung akhir hidup kita. Namun kekuasaan itu bukan kekuasaan dingin. Kalimat paling mengejutkan tentang karakter-Nya adalah bahwa Ia "tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri". Allah yang berdaulat ini adalah Allah yang sudah membayar harga tertinggi lebih dulu. Karena itu ketika Ia berkata segala sesuatu bekerja untuk kebaikan, Ia berbicara sebagai Bapa yang sudah kehilangan segalanya demi kita.
Renungan
Kebaikan seperti apa yang sebenarnya sedang Anda tuntut dari Allah saat ini, dan apa jadinya jika yang Ia berikan justru keserupaan dengan Kristus melalui jalan yang tidak Anda pilih?
Di bagian mana dari hidup Anda kalimat "Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri" perlu Anda ucapkan dengan lantang sebelum Anda sanggup mempercayai ayat 28?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 8:28
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 8:28?
Tentang apakah ROMA 8:28?
Apa konteks historis dari ROMA 8:28?
Apa yang ROMA 8:28 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 8:28 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, sulit kupercaya bahwa Engkau lebih dulu memilihku, memanggilku, dan menyatakan aku benar di hadapan-Mu. Aku sering merasa tak layak, tapi Engkau tidak pernah setengah hati menyelesaikan apa yang Kau mulai dalam hidupku. Tolong aku hidup dari kepastian itu hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena dalam pengharapan inilah kami diselamatkan. Aku bersyukur untuk hari-hari ketika jawaban-Mu belum terlihat, namun hatiku tetap Kaujaga untuk menanti. Engkau memberiku kekuatan berpegang pada yang belum kulihat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi